NovelToon NovelToon
Soraya Dan Aldrian

Soraya Dan Aldrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: MayRedN

Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.

Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.

Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti menjalankan rencana dengan sempurna

Bugh!

Suara hantaman bola terdengar sangar keras dan dekat tapi kenapa aku tidak merasakan sakit... Terasa aroma segar yang menenangkan sedang berada sangat dekat. Berlahan aku membuka mata. Dia... berdiri kokoh tepat dihadapanku menahan bola dengan satu tangan.

Dia menurunkan tangannya, lalu berbalik setengah badan untuk menatapku. Dia... Iya... Dia adalah Aldrian, tanpa suara terlihat pancaran dari matanya rasa khawatir yang tidak disembunyikan.

Aldrian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat rasa takut yang kurasakan tadi berlahan mencair menjadikan dadaku berdebar tak beraturan.

Dengan pelan aku menggerakan senyum yang merekah kearahnya lalu berkata dengan pelan bahkan sangat pelan yang hanya bisa didengar olehku dan Aldrian "Terimaksih"

Selama satu detik waktu sepertinya melambat. Aldrian tidak memalingkan wajahnya, dia tetap menatap ke arahku. Sambil memberikan anggukan kecil yang lembut Aldrian merubah senyumnya yang tadinya tipis berlahan merekah.

Aku mendapatkan kemenangan, seperti menjalankan rencana dengan sempurna. Keberuntungan yang bahkan belum pernah ada dalam rencanaku. Perlahan pasti aku telah berhasil meruntuhkan pertahanannya.

Tanpa ada kata yang terucap, Aldrian berbalik arah melangkah pergi begitu saja.

Lapangan basket yang tadi terdengar ramai mendadak menjadi sunyi.

Hatiku terasa seperti patah, Aldrian membawaku terbang tinggi lalu menjatuhkanku begitu saja dari ketinggian, semua terasa remuk berkeping keping.

"Jangan melamun dilapangan, bahaya!" terdengar suara Arya lebih rendah dari biasanya, Tanganya berlahan mendarat dikepalaku mengusap dengan lembut.

Didepan semua mata aku berusaha biasa biasa saja, menutupi hatiku yang seperti patah. Menjadikan senyuman ini sebagai topeng pelindung hatiku yang sedang patah.

"Perasaan tadi yang lagi maen jauh kenapa tiba tiba bolanya sampai sini ya" Putri masih dengan rasa kaget dan tidak percaya.

"Kak Aldrian benar benar udah jadi pahlawan" Tamiya berkata kagum sambil menatap Aldrian yang terus berjalan menjauh.

Latihan seperti biasanya dimulai, melakukan pertandingan kecil antar anggota untuk mempraktikkan hasil latihan secara langsung. Kami dibagi menjadi beberapa team.

Matahari yang sudah mulai teduh tetapi sinarnya masih menyilaukan, team cowok mendapat giliran memulai latihan terlebih dahulu dilapangan.

Kapten A Aldrian sedangkan kapten B Arya, mereka berjabat tangan sudah siap untuk memulai pertandingan.

Dibalik wajahnya yang dingin sangat berbeda saat memegang bola. Aldrian melewati temannya gerakan tipuannya sangat lincah, Aldrian melompat melakukan lay-up. Tidak dapat dipungkiri penampilan Aldrian sangat memukau, mampu menghipnotis semua penonton terutama cewek cewek.

Putri dan Tamiya sering melirik ke arahku, mengira aku akan mendukung team Aldrian, tetapi kali ini aku berpihak kepada Arya. Setiap team Arya mencetak point aku bertepuk tangan. Dari pinggir lapangan aku mengagumi cara bermain Aldrian tetapi aku akan menunjukan bahwa aku bukan di pihak Aldrian.

Aku sedang melakukan pemanasan tetapi tetap saja pandangan mataku secara diam diam terarah kelapangan.

Ada satu hal yang paling membuatku senang melihat wajah Aldrian yang sesekali melirik tajam kearahku disaat aku bersorak untuk kemenangan Arya.

Peluit panjang dibunyikan pertandingan selesai, kemenangan diperoleh team Arya.

Dipinggir lapangan team cewek sudah bersiap bersiap untuk memulai latihan pertandingan.

Semua pemain cowok berhamburan keluar dari lapangan, bergantian team cewek masuk. Arya berjalan melewati kami lalu mengusap kepalaku "semangat" katanya.

Aku mencoba menolak usapannya, menjawab dengan anggukan dan tersenyum tanpa terlihat Arya.

Latihan ini aku harus berusaha untuk lebih fokus lagi. Performa yang baik akan menjadi puncak penilaian dalam seleksi pemain yang akan ikut pertandingan bulan depan.

Alam seperti berpihak padaku, awan teduh berlahan menutupi matahari yang masih terik diujung senja. Angin bertiup lirih merasuk menyejukan seolah olah memberikan restu.

Bunyi pantulan bola basket dan cuitan sepatu memenuhi lapangan. Nafasku mulai memburu, keringat bercururan bak hujan membasahi seluruh badanku. Kaos jersey yang tadinya ringan menjadi lebih berisi air. Aku mulai merasakan kelelahan. Tapi aku harus menunjukan penampilan terbaikku semaksimal mungkin.

Suara riuh sorakan penonton dipinggir lapangan memberikan suasana tersendiri, biarpun yang terdengar dominan menguasai adalah suara Arya.

Dilapangan aku dan Putri menjadi musuh, kami menjalani pertandingan yang sangat sengit.

Dengan gerakan yang tenang aku melakukan dribble rendah, Putri selalu saja berusaha keras untuk menghadang. Aku terus berusaha mengecoh pergerakan dari Putri, Dengan teknik jump shot yang bersih aku menembak bola, masuk dengan sangat sempurna tanpa menyentuh ring.

Team kami bersorak gembira, mengulurkan tangan untuk high-five. Sepintas lalu aku melihat Aldrian tersenyum tipis menatap ke arahku.

Prritttttttttt......

Peluit berbunyi panjang menggema diseluruh lapangan. Kami berhenti dari aktifitas, mengatur nafas yang sedari tadi memburu berlatih 2 jam penuh.

Aku berusaha menunjukan sikap profesional.untuk tidak baper saat berpapasan dengan Aldrian, aku membuang perasaan canggung.

"Perhatian buat semuanya... Ayo sini berkumpul ditengah" Pak Herman menyuruh kami berkumpul.

Arya sudah menunggu dipinggir lapangan. Saat aku mendekat dia mengulurkan tangannya yang menggenggam botol air minum yang sedari tadi dia pegang. Arya tersenyum bangga menatapku sambil berkata pelan "Hebat"

Kami berjalan ke arah pak Herman lalu duduk rapi membentuk lingkaran.

Dengan tatapan yang menerawang kosong aku meneguk air minum. Arya duduk disampingku tanpa melihat kearahku memberikan handuk kecil, aku menyeka keringat lalu menarik nafas dalam dalam.

Lapangan menjadi sangat hening, mungkin karena ini saat yang menegangkan. Hari ini akan ada pengumuman penting pemilihan pemain yang akan masuk dalam pertandingan bulan depan di AKPOL.

Sambil memegang kertas dengan senyumannya pak Herman menatap kami satu persatu penuh kebanggaan.

"Terimakasih saya ucapkan sebelumnya, kepada kalian semua yang sangat luar biasa. Perjuangan selama latihan ini yang sangat melelahkan dan masih terap semangat..."

Pak Herman memberikan penjelasan yang sangat panjang dan mengevaluasi selama perjalan latihan. Memberikan arahan teknis dan solusi perbaikan perbaikan kelemahan yang masih harus diperbaiki.

Situasi menjadi semakin menegangkan ketika pak Herman seperti akan membaca kertas yang beliau bawa "Dengerin ya... Kalian semua hebat, akan tetapi tidak mungkin semuanya akan ikut bertanding bulan depan. Jadi yang tidak terpilih untuk mengikuti pertandingan kali ini jangan berkecil hati. Masih akan ada banyak kesempatan kedepanya, masih ada waktu untuk persiapan yang lebih matang. Tetap semangat untuk semuanya OK!"

Tak ada jawaban satupun dari kami yang menjawab pak Herman, hanya ada beberapa yang menjawab dengan senyuman tipis.

"Sekarang saya akan membacakan nama nama pemain yang akan terpilih mengikuti pertandingan di AKPOL bulan depan" Pak Herman mulai menghadap kertas ditanganya.

Nama nama pemain cowok yang pertama dibacakan. Tentu sudah pasti Aldrian, Arya dan kak Yudha pasti terpilih tanpa diragukan lagi kemampuan mereka. Dan benar saja nama nama mereka masuk di dalam daftar pemain.

Inilah saat yang paling ditunggu, satu persatu nama pemain cewek dibacakan pak Herman. Jantungku berdegup kencang tak beraturan setelah nama Putri dan Tamiya disebutkan.

Aku menjadi tak karuan, rasa rasanya oksigen disektar sudah mulai menipis. Akhirnya pak Herman menyebutkan "Soraya nama terakhir yang menjadi anggota team. Selamat buat semuanya!!!"

Alhamdulillah, aku sangat beruntung biarpun menjadi nama terakhir. Aku bernafas lega, tersenyum kegirangan. Akhirnya latihan dan perjuangan selama latihan membuahkan hasil sempurna dan tak ada yang sia sia.

"Selamat ya" Bisikan Arya yang pelan ditelingaku membuatku menoleh ke arahnya. Mata kami bertemu, aku membalas dengan senyuman tipis. Arya mengangguk pelan lalu membuang pandangan ke depan.

Pak Herman memberikan arahan "Tolong diperhatikan, nama nama yang tadi disebutkan untuk tidak pulang terlebih dahulu, yang lain silahkan pulang. Hati hati dijalan dan tetap semangat!"

Suasana sudah sedikit mencair, tidak setegang tadi, walaupun ada beberapa dari kami yang terlihat kecewa. Semuanya membereskan barang barangnya. Yang tidak terpilih bergegas untuk pulang.

Aku, Putri, Tamiya dan Arya tentunya, kami berpindah tempat, mengikuti arahan duduk bersama teman teman yang sudah berkumpul.

Pak Herman datang membawa kursi dari luar lapangan, beliau menduduki kursinya menghadap ke kami "Dikarenakan hari pertandingan sudah semakin dekat, saya harap mulai latihan minggu depan diadakan 3 kali dalam satu minggu. kita harus mempersiapkan yang lebih intensif. Latihan hari Rabu, Jum'at dan Sabtu nanti akan ada tambahan pelatih dari luar yang akan membantu melengkapi kekurangan selama latihan. Tidak usah kawatir pelatih tambahan ini profesional mantan atlet Nasional. Jadi saya mohon nanti kedepanya kalian dapat bekerja sama dan sopan... Aldrian dan Gendhis barangkali mau menambahi sesuatu?!"

Aldrian berdiri dari duduknya "Saya minta kita punya target kemenangan jadi tidak hanya sekedar ikut pertandingan!"

Kali ini Aldrian tidak memperlihatkan wajah dinginya. Dia menatap ke arah team cowok dengan tegas tapi tidak begitu berambisi. Lalu kembali duduk ditempatnya semula.

Kak Gendhis pun berdiri "Saya cuma berharap semoga teman teman dapat memprioritaskan pertandingan ini dan lebih disiplin waktu"

Dalam hatiku sangat penasaran mantan altet Nasional??? Siapa kira kira yang akan melatih kami.

Putri berbisik sangat pelan ditelingaku "Mantan Atlet siapa ya Ya?"

Arya yang mendengar pertanyaan Putri ikut menjawab dengan sangat pelan sambil tersenyum "Tunggu aja ntar spesial, yang semangat latihannya ya"

"Oke jangan lupa pola makannya dijaga, istirahat yang cukup dan kurangi memikirkan hal hal yang tidak penting, selamat pulang hati hati dijalan" intruksi pak Herman menutup sesi latihan.

Suara adzan bersahutan memberikan kesunyian memanggil hampa yang lelah. Kegelapan telah menutupi dengan sempurna langit yang tadi jingga. Dengan semilir angin menuntun bergerak menuju perintah keyakinan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!