Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Runtuhnya Niat Baik
Bab 4: Runtuhnya Niat Baik
Pagi itu datang dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin musim penghujan menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar sewa Clara yang kayunya sudah mulai lapuk dan dimakan rayap. Clara terbangun dengan rasa mual yang melilit perutnya. Ia bergegas bangkit, berlari tertatih-tatih menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan, dan memuntahkan cairan bening yang terasa pahit di lidahnya. Tidak ada makanan yang bisa dimuntahkan karena sejak semalam ia hanya mengganjal perutnya dengan segelas air hangat dan separuh roti tawar yang sudah mulai mengeras.
Tubuh Clara bergetar hebat setelah membasuh wajahnya di wastafel yang kusam. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tergantung miring di dinding. Wajah yang dulunya selalu merona dan penuh senyum itu kini tampak seperti tengkorak hidup. Tulang pipinya menonjol tajam, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat yang menceritakan malam panjang tanpa tidur, dan kulitnya pucat pasi tanpa aliran darah yang sehat. Satu-satunya bagian dari tubuhnya yang membesar hanyalah perutnya. Kehamilannya kini memasuki bulan kelima, namun tubuhnya sendiri seolah sedang dihisap perlahan-lahan oleh kehidupan yang tumbuh di rahimnya.
"Kau harus kuat, Clara," bisiknya pada cermin, suaranya parau dan bergetar. "Demi Maya. Kau tidak boleh menyerah. Jadilah ibu yang baik, apa pun yang terjadi."
Clara terus merapal mantra itu setiap hari. Sejak malam di mana ia memaki ketulusan palsu Vera, Clara berusaha keras untuk membuang jauh-jauh kebenciannya. Ia ingin mempertahankan kewarasannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjadi monster pendendam. Ia akan membesarkan Maya dengan tangannya sendiri, membuktikan pada dunia bahwa ia bisa bertahan tanpa Daniel, tanpa Vera, dan tanpa belas kasihan siapa pun. Ia bertekad untuk menjadi ibu yang baik, meski miskin.
Dengan langkah gontai, Clara mengenakan seragam pelayannya yang kini terasa sesak di bagian perut. Ia bekerja di sebuah kedai makan kecil yang buka selama belasan jam sehari. Pemilik kedai itu tidak peduli dengan kondisi kehamilan Clara, selama Clara bisa mengangkat piring kotor dan mengepel lantai dengan bersih.
Sesampainya di kedai, suasana sudah ramai. Asap masakan dan bau amis dari dapur membuat perut Clara kembali bergejolak, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia mengangkat tumpukan piring kotor yang berat, berjalan mondar-mandir melayani pelanggan yang cerewet. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Punggungnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Setiap langkah yang ia ambil terasa seberat memikul batu karang.
Hingga pada jam sibuk di siang hari, batas ketahanan tubuhnya akhirnya jebol.
Saat Clara sedang membawa nampan berisi tiga mangkuk sup panas, pandangannya mendadak mengabur. Ruangan di sekitarnya berputar dengan cepat. Suara bising pelanggan perlahan meredam, tergantikan oleh dengingan panjang yang memekakkan telinga. Kakinya kehilangan pijakan, dan detik berikutnya, tubuhnya ambruk ke lantai bersimbah kuah sup yang panas. Suara pecahan mangkuk keramik menggema, diiringi teriakan kaget dari para pelanggan.
Kegelapan sempat menyelimuti kesadarannya selama beberapa saat. Ketika ia membuka mata, ia sudah berada di ruang belakang kedai. Bosnya, seorang pria paruh baya dengan wajah keras, melemparkan sebuah amplop tipis ke pangkuan Clara yang masih terengah-engah menahan sakit di pinggangnya.
"Aku tidak bisa mempekerjakan orang sakit, Clara," kata pria itu tanpa sedikit pun empati di matanya. "Kehamilanmu membuat pekerjaanku kacau. Piring-piring yang kau pecahkan harganya lebih mahal dari gajimu hari ini. Ambil uang pesangon itu dan jangan kembali lagi besok."
Clara menatap amplop itu dengan tangan gemetar. Ia ingin memohon, ingin menangis dan bersujud meminta kesempatan kedua, tetapi tenggorokannya tercekat. Ia tahu itu percuma. Di dunia ini, sebatang kara sepertinya. tidak memiliki hak untuk menuntut belas kasihan.
Dengan sisa tenaganya, Clara bangkit, mengambil amplop itu, dan berjalan keluar dari kedai. Udara siang yang mendung menyambutnya. Ia membuka amplop tersebut di pinggir jalan. Jumlahnya sangat menyedihkan. Uang ini bahkan tidak akan cukup untuk membayar biaya sewa kamarnya bulan depan, apalagi untuk makan sehari-hari.
Namun, ada satu hal yang lebih mendesak saat ini. Perutnya sering terasa kram, dan ia belum pernah memeriksakan kandungannya sama sekali sejak bulan pertama. Ia membutuhkan vitamin. Anak di dalam perutnya membutuhkan nutrisi yang tidak bisa diberikan oleh separuh roti tawar dan air putih.
Clara menyeret langkahnya menuju sebuah apotek kecil di ujung jalan. Ia berdiri di depan rak yang memajang berbagai macam suplemen dan vitamin untuk ibu hamil. Tangannya yang kurus meraih sebuah botol vitamin dengan merek paling murah. Matanya menyapu deretan angka di label harga, lalu beralih pada lembaran uang lecek di tangannya. Ia menghitungnya berkali-kali, berharap ada keajaiban yang membuat nilai uang itu bertambah. Namun, matematika tidak pernah berbohong. Jika ia membeli botol vitamin termurah ini, ia tidak akan bisa makan selama tiga hari ke depan.
Seorang apoteker menatapnya dari balik meja kasir. Tatapan yang mengkombinasikan rasa kasihan dan kecurigaan. Clara menundukkan wajahnya, merasakan wajahnya memanas karena malu yang luar biasa. Ia meremas botol plastik itu, membayangkan Maya yang sedang berjuang tumbuh di dalam rahimnya tanpa nutrisi yang cukup.
"Maaf," bisik Clara, meletakkan kembali botol itu ke tempatnya dengan tangan gemetar. Ia berbalik dan berjalan keluar dari apotek dengan langkah terburu-buru, tidak sanggup menanggung tatapan menghakimi dari orang-orang di sekitarnya.
Di luar, hujan gerimis mulai turun. Clara berjalan tanpa arah, air mata akhirnya jatuh bercampur dengan titik-titik hujan di wajahnya. Ia merasa menjadi manusia paling gagal di dunia. Jangankan untuk membahagiakan anaknya, untuk sekadar memberinya sebutir vitamin pun ia tidak mampu.
Langkahnya terhenti di sebuah persimpangan lampu merah yang sibuk. Di seberang jalan, di depan sebuah restoran mewah bergaya Eropa, sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru berhenti dengan mulus. Seorang sopir berseragam turun dan membukakan pintu penumpang.
Napas Clara terhenti di tenggorokan.
Dari dalam mobil mewah itu, turunlah Daniel. Pria itu tampak sangat gagah dengan setelan jas abu-abunya yang mahal. Daniel tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangannya ke dalam mobil. Sedetik kemudian, seorang wanita menerima uluran tangan itu dan melangkah keluar.
Itu adalah Vera.
Vera terlihat begitu bersinar. Kulitnya cerah, rambutnya tertata rapi, dan ia mengenakan gaun sutra khusus ibu hamil yang sangat elegan, yang entah berapa puluh juta harganya. Perut Vera yang mulai membesar terlihat sangat dirawat. Tidak ada kantung mata, tidak ada wajah pucat, tidak ada tanda-tanda penderitaan. Daniel memayungi Vera dengan penuh kehati-hatian, merangkul pinggang wanita itu seolah ia adalah porselen paling berharga di dunia, lalu mereka tertawa bersama saat berjalan masuk ke dalam restoran.
Clara berdiri mematung di seberang jalan, basah kuyup oleh gerimis dan cipratan air dari kendaraan yang melintas. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh satu ruas jalan, namun rasanya seperti dipisahkan oleh dua alam semesta yang berbeda.
Di titik inilah, pertahanan moral Clara benar-benar hancur lebur.
Niat baiknya, janjinya untuk menjadi ibu yang tangguh meski miskin, tekadnya untuk melupakan dendam... semuanya menguap, terbakar habis oleh realitas yang begitu kejam dan memuakkan. Ia menyadari satu kebenaran yang sangat menyakitkan: menjadi orang baik tidak akan menyelamatkan anaknya dari penderitaan. Menjadi orang baik hanya akan membuat Maya lahir di lantai yang dingin, kelaparan, kedinginan, dan tumbuh dengan memandang orang-orang seperti Vera dari bawah dengan penuh rasa rendah diri.
"Dunia ini tidak berpihak pada orang baik, Maya," bisik Clara di tengah suara bising jalanan. Tangannya mengelus perutnya yang kram, namun matanya menatap tajam ke arah restoran mewah tempat musuhnya sedang tertawa bahagia. "Dunia ini hanya berpihak pada mereka yang punya kekuasaan dan kekayaan. Aku tidak bisa memberimu hal itu. Tapi... aku bisa merampasnya untukmu."
Benih rencana gila yang sempat ia tepis malam itu kini tumbuh menjadi pohon beracun berakar kuat di dalam jiwanya. Ia tidak lagi peduli pada dosa. Ia tidak lagi peduli pada karma. Jika surga hanya diperuntukkan bagi pengkhianat seperti Vera dan Daniel, maka Clara dengan senang hati akan menyerahkan dirinya ke neraka, asalkan anak kandungnya tidak perlu merasakan perihnya kemiskinan yang mencekik ini.