NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: AIR MATA PALSU DI BALIK JERUJI

AIR MATA PALSU DI BALIK JERUJI

​Dinding beton Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Wanita Jakarta Timur tampak kusam dan lembap, memancarkan aura dingin yang siap mengikis kewarasan siapa pun di dalamnya. Di ruang kunjungan utama yang disekat oleh jeruji besi tebal, aroma keringat bercampur deterjen murahan menyeruak pasrah, sangat kontras dengan wewangian parfum Perancis yang biasa melekat di tubuh Lista.

​Amira duduk dengan anggun di kursi kayu pengunjung. Hari ini ia mengenakan tunik rajut berwarna abu-abu arang dengan potongan longgar yang elegan, menyamarkan perutnya yang mulai berisikan kehidupan baru. Ekspresi wajahnya sedatar air di dalam tempayan, tak tersentuh oleh drama apa pun. Di sampingnya, Pak Sanusi dengan tenang menyilangkan kaki, memegang sebuah map kulit hitam berisi dokumen penolakan jaminan.

​Klek. Sreeet.

​Pintu besi di seberang jeruji digeser kasar oleh petugas sipir wanita. Langkah kaki yang menyeret terdengar lambat, memecah kesunyian ruangan.

​Itu Lista.

​Aura manajer administrasi yang seksi dan glamor telah menguap tanpa bekas. Wanita itu mengenakan daster biru pudar khas tahanan titipan. Rambut indahnya yang biasa dicat pirang kini diikat asal-asalan, menampilkan akar rambut hitam yang mulai tumbuh berantakan. Wajah cantiknya kuyu, tanpa riasan, dan matanya bengkak dengan lingkaran hitam tebal di bawahnya.

​Begitu melihat Amira duduk tenang di sana, Lista langsung merangsek maju, mencengkeram besi pembatas hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Mbak... Mbak Amira! Aku mohon, Mbak..." suara Lista serak, langsung pecah menjadi tangisan histeris yang dibuat-buat. "Aku khilaf, Mbak! Ini semua karena Mas Aris yang menjebakku! Dia yang memaksaku memalsukan tanda tangan Corporate Guarantee itu! Aku cuma bawahan yang tidak punya pilihan, Mbak!"

​Di sudut ruangan, seorang pria berkacamata dengan tas kerja mahal—pengacara hitam yang baru disewa Lista menggunakan sisa uang simpanannya—tampak bersedekah dan mencoba membuka suara. "Ibu Amira, klien kami berniat mengajukan penangguhan penahanan darurat. Kami memiliki dokumen jaminan aset keluarga luar kota yang—"

​"Diam," satu kata keluar dari bibir Amira. Pendek, tajam, dan diucapkan dengan nada rendah yang begitu dingin, sanggup memotong kalimat sang pengacara seketika.

​Amira menatap Lista dari balik jeruji besi dengan pandangan yang sarat akan rasa muak. "Kamu masih mau berakting menjadi korban setelah semua yang kamu lakukan pada rumah tanggaku, Lista? Setelah kamu dengan bangga memamerkan posisimu di atas ranjangku saat aku sedang mengunci diri menahan sakit di kamar bawah tanah?"

​Tangisan palsu Lista mendadak terhenti di udara. Air mukanya berubah tegang.

​"Mbak... kita ini sepupu, ada darah keluarga yang mengalir di tubuh kita," ratih Lista lagi, mencoba menggunakan kartu terakhirnya: ikatan keluarga. "Kalau aku membusuk di penjara, nama baik keluarga besar kita di kampung juga akan hancur, Mbak. Tolong cabut laporan pemalsuan dokumen itu. Aku janji akan pergi jauh dari Jakarta dan tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi."

​Amira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih map kulit hitam dari tangan Pak Sanusi, membukanya, lalu mengeluarkan pucuk surat permohonan damai beserta dokumen jaminan penangguhan yang baru saja diserahkan oleh pengacara Lista ke meja administrasi rutan beberapa menit lalu.

​Tanpa mengalihkan pandangan matanya dari mata Lista, jemari lentik Amira mulai mencengkeram pinggiran kertas tebal tersebut.

​Sreeek... Sreeek...

​Bunyi kertas yang robek menjadi dua, lalu menjadi empat, dan akhirnya menjadi serpihan kecil menggema begitu tegas di ruang kunjungan yang sunyi itu. Amira merobek seluruh dokumen permohonan tersebut tepat di depan wajah Lista dan pengacaranya, tanpa membaca satu baris kalimat pun di dalamnya.

​Setelah selesai, Amira menjatuhkan serpihan kertas itu ke atas lantai semen dengan gaya meremehkan yang luar biasa.

​"Darah keluarga yang kamu sebutkan itu... sudah lama hanyut bersama air mata penderitaanku selama tiga tahun ini, Lista," desis Amira, suaranya sedingin angin malam. "Kamu pikir aku datang ke sini untuk mendengarkan ratapan murnimu? Tidak. Aku datang hanya untuk memastikan satu hal."

​Amira memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Lista yang kini mulai dipenuhi ketakutan yang sesungguhnya.

​"Nikmatilah daster pudarmu itu untuk waktu yang sangat lama. Pengacara hitammu ini tidak akan bisa mengeluarkanmu, karena besok pagi, tim hukum Shinta Group akan memasukkan dakwaan tambahan: penggelapan dana sirkulasi internal kantor senilai dua miliar rupiah yang dicairkan secara ilegal. Kamu tidak akan keluar dari sini dalam waktu dekat, Lista. Kamu akan membusuk di sel ini sampai kecantikan yang kamu agung-agungkan itu habis dimakan waktu."

​"Amira!!! Kamu kejam!!! Aku benci kamu, Amira!!!" pekik Lista histeris, wajahnya berubah garang bak monster yang kehilangan mangsanya saat petugas polwan mulai menarik paksa tubuhnya mundur untuk dikembalikan ke blok sel dalam. Ia menendang-nendang udara, meracau frustrasi menyadari air mata palsunya tidak lagi memiliki daya magis di depan Amira yang sekarang.

​Amira berdiri dari kursinya dengan tenang. Ia merapikan tunik abu-abunya, lalu berbalik melangkah keluar dari rutan wanita tanpa menoleh lagi.

​Satu ular lagi telah dikunci di dalam sangkar besi. Besok, takhta tertinggi di kantor pusat Snack Pratama sudah menunggu untuk ia bersihkan sepenuhnya.

Amira masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan rapat, membiarkan raungan histeris Lista tertinggal di balik tembok rutan. Di tas kerjanya, sebuah undangan VIP resmi berwarna emas untuk Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa besok pagi telah siap.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!