"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 // MBKCM
Langkah kaki Ardan Arkatama terdengar tegas beritme saat menuruni anak tangga menuju ruang makan mewah di lantai bawah. Di ujung ruangan, sebuah meja makan panjang dari kayu jati sudah dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan kelas atas. Di sana, dua orang pria dari generasi berbeda telah duduk menunggu kehadirannya.
Wirya Arkatama, sang kepala keluarga yang rambutnya sudah memutih sepenuhnya namun masih memiliki sorot mata yang tajam, duduk di kursi utama. Di sebelah kanannya, duduk Arya Arkatama, paman Ardan yang selalu berpenampilan necis dengan senyum yang sulit diartikan.
Ardan menarik kursi di seberang pamannya, lalu mengangguk hormat. "Selamat pagi, Kakek. Paman," sapanya dengan suara bariton yang datar, mencoba mencairkan ketegangan formalitas di antara mereka.
Paman Arya langsung tersenyum cerah begitu melihat keponakannya duduk. Seperti yang dikatakan Bimo beberapa menit lalu, tebakan sang asisten sangat benar. Kedatangannya sepagi ini bukan tanpa misi khusus. Dia meletakkan cangkir kopinya, menatap Ardan dengan binar mata yang seolah penuh dengan perhatian seorang paman yang baik.
"Selamat pagi, Ardan. Kebetulan sekali kamu sudah turun. Paman sengaja datang sepagi ini karena ada kabar gembira yang tidak bisa ditunda-tunda," buka Paman Arya dengan nada bicara yang sengaja dibuat antusias.
Ardan hanya menaikkan sebelah alisnya, menyuap sepotong omelet ke dalam mulutnya tanpa minat. "Kabar apa, Paman?"
"Paman sudah menemukan wanita yang pasti akan sangat cocok denganmu, Ardan. Benar-benar sepadan untuk bersanding dengan CEO Arkatama Group," ujar Paman Arya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan foto seorang wanita berwajah tegas namun menawan. "Dania Abraham. Anak ketiga dari keluarga Abraham, usianya dua puluh sembilan tahun. Kamu pasti tahu kan relasi bisnis kita dengan Abraham Corp? Dia adalah seorang sosialita cantik, modis, dan berpendidikan tinggi lulusan London. Bagaimana? Sangat berkelas, bukan?"
Ardan melirik foto itu sekilas, lalu kembali fokus pada piring sarapannya. Tapi seperti biasa, Ardan tidak tertarik. Wanita secantik atau seseksi apa pun di matanya saat ini tidak lebih dari sekadar pajangan yang tidak memicu gairah apa pun dalam dirinya—berbeda jauh dengan reaksi tubuhnya terhadap gadis asing di jembatan semalam yang bahkan masih menyisakan bayangan di benaknya.
"Aku sedang sibuk dengan proyek merger di Singapura, Paman. Tidak ada waktu untuk urusan seperti ini," tolak Ardan dingin.
Mendengar penolakan spontan itu, Kakek Wirya yang sejak tadi diam langsung meletakkan garpunya dengan keras ke atas piring hingga menimbulkan suara dentingan yang nyaring. Suasana di meja makan seketika mendingin.
Klang..
"Ardan," suara Kakek Wirya terdengar berat dan penuh penekanan. "Sampai kapan kamu mau menghindar? Usiamu sudah tiga puluh lima tahun. Perusahaan membutuhkan stabilitas, dan kakek membutuhkan kepastian. Temui Dania, atau kakek tidak mau minum obat lagi mulai hari ini."
Ardan menghela napas berat, tangannya mengepal di bawah meja. Ancaman kesehatan selalu menjadi senjata pamungkas sang kakek yang paling sulit dia lawan.
Melihat celah tersebut, Paman Arya kembali menyambar obrolan dengan nada memanasi. "Iya, Ardan. Dengarkan Kakekmu. Dania ini bibit, bebet, bobotnya sangat sempurna untuk menjadi pasanganmu. Papi sudah menyelidiki latar belakang keluarganya dengan sangat teliti. Tentunya, nanti keturunan kalian akan sempurna dengan perpaduan gen yang kalian miliki. Kamu tampan, gagah, cerdas, dan Dania ini cantik, anggun. Bayangkan saja bagaimana pintarnya anak-anak kalian nanti sebagai pewaris tunggal Arkatama."
Deg.
Kata keturunan dan perpaduan gen yang diucapkan Pamannya dengan begitu enteng seolah menjadi belati yang menusuk tepat di jantung Ardan. Ardan merasa kembali diremas hatinya. Singgungan soal keturunan membuatnya ingin tenggelam ke dasar bumi saja saat itu juga.
Rasa sesak dan amarah bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Mereka memuji genetikanya, mengharapkan bayi-bayi jenius lahir dari darahnya, sementara fakta medis yang sesungguhnya adalah... dia mandul. Dia tidak bisa memberikan apa yang mereka sebut sebagai keturunan sempurna itu. Ardan merasa seperti seorang penipu besar yang sedang diadili di atas meja makan keluarganya sendiri.
Mencoba menahan gejolak emosi agar tidak meledak dan mencurigakan pamannya, Ardan meminum air putihnya seteguk untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Tapi dia hanya mengiyakan demi menyudahi siksaan mental ini.
"Baik, Kakek. Aku akan menemuinya," ucap Ardan, suaranya terdengar datar dan pasrah. "Aku akan mencari waktu luang nanti setelah urusan kantor sedikit mereda."
Kemudian Ardan memilih pamit pergi ke kantor, tidak sanggup lagi berlama-lama berada di atmosfer yang mencekik itu. Dia berdiri, merapikan kancing jasnya. "Aku harus berangkat sekarang. Ada rapat pagi dengan jajaran direksi."
Paman Arya tersenyum puas, matanya berkilat penuh kemenangan yang tersembunyi. "Tenang saja, Ardan. Serahkan pada Paman. Aku pastikan Dania akan menunggu waktu luangmu itu. Aku akan mengaturkannya untukmu."
Kakek Wirya tersenyum puas melihat cucu kesayangannya akhirnya mengalah. "Bagus. Jangan mengecewakan Kakek, Ardan."
Ardan hanya mengangguk samar, lalu berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi. Di dalam kepalanya, rasa frustrasi itu kembali membubung tinggi, persis seperti rasa frustrasi yang membawanya ke jembatan sepi semalam.
***
Di kota yang sama namun di tempat yang berbeda, atmosfer kehidupan berjalan dengan cara yang sangat kontras. Sebuah pusat perbelanjaan Mall Royal Plaza, di tengah ibu kota mulai beroperasi.
Kiana di jam sepuluh pagi ini sudah berdiri di dalam butik pakaian mewah yang bernama Elegance dengan seragam kebanggaannya selama dua tahun ini. Sebuah kemeja hitam pas badan dan rok span yang menampilkan kesan profesional. Rambut panjangnya yang indah kini tersanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang untungnya tertutup kerah kemeja yang cukup tinggi, menyembunyikan tanda kemerahan samar yang ditinggalkan Ardan semalam.
Mata sembabnya yang membengkak karena menangis berjam-jam di kamar kos sudah tertutupi dengan riasan tipis dan concealer yang dia aplikasikan dengan bantuan Saskia tadi pagi. Dia melayani pelanggan yang mulai berdatangan dengan senyum ramah, menjawab setiap pertanyaan dengan lembut, meski hatinya sedang kacau balau memikirkan pengkhianatan Dafa dan dosa satu malamnya.
Saat suasana butik agak lengang dan ada waktu luang ada kesempatan, Saskia mendekati Kiana yang sedang merapikan gantungan baju di sudut ruangan. Dengan gerakan lihai, Saskia mengajak Kiana mencuri obrolan di tengah pengawasan manajer mereka yang kebetulan sedang berada di ruang belakang.
"Kia....Sini deh," bisik Saskia sambil pura-pura ikut memilah baju.
Kiana menoleh sedikit, tangannya tetap bergerak merapikan pakaian. "Kenapa, Sas? Nanti kelihatan Manajer."
"Bentar aja. Aku penasaran dari tadi," Saskia mendekatkan wajahnya, berbisik sangat pelan. "Dafa tidak menghubungimu, Kia? Untuk minta maaf gitu?"
Mendengar nama pria itu, ekspresi ramah di wajah Kiana langsung lenyap, digantikan kilat kebencian yang mendalam. "Nggak, Sas. Jangankan nelepon, nomornya aja sudah gak aktif, aku sudah coba menelpon tadi." Kiana mendengus pedih. "Sepertinya si brengsek itu sedang sibuk berlari dari rentenir itu. Dia pikir dengan menumbalkanku, utangnya lunas dan dia bisa bebas."
Saskia yang melihat raut wajah sahabatnya kembali mendung langsung merasa bersalah karena telah mengungkit hal sensitif itu. Kemudian Saskia mencoba menghibur, mengubah topik pembicaraan agar Kiana tidak kembali larut dalam kesedihan.
Saskia mengatakan dengan antusias, matanya berbinar-binar mencoba mengalihkan perhatian Kiana. "Ah, sudahlah! Lupakan dulu soal Dafa brengsek itu, sayangku! Anggap aja dia sudah mati tertabrak truk. Oh iya, kamu sudah dengar berita terbaru belum? Minggu depan katanya ada kunjungan pemilik gedung mall ini ke butik-butik besar, termasuk butik kita!"
Kiana mengernyitkan dahi, memindahkan satu gaun malam ke rak sebelah. "Kunjungan pemilik mall? Pak Wirya Arkatama itu ya? Bukannya beliau sudah tua dan jarang turun ke lapangan?"
"Ya memang dia pemilik utamanya, tapi sekarang seluruh aset dan operasionalnya sudah diambil alih oleh cucu pertamanya," jawab Saskia bersemangat, mencoba mengingat-ingat informasi dari grup gosip para pegawai mall. "Namanya... namanya siapa tadi ya? Ardan... Ardan kalau aku tidak salah dengar. Pokoknya panggilannya Pak Ardan."
Kiana menatap Saskia sambil tersenyum tipis, menganggap info itu tidak ada gunanya bagi mereka. "Terus, apa hubungannya denganku, Sis? Mau pemiliknya ganti jadi pangeran Arab sekalipun, kita tetap aja jadi pelayan butik di sini."
Saskia menyenggol lengan Kiana gemas, gemas dengan kepolosan sahabatnya. "Ya dia kan ganteng banget katanya, Kia! Buat cuci mata gitu, kan lumayan banget buat menyegarkan pikiranmu yang lagi mumet. Siapa tahu juga dari sekian banyak pelayan butik di mall ini, dia nyantol sama kita. Iya kan?"
Kiana tertawa kecil mendengar khayalan gila temannya itu. Rasa perih di hatinya sedikit terobati oleh tingkah konyol Saskia yang selalu berusaha membuatnya tersenyum.
"Kamu ini, ada-ada saja. Mana mau pria sekelas pemilik mall melirik pelayan seperti kita, Sas? Jangan mimpi terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit," sahut Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya geli.
"Ih, namanya juga usaha. Mengkhayal yang baik-baik itu perlu, Kia! Siapa tahu takdir lagi baik!" bela Saskia sambil terkekeh pelan.