Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian
Tangan kanan Lin Ye yang telah dilapisi oleh kekuatan fisik Puncak Tingkat Kedelapan mencengkeram sesuatu di dasar lumpur perak. Benda itu tidak memancarkan cahaya, tidak juga bergetar. Namun, saat jari-jari Lin Ye menyentuhnya, ia merasakan berat yang tidak masuk akal.
Jika Teratai Darah Pedang Kuno terasa seringan bulu, benda yang tertanam di bawah akarnya ini terasa seperti bongkahan gunung besi yang dimampatkan.
BZZZTT!
Kuali Penelan Bintang di Dantian Lin Ye meledak dalam kegembiraan yang buas, memancarkan daya hisap yang luar biasa. Namun, Lin Ye segera menekan kuali tersebut dengan kemauan kerasnya. Jangan sekarang. Jika kau menelannya di sini, fluktuasi energinya akan meruntuhkan seluruh lembah ini.
Dengan raungan pelan di dalam tenggorokannya, Lin Ye menarik benda itu sekuat tenaga. Otot-otot punggung dan lengannya menonjol, merobek sisa lengan jubah abu-abunya hingga hancur berkeping-keping. Tanah di bawah kolam perak itu bergemuruh layaknya terjadi gempa bumi kecil.
SPLOOSH!
Lumpur perak muncrat ke udara. Lin Ye berhasil menarik benda itu keluar.
Itu adalah sebuah patahan logam hitam pekat berukuran sebesar lengan orang dewasa. Permukaannya kasar, tidak berbentuk seperti pedang yang utuh, melainkan seperti bijih besi mentah yang baru setengah ditempa, namun memancarkan untaian Niat Pedang yang sangat murni, liar, dan penuh dengan aura kekacauan murni.
"Embrio Pedang Kekacauan," gumam Lin Ye, matanya memancarkan ketakjuban.
Di dunia kultivasi, senjata spiritual diciptakan oleh pandai besi. Namun, Embrio Pedang Kekacauan adalah senjata yang ditempa secara alami oleh energi surga dan bumi selama jutaan tahun di area yang dipenuhi niat membunuh. Benda ini belum memiliki bentuk mutlak, yang berarti benda ini bisa berevolusi jika diberi cukup "makanan". Pantas saja Teratai Darah Pedang tumbuh di atasnya; bunga itu bertindak sebagai parasit yang menyerap sedikit sisa energi dari embrio ini untuk mekar.
Tanpa membuang waktu, Lin Ye melemparkan patahan logam super berat itu ke dalam keranjang bambunya, menumpuknya di bawah kerikil dan sisa-sisa akar. Ia kemudian melirik sejenak ke arah kolam. Kehilangan Embrio Pedang yang menjadi inti energinya, cairan perak pembawa kematian di kolam itu mulai kehilangan pendar kemerahannya dan perlahan menguap menjadi kabut tipis.
Sementara itu, hanya belasan tombak di belakang Lin Ye, pertarungan antara es dan petir telah mencapai puncaknya.
BLAAARRR!
Lei Luo mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Gelombang petir ungu berbentuk harimau raksasa menerjang, menghancurkan perisai es Su Yue hingga berkeping-keping. Su Yue terdorong mundur sejauh lima tombak, kakinya meninggalkan bekas parit dalam di tanah berbatu. Ia memuntahkan seteguk darah, wajah pucatnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem.
Meski Su Yue memiliki Qi Es murni, perbedaan antara Tingkat Keenam dan Tingkat Ketujuh Puncak terlalu besar untuk dijembatani hanya dengan bakat.
"Menyerahlah, Su Yue!" tawa Lei Luo menggelegar ke angkasa. Rambutnya berdiri karena aliran petir liar, matanya dipenuhi arogansi yang membumbung ke langit. "Elemen esmu memang merepotkan, tapi di hadapan Petir Surgawi milikku, kau tetaplah wanita yang lemah! Kau tidak akan bisa mencegahku mengambil Teratai Darah Pedang itu!"
Lei Luo mendengus sombong, menendang bebatuan di dekatnya hingga hancur, dan dengan angkuh menoleh ke arah kolam perak, bersiap untuk mengklaim hadiahnya.
Namun, tawanya seketika tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, nyaris melompat keluar dari rongganya.
Di tengah kolam perak tersebut, Teratai Darah Pedang Kuno yang memancarkan pendar keemasan... telah lenyap. Sama sekali tidak berbekas, seolah bunga itu hanya ilusi semata. Dan yang lebih tidak masuk akal, berdiri di tengah-tengah cairan Niat Pedang yang mematikan itu, adalah seorang pemuda berbaju pelayan yang sedang memanggul keranjang bambu lusuh.
"A-apa yang terjadi?! Di mana Terataiku?!" jerit Lei Luo, suaranya melengking karena terkejut dan marah.
Ia menatap pelayan itu—Lin Ye—dengan tatapan membunuh. Indra spiritualnya menyapu Lin Ye, namun ia tidak merasakan setetes pun Qi spiritual. Hanya manusia fana.
"Kau... Su Yue!" Lei Luo menoleh ke arah Su Yue dengan wajah merah padam, urat-urat di lehernya menonjol. "Kau sengaja melawanku untuk mengalihkan perhatianku, sementara kau menyuruh anjing fana ini menggunakan jimat pelindung untuk mencuri Terataiku?! Kembalikan padaku, atau aku akan memotong kalian berdua menjadi daging cincang!"
Su Yue, yang masih terengah-engah memegangi dadanya yang sakit, melihat ke arah Lin Ye yang berjalan santai keluar dari kolam. Dalam hatinya, Su Yue mencibir kesombongan Lei Luo. Mencuri terataimu? Di mata Senior itu, kau bahkan tidak lebih berharga dari debu di bawah sepatunya. Kau sedang mencari jalan kematianmu sendiri, Lei Luo.
"Teratai itu bukan milikmu. Makam Pedang ini tidak memiliki nama siapa pun," jawab Su Yue dingin, tidak berniat menjelaskan apa pun, hanya mengipasi kemarahan Lei Luo.
"Bagus! Jika kau ingin mati, aku akan mengabulkannya!" raung Lei Luo.
Namun, alih-alih menyerang Su Yue yang masih memiliki kemampuan melawan, pandangan Lei Luo beralih pada Lin Ye yang kini sudah berada di tepi kolam, membelakanginya. Di mata Lei Luo, pelayan fana itu adalah target yang empuk. Dia bisa membunuh pelayan itu, merampas teratainya, lalu menghabisi Su Yue.
"Mati kau, Sampah Pencuri!"
Lei Luo memusatkan seluruh Qi petirnya ke kaki dan pedangnya. Ia melesat dengan kecepatan kilat, meninggalkan bayangan ungu di udara. Pedangnya diarahkan lurus ke punggung Lin Ye, membawa kekuatan penuh dari kultivator Puncak Tingkat Ketujuh yang berniat membelah tubuh manusia fana menjadi dua bagian.
Melihat Lei Luo menyerang Lin Ye dari belakang, Su Yue bahkan tidak berteriak untuk memperingatkan. Ia hanya menatap Lei Luo dengan pandangan yang sama seperti menatap orang mati.
Dalam hitungan kedipan mata, mata pedang yang dialiri petir ungu menyengat itu menghantam tepat di tengah punggung Lin Ye.
TRAAANGGG!
Suara benturan logam yang sangat nyaring dan memekakkan telinga bergema di lembah, diiringi oleh ledakan bunga api ungu ke segala arah.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat kewarasan Lei Luo hancur berkeping-keping.
Pedangnya, sebuah senjata spiritual tingkat menengah yang ditempa dari baja petir, tidak menembus punggung Lin Ye. Benda itu bahkan tidak merobek kulit perunggunya. Sebaliknya, saat benturan terjadi, pedang Lei Luo melengkung secara ekstrem, menahan daya tolak dari otot yang seribu kali lebih keras dari intan, sebelum akhirnya...
KRAAAK! PRANG!
Pedang kebanggaan murid peringkat pertama itu hancur berkeping-keping menjadi puluhan serpihan logam. Daya tolak dari hantaman itu merambat mundur melalui gagang pedang, langsung meremukkan tulang pergelangan tangan Lei Luo.
"AAARRRGH!" Lei Luo menjerit kesakitan, tubuhnya terpental mundur dua langkah. Ia menatap potongan gagang pedang di tangannya yang bergetar hebat, lalu menatap punggung telanjang Lin Ye yang bahkan tidak memiliki goresan putih sedikit pun.
"T-tidak mungkin... Tubuh fana... menahan senjata spiritual tingkat menengah?" Bibir Lei Luo bergetar. Ketakutan, sebuah emosi yang jarang ia rasakan, kini merayap naik mencekik lehernya layaknya tentakel iblis.
Lin Ye menghentikan langkahnya. Ia menolehkan kepalanya secara perlahan ke belakang, menatap Lei Luo dari balik bahunya. Mata hitam pekat Lin Ye tidak memancarkan amarah, tidak ada kebencian, hanya kekosongan absolut layaknya jurang kosmik tanpa akhir.
"Kau berisik sekali," ucap Lin Ye datar. Suaranya tidak keras, namun menggema di dalam tulang Lei Luo, membawa penekanan aura predator puncak.
Lei Luo mundur selangkah lagi. Naluri bertahan hidupnya menjerit histeris. Lari! Orang ini bukan pelayan! Dia monster yang menyamar!
Namun, sebelum pikiran Lei Luo bisa memerintahkan kakinya untuk menggunakan teknik meringankan tubuh, Lin Ye sudah menghilang dari pandangannya.
Tidak ada fluktuasi Qi. Hanya daya ledak otot yang melampaui pandangan mata.
Wusss!
Sebuah hembusan angin kasar menerpa wajah Lei Luo, dan di detik berikutnya, tangan kanan Lin Ye yang besar dan sekokoh cakar naga telah mencengkeram wajah Lei Luo, menutupi mulut dan hidungnya sepenuhnya.
Tubuh Lei Luo terangkat ke udara dengan mudah, kakinya menendang-nendang panik di atas tanah.
"Mmmmmph! Hmmmph!" Lei Luo meronta histeris. Dalam keputusasaan, ia membakar sisa Qi petirnya, mencoba meledakkan energi petir yang menyilaukan langsung dari wajahnya untuk menghancurkan tangan Lin Ye. Petir ungu menyala terang, membungkus lengan Lin Ye.
Namun, Lin Ye bahkan tidak berkedip. Di dalam Dantian-nya, Kuali Penelan Bintang memutar pusarannya. Energi petir murni dari kultivator Puncak Tingkat Ketujuh itu langsung disedot masuk melalui telapak tangan Lin Ye, ditelan habis tak bersisa sebelum sempat meledak.
Qi Petir? batin Lin Ye dengan tenang. Lumayan untuk menstabilkan elemen darah di tubuh baruku yang baru menembus Tingkat Kedelapan.
Lei Luo merasakan Qi di dalam Dantian-nya, darahnya, dan esensi jiwanya ditarik keluar seperti air sungai yang bocor ke dalam pusaran lautan. Tubuhnya mulai mengering. Ototnya menyusut, dan kulit wajah arogannya mengeriput dengan kecepatan yang mengerikan. Ketakutan murni terpancar dari matanya yang perlahan meredup. Ia akhirnya menyadari keberadaan eksistensi mengerikan macam apa yang telah ia singgung.
Hanya dalam lima tarikan napas, rontaan Lei Luo melemah, dan akhirnya berhenti total.
Lin Ye melepaskan cengkeramannya. Tubuh Lei Luo yang kini hanya berupa kulit pembalut tulang, pucat dan kering layaknya mumi, jatuh ke tanah dengan suara berdebuk pelan. Murid peringkat pertama dari Sekte Pedang Awan Mengalir telah tewas terbunuh, mati di tangan seorang "pelayan", tanpa meninggalkan satu pun luka berdarah.
Hembusan angin lembah meniup sisa-sisa abu yang rontok dari jubah Lei Luo.
Di kejauhan, Su Yue berdiri mematung. Meski ia sudah tahu bahwa "Senior" ini sangat kuat dan kejam, melihat kematian seorang jenius tingkat tujuh puncak dengan cara yang begitu mudah dan menentang nalar, tetap membuat hatinya gemetar hebat. Satu tangan... dia bahkan tidak repot-repot menggunakan teknik Qi apa pun, hanya kekuatan fisik mutlak.
Lin Ye membalikkan badannya, menatap Su Yue yang langsung menundukkan pandangannya karena rasa segan.
Tanpa banyak bicara, Lin Ye mengambil Teratai Darah Pedang Kuno dari dalam keranjangnya. Bunga itu masih memancarkan pendar emas dan keharuman yang menenangkan. Dengan lambaian tangan santai, ia melempar pusaka bernilai puluhan ribu batu spiritual itu ke arah Su Yue.
Su Yue menangkapnya dengan panik, matanya terbelalak tak percaya.
"S-Senior... ini... pusaka berharga ini..." Su Yue terbata-bata.
"Makan tiga kelopaknya sekarang," perintah Lin Ye dengan nada datar, persis seperti memerintah seorang bawahan. "Pondasi elemen esmu tidak stabil karena racun Yin di masa lalu. Bunga itu akan memperbaikinya. Sisa bijinya bisa kau gunakan untuk menembus Pembentukan Fondasi nanti. Aku tidak membutuhkan gulma merah itu."
Bagi Lin Ye, bunga itu memang tidak berguna. Kualinya hanya menginginkan energi brutal dari Embrio Pedang Kekacauan, bukan energi penyembuh dari sebuah bunga. Namun di telinga Su Yue, tindakan ini adalah bentuk kemurahan hati yang tak terukur.
Hati Su Yue yang sedingin pualam mendadak bergetar oleh emosi yang rumit. Rasa hormat, takjub, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan mengakar semakin dalam. Ia, yang biasanya arogan dan tidak pernah tunduk pada laki-laki mana pun di sektenya, kini berlutut dengan sukarela di atas bebatuan kotor.
"Junior Su Yue, berterima kasih atas anugerah Senior! Nyawa dan pedang Junior akan selalu menjadi milik Senior!" sumpahnya dengan suara bergetar yang penuh tekad.
Lin Ye hanya mengangguk pelan. Memiliki bidak yang kuat dan setia di sekte dalam akan sangat memudahkannya bergerak di masa depan.
Tiba-tiba, bumi di bawah kaki mereka bergetar pelan.
Dari arah pusat Makam Pedang Awan Jatuh, sejauh puluhan mil di depan mereka, sebuah pilar cahaya berwarna merah darah raksasa melesat menembus awan kelabu. Suara lolongan jutaan pedang patah bergema di seluruh langit, disusul oleh auman binatang buas kuno yang membuat jiwa siapa pun yang mendengarnya merasa kerdil.
Mata Lin Ye memicing tajam. Cahaya ungu kosmik berkedip di kedalaman pupilnya. Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya bergetar puluhan kali lebih buas daripada saat menyentuh Embrio Pedang tadi.
Sebuah seringai tipis yang menakutkan mengembang di bibir Lin Ye.
"Hidangan pembukanya sudah selesai," bisik Lin Ye, menatap pilar cahaya darah itu. "Su Yue, persiapkan dirimu. Pintu menuju makam yang sebenarnya baru saja terbuka."