Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Perjanjian kerja sama yang aneh
Kirana menutup matanya, menanti kemarahan, menanti kebencian, menanti penolakan yang sudah dia prediksi akan datang sejak awal dia mendekati Arjuna.
Tapi ... yang dia rasakan bukan dorongan, bukan teriakan, bukan kemarahan.
Yang dia rasakan adalah pelukan hangat. Pelukan yang kuat, erat, dan penuh rasa sakit hati yang mendalam.
Arjuna maju cepat, tidak peduli lagi jarak atau pertahanan diri, dia memeluk tubuh mungil itu dengan kedua lengannya yang kuat, menekan wajah Kirana ke dadanya yang berdebar kencang, seolah ingin menyatukan diri mereka menjadi satu agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan.
"Kau bodoh ..." bisik Arjuna parau, suaranya juga pecah karena tangis tertahan. "Kau gadis bodoh, Kirana ... kau pikir aku akan membenci? Kau pikir aku akan mengusirmu? Kau pikir aku akan menyakitimu sama seperti orang lain menyakitimu?!"
Arjuna mengeratkan pelukannya lagi, mengusap rambut panjang Kirana dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku ... maafkan aku karena baru tahu sekarang. Maafkan aku karena selama ini kau memikul beban berat ini sendirian. Maafkan aku karena aku tidak tahu apa yang terjadi, dan maafkan aku jika ada bagian dari keluargaku yang menyakiti keluargamu. Tapi dengar aku, Kirana Wijaya ... dengar baik-baik."
Arjuna melepaskan pelukannya sedikit, menangkup wajah Kirana dengan kedua tangannya, memaksanya menatap mata Arjuna yang juga penuh air mata dan tekad baja.
"Aku tidak peduli masa lalu. Aku tidak peduli dendam. Aku tidak peduli siapa benar siapa salah. Yang aku tahu ... gadis yang ada di depanku ini adalah wanita paling hebat, paling kuat, paling cerdas, dan paling berharga yang pernah ada di hidupku. Kau bukan musuhku, Kirana. Kau bukan beban. Kau adalah separuh jiwaku yang hilang, yang akhirnya kutemukan kembali di tengah hujan malam itu. Kau adalah nasibku."
Air mata Kirana akhirnya tumpah ruah, tidak bisa ditahan lagi. Dia menangis sejadi-jadinya, memukul dada bidang Arjuna dengan lemah, melampiaskan semua rasa sakit, semua kesepian, semua ketakutan yang dia simpan sendirian bertahun-tahun lamanya.
"Kenapa ... kenapa kau tidak marah? Kenapa kau tidak benci? Keluargaku dan keluargamu ... ada darah dan sejarah yang kelam di antara kita, Arjuna! Kita seharusnya bermusuhan! Kita seharusnya tidak boleh bersama!"
Arjuna menangkap tangan-tangan kecil itu, mengecupnya berkali-kali dengan bibirnya yang hangat dan penuh cinta.
"Siapa yang membuat aturan itu? Masa lalu sudah selesai, Kirana. Dan aku ... aku Arjuna Adhitama ... aku yang akan menentukan nasibku sendiri. Dan aku memilihmu. Aku memilih berdiri di sisimu. Aku memilih melawan siapa saja yang pernah menyakitimu, bahkan jika itu harus melawan darah dagingku sendiri. Kau tidak sendirian lagi, Kirana. Tidak pernah lagi."
_____________________________________________
Matahari pagi bersinar cerah, menyinari halaman Bengkel Pasir yang biasanya riuh rendah. Tapi pagi itu, suasananya terasa berbeda. Ada kehangatan samar yang melayang di udara, bercampur dengan rasa canggung yang manis. Sejak kemarin sore, setelah semua rahasia terbongkar dan pelukan panjang itu terjadi, hubungan Arjuna dan Kirana berubah drastis. Tidak lagi ada tembok tinggi di antara mereka, tapi ganti dengan ikatan yang jauh lebih kuat dan dalam.
Kirana sedang duduk di bangku kayu sambil meminum kopi hitamnya, matanya sesekali melirik ke arah Arjuna yang berdiri agak jauh bersandar di sebuah truk tua. Pria itu tidak pergi pulang kemarin malam. Dia memilih duduk di sana menemani Kirana sampai larut, hanya diam dan sesekali berbicara hal-hal ringan, seolah ingin memastikan gadis itu tidak hilang begitu saja di hadapannya.
Arjuna menatap Kirana dengan pandangan yang tidak pernah berubah sejak kemarin: pandangan penuh rasa kagum, rasa sayang, dan rasa memiliki yang kuat. Baginya, Kirana bukan lagi sekadar gadis misterius atau montir yang keras kepala. Dia adalah putri keluarga Wijaya, gadis yang selamat dari kehancuran, dan wanita yang berhak mendapatkan segalanya.
Kirana merasa tidak nyaman diperhatikan begitu terus-menerus. Dia meletakkan gelas kopinya agak kasar, menatap Arjuna dengan bibir mengerucut.
"Kenapa sih ngeliatin terus? Ada noda oli di wajahku? Atau ada rumput tumbuh di kepalaku?" tanya Kirana ketus, meski pipinya sedikit memerah.
Arjuna tersenyum lebar, senyum paling tulus dan paling bahagia yang pernah dia perlihatkan. Dia berjalan mendekat dengan langkah santai dan percaya diri.
"Cuma memastikan ... apakah aku tidak sedang bermimpi. Bahwa gadis hebat, pemberani, dan cantik ini ... ternyata milikku untuk dijaga," jawab Arjuna lembut, membuat wajah Kirana makin memerah padam sampai ke leher.
"Dih ... ge-er banget! Siapa bilang milikmu? Aku masih punya kaki, aku masih bisa lari ke mana saja aku mau. Ingat itu ya, Tuan Muda!" seru Kirana berusaha keras mempertahankan gengsinya, meski hatinya berdebar kencang bukan main.
Arjuna tertawa renyah, lalu mendadak wajahnya berubah serius. Dia duduk di samping Kirana, menatap lurus ke manik mata cokelat itu.
"Kau mau lari ke mana, Kirana Wijaya? Ke penjuru dunia mana pun kau pergi ... aku akan tetap mengejarmu. Tapi kali ini, aku tidak mau lagi cuma jadi penguntit atau asistenmu di sini. Aku mau kita berjalan beriringan. Dan untuk itu ... ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Kirana mengerutkan kening, menaruh curiga. Dia sudah hafal betul nada bicara Arjuna yang seperti ini. Selalu ada rencana gila di balik tatapan tajamnya itu.
"Apa lagi rencana gilamu? Mau beli bengkel ini dan jadi bosku? Bilang saja, dari dulu juga kan kamu yang bayar perbaikan alat-alat mahal di sini," celetuk Kirana sinis.
Arjuna menggeleng pelan. "Bukan cuma itu. Aku mau kau masuk ke duniaku. Secara resmi."
Kirana terdiam. Senyum sinisnya perlahan hilang. Dia menundukkan pandangannya ke tanah, memainkan jari-jarinya.
"Duniaku sudah ada di sini, Arjuna. Di bengkel, di antara bau oli dan suara mesin. Duniaku yang dulu sudah hancur, dan duniamu ... terlalu tinggi, terlalu mewah, dan terlalu berbahaya buat orang sepertiku. Di sana banyak mata yang mengawasi, banyak musuh yang menunggu, dan banyak rahasia kotor yang tersembunyi. Aku sudah cukup menderita bersembunyi selama ini. Aku tidak mau mengulanginya lagi."
Suaranya pelan, penuh beban masa lalu yang masih membekas.
Arjuna mengulurkan tangannya, menangkup pipi Kirana, mengangkat wajah gadis itu agar menatap matanya.
"Justru karena itu, kau harus masuk. Kau pikir dengan bersembunyi di sini kau aman? Musuh-musuh yang dulu menghancurkan keluargamu belum mati, Kirana. Mereka masih berkuasa, masih kaya, dan masih menguasai banyak hal. Kalau mereka tahu kau masih hidup ... tempat sederhana ini tidak akan bisa melindungimu sedetik pun."
Arjuna menghela napas panjang, melanjutkan dengan nada lebih lembut namun penuh tekad.
"Tapi kalau kau ada di sisiku ... di dalam lingkaran perlindungan keluarga Adhitama ... tidak ada siapa pun yang berani menyentuh rambutmu. Nama Adhitama masih punya bobot, masih punya kekuatan. Dan aku akan gunakan segalanya ... kekuasaanku, uangku, jaringanku, nyawaku sekalipun ... untuk memastikan kau aman. Aku tidak mau kau sembunyi lagi, Kirana. Aku mau kau bangkit kembali sebagai Kirana Wijaya, wanita hebat yang seharusnya dipandang tinggi oleh semua orang."
Kirana diam. Kata-kata Arjuna masuk begitu dalam ke hatinya. Dia tahu Arjuna benar. Dia tahu bahaya itu selalu ada di bayang-bayang. Tapi dia juga tahu ... masuk ke dunia Arjuna berarti membuka kembali luka lama, berarti menghadapi semua kenangan menyakitkan, dan berarti mengikat nasibnya sepenuhnya dengan Arjuna.
"Dan ... apa imbalannya buatmu? Kenapa kau mau ambil risiko sebesar itu? Kau tahu kan ... keluargamu dan keluargaku punya sejarah kelam. Ayahmu, kakekmu ... mereka mungkin tidak akan terima kalau kau dekat-dekat anak dari 'pengkhianat' seperti yang dulu dituduhkan pada ayahku," tanya Kirana pelan, matanya berkaca-kaca.
Arjuna tersenyum miring, senyum menantang yang khas.
"Biarkan aku yang urus keluargaku. Biarkan aku yang berhadapan dengan mereka. Urusan masa lalu itu rumit, dan aku yakin ada banyak kebohongan di sana. Aku akan cari tahu kebenaran yang sebenarnya. Tapi untuk saat ini ... aku cuma punya satu alasan: Aku mencintaimu, Kirana. Sederhana sekali."
Jantung Kirana berhenti berdetak sejenak. Tiga kata itu. Tiga kata yang selama ini dia damba tapi takut dengar. Diucapkan begitu saja, begitu tegas, begitu jujur dari mulut Arjuna.
Sebelum Kirana sempat menjawab atau memprotes, Arjuna mengeluarkan selembar kertas dokumen rapi dari saku jaketnya. Kertas bermaterai, ditulis dengan huruf tegas dan jelas.
"Karena aku tahu kau keras kepala dan susah disuruh ... aku sudah siapkan ini," kata Arjuna santai, meletakkan kertas itu di meja kayu di antara mereka.
Kirana mengambil kertas itu dengan ragu, membacanya pelan. Matanya makin melotot seiring dia membaca isinya.
PERJANJIAN KERJA SAMA
1. Pihak Pertama: Arjuna Adhitama (Pemilik Grup Adhitama)
2. Pihak Kedua: Kirana Wijaya (Ahli Teknik & Konsultan Khusus)
Isi Perjanjian:
Pihak Kedua diangkat secara resmi menjadi Direktur Teknik & Pengembangan Khusus di Grup Adhitama. Bertugas mengawasi proyek-proyek rahasia, riset teknologi baru, dan menjadi penasihat pribadi Pihak Pertama dalam segala hal. Pihak Kedua wajib hadir di kantor pusat, mengikuti jadwal kerja, dan ... tidak boleh pergi ke mana pun tanpa sepengetahuan Pihak Pertama.
Gajinya? Angka yang tertulis di sana begitu besar sampai Kirana hampir tersedak ludahnya sendiri. Nilai yang bisa membuatnya hidup mewah sepuluh generasi pun tidak akan habis.
"Kau gila ya?!" seru Kirana menatap Arjuna tak percaya. "Direktur?! Aku cuma gadis bengkel! Aku nggak ngerti urusan kantor, rapat, atau laporan! Dan poin terakhir itu apa?! Nggak boleh pergi tanpa izin?! Itu namanya penahanan, bukan kerja!"
Arjuna tertawa puas melihat reaksi gadis itu. Dia bersandar santai, menatap Kirana dengan tatapan menang.
"Kau bukan gadis bengkel biasa, dan kau tahu itu. Kau jenius, Kirana. Kau paham mesin lebih dari insinyur kami, kau paham sistem lebih dari konsultan kami. Kau lebih dari layak jadi direktur. Dan soal poin terakhir ... itu jaminanku. Jaminan kalau kau tidak akan kabur lagi. Sekarang kau karyawanku. Kau terikat kontrak. Kalau kau melanggar ... kau harus bayar denda sebesar nilai perusahaan besarku. Kau sanggup bayar?"
Kirana menggeram kesal, meremas kertas itu sedikit. "Kau ... kau memang licik! Ini jebakan! Kau mau mengurungku di gedung kaca megah itu biar jadi bonekamu ya?!"
"Bukan mengurung, tapi melindungi sekaligus memamerkanku pada seluruh dunia," jawab Arjuna cepat, nadanya berubah lembut dan dalam. "Aku ingin semua orang tahu. Bahwa wanita hebat bernama Kirana Wijaya ini ... adalah orang paling penting di hidupku, dan di perusahaanku. Aku ingin mereka hormat padamu. Aku ingin mereka tahu ... Arjuna Adhitama hanya mau mendengarkan perintahmu."
Kirana diam. Dia menatap kertas itu lagi, lalu menatap wajah Arjuna yang penuh harap dan ketegasan. Dia tahu dia tidak akan bisa menang melawan pria ini. Arjuna selalu punya cara sendiri untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dan lebih jauh lagi ... jauh di lubuk hatinya ... Kirana tahu dia sebenarnya menginginkan ini. Dia menginginkan berada di dekat Arjuna, dia menginginkan berjuang bersama-sama, dia menginginkan kesempatan untuk menguak kebenaran masa lalu dari dalam.
Dengan napas berat dan kepalan tangan kuat, Kirana mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah Arjuna.
"Baiklah. Aku setuju. Aku tanda tangan."
Wajah Arjuna langsung berbinar gembira, tapi belum sempat dia bersorak, Kirana menyambung cepat.
"TAPI ... ada syaratnya!"
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️