NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Benih Keraguan yang Menghasut

BAB 35: Benih Keraguan yang Menghasut

​Suasana hangat yang baru saja tercipta di ruang makan penthouse mewah itu seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Luna yang masih menggenggam erat kunci rumah peninggalan ayahnya dengan mata berkaca-kaca, mendadak merasakan perubahan drastis dari pria di hadapannya.

​Devano masih bergeming, namun rahang tegapnya mengetat sempurna hingga urat-urat di lehernya menonjol. Sepasang mata elangnya yang beberapa detik lalu menatap Luna dengan binar kelembutan terselubung, kini telah berubah menjadi sedingin es, menembus langsung ke manik mata bulat Luna. Cengkeraman tangan kekarnya pada ponsel pintar di tangannya begitu kuat, seolah sanggup meremukkan benda berteknologi tinggi tersebut menjadi berkeping-keping.

​Pesan dari Bu Rahma—yang dikirim menggunakan nomor samaran—benar-benar telah berhasil menyentuh tombol paling sensitif di dalam diri Devano: rasa curiga dan ketakutan akan pengkhianatan.

​"Tuan Devano...?" panggil Luna lirih, suara paraunya memecah keheningan yang mencekam. Ketangguhan mentalnya terusik saat melihat tatapan membunuh yang kembali dilemparkan Devano kepadanya. "Ada apa? Apakah ada masalah di kantor?"

​Devano tidak langsung menjawab. Dia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja marmer dengan ketukan yang cukup keras, menimbulkan bunyi prak yang membuat Luna sedikit tersentak. Pria itu menegakkan tubuh tegapnya, bersandar pada kursi kulitnya sembari melipat kedua tangan di depan dada bidangnya.

​"Luna Maharani," panggil Devano, suaranya baritonnya terdengar teramat rendah, lambat, namun sarat akan tekanan yang mengintimidasi. "Aku baru saja memberikan kembali rumah mendiang ayahmu sebagai bentuk imbalan karena kepatuhanmu semalam. Tapi sepertinya... kamu masih menyimpan banyak kartu as di belakangku, bukan?"

​Luna mengernyitkan dahinya yang indah, merasa bingung sekaligus terhina dengan tuduhan yang tiba-tiba ini. "Apa maksud Anda, Tuan? Saya tidak pernah menyembunyikan apa pun dari Anda. Seluruh hidup saya dan utang keluarga saya sudah berada di bawah kendali Anda."

​Devano terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang sama sekali tidak mencapai matanya. Belahan bibirnya membentuk segaris senyuman tipis yang kejam. Dia memajukan tubuhnya, bertumpu pada kedua sikunya di atas meja, memperkecil jarak di antara mereka hingga Luna bisa melihat kilat kemarahan yang tertahan di balik netra pekat pria itu.

​"Jangan berlagak polos di hadapanku, Asisten Luna! Ketangguhanmu dalam berpura-pura tidak tahu apa-apa terkadang membuatku muak," desis Devano tajam. "Katakan padaku, kotak kayu tua milik Mahardika yang semalam aku sita... apa saja yang tersimpan di dalamnya selain surat perjanjian lama? Dan kertas apa yang sengaja disobek oleh ayahmu sebelum dia mati?"

​Deg!

​Jantung Luna bagai dihantam gada besi yang sangat besar. Darah di sekujur tubuhnya mendadak berdesir dingin. Bagaimana bisa Devano tahu tentang kertas yang tersobek di dalam kotak kayu itu? Padahal semenjak bangun tidur tadi pagi, Luna sama sekali tidak menyentuh kotak itu lagi di depan Devano, dan dia sudah menyembunyikan kertas tes DNA tersebut di dalam tas pribadinya yang paling dalam.

​Ekspresi terkejut yang sekilas melintas di wajah pucat Luna tidak luput dari pengamatan tajam Devano. Bagi sang CEO, reaksi diam dan keterkejutan Luna adalah sebuah konfirmasi mutlak bahwa pesan misterius yang baru saja dia terima bukanlah sebuah isapan jempol belaka.

​"Kenapa diam, Luna?" kejar Devano, suaranya naik satu oktav, menuntut jawaban dengan otoritas mutlaknya. "Kertas apa yang ada di dalam kotak itu? Dokumen medis apa yang disembunyikan ayahmu dariku?!"

​Luna mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, mencoba mati-matian mempertahankan ketegaran jiwanya agar tidak runtuh di hadapan pria yang semalam baru saja memeluknya dengan begitu intim. Dia tidak boleh membeberkan soal hasil tes DNA atas nama Pradipta Adijaya itu sekarang. Mengapa? Karena dia sendiri belum tahu siapa anak rahasia yang dimaksud di kertas tersebut. Jika dia mengatakannya sekarang tanpa bukti yang jelas, Devano yang sedang dikuasai amarah pasti akan mengira bahwa Luna sedang merencanakan siasat busuk untuk memeras kekayaan keluarga Adijaya dengan mengaku-ngaku sebagai bagian dari garis keturunan mereka.

​"Tidak ada dokumen medis apa pun, Tuan Devano," jawab Luna, suaranya terdengar bergetar namun tatapan matanya tetap tegar menantang mata elang Devano. "Itu hanya kotak tua berisi surat-surat lama yang sudah tidak penting. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa membongkar kembali seluruh isi kotak itu yang sekarang berada di kamar."

​Devano berdiri dari kursinya dengan kasar, membuat kursi kulit itu bergeser ke belakang. Dia menatap Luna dengan pandangan kecewa yang teramat pekat. Siasat licik Bu Rahma berhasil dengan sempurna; benih keraguan dan kecurigaan kini telah tumbuh menjadi pohon raksasa yang merusak sisa-sisa rasa percaya Devano yang baru saja mekar semalam.

​"Aku akan mencari tahu sendiri dengan caraku, Luna. Dan jika aku menemukan bahwa kamu sedang membohongiku..." Devano menggantung kalimatnya, menunduk untuk menatap tajam ke arah leher jenjang Luna yang masih menyisakan jejak kemerahan samar akibat percumbuan mereka semalam. "...aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu jauh lebih dalam dari ini."

​Tanpa memedulikan air mata Luna yang akhirnya menetes satu butir di pipinya, Devano memutar tubuhnya dengan gusar. Dia menyambar kunci mobil dan ponselnya, lalu melangkah lebar menuju lift privat, meninggalkan penthouse malam itu dengan amarah yang bergemuruh di dadanya. Pria itu melesat membelah malam, mencari pelampiasan atas rasa sesak di dadanya, tanpa menyadari bahwa kepergiannya malam ini adalah awal dari kehancuran hubungan mereka.

​Di tempat lain, di dalam sebuah kamar mewah yang diterangi lampu temaram, Bu Rahma tersenyum puas melihat laporan dari orang kepercayaannya bahwa mobil Devano pergi meninggalkan penthouse dengan kecepatan tinggi. Di sampingnya, Siska sedang mengikir kukunya dengan senyum licik yang tak kalah menakutkan.

​"Kerja bagus, Mama," ujar Siska manja. "Biarkan Mas Devano curiga setengah mati pada wanita gatal itu. Setelah ini, giliran aku dan Dika yang akan memberikan pertunjukan utama yang sesungguhnya untuk membuat Luna diusir selamanya dari hidup Mas Devano!"

1
Surati Dewi
yaelah pak di senyumin Luna aja udah seneng apa lagi kalau di peluk
Lalat
bukannya ud tau kebeneran nya y dr hadi?
Lalat
kasian bgt /Sob/
Lalat
kasian
Lalat
seruu
Surati Dewi
mantap devano semangat boss
Surati Dewi
sekali saja tor hidup Aluna di buat bahagia gitu Lo
Indhira Sinta
bagus
gendiz: terimakasih 😊
total 1 replies
Agus Tina
Thor ceritamu bagus2, saya suka ...
gendiz: terimakasih kakak, boleh dishare atau direkomendasikan ke teman teman yang lain, biar tambah banyak yang baca 💙😊
total 2 replies
Hayati
lanju
gendiz: siiiiapppp 💙
total 1 replies
Agus Tina
pergi saja luna
Surati Dewi
jadi CEO tapi bodoh bukanya di selidiki,dan katanya benci Siska tapi di deketin terus diam aja dasar begok
Indhira Sinta
lunglai ya bukan gulai🤭
gendiz: aduh typo, 🤭
total 1 replies
Sarbina Sarbina
apa sih maunya di devano ini 😏
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!