NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Lorong Ketiga

Lorong di belakang ruang saksi itu lebih sempit daripada yang mereka bayangkan.

Wira berjalan paling depan, satu tangan menempel di dinding batu yang dingin, sementara tangan satunya menggenggam liontin ayahnya dan papan kayu bertulisan ibunya. Di belakangnya, Ki Rangga bergerak cepat namun tetap tenang. Jaya sesekali menoleh ke arah suara di belakang mereka, sementara Raden Seta membawa sisa naskah dan Panca mengumpat kecil setiap kali kepalanya hampir menyentuh langit-langit lorong yang rendah.

Di belakang mereka, suara pintu ruang saksi dibuka paksa terdengar semakin keras.

“Cepat,” desis Ki Rangga.

Wira mempercepat langkah. Lorong itu berbelok tajam lalu menurun sedikit, membuat udara di dalamnya terasa makin dingin. Bau tanah lembap bercampur debu lama menekan hidung. Tak ada cahaya selain lampu kecil yang dibawa Jaya di belakang. Sinar kekuningan itu hanya cukup untuk menampakkan dinding batu kasar dan jejak ukiran tua yang nyaris hilang.

Panca berbisik, “Aku mulai bosan dengan lorong bawah tanah.”

Jaya menatapnya sekilas. “Kalau bosan, berarti kau belum mati.”

“Terima kasih atas semangatnya.”

Mereka terus bergerak sampai lorong itu membesar sedikit. Di kiri terdapat cekungan batu seperti tempat duduk, dan di kanan ada lubang sempit yang mengeluarkan angin tipis. Wira berhenti sesaat, menoleh ke belakang, lalu ke depan. Lorong itu belum berakhir. Tapi dari suara di belakang, mereka juga tak bisa mundur.

Raden Seta mengangkat tangan. “Jangan berhenti lama.”

Wira mengangguk dan lanjut berjalan. Jantungnya masih berdebar keras sejak menemukan nama Danar di daftar saksi. Nama itu terus terngiang di kepalanya. Ayahnya bukan orang luar. Ia terlibat. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih rumit.

Ki Rangga menyusul di sampingnya. “Kau diam sejak tadi.”

Wira menatap lurus ke depan. “Aku sedang memikirkan nama itu.”

“Danar.”

Wira mengangguk.

“Belum tentu semua yang tertulis berarti semuanya salah,” kata Ki Rangga pelan.

Wira menoleh cepat. “Maksudmu?”

“Bahwa seseorang bisa terlibat tanpa sepenuhnya menyetujui apa yang terjadi.”

Wira menatap gurunya lama. Kata-kata itu tidak menghapus rasa sakit, tapi setidaknya memberi celah untuk bernapas. Ia tidak tahu apakah ayahnya benar-benar bersalah, dipaksa, atau justru berusaha menyelamatkan sesuatu. Yang jelas, nama itu sudah masuk dalam bagian yang paling gelap dari masa lalu keluarganya.

Lorong itu kemudian berujung pada sebuah pintu kayu tebal yang sudah melapuk. Jaya menyorotkan lampu kecil ke permukaannya. Di sana ada ukiran yang sama seperti tanda-tanda sebelumnya, tetapi kali ini di bagian tengah terdapat lubang kecil berbentuk segitiga.

Panca mengernyit. “Masih kunci lagi?”

Raden Seta maju mendekat dan meneliti lubang itu. “Bukan kunci biasa.”

Ki Rangga menatap Wira. “Bawa papan kayu ibumu.”

Wira langsung mengeluarkannya dari balik kain. Begitu papan itu didekatkan ke permukaan pintu, ukiran kecil di belakangnya tampak sejajar dengan lubang segitiga. Raden Seta mengeluarkan cincin tua dari dalam kain dan menempatkannya di cekungan kecil di sisi pintu. Terdengar bunyi klik pelan.

Pintu kayu itu bergeser beberapa senti.

Wira menahan napas.

Ki Rangga membuka celah itu sedikit lebih lebar. Di balik pintu, tampak sebuah ruangan panjang dengan lantai batu yang lebih rata. Di ujungnya, ada jendela kecil tertutup kisi-kisi kayu tua yang membiarkan sedikit cahaya luar masuk. Ruangan itu tampak lebih terang dibanding lorong sebelumnya, tetapi juga lebih kosong.

“Keluar,” bisik Ki Rangga.

Mereka masuk satu per satu ke ruangan itu. Begitu semua melangkah ke dalam, pintu di belakang tertutup kembali dengan suara berat, memutus lorong dari belakang. Wira menoleh cepat, lalu memandang sekeliling.

Ruangan itu ternyata bukan sekadar kamar kosong. Di dinding kiri dan kanan tergantung beberapa papan kayu yang sudah pudar, masing-masing berisi tulisan tangan dan gambar kecil. Ada pula rak tipis dengan kotak-kotak kecil yang tampaknya disusun berdasarkan urutan. Di tengah ruangan terdapat satu meja panjang, dan di atasnya ada bekas lilin yang sudah lama padam.

Raden Seta langsung mendekat ke salah satu papan kayu. “Ini ruang catatan.”

Panca mengusap tengkuknya. “Hebat. Jadi dunia bawah tanah punya perpustakaan juga.”

Jaya memeriksa jendela kisi di ujung ruangan. “Ada cahaya di luar. Kita kemungkinan dekat permukaan.”

Wira melangkah ke tengah ruangan dan melihat papan-papan di dinding. Tulisan-tulisan itu penuh tanda, tanggal, dan nama. Ada yang dicoret, ada yang dibulatkan, ada yang diberi tanda silang kecil. Semua seperti daftar yang hidup terlalu lama di tempat yang tidak boleh diketahui orang.

Ki Rangga berjalan ke papan paling kiri dan membaca cepat. Wajahnya berubah sedikit. “Ini daftar perpindahan.”

Wira mendekat. “Perpindahan apa?”

“Nama, mungkin juga barang,” kata Ki Rangga. “Tapi bukan asal pindah. Ini dicatat resmi.”

Raden Seta mengangguk. “Berarti tempat ini pernah dipakai untuk mengatur pemindahan identitas.”

Panca mengerutkan dahi. “Identitas bisa dipindahkan?”

“Kalau yang memegang kuasa cukup besar, ya,” jawab Jaya.

Wira menatap papan itu dengan dada terasa berat. Di sana ada beberapa nama yang tidak ia kenal. Namun satu nama menarik perhatiannya. Ia menunjuk ke baris yang hampir pudar.

“Ini.”

Ki Rangga menoleh.

Di sana tertulis nama Danar lagi. Di sampingnya ada tanda tangan kecil dan satu kalimat pendek: “Berpindah malam ketiga.”

Wira mengernyit. “Malam ketiga?”

Raden Seta mendekat. “Mungkin waktu penyerahan.”

Jaya membaca bagian bawah papan itu. “Ada arah.”

Wira menatap ke bawah tulisan nama Danar. Di sana ada panah kecil menuju sketsa rumah sederhana, lalu ke garis panjang yang berakhir pada titik di sisi timur. Sketsa itu tidak asing. Ia merasa pernah melihat bentuk rumah seperti itu dalam gambar papan kayu ibunya.

Panca menatap Wira. “Jangan bilang itu rumah lain.”

“Sepertinya iya,” jawab Wira pelan.

Ki Rangga berdiri tegak. “Kalau begitu itu tujuan berikutnya.”

Raden Seta menghela napas. “Dan mungkin tempat yang disebut ibumu sebagai tempat ketiga.”

Wira menggenggam papan kayu ibunya erat-erat. “Kalau Danar memang ayahku, kenapa namanya ada di daftar perpindahan?”

Raden Seta tidak langsung menjawab. Ia menatap papan itu lama. “Bisa jadi dia yang dipindahkan.”

“Dipindahkan ke mana?”

“Ke tempat yang sekarang kita sedang cari.”

Panca menggeleng. “Aku tidak suka semua ini. Orang dipindahkan, nama dihapus, peti dibuka, dan semua orang bicara seperti itu hal biasa.”

Ki Rangga menatap Panca. “Tidak ada yang biasa di sini.”

Wira menatap papan itu lagi. “Berarti ayahku mungkin masih hidup?”

Ruangan seketika sunyi.

Jaya berhenti memeriksa jendela dan menoleh cepat. Panca pun menatap Wira. Raden Seta tampak seperti sedang menimbang kata-kata yang tepat. Ki Rangga tidak menjawab cepat. Dan diam itu justru lebih berat daripada jawaban apa pun.

Akhirnya Raden Seta berkata pelan, “Bisa jadi.”

Wira menatapnya tajam. “Bisa jadi?”

“Karena nama di daftar ini menandakan perpindahan. Bukan akhir.”

Jantung Wira berdegup keras. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk bertanya lebih jauh, tetapi pada saat yang sama ia takut jawaban yang keluar justru akan lebih menyakitkan. Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang yang selama ini ditutup rapat.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar ruangan.

Bukan suara orang berbicara. Melainkan bunyi langkah di lantai kayu.

Semua langsung membeku.

Jaya memadamkan lampu kecil dengan cepat, menyisakan cahaya tipis dari jendela kisi. Wira menahan napas. Langkah itu bergerak pelan di luar, mendekat, lalu berhenti tepat di sisi jendela.

Seseorang sedang berdiri di luar.

Wira merasakan bulu kuduknya berdiri. Tidak ada suara, hanya hening yang menekan. Lalu dari luar, terdengar suara laki-laki yang tenang namun cukup jelas.

“Danar tidak seharusnya disebut di ruang ini.”

Wira membeku.

Ki Rangga menegang. Raden Seta menatap jendela. Panca menahan napas seakan takut bersuara. Wira sendiri seperti kehilangan kata-kata.

Suara itu kembali terdengar, lebih pelan tetapi lebih tajam.

“Kalau kalian mencari dia, kalian harus tahu siapa yang membawanya pergi.”

Wira langsung melangkah setengah langkah ke depan. “Siapa itu?”

Tidak ada jawaban seketika. Hanya desir angin dari luar kisi.

Lalu suara itu berkata lagi, “Buka pintunya, dan kau akan tahu.”

Jaya mengangkat pandangan ke Ki Rangga. “Dia bukan penjaga biasa.”

Raden Seta menatap jendela dengan wajah tegang. “Kita sudah didekati.”

Ki Rangga menggerakkan tangan. “Siapa pun dia, jangan buka.”

Wira menatap pintu ruangan dan jendela kisi bergantian. Di luar sana ada seseorang yang tahu nama ayahnya, tahu ruang ini, dan tampaknya ingin mereka melangkah lebih jauh. Ia tidak tahu apakah itu jebakan atau jawaban.

“Kalau tidak dibuka?” tanya Wira pelan.

Suara dari luar menjawab langsung, seolah orang itu memang mendengar pertanyaannya.

“Kalau tidak, kau tidak akan menemukan kenapa ibumu memilih menghilang.”

Wira membeku.

Panca berbisik, “Itu pasti tahu banyak.”

Jaya menatap Wira. “Jangan gampang terpancing.”

Namun Wira sudah tidak bisa diam. Nama ibunya, ayahnya, ruang ini, daftar perpindahan, semuanya seperti benang yang ditarik ke satu arah. Ia melangkah ke pintu, tapi Ki Rangga segera menahan bahunya.

“Wira.”

“Kalau dia tahu soal ibu, kita harus dengar.”

“Belum tentu,” kata Ki Rangga tegas. “Orang yang tahu banyak sering sengaja memancing.”

Wira menatap gurunya. Ia tahu Ki Rangga benar, tapi nalurinya juga berkata bahwa suara di luar itu bukan kebetulan. Orang itu tahu terlalu banyak untuk dibiarkan pergi begitu saja.

Raden Seta mengangkat naskah ibu Wira yang tadi ia simpan. “Ada satu kalimat di sini.”

Ia membuka halaman paling belakang dan menunjukkan baris yang hampir tak terbaca.

“Jangan ikuti suara yang datang dari balik pintu ketiga.”

Ruangan langsung sunyi.

Panca memucat. “Pintu ketiga?”

Ki Rangga menatap papan kayu di dinding, lalu jendela kisi di depan, lalu pintu yang mereka masuki tadi. “Kalau begitu ini memang salah satu dari tiga.”

Jaya menghela napas pendek. “Dan suara di luar mungkin bagian dari yang diperingatkan.”

Wira menatap tulisan ibunya. Tiba-tiba semua terasa seperti menjebaknya dalam teka-teki yang sudah disusun sangat lama. Suara dari luar kembali terdengar, kali ini lebih jauh.

“Kalian tidak akan selamat kalau tetap diam di sana.”

Wira memejamkan mata sejenak. Ia tahu mereka harus memilih cepat. Tetap di sini, atau membuka pintu yang mungkin justru menghantar mereka ke jawaban baru.

Ki Rangga menatapnya. “Kau yang memutuskan.”

Wira menggenggam papan kayu ibunya dan liontin ayahnya erat-erat. Ia menatap pintu ruangan, lalu jendela kisi tempat suara itu datang. Napasnya dalam, tetapi pikirannya kacau.

Akhirnya ia berkata pelan, “Kita dengar dia.”

Ki Rangga menatapnya lama. Lalu, dengan tenang, ia mengangguk.

Raden Seta menatap Panca dan Jaya. “Bersiap.”

Panca langsung menarik napas dalam. “Aku benar-benar tidak suka keputusan ini.”

Jaya menatap pintu dengan mata tajam. “Terlambat.”

Ki Rangga membuka kunci kecil yang menahan pintu ruangan.

Dan saat pintu itu perlahan bergerak terbuka, Wira merasa seperti sedang melangkah ke bagian baru dari masa lalu keluarganya—bagian yang selama ini dijaga dari semua orang, termasuk dirinya sendiri.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!