Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Penguasa Langit Nusantara
Jet pribadi mewah milik Wijaya Group yang baru saja dibeli dari dana likuiditas Asura Digital Bank membelah awan di atas langit Laut Natuna. Di dalam kabin kelas satu yang kedap suara, aku duduk santai sambil menikmati segelas jus jeruk segar, sementara Kirana bersandar nyaman di bahuku. Matanya terpejam pelan, menikmati ketenangan setelah beberapa hari yang melelahkan di Singapura.
Namun, ketenangan ini tidak meredakan pergerakan otakku. Di balik pusat kesadaranku, Sistem Penguasa Dewa sedang memetakan sebuah pulau terluar di wilayah Kepulauan Riau yang telah kupilih sebagai markas besar Asura Space.
"Adrian..." Kirana perlahan membuka matanya, menatapku dengan tatapan lembut. "Tim hukum kita sudah mendarat di Batam lebih dulu. Mereka bilang, lahan di Pulau Ranai yang kamu incar itu statusnya adalah milik konsorsium pertahanan swasta yang terafiliasi dengan beberapa jenderal korup di ibu kota. Apa kamu yakin mereka mau menjualnya pada kita?"
Aku mengelus pipi halusnya dengan senyuman tipis. "Di dunia ini, Kirana, tidak ada tanah yang tidak bisa dibeli. Jika mereka menolak uang, maka mereka harus siap menerima kehancuran karir mereka. Pulau itu memiliki letak geografis yang sangat sempurna di garis khatulistiwa untuk peluncuran roket pengorbit satelit kuantum kita."
Begitu jet pribadi kami mendarat di bandara hanggar privat Batam, sebuah iring-iringan mobil mewah Mercedes-Benz hitam sudah menyambut di landasan pacu. Di barisan depan pengawal, berdiri sosok yang tidak asing lagi: mantan pemimpin Black Cobra yang kini telah menjadi anjing setiaku di bawah pengaruh Retorika Hipnotis Dewa.
"Tuan Adrian, Nyonya Kirana, selamat datang kembali," ucap pria berwajah luka itu sambil membungkuk khidmat sembilan puluh derajat. "Jenderal purnawirawan Wiranto Baskoro—sepupu jauh dari Teguh Baskoro—saat ini sudah menunggu di dalam ruang VIP restoran pelabuhan. Dia membawa dua puluh personel militer bersenjata lengkap. Tampaknya dia tahu kedatangan kita dan ingin menggunakan kekuasaan militernya untuk menekan Wijaya Group."
"Wiranto Baskoro?" Kirana sedikit terkejut
mendengar nama belakang tersebut. "Rupanya sisa-sisa akar keluarga Baskoro masih mencoba melawan lewat jalur militer daerah."
"Mereka hanya belum menyadari bahwa taring mereka sudah habis dicabut," ujarku dingin. "Mari kita temui jenderal tua itu."
Ruang VIP restoran mewah di tepi pantai Batam sore itu telah dikosongkan total dari warga sipil. Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua berambut putih mengenakan seragam safari hijau tua dengan deretan tanda jasa di dadanya. Wiranto Baskoro. Wajahnya keras, memancarkan keangkuhan seorang mantan penguasa teritorial yang terbiasa memegang tongkat komando. Di sekelilingnya, dua puluh prajurit dengan baret merah dan senjata laras panjang bersiaga dengan tatapan waspada.
Begitu pintu ruangan terbuka, aku melangkah masuk dengan santai bersama Kirana. Tanpa meminta izin, aku langsung menarik kursi di hadapan Wiranto dan duduk dengan melipat kaki, sementara pengawal Black Cobra bersiaga di belakangku.
"Kamu yang bernama Adrian Pratama?" suara Wiranto menggelegar, berat dan penuh tekanan intimidasi militer. "Anak muda, kamu sudah bertindak terlalu jauh di ibu kota dan Singapura. Kamu menghancurkan keluarga saudaraku, Teguh, dan sekarang kamu berani mengincar Pulau Ranai yang menjadi pangkalan bisnis pertahanan milik konsorsiumku?!"
Wiranto mengetukkan tongkat komandonya ke meja marmer dengan keras. Brak! "Dengar baik-baik. Seberapa kaya pun bank digitalmu itu, di wilayah ini, satu perintah tembak dariku bisa membuatmu dan istrimu lenyap di laut tanpa ada satu pun orang yang bisa menemukan jasad kalian!"
Para prajurit di sekeliling ruangan serentak mengokang senjata mereka, menciptakan suara besi yang mencekam. Kirana refleks menggenggam erat tanganku, namun aku tetap duduk dengan tenang, bahkan tidak berkedip sedikit pun di depan moncong senjata.
Aku mengaktifkan 'Mata Penilai Dewa' untuk memeriksa seluruh data rahasia jenderal tua di hadapanku.
[Ding! Memindai Target: Wiranto Baskoro...]
[Rahasia Fatal: Terlibat dalam penyelundupan senjata ilegal internasional senilai 500 Juta Dolar AS dan pemalsuan dokumen anggaran alutsista negara.]
[Status Rekening: Memiliki simpanan rahasia di bank Swiss bernomor akun: AX-99081.]
Aku menyunggingkan senyum dingin yang membuat bulu kuduk Wiranto mendadak berdiri. Aku mematikan semua fungsi luar dan memfokuskan vokal suaraku menggunakan getaran sugesti mutlak Retorika Hipnotis Dewa.
"Jenderal Wiranto," ujarku dengan nada yang sangat rendah, namun anehnya suaraku bergema hebat di dalam kepala semua orang di ruangan itu seperti suara petir di siang bolong. "Sebelum Anda memerintahkan prajurit Anda untuk menarik pelatuk, bagaimana jika Anda memeriksa ponsel terenkripsi Anda terlebih dahulu? Rekening Swiss Anda dengan nomor akun AX-99081 yang berisi lima ratus juta dolar hasil penyelundupan senjata... baru saja dikosongkan total oleh sistem Asura Digital Bank dua menit yang lalu."
Deg!
Wajah Wiranto Baskoro yang tadinya memerah penuh amarah instan berubah menjadi seputih kertas. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia buru-buru merogoh saku safarinya dan membuka aplikasi perbankan rahasianya. Begitu melihat angka saldo di layarnya berubah menjadi $0.00, cangkir teh di depannya tersenggol dan pecah berantakan di lantai.
"K-kamu... bagaimana bisa..." suara jenderal tua itu tercekat di tenggorokan, matanya melotot penuh kengerian yang amat sangat.
"Bukan hanya itu," lanjutku, tatapan mataku menusuk langsung ke dalam jiwanya yang kini runtuh total. "Seluruh dokumen transaksi ilegal alutsista Anda telah dikirimkan secara otomatis ke meja Panglima TNI dan Mahkamah Militer. Dalam waktu sepuluh menit, helikopter Polisi Militer akan mendarat di luar gedung ini untuk menjemput Anda."
Aku berdiri dari kursi, menatap Wiranto yang kini terduduk lemas dengan tubuh yang bergetar seperti kakek-kakek jompo yang tidak berdaya. Seluruh keangkuhan militernya hancur berkeping-keping di bawah telapak kakiku.
"Sekarang," ujarku sambil meletakkan dokumen pengalihan hak milik Pulau Ranai di atas meja. "Tandatangani surat ini, atau Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda di penjara bawah tanah militer dengan status sebagai pengkhianat negara."
Wiranto tidak berpikir dua kali. Dengan tangan yang berguncang hebat, dia mengambil pena dan menandatangani dokumen tersebut dengan air mata keputusasaan yang menetes di atas kertas. Sret!
[Ding! Misi Darurat Penguasaan Lahan Asura Space Berhasil Diselesaikan!]
[Evaluasi: Penghancuran Faksi Militer Baskoro 100% Sukses!]
[Hadiah Diaktifkan: Sistem Pertahanan Udara Laser 'Asura Shield' telah siap dipasang di Pulau Ranai!]
[Saldo Rekening Tambahan Rp 1 Triliun telah dikirim secara penuh!]
Aku mengambil kembali dokumen yang sudah sah tersebut, lalu merangkul pinggang Kirana dengan hangat. "Ayo pergi, Kirana. Lahan untuk Asura Space sudah resmi milik kita. Besok pagi, kita akan melihat roket pertama kita menembus batas langit bumi."
Wiranto Baskoro hanya bisa menatap punggungku dengan pandangan kosong, sementara dari kejauhan, suara sirine helikopter Polisi Militer mulai terdengar mendekat, menandakan akhir dari sisa-sisa kejayaan faksi Baskoro di tanah air.