Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 SEBUAH PERTEMUAN (Bagian Ketiga)
"Oh... Dayang Putri nama pendampingnya ya..." respon lelaki itu sambil mengangguk pelan.
"Dan dia juga cantik, sama sepertiku..." tambah Sekar Mayang sambil melirik genit ke arahnya.
"Iya... Terus kenapa kalo sama-sama cantik?"
"Jika kamu suka dengan perewangan wanita di depanmu ini, maka aku bisa cemburu!"
"Yeeeh... Jangan ngawur kamu... Boro-boro aku bakalan suka sama perewangan orang lain, urus satu perewangan aja udah bikin repot!"
"Eh, apa maksudmu?!" tanya Sekar Mayang, ekspresinya berubah seketika. Yang sedari tadi tersenyum, anggun, dan sedikit genit pada tuannya itu, kini tampak seperti kesal dan tatapan matanya yang merah cerah jadi lebih tajam, menatap ke lelaki itu.
"Loh, kamu marah?" tanya lelaki itu.
"Menurutmu?!" tanya balik Sekar Mayang dengan aura tubuh ghoibnya yang menjadi lebih berat, mengintimidasi lelaki yang menjadi tuannya itu.
"Beneran marah nih?"
"Menurutmuuuu?!" respon ulang Sekar Mayang sambil memajukan wajahnya, hampir sangat dekat dengan wajah tuannya itu.
Tampak cantik memang wajah Sekar Mayang saat mendekat seperti ini, dengan kulit wajahnya yang mulus, putih, dan aroma bunga kantil merah tercium halus dari sosoknya. Akan tetapi jika sedang dibuat marah (walau sedikit saja seperti sekarang) maka tatapan kedua matanya yang merah cerah itu terasa sangat menekan dan memojokkan batin tuannya.
Si lelaki itu merespon Sekar Mayang dengan mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya, lalu menempelkannya ke bibir Sekar Mayang, mendorong wajahnya menjauh sedikit.
"Iya-iya... Maaf... Aku cuma bercanda kok..."
"Kalau memang kehadiranku selama ini membuatmu repot, lalu kenapa kamu tetap merawatku?!" kata Sekar Mayang.
"Iya... Iya... Maaf loooh... Inget, kamu itu perewanganku."
"Iya! Lalu kenapa?!"
"Ya jangan marah dong, masa gitu aja marah? Kamu kayak baru kenal aja sama aku."
"Karena kamu terlalu sering bercanda denganku, Zaki!"
"Ya biarin aja, emang kamu mau punya tuan yang kaku sikapnya? Kamu mau balik lagi ke tuanmu sebelumnya yang cuma memanfaatkan kekuatanmu aja? Kamu mau tidak dihargai lagi sebagai perewangan? Kamu mau cuma diperintah untuk berbuat jahat lagi? Kamu mau kalo---" rentetan pertanyaan dari mulut si lelaki (yang ternyata bernama Zaki) itu, segera ditahan oleh lembutnya telapak tangan kanan Sekar Mayang.
"Eh, jangan pegang mulutku begini, gak sopan ya kamu..." Zaki segera melepaskan tangan Sekar Mayang dari mulutnya, namun dengan sentuhan yang pelan, tidak membuat Sekar Mayang merasa dimarahi.
Dan, itulah sebagian kecil sikap Zaki yang membuat Sekar Mayang sangat nyaman dan sangat merasa dihargai sebagai sesosok perewangan.
--------------------
Sungguh, mungkin baru kali ini para pembaca tahu, jika ternyata hubungan antara seorang manusia dengan perewangan (pendamping ghoib)nya bisa sampai sedekat itu.
--------------------
"Baiklah jika begitu..." ucap Sekar Mayang, dan kembali duduk seperti sebelumnya.
"Jika begitu apa?" tanya Zaki sambil menatap dan mengerutkan dahinya sedikit.
Sekar Mayang tak menjawab. Dia hanya kembali menatap ke arah wanita di hadapan tuannya itu yang masih saja dalam kondisi lelap tidur.
Dan tiba-tiba...
Zaki melihat tangan kanan Sekar Mayang terangkat sedikit, seolah seperti hendak menyentuh sesuatu dari jarak jauh. Lalu, jatuhlah sebuah tiket dari dalam baju gamis si wanita itu. Jatuh tepat di depan kaki tuannya.
Zaki yang melihat kelakuan perewangannya itu, seketika mengusap wajahnya sendiri sambil beristighfar pelan.
"Astaghfirulloh... Kamu ngapain lagi sih? Aku gak suka kamu jahil kayak gitu... Jangan bikin aku marah sama kamu ya Sekar Mayang..."
Ketika Sekar Mayang hendak merespon ucapan tuannya itu, belum sempat berucap, tiba-tiba sensor ghoib dalam diri Zaki merasakan kehadiran sesuatu yang lain.
Seketika itu juga, suasana di antara mereka berdua menjadi lebih berat. Seperti sebuah benturan dua energi yang terjadi begitu cepat. Layaknya sebuah sengatan yang cukup membuat tubuh Zaki terkejut sepersekian detik.
Dan... Wajah Zaki serta Sekar Mayang yang awalnya saling menatap pada kalimat terakhir yang diucap Zaki barusan, kini menoleh perlahan bersamaan. Menoleh ke sebuah arah. Arah di sebelah si wanita yang terlelap tidur itu.
Sedetik kemudian, mata mereka berdua melihat satu sosok yang hadir di atas bangku gerbong bernomor E-13 yang awalnya kosong itu...
Sosok dengan penampilan yang sama persis seperti Sekar Mayang...
Paras wajahnya yang sama cantik dan anggun, kepalanya bermahkota yang sama pula, dan juga sama-sama berselendang kuning keemasan mengkilap. Hanya saja berbeda warna baju dan warna matanya. Sosok itu di dominasi warna hijau cerah.
Seketika itu juga Zaki tertegun diam, wajahnya menjadi tampak sedikit tegang, posisi duduknya menjadi tegak perlahan. Dan tak ada senyuman atau apapun di bibirnya.
Berbeda dengan Sekar Mayang. Ia malah tampak tersenyum melihat sosok itu. Dan tatapan matanya yang merah cerah malah tampak seperti melihat sesuatu yang sudah sangat lama ia kenal.
Dan tanpa banyak basa-basi...
"JANGAN KAU GANGGU TIDUR NISA KU... ATAU KAU AKAN BERURUSAN DENGANKU, SEKAR MAYANG..."
Ucap sosok yang baru hadir itu, dengan tatapan mata hijau cerahnya yang tajam, tanpa senyuman, terasa dingin dan menekan, aura dan energi penjagaannya terasa kuat dan menekan aura serta energi Sekar Mayang.
Tapi, Sekar Mayang malah tertawa pelan, seolah menyambut kedatangan sosok itu,
"HIHIHI... AKU HANYA INGIN MEMBANTU TUANKU UNTUK BISA BERKENALAN DENGAN NISA MU, DAYANG PUTRI..."