NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

berontak

Sedan hitam itu masuk ke halaman sebuah mansion megah. Sunyi, gelap, dan mengintimidasi.

"Lepasin! Turunin aku, dasar bajingan psikopat!"

Nayara menjerit histeris. Ia memukul-mukul punggung tegap Dante dengan tinjunya yang mulai kehilangan tenaga. Suara parau gadis itu menggema nyaring di sepanjang koridor marmer mansion yang sepi, memecah kesunyian malam yang mencekam. Namun, Dante sama sekali tidak membalas makian tersebut. Ia terus melangkah santai dengan ritme yang konstan, menaiki tangga melingkar yang megah, hingga membuka sebuah pintu kayu ek besar di lantai atas. Dengan satu gerakan tak berperasaan, ia mengempaskan tubuh Nayara ke atas kasur luas di dalam kamar mewah bernuansa gelap tersebut.

Bukk!

Tubuh Nayara mendarat dengan keras. Dengan pakaian gadis itu yang basah kuyup

"A-apa yang kamu lihat, hah?!" teriak Nayara, suaranya bergaung menabrak langit-langit kamar yang tinggi. Kedua tangannya gemetar menumpu tubuhnya yang lemas untuk mundur hingga menyentuh kepala ranjang. "Aku peringatkan, kamu jangan berani macam-macam denganku!"

Dante tidak langsung menjawab

Sreeet.

Dante menarik keluar sebuah belati perak yang berkilat tajam. Kilatan logam itu memantulkan cahaya lampu kamar yang sengaja diset temaram.

"Sudah selesai bicaranya, hmm?" tanya Dante. Suara baritonnya terdengar begitu rendah dan dingin, sanggup menghentikan detak jantung Nayara dalam satu detik.

Dante melangkah maju, mendekati sisi ranjang. Melihat senjata tajam di tangan pria itu, alih-alih menyerah pada rasa takut, keputusasaan yang mendalam justru membuat adrenalin Nayara melonjak nekat. Saat jarak Dante sudah berada dalam jangkauannya, Nayara menerjang maju dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangannya bergerak cepat berusaha merebut belati, sementara kakinya melayangkan tendangan sekuat tenaga ke arah dada pria itu.

Bukk!

Namun, Dante memiliki refleks seorang monster. Dengan mudah, ia memiringkan tubuhnya beberapa derajat ke samping. Tendangan Nayara meleset total. Sebelum gadis itu sempat menarik kembali kakinya, Dante sudah mencengkeram pergelangan tangannya dengan satu genggaman yang kuat, memutarnya ke belakang punggung, dan mengunci tubuh Nayara ke tiang ranjang yang kokoh dengan kasar.

"Akh!" Nayara meringis kesakitan saat rasa ngilu yang hebat menjalar dari pergelangan tangan hingga ke bahunya.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Begitu dekat hingga Nayara bisa mencium aroma parfum maskulin Dante yang mahal, yang kini bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun memuakkan. Dante menatapnya lurus. Senyuman miring yang tadi sempat menghiasi bibirnya kini lenyap, digantikan oleh tatapan psikopat yang sangat pekat dan dingin.

Dante mengangkat belatinya perlahan.

Sreeeett...

Ujung bilah pisau yang sedingin es itu ditempelkan di bahu Nayara yang basah, lalu digerakkan turun dengan sangat lambat. Dante sengaja menekan belati itu hingga merobek sedikit demi sedikit kain kardigan lembap yang dikenakan Nayara, mengeksis kulit bahunya yang pias ke udara kamar yang dingin karena pendingin ruangan. Nayara langsung mematung, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia tahu, satu milimeter saja ia bergeser, kulitnya akan terbelah.

"Perlawanan yang sia-sia," bisik Dante tepat di samping telinga Nayara. Embusan napasnya yang hangat terasa begitu mengerikan di kulit leher Nayara yang meremang. "Aku bisa saja menggores lehermu sekarang, membiarkan darahmu mengalir dan menodai seprai ini hingga merah. Atau..."

Dante menurunkan bilah pisaunya, menekan ujung belati itu sedikit lebih dalam di atas kulit dada atas Nayara, cukup kuat untuk membuat gadis itu meringis kesakitan, namun cukup terlatih untuk tidak mengeluarkan setetes darah pun.

"Pakai baju pelayan yang sudah disiapkan di sana, dan patuhlah. Dengan begitu, aku akan membiarkan jantungmu berdetak sedikit lebih lama di dunia ini. Mengerti, hmm?"

Dante menjauhkan wajahnya sedikit, mengunci tatapan mata Nayara yang kini mulai berkaca-kaca penuh keputusasaan.

Air mata Nayara kembali luruh. Sifat keras kepala dan keberanian yang tadi sempat membakarnya kini runtuh total di hadapan dominasi mutlak sang iblis. Tubuhnya bergetar hebat saat kesadarannya dipaksa menerima kenyataan bahwa ia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Dengan perlahan dan penuh keterpaksaan, ia mengangguk pasrah.

Dante menarik belatinya menjauh. Sebuah senyuman dingin yang puas terulas di bibirnya yang tipis melihat korbannya kini tak berdaya dan patuh. Pria itu mundur dua langkah, lalu mengambil sepotong gaun maid hitam pendek yang terletak di atas meja kecil dan melemparkannya ke atas kasur, tepat di depan Nayara. Gaun itu tampak sangat mini dan provokatif.

"Sepuluh menit," kata Dante sambil melirik belati di tangannya dengan tatapan menilai. "Jika aku kembali ke kamar ini dan kamu belum memakainya... aku sendiri yang akan mengupas sisa pakaian basahmu dengan ini."

Tanpa menunggu jawaban, Dante berbalik dan melangkah keluar kamar. Pintu kayu ek itu tertutup dengan suara debuman keras, meninggalkan Nayara yang seketika terduduk lemas di lantai marmer yang dingin di samping ranjang. Gadis itu menangis dalam keputusasaan yang sunyi, meratapi nasibnya yang mendadak berubah menjadi neraka dalam satu malam.

"Hiks... Ayah... Tolong Naya..." ratap Nayara pelan, memeluk lututnya sendiri yang gemetar.

Suaranya terdengar parau, langsung tenggelam di antara deru badai dan hantaman hujan deras yang mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar. Ia menatap gaun pelayan seksi di atas kasur dengan pandangan muak, bercampur ngeri. Rasa takut dijadikan mainan oleh seorang psikopat seperti Dante membuat harga diri dan eksistensinya terasa sekecil debu yang siap diinjak kapan saja.

"Ayah... Naya mau pulang..." bisiknya berulang kali, menyebut nama satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia ini. Di dalam hati kecilnya, ia terus berdoa, berharap sebuah keajaiban akan datang dan menjemputnya keluar dari bangunan terkutuk ini.

Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, guntur menyambar keras di atas sebuah pemukiman padat. Suara petir bergemuruh di atas atap sebuah rumah sederhana berlantai satu. Di dalam rumah yang sunyi itu, jam dinding tua berdentang dua kali. Menandakan waktu telah menunjukkan pukul dua pagi.

Ayah Nayara, Hardian, berdiri tegang di dekat jendela ruang tamu. Kaca jendela di depannya bergetar hebat, berderit setiap kali diterpa angin kencang dari luar. Matanya yang menyiratkan kelelahan fisik dan batin terus menatap ke arah jalanan depan rumah yang sepi, yang kini diguyur hujan yang tampak tidak ada tanda-tanda akan mereda.

"Naya, kamu di mana, Nak?" gumamnya penuh kecemasan yang mendalam.

Pria paruh baya itu berjalan bolak-balik di ruang tamu yang sempit. Tangannya yang sedikit cacat menggenggam erat sebuah ponsel tua yang layarnya terus menyala. Sedari tadi, ia hanya mendengarkan nada sibuk atau suara operator otomatis setiap kali mencoba menghubungi nomor putri tunggalnya. Perasaan tidak enak yang sangat pekat mulai menggerogoti dadanya, membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Naya adalah anak yang penurut; gadis itu tidak pernah terlambat pulang hingga selarut ini tanpa memberikan kabar sebelumnya. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.

Kembali ke Mansion Moretti. Di lantai utama, Dante baru saja keluar dari kamar mandi pribadinya setelah membersihkan sisa air hujan dan beberapa bercak darah yang menempel di tubuhnya. Rambut hitamnya yang basah jatuh berantakan di dahi saat sebuah ketukan kasar dan berirama tegas terdengar di pintu kamarnya. Seorang penjaga mansion berdiri di luar, menyampaikan pesan singkat bahwa sang Don menunggunya di ruang kerja utama saat ini juga.

Dante tidak terkejut. Dengan santai, ia melangkah menyusuri koridor megah menuju ruang kerja bernuansa gelap yang terletak di ujung lorong lantai dua. Namun, begitu Dante membuka pintu ganda ruang kerja tersebut dan melangkah masuk, sebuah cangkir porselen tebal melayang cepat ke arah kepalanya tanpa peringatan.

Wusss!

Dengan refleks yang sangat tenang dan terlatih dari bertahun-tahun hidup di dunia bawah, Dante hanya memiringkan kepalanya beberapa sentimeter ke kiri. Cangkir porselen itu lewat begitu saja di samping telinganya, sebelum akhirnya menghantam dinding di belakangnya dan hancur berkeping-keping di atas lantai.

Lorenzo Moretti—sang Don yang memimpin keluarga mafia tersebut, sekaligus ayah kandung Dante—berdiri tegak di balik meja kerja kayunya yang besar. Pria paruh baya berpenampilan matang, rapi, namun mematikan itu menatap putranya dengan tatapan murka yang sanggup membuat nyali anak buahnya menciut.

"Sampah apa yang kau bawa ke rumahku, Dante?!" geram Lorenzo, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi aura intimidasi yang menekan. "Sejak kapan seorang Moretti membiarkan saksi mata dari sebuah eksekusi tetap bernapas, dan yang lebih bodoh lagi, kau membawanya masuk ke dalam mansion ini?!"

Dante tidak menunjukkan riak ketakutan sedikit pun. Ia berjalan santai menyeberangi ruangan, lalu mengambil tempat duduk di atas sofa kulit hitam yang empuk, menyandarkan punggungnya dengan angkuh seolah kemarahan ayahnya hanyalah hiburan malam.

"Dia berbeda, Pa," jawab Dante tenang, suaranya datar namun terdengar begitu yakin. "Reaksinya saat ketakutan... sangat menghibur. Aku membawanya ke sini hanya untuk menjadikannya mainan baru. Tidak lebih."

Mendengar jawaban yang meremehkan itu, kemarahan Lorenzo semakin menyala. Pria itu melangkah cepat memutari meja kerjanya, mendekati sofa, lalu mencengkeram kerah kemeja putih Dante dengan kasar. Ia menyentak tubuh putranya, memaksa pria muda itu untuk menatap langsung ke dalam mata elangnya yang dingin dan kejam.

"Mansion ini adalah markas utama kita, bukan tempat bermain anak kecil!" bisik Lorenzo dengan nada mengancam yang tajam. "Sekali tikus, tetaplah tikus yang bisa menggigit kapan saja. Aku tidak peduli seberapa menghiburnya dia untukmu. Jika wanita itu sudah tidak berguna lagi untuk menjaga rahasia kita, segera habisi dia. Paham?!"

Dante tidak melawan cengkeraman tangan ayahnya. Ia hanya menarik sudut bibirnya tipis, membentuk sebuah senyuman miring yang dingin dan misterius.

"Tentu," sahut Dante dengan nada santai namun sarat akan kekejaman yang tersembunyi. "Kalau mainan itu sudah rusak dan mulai membosankan... aku sendiri yang akan melenyapkannya dari dunia ini tanpa sisa."

1
Muhamad Nazril
lanjutt
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: siap💪
total 1 replies
Muhamad Nazril
👍👍👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih🤗
total 1 replies
HamdanR M
Makin kesini semakin seru😍
Lanjutt min, Semangat 💪💪💪
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih kak🤗
total 1 replies
Padil
👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
siap
Nazwan Nazwan
Bagus😍😍😍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!