"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Jam Tangan Devan yang Tertinggal
****
Lonceng kecil yang tergantung di atas pintu kayu kafe tua itu bergemerincing pelan saat aku mendorongnya masuk. Aroma bubuk kopi tua yang berpadu dengan kelembapan udara pasca-hujan langsung menyergap indra penciumanku. Keadaan di dalam kafe begitu lengang, hanya ada pencahayaan temaram dari lampu gantung kekuningan yang tembus dari sela-sela langit-langit kayu yang mulai lapuk. Di luar, rintik gerimis sore masih setia mengetuk kaca jendela dengan ritme yang monoton.
Aku berdiri mematung di dekat pintu masuk, merapatkan jaket rajut hitam tebal yang kupakai untuk menghalau dingin yang menusuk tulang. Mataku bergerak menyapu ke seluruh sudut ruangan yang sunyi, mencari sosok misterius yang telah mengirimkan pesan teror mengerikan ke ponselku beberapa menit yang lalu. Jantungku berdegup kencang, menimbulkan rasa ngilu yang nyata di dalam dada akibat rasa cemas yang kian membubung tinggi.
"Mikaela. Di sini."
Sebuah suara bariton yang sangat familiar memecah kesunyian dari arah meja paling pojok di dekat jendela kaca yang buram. Aku tersentak hebat, kepalaku menoleh cepat ke arah sumber suara. Seluruh pasokan oksigen di dalam paru-paruku rasanya tersedot habis seketika itu juga saat melihat siapa yang sedang duduk di sana.
Bukan anak buah keamanan OSIS. Bukan juga musuh dalam selimut dari kelas lain.
Sosok yang duduk dengan tenang sambil menyesap secangkir kopi hitam panas itu adalah **Saka Aditya**.
Dia masih mengenakan pakaian seragam sekolahnya yang kini sudah setengah kering, namun dasinya sudah dilepas dan diletakkan begitu saja di atas meja kayu yang berdebu. Potongan rambut pendek barunya yang rapi membuat gurat wajah tegasnya terlihat semakin dingin dan mengintimidasi di bawah temaram lampu kafe.
"S-Saka? Jadi... lo yang kirim pesan teror itu?" tanyaku dengan suara yang bergetar hebat karena kombinasi rasa tidak percaya dan takut yang campur aduk. Aku berjalan mendekat dengan langkah kaki yang goyah, lalu berhenti tepat di hadapan mejanya.
Saka menurunkan cangkir kopinya perlahan, lalu mendongak menatapku lurus-lurus dengan mata elangnya yang tajam. Seringai sinis yang pekat terukir di sudut bibirnya yang dingin. "Kalau gue gak pakai cara sekasar itu, lo gak bakal sudi datang menemui gue sendirian di tengah hujan begini, kan, Mik? Lo bakal tetap memilih bersembunyi di bawah ketiak si Ketos bangsat itu."
Air mataku hampir saja lolos melihat keagresifan Saka yang kembali mencuat ke permukaan. "Gila lo, Sak! Lo tahu gak betapa paniknya gue?! Kenapa lo harus mengancam gue pake foto di lapangan basket itu?!"
"Karena gue mau tahu kebenaran yang lo sembunyikan, Mikaela!" bentak Saka pelan namun sarat akan penekanan yang bergetar hebat. Dia bangkit berdiri dari kursinya, memotong jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma maskulinnya yang berpadu dengan aroma air hujan.
Saka merogoh saku celana abu-abunya, mengeluarkan sebuah benda mekanis yang berkilau perak di bawah cahaya lampu temaram, lalu meletakkannya di atas meja dengan bantingan yang cukup keras.
*Klentang!*
Aku membelalakkan mata, menatap benda di atas meja itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Itu adalah sebuah jam tangan pria bermerek ternama dengan tali kulit hitam yang sangat kukenal. Jam tangan mewah yang selalu melingkar di pergelangan tangan kiri Devan Dirgantara. Ada ukiran inisial nama *D.D.* yang terpatri rapi di bagian pengait peraknya.
"J-jam tangan Devan? Kenapa benda ini bisa ada di lo, Sak?" tanyaku dengan suara yang semakin mengecil akibat kepanikan yang kian mencengkeram jiwaku.
Saka terkekeh sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar begitu dingin dan penuh teka-teki berbahaya. "Kemarin sore, setelah lo mengusir gue dari lapangan basket *indoor*, gue gak langsung pulang ke rumah. Gue sengaja balik lagi ke area gudang belakang buat mengambil kunci motor gue yang tertinggal di pangkalan anak-anak IPS. Dan tebak apa yang gue temukan tergeletak di atas meja ruang OSIS yang pintunya gak dikunci rapat?"
Saka memajukan wajahnya, menatapku dengan kilat mata yang dipenuhi rasa puas sekaligus amarah yang meletup-letup. "Gue menemukan jam tangan sialan ini tertinggal di sana, tepat di sebelah draf laporan berkas pelanggaran gue yang sudah robek menjadi dua bagian. Dan lo tahu apa yang paling menarik, Mik?"
Saka menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah sedang menikmati kemenangan psikologisnya atas diriku. "Di dalam lobi meja ruang OSIS itu, gue juga menemukan sebuah alat perekam suara digital kecil yang masih menyala halus. Alat perekam milik Devan yang sengaja dia pasang buat merekam seluruh percakapan kalian pas lo memohon-mohon sama dia hari Selasa kemarin!"
Duniaku rasanya benar-benar runtuh dan membeku mendengar penuturan Saka. Seluruh persendian di tubuhku mendadak mati rasa hingga aku harus berpegangan pada sandaran kursi kayu di dekatku agar tidak jatuh tersungkur ke lantai kafe.
Devan merekam percakapan kami? Jadi... sejak awal Devan sengaja mendokumentasikan momen keputusasaanku untuk dijadikan barang bukti penjerat emosiku di kemudian hari?
"Saka... lo udah dengar rekaman itu?" tanyaku lirih dengan air mata yang kini mengalir deras membasahi pipi.
Saka terdiam sesaat, kepalan tangannya di atas meja tampak mengeras hingga urat-urat di lengannya menonjol memerah. Binar amarah di matanya mendadak meredup, bergantikan dengan kilat rasa bersalah dan luka dikhianati yang teramat dalam yang kembali mengintip dari balik ketenangannya.
"Iya, gue udah dengar semuanya, Mikaela," tutur Saka dengan nada suara yang melembut namun terdengar sangat serak menahan sesak di dadanya. "Gue dengar gimana lo menangis histeris di depan dia demi merobek surat pemecatan gue. Gue dengar gimana lo menurunkan harga diri lo sedalam-dalamnya dan terpaksa menerima dia jadi pacar lo hanya karena lo takut masa depan gue hancur."
Saka melangkah maju, meraih kedua bahuku dengan cengkeraman tangan yang kuat namun anehnya bergetar hebat karena emosi yang meluap. "Kenapa lo harus sebodoh ini, hah?! Kenapa lo harus mengorbankan hidup dan kebebasan lo demi berandal gak berguna kayak gue, Mik?! Kenapa lo gak kasih tahu gue kalau si ular itu mengancam lo?!"
"Karena gue gak mau lo hancur, Saka!" teriakku frustrasi di depan dadanya, melepaskan seluruh tangisan yang selama dua minggu ini kupendam dalam kesendirian. "Lo gak tahu gimana nekatnya Devan! Dia bisa melakukan apa saja buat menyingkirkan lo dari sekolah ini! Gue lebih baik dibenci sama lo seumur hidup, asalkan gue bisa melihat lo tetap sekolah dan lulus bareng-bareng!"
Mendengar pengakuan jujurku yang keluar bersama air mata, tubuh tegap Saka seketika bergetar. Dia langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya, mendekapku dengan sangat erat seolah takut aku akan menghilang dari hidupnya jika dia melepaskan dekapannya sedetik saja. Hembusan napas panasnya terasa di puncak kepalaku yang basah oleh sisa air hujan.
"Maaf... maafin gue, Mik," bisik Saka parau tepat di telingaku, tangannya bergerak mengusap punggungku dengan gerakan yang posesif namun sarat akan penyesalan yang mendalam. "Gue salah karena sempat membenci lo seminggu ini. Tapi sekarang gue bersumpah, setelah gue memegang jam tangan dan tahu rahasia perekam suara ini, gue gak akan membiarkan Devan mengontrol hidup lo lagi. Gue bakal menghancurkan sangkar emas yang dia buat, dengan cara yang sama rapinya dengan permainan dia."
Gue menangis sesenggukan di dalam dada bidang Saka, merasakan kehangatan yang selama dua minggu ini hilang dari hidupku di bawah ketiak Devan. Namun, di tengah kenyamanan pelukan Saka, sebuah rasa cemas yang baru tiba-tiba menyergap isi kepalaku.
Jam tangan Devan ada di tangan Saka. Rekaman suara rahasia itu kini telah terbongkar. Jika Devan menyadari bahwa jam tangannya hilang dan rahasianya telah dicuri oleh Saka, sang Ketua OSIS yang posesif dan manipulatif itu pasti akan meluncurkan serangan balasan yang jauh lebih mematikan malam ini juga. Perang dingin asmara di antara dua cowok *red flag* ini kini telah resmi menaikkan levelnya ke tingkat yang paling berbahaya, dan aku berada tepat di tengah-tengah episentrum ledakannya yang siap pecah kapan saja.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> **Gila, bab ini bener-bener menguras emosi dan plot twist-nya dapet banget!** Siapa yang menyangka kalau pengirim pesan teror nomor asing itu ternyata adalah Saka Aditya yang sengaja memakai taktik ugal-ugalan buat memancing Mika keluar dari kurungan Devan. Dan penemuan jam tangan serta alat perekam suara rahasia milik Devan di ruang OSIS benar-benar mengubah peta permainan perang dingin ini secara seratus delapan puluh derajat!
> Sekarang Saka sudah tahu kebenaran kalau Mika terpaksa pacaran sama Devan demi melindunginya. Rasa bersalah dan obsesi matang Saka bersatu, membuat si *bad boy* versi rapi ini bersiap meluncurkan strategi balas dendam yang gak kalah cerdiknya dari taktik manipulasi Devan. Pertemuan emosional mereka di kafe tua di tengah hujan gerimis ini bener-bener bikin merinding sekaligus nyesek ya, guys.
> Kira-kira apa ya yang bakal dilakukan Devan setelah dia menyadari jam tangan dan rahasia rekamannya hilang dari ruang OSIS? Apakah dia bakal langsung melacak keberadaan Mika malam ini juga?
>