Anindya Wijaya, seorang mahasiswi lanjutan jurusan kebidanan. Anak yatim piatu yang harus bekerja keras demi kebutuhan hidupnya. Semua pekerjaan rela dia lakukan termasuk menjadi pacar ataupun tunangan bayaran. Pekerjaan itulah yang membuatnya bertemu dengan Bagas Ardhitama, seorang tentara pasukan khusus yang dikejar deadline oleh orang tuanya untuk membawa pacarnya ke rumah.
Apakah ini awal yang baik untuk memulai sebuah hubungan?
Akankah kebohongan mereka menjadi petaka? Ataukah akan bahagia?
Akankah pekerjaan Bagas sebagai tentara pasukan khusus membuat hidup Anindya terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angga
Bagas melajukan mobilnya meninggalkan pantai. Tari dan Anin duduk di belakang. Tari memandang ke luar jendela. Anin hanya bisa berharap semoga Tari bisa bangkit dari keterpurukannya dengan segera.
"Mas, mobil Tari masih ada disana. Terus nanti gimana?"
"Kamu bisa naik motor atau mobil nggak?"
"Jangan ditanya mas, jagonya ngebut dia" Tari menyahut percakapan antara Anin dan Bagas
"Oh ya? Mas kira kamu gak bisa bawa motor ataupun mobil"
"Eits, jangan salah mas, dia itu jagonya ngebut habis itu ditabrakin"
"Hahahah, kamu beneran gak bisa naik motor ataupun mobil"
"Orang gak punya motor ataupun mobil mana bisa belajar" jawab Anin sinis.
"Hilih, lo tu ya. Gue yang ngajarin lo ampe pegel ketawa. Pasti jatuh lecet lo nangis"
"Hahahah, itu beneran kamu gak bisa?"
"Iya"
"Ya sudah nanti mas ajarin. Nanti yang ambil mobil lo biar temen gue deh Ri. Dia kerja dekat situ. Jadi nanti kita nyerahin kunci dulu ya"
"Terserah lah mas, udah gak peduli gue ama mobil"
Keheningan tercipta kembali di dalam mobil sampai tiba di halaman sebuah cafe dekat mall x. Bagas turun dan menemui orang itu lalu menyerahkan kunci mobil milik Tari.
"Eh Ri, itu bukannya Angga ya? Mantan lo yang dulu pernah lo tinggalin hanya karena alasan bosen sama dia?"
"Mana? Wajahnya sih mirip. Tapi tau deh KTP nya mirip apa gak"
"Ih, lo perhatiin baik baik dong"
"Eh iya Nin, itu emang Angga. Aduh, kalo dia yang nganterin mobil gue bisa malu dong gue"
"Hahahah, masih punya urat malu lo? Gue kira udah putus waktu lo trauma dulu"
"Eh kenapa lo putus sama dia sih?"
"Gue takut kalo kayak nyokap. Dulu dia ngajakin gue serius ama dia. Gue nya masih takut. Makanya putus"
Drrrtggg, drrrttttgg
"Hp pacar lo bunyi tuh. Angkat gih siapa tahu penting"
"Sopan gak ya? Angkat aja deh daripada penasaran"
Anin memegang hp Bagas. Dia melihat nama kontak yang muncul di hp itu.
Cantik kesayangan? Siapa coba
Anin memencet tombol yang ada di layar. Bagas menuju mobil setelah menyerahkan kuncinya pada temannya.
"Ha..."
tut tut tut
"Siapa?" Bagas bertanya pada Anin
"Cantik kesayangan!" Anin mengembalikan hp Bagas. Wajahnya masam. Anin menatap arah luar jendela
"Oh"
Oh doang? gak mau jelasin atau apa kek
Bagas membiarkan Anin yang sedang terbakar cemburu. Bagas memakai seat belt nya dan melajukan mobil sampai halaman rumahnya. Bagas, Anin, dan Tari turun dari mobil. Ibu sudah menyambut mereka.
"Calon mantu ibu datang, apa kabar sayang?" Ibu memeluk Anin dan Anin mencium tangan ibu.
"Ibu apa kabar? Oh ya bu, kenalin ini Tari sahabat Anin. Malam ini kami nginep disini ya bu?"
Tari mencium tangan ibu
"Dengan senang hati sayang. Ayo masuk"
Anin, Tari, Ibu dan Bagas masuk ke dalam rumah. Ayah Bagas juga menyambut mereka. Tari memilih untuk tidur ketika dipersilahkan ibu untuk menempati ruang tamu. Anin memutuskan untuk mandi.
Anin memilih memakai kemeja putih milik adik Bagas dengan rok jeans nya. Anin berdandan simpel. Setelah selesai Anin bergegas membantu ibu di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Gak usah sayang, ibu bisa sendiri. Udah kamu panggil temen kamu, Bagas sama Ayah"
"Tari lagi tidur bu. Gak tega banguninnya"
"Ya sudah, panggil ayah sama Bagas aja"
Anin beranjak ke ruang tamu karena ayah ada di sana. Lalu dirinya ke kamar Bagas yang pintunya agak terbuka sedikit.
"Mas, makanan udah siap. Mas" karena tak mendapat jawaban kepala Anin melongo masuk ke dalam kamar. Pemandangan indah yang membuat Anin tak berkedip.
Bagas sedang selesai mandi masih menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Roti sobeknya dibiarkan terlihat. Tahu jika ada yang memanggil Bagas menuju arah pintu. Anin yang masih melongo cepat tersadar dari hal itu.
"Kenapa? Gak usah bengong gitu lihatnya. Ngiler lagi" Bagas mengusap muka Anin dengan tangannya
"A apa sih, ehem ibu manggil. Makanan udah siap. Buruan ke meja makan" wajah Anin memerah
"Iya, bentar lagi. Duluan gih, atau mau bareng aja. Bantuin mas ganti baju"
"Mas, ngawur kamu. Sana buruan ganti baju" wajah Anin semakin merah karena ucapan Bagas.
.
Bagas sudah di meja makan. Begitupun dengan yang lainnya. Hanya Tari yang tidak ada. Ibu mengambilkan nasi dan lauk untuk ayah. Saat Bagas ingin mengambil nasi, ibu mencegahnya.
"Nin, layanin mas mu. Belajar dari sekarang ya?"
"Iya bu" Anin beranjak dari duduknya dan mengambilkan nasi serta lauk untuk Bagas
"Segini cukup atau tambah mas?"
"Udah, lauknya mau ayam aja. Sama sayurnya"
Anin menuruti kemauan Bagas. Anin juga menuangkan minum untuk Bagas. Anin melakukan tanpa membantah. Dia senang ketika disuruh ini itu oleh ibj. Dia merasa keberadaan nya dianggap.
Seperti biasa, suasaba makan yang hening tercipta. Sampai selesai, Anin mencuci piring yang kotor. Ibu membantu Anin.
"Nin, ibu mau tanya boleh?"
"Ibu ini kayak sama siapa aja. Silahkan bu"
"Kamu sama Bagas bukan pura pura tunangan kan?" tanpa basa basi ibu mengutarakan pertanyaannya.
"E e, kenapa ibu bisa beranggapan seperti itu?"
"Nin, insting seorang ibu itu lebih tajam. Hatinya akan merasa resah ketika ada yang tidak beres dengan anaknya. Ibu gak tau apa alasan kalian jika memang benar adanya. Jawablah dengan jujur ketika kamu siap bercerita dengan ibu. Ibu memang tidak suka dibohongi. Tapi jika alasanmu memang bisa diterima ibu akan memaafkan itu. Ibu masuk ke kamar dulu ya. Tolong kamu lanjutin sendiri nyuci nya"
Anin diam. Anin merasa ada kekecewaan yang dirasakan ibu.
Bagaimana ibu bisa tau? lalu apakah aku harus jujur?
bibirnya lebih gentle yaa 😂👍
Sedangkan klo tari lagi sedih anin selalu ada di sampingnya 😏
Klo cuma tristan mah gak cukup kan lagi ada misi merebut hati papanya tari tristan nya 😁