Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 - Cantik Versiku Sendiri
Sesampainya di lantai 14, Gwen keluar dari lift dengan langkah cepat. Mini dress kuning butternya kontras di tengah kantor yang sibuk. Beberapa orang sempat menoleh, tapi ia langsung menuju kubikelnya.
Belum sampai, Rara sudah berdiri di depan meja dengan mata melebar kagum.
“Gwen!!! Ya ampun, ini beneran lo?!” seru Rara antusias. Ia menatap Gwen dari atas ke bawah tanpa sungkan. “Dress kuning lo bagus banget! Bikin lo keliatan fresh. Cocok banget sama kulit lo!”
Gwen tersipu malu. “Makasih, Ra… Baru berani coba hari ini.”
Rara mendekat dan meraih tangan Gwen sebentar. “Serius deh, gue kaget. Biasanya lo selalu pakai hitam, abu-abu, atau navy doang. Hari ini lo keliatan lebih percaya diri, lebih hidup. Gue sukaaa! Terusin ya, lo emang cocok pakai warna cerah.”
“Wow, you look so gorgeous,” sela Leon dari kubikel sebelah sambil tersenyum lebar.
Gwen tersenyum malu-malu. “Makasih, Leon.”
Tak lama kemudian Mas Rama muncul di ujung lorong bersama Rio, keduanya berjalan cepat dengan ekspresi serius.
"Eh, eh, eh, rapat darurat di ruang konferensi, lima menit lagi," ucapnya tajam sambil bertepuk tangan sekali, keras. "Yang nganggur, ikut. Yang sibuk, tetap ikut. Ayo, bubar, bubar."
Rio di belakangnya mengedikkan bahu ke arah Gwen dengan tatapan maaf ya sebelum mengikuti bosnya yang sudah berbelok ke koridor lain.
bagus ga
Hari itu kantor benar-benar seperti medan perang. Proyek resort mewah milik Pak Raymond di Ubud memasuki fase krusial. Klien perfeksionis dari Singapura itu menuntut segalanya sempurna sebelum ia kembali minggu depan.
Gwen hampir tidak sempat bernapas. Meeting bertubi-tubi, revisi moodboard berkali-kali, koordinasi vendor batu alam dari Gianyar, kain upholstery dari Denpasar, hingga pencahayaan kolam renang infinity yang harus sesuai konsep “sunset luxury”. Meja kerjanya penuh sesak dengan swatch kain, katalog, dan print-out denah.
“Gwen, ini vendor lighting kirim opsi baru. Pak Raymond bilang yang kemarin terlalu cool tone, minta yang warmer,” kata Rara sambil meletakkan map.
“Gwen, meeting landscape dipindah ke jam 1.45, mereka sudah nunggu,” tambah Rio.
Gwen hanya mengangguk sambil mengusap pelipisnya yang mulai pusing, tapi ia terus bekerja tanpa henti.
Menjelang sore, saat Gwen sedang fokus merevisi proposal, Mas Rama muncul di samping kubikelnya.
“Gwen,” sapanya pelan.
Gwen menoleh. Mas Rama menatapnya lama, lalu tersenyum lembut.
“Kamu hari ini pakai dress kuning, ya… bagus sekali,” katanya tulus. “Warna itu benar-benar cocok sama kamu. Bright, fresh, dan bikin kamu kelihatan hidup. Aku senang kamu akhirnya berani pakai warna cerah. Dulu, berapa pun aku dan Tiara minta, kamu selalu pilih warna gelap karena takut kelihatan gemuk atau norak. Hari ini… kamu berani. Dan hasilnya bagus banget, Gwen. Kamu kelihatan lebih percaya diri.”
Gwen terdiam. Dulu, ia, Tiara, dan Mas Rama sangat dekat. Tiara selalu menyuruh Gwen untuk melawan ibunya, untuk lebih berani. Namun setelah mengetahui bahwa Tiara menjalin hubungan dengan Mas Rama, hubungan mereka perlahan menjauh. Gwen merasa bersalah—karena tidak menemani sepupunya di saat-saat terakhirnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, jika proyek ini selesai, ia akan pergi ke makam Tiara.
“Terima kasih, Mas. Jujur, masih agak aneh.”
Mas Rama mengangguk mengerti. “Wajar. Tapi ini langkah yang bagus. Ingat, Gwen… kamu cantik bukan karena warna yang kamu pakai, tapi karena kamu berani jadi diri sendiri. Tiara pasti bangga di atas sana.”
Gwen terdiam sejenak mendengar nama itu disebut. Dadanya terasa hangat sekaligus berat. Ia menunduk, memainkan ujung jarinya pelan.
“Semoga saja,” gumamnya lirih. “Aku… masih sering kepikiran dia.”
Mas Rama tersenyum kecil. "Dia sayang kamu, Gwen. Selalu," ucapnya sambil mengacak pelan rambut Gwen — gestur yang dulu, bertahun-tahun silam, pernah membuat jantung Gwen berdebar tak karuan. Tapi sekarang... Gwen hanya merasakan hangat familiar di kulit kepalanya, dan kekosongan yang tidak bisa ia jelaskan di dadanya.
__KejarTenggat__
Sepanjang hari Gwen begitu sibuk hingga lupa mengecek ponsel. Begitu sempat melihat layar, sudah ada banyak pesan dari Aga.
Aga :
Baby udah selesai belum?
Aku kangen banget. Malam ini aku jemput ya
Baby! Cintakuuuu
Kamu tega! Aku kesepian di sini 😭
Lalu Aga mengirim foto spanduk kecil buatannya sendiri di atas kertas karton dengan tulisan tebal:
“GWEN PULANG CEPAT! CALON SUAMINYA KESEPIAN BANGET.”
Di bawahnya ada selfie Aga yang manyun dramatis sambil memegang spanduk itu.
Gwen tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kepala. Tapi sebelum sempat membalas, Mas Rama muncul lagi.
“Gwen, dokumen untuk meeting sudah siap?” tanya Mas Rama sambil menyerahkan map.
“Sudah, Mas. Tinggal print slide-nya.”
Begitu Mas Rama pergi, Gwen cepat-cepat membalas chat Aga.
Gwen : Aku ada meeting jam 7 malam. Kamu gak usah jemput. Ayah yang jemput.
Tak lama kemudian, Aga mengirim voice note. Gwen memasang earphone dan memutarnya.
Suara Aga terdengar manja, sedih, dan dramatis sekaligus.
“Baby… kamu tega banget ngebiarin aku kesepian malam ini. Aku udah siap-siap jemput dari tadi, nungguin kamu keluar lift pakai dress kuning itu… eh malah Ayah yang jemput. Aku sedih banget, tau. Please… Bilang sama ayah kalau kamu mau dijemput pandji, Aku kangen peluk kamu.”
Gwen : Pandji lagi ke Jakarta, Nadine demam. Aku kerja dulu ya. Miss you.
Gwen menatap layar ponselnya sejenak sebelum menguncinya. Ia menarik napas pelan, lalu merapikan dress kuning yang masih terasa asing—namun kali ini tidak ia hindari.
Ia berdiri dan melangkah ke ruang meeting dengan lebih mantap. Beberapa pasang mata menoleh, tapi Gwen tidak lagi menunduk.
Ia tersenyum kecil.
Hari ini, ia tidak ingin bersembunyi.
Bukan lagi tentang terlihat lebih kurus, atau memenuhi standar siapa pun.
Hari ini… ia memilih menjadi dirinya sendiri.
Cantik, dengan versi dirinya sendiri.
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍