NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Dua hari kemudian, Adella dipindahkan. Tidak ada persidangan, tidak ada pembelaan. Semuanya terjadi begitu cepat, seolah-olah hukum adalah naskah yang sudah ditulis dan Adella hanyalah aktor yang dipaksa mengikuti arahan sutradara.

Sebuah ambulans swasta menjemputnya. Ayah dan ibunya datang, namun mereka tidak berani menatap mata Adella. Mereka hanya berdiri di kejauhan, berbicara dengan seorang pria berjas rapi yang merupakan pengacara keluarga Adwan. Adella tahu, orang tuanya tidak jahat; mereka hanya ketakutan. Mereka adalah orang-orang sederhana yang tidak tahu cara melawan raksasa yang bisa menghancurkan karier dan nama baik mereka dalam semalam.

"Ini demi kebaikanmu, Adella," bisik ibunya sesaat sebelum pintu ambulans ditutup. Kalimat itu terdengar seperti permintaan maaf yang sia-sia.

Tempat itu bernama "Cahaya Harapan". Sebuah fasilitas rehabilitasi mental eksklusif yang terletak di perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Dari luar, tempat ini tampak seperti resor mewah dengan taman bunga yang tertata rapi dan pagar tembok yang sangat tinggi. Namun, bagi mata tajam Adella, tempat ini adalah benteng.

"Selamat datang, Adella. Saya Suster Maria," seorang wanita dengan senyum kaku menyambutnya di lobi yang berlantai marmer. "Di sini, kita fokus pada ketenangan. Tidak ada ponsel, tidak ada berita luar, hanya refleksi diri."

Adella mengangguk patuh. Ia menyerahkan tasnya untuk digeledah. Suster Maria memeriksa setiap sudut, namun ia tidak menyentuh perban di lutut Adella yang menurut catatan medis masih memerlukan perawatan karena infeksi ringan.

Sisi pandai Adella mencatat: Keamanan di sini fokus pada benda fisik yang masuk, tapi mereka meremehkan apa yang bisa dilakukan seseorang dengan otak yang masih berfungsi.

Malam pertama di Cahaya Harapan, Adella ditempatkan di sebuah kamar berukuran sedang. Tidak ada borgol lagi, namun pintunya hanya bisa dibuka dari luar dengan kartu akses magnetik. Di pojok langit-langit, sebuah kamera CCTV berkedip dengan lampu merah kecilnya.

Adella duduk di tepi tempat tidur, melepas perban lututnya dengan sangat hati-hati. Kartu emas itu jatuh ke pangkuannya. Di bawah lampu kamar yang redup, kartu itu tidak memiliki nama, hanya sebuah baris kode QR yang sangat kecil di pojok bawah dan strip magnetik hitam.

"Refleksi diri, ya?" gumam Adella.

Ia mulai mengamati rutinitas panti. Setiap sore jam empat, para penghuni diizinkan pergi ke "Ruang Literasi". Suster Maria bilang di sana ada komputer untuk menulis jurnal harian, namun akses internetnya diputus. Bagi orang awam, itu adalah jalan buntu. Tapi bagi Adella, komputer tanpa internet tetaplah sebuah mesin yang memiliki port USB dan pembaca kartu.

Keesokan harinya di Ruang Literasi, Adella duduk di pojok yang paling tidak terlihat oleh penjaga. Di sana, ia bertemu dengan seorang pasien lain, seorang wanita berusia sekitar 25 tahun yang terus-menerus merobek kertas buku gambar dengan pola yang sama.

Wanita itu melirik ke arah Adella, lalu berbisik tanpa menoleh, "Kamu siswi ke berapa?"

Adella membeku. "Maksud Kakak?"

"Gadis-gadis yang dia kirim ke sini. Biasanya mereka tidak bertahan lama. Mereka akan 'sembuh' dengan cepat, lalu menghilang," wanita itu menatap Adella dengan mata yang kosong namun penuh peringatan. "Namaku Maya. Aku dulu asisten laboratorium di SMA Tunas Bangsa."

SMA Tunas Bangsa. Sekolah lama Pak Adwan. Sekolah tempat Nadia menghilang.

"Kakak tahu tentang Nadia?" bisik Adella, jantungnya berdegup kencang.

Maya berhenti merobek kertas. Ia menatap Adella dengan ngeri. "Jangan sebut nama itu. Dia adalah koleksi yang rusak. Dan jika kamu terus bertanya, kamu akan menjadi koleksi rusak berikutnya."

Adella menyadari bahwa Cahaya Harapan bukan sekadar tempat rehabilitasi. Ini adalah gudang penyimpanan untuk orang-orang yang mengetahui terlalu banyak. Pak Adwan tidak membunuh mereka semua; dia hanya mematikan suara mereka di sini, di bawah pengawasan yayasan keluarganya.

"Aku punya kartu ini," Adella menunjukkan sedikit ujung kartu emas itu dari balik telapak tangannya.

Mata Maya membelalak. Ia segera menarik tangan Adella dan menyembunyikannya. "Dari mana kamu mendapatkan itu? Itu kartu akses Master milik keluarga Adwan. Jika mereka tahu kamu membawanya ke sini, kamu tidak akan pernah keluar dari pintu depan."

"Aku butuh komputer yang punya akses ke sistem internal panti ini," kata Adella tegas. "Kakak tahu caranya?"

Maya gemetar, namun ada secercah amarah yang kembali muncul di matanya. Ia merobek selembar kertas lagi dan menuliskan sesuatu dengan sangat cepat sebelum menyerahkannya pada Adella.

"Jam 2 pagi. Ruang Suster Kepala. Komputernya terhubung dengan server pusat yayasan. Tapi hati-hati... dia sering datang malam-malam untuk 'mengecek' pasien spesialnya."

Adella meremas kertas itu. Jam 2 pagi. Ia harus menyelinap keluar dari kamar yang terkunci, menghindari CCTV, dan masuk ke ruang kepala panti tanpa tertangkap.

Malam itu, Adella tidak tidur. Ia berdiri di balik pintu kamarnya, mendengarkan langkah kaki perawat yang berpatroli. Ia memegang kartu emas itu. Jika Maya benar, kartu ini bisa membuka pintu mana pun di gedung ini—karena Pak Adwan adalah pemiliknya.

Saat jam menunjukkan pukul 01.50, Adella mendekatkan kartu emas itu ke pembaca sensor di pintunya.

Pip.

Lampu indikator berubah menjadi hijau. Pintu terbuka dengan suara klik yang sangat pelan. Adella melangkah keluar ke koridor yang gelap, hanya dipandu oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela tinggi.

Ia bukan lagi murid yang polos. Ia adalah hantu yang berjalan di dalam istana penculiknya sendiri. Dan malam ini, ia akan membuka "buku" yang selama ini disembunyikan Pak Adwan di balik dinding-dinding kekuasaannya.

Langkah kaki Adella nyaris tidak terdengar di atas lantai porselen yang dingin. Setiap embusan napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak memecah keheningan koridor yang mencekam. Kartu emas di genggamannya terasa panas, seolah-olah membawa beban dosa dari pemilik aslinya. Ia bergerak lincah, memanfaatkan bayangan pilar untuk menghindari sapuan lensa CCTV yang berputar lambat di langit-langit. Bagi sistem keamanan Cahaya Harapan, Adella adalah anomali yang tidak seharusnya ada di luar sangkarnya.

Sesampainya di depan pintu kayu jati berukir milik Suster Kepala, Adella menempelkan kartu itu. Mekanisme pengunci magnetik terbuka dengan desisan halus. Di dalam, ruangan itu beraroma campuran antara melati dan alkohol medis—aroma yang mengingatkannya pada Pak Adwan. Tanpa membuang waktu, ia menyalakan komputer di atas meja besar tersebut. Cahaya dari monitor menyinari wajahnya, menampakkan gurat ketegangan yang bercampur dengan determinasi dingin.

Adella memasukkan kartu emas itu ke dalam pembaca kartu eksternal. Layar komputer yang tadinya menampilkan logo yayasan tiba-tiba berubah hitam, sebelum sebuah interface khusus muncul dengan tulisan: ARCHIVE – ADWAN FAMILY.

Jari Adella menari di atas papan ketik, menelusuri folder-folder yang terenkripsi. Matanya tertuju pada satu direktori berjudul "PROJECT PERSADA". Di dalamnya, terdapat puluhan sub-folder dengan nama-nama siswi, termasuk dirinya. Ia mengklik folder bernama "Nadia". Sebuah file video muncul di urutan teratas. Dengan tangan gemetar, ia memasang headphone dan menekan tombol play.

Detik-detik berikutnya, dunia seolah berhenti berputar. Video itu bukan sekadar rekaman bimbingan belajar, melainkan dokumentasi sistematis tentang bagaimana Pak Adwan mematahkan mental seorang gadis, selangkah demi selangkah. Namun, sebelum Adella sempat menyalin file tersebut ke memori eksternal yang ia bawa, suara derit halus pintu yang terbuka membuatnya membeku.

Di ambang pintu, siluet pria tinggi berdiri dengan pulpen hitam yang berkilat terkena pantulan cahaya monitor.

"Kamu selalu menjadi murid yang paling rajin, Adella," suara bariton Pak Adwan membelah kegelapan. "Tapi di perpustakaan saya, ada aturan dilarang membaca buku tanpa izin pemiliknya."

Adella perlahan berbalik, menatap pria itu tanpa sedikit pun keraguan di matanya. Perang mental yang sesungguhnya kini baru saja dimulai di ruangan yang terkunci rapat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!