Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — ORANG YANG PALING BERBAHAYA
Ruangan hotel itu tiba-tiba terasa terlalu sempit.
Aku masih memegang foto lama itu.
Tanganku dingin.
Pikiranku jauh lebih kacau dibanding beberapa jam lalu.
Ayahku.
Ayah Arkan.
Dan ibunya Arkan.
Berdiri bersama.
Tersenyum.
Seolah tidak pernah ada perang.
Tidak pernah ada pengkhianatan.
Tidak pernah ada darah.
“Dari mana kamu dapat ini?”
Suaraku pelan.
Hampir seperti bisikan.
Arkan berdiri beberapa langkah di depanku.
Tatapannya masih serius.
“Seseorang mengirimnya ke kantor.”
“Seseorang?”
Aku tertawa kecil.
“Sekarang semua orang suka kirim pesan misterius ya.”
Tapi candaan itu terasa hambar.
Karena aku tahu—
ini bukan kebetulan.
Aku kembali melihat foto itu.
Lalu—
ada sesuatu yang membuatku berhenti.
“Tunggu…”
Aku mendekatkan foto ke lampu.
Di bagian bawah…
ada tulisan kecil.
Tanggal.
Dan saat aku membacanya—
napasku langsung tertahan.
“Ini…”
Aku menatap Arkan.
“Foto ini diambil beberapa bulan sebelum orang tuaku meninggal.”
Sunyi.
Artinya—
sampai akhir…
mereka masih berhubungan.
“Kalau mereka memang bermusuhan…”
Aku mengangkat foto itu.
“…kenapa mereka terlihat seperti partner?”
Tatapan Arkan berubah.
Dia juga mulai menyadari arah pikiranku.
“Atau…”
Dia berhenti sebentar.
“…kita selama ini salah melihat siapa musuh sebenarnya.”
Kalimat itu membuat bulu kudukku langsung meremang.
Karena semakin lama—
semuanya semakin tidak masuk akal.
Aku berjalan pelan ke jendela hotel.
Memandang hujan di luar.
“Kalau orang tua kita bekerja sama…”
Aku menyilangkan tangan.
“…kenapa semuanya berakhir seperti ini?”
Tidak ada jawaban.
Karena kami berdua sama-sama tidak tahu.
Ponsel Arkan tiba-tiba bergetar.
Dia langsung melihat layar.
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Sunyi beberapa detik.
“Aku segera ke sana.”
Dia memutus telepon cepat.
“Ada apa?”
Arkan menatapku.
“Kantor diserang.”
Jantungku langsung berdetak keras.
“Siapa?”
“Orang kita belum tahu.”
Sial.
Aku langsung mengambil jaket.
“Kita pergi.”
Perjalanan menuju kantor terasa terlalu lama.
Hujan makin deras.
Jalanan macet.
Dan sepanjang perjalanan—
perasaanku semakin buruk.
Saat mobil akhirnya berhenti—
suasana di depan gedung Arkavera sudah kacau.
Lampu polisi.
Petugas keamanan.
Orang-orang berlarian.
Aku langsung turun.
“Apa yang terjadi?”
Leon muncul dari dalam gedung.
Wajahnya tegang.
“Ruang server dibobol.”
“Data apa yang diambil?” tanya Arkan cepat.
Leon diam sebentar.
Lalu menatapku.
“Semua data tentang identitas asli kamu.”
Darahku langsung terasa dingin.
“Tidak…”
Aku langsung berlari masuk.
Lorong kantor terlihat berantakan.
Beberapa komputer rusak.
Kabel berserakan.
Dan saat kami masuk ke ruang server—
dadaku langsung jatuh.
Semua hard drive utama hilang.
“Mereka sengaja datang buat itu.”
Bisik Leon.
Aku berdiri diam.
Menatap ruangan kosong itu.
Sial.
Berarti seseorang benar-benar ingin menghapus jejakku.
Lagi.
“CCTV?”
tanya Arkan.
Leon menggeleng.
“Diputus sebelum mereka masuk.”
Profesional.
Cepat.
Rapi.
Aku memejamkan mata sebentar.
Mencoba berpikir.
Lalu—
sesuatu muncul di kepalaku.
“Tidak.”
Arkan langsung menoleh.
“Apa?”
Aku membuka mata perlahan.
“Mereka bukan mau menghapus jejakku.”
Sunyi.
“Mereka mau menakutiku.”
Tatapan Arkan berubah.
Dia mulai mengerti.
Karena kalau memang ingin menghapus—
mereka tidak perlu membuat kerusakan sebesar ini.
Ini pesan.
Dan seseorang ingin aku melihatnya langsung.
Ponselku bergetar.
Pesan masuk lagi.
Nomor tidak dikenal.
Aku membukanya perlahan.
“Kamu mulai terlalu dekat.”
“Berhenti sekarang… atau berikutnya bukan data yang hilang.”
Aku langsung menunjukkan layar ke Arkan dan Leon.
Wajah Arkan mengeras.
“Dia mulai ancam langsung.”
Aku tertawa kecil.
Pelan.
“Berarti dia panik.”
“Tapi dia juga berbahaya,” kata Leon cepat.
Aku menatap layar pesan itu lama.
Lalu—
senyum tipis muncul di bibirku.
“Bagus.”
Leon terlihat frustrasi.
“Kenapa setiap ancaman bikin kamu malah makin tenang?”
Aku menoleh padanya.
“Karena orang yang benar-benar kuat…”
Aku menggenggam ponselku pelan.
“…tidak perlu mengancam.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
aku merasa kami mulai mendekati inti semuanya.
Tapi masalahnya—
semakin dekat kami ke kebenaran…
semakin jelas satu hal.
Orang yang kami hadapi bukan sekadar licik.
Dia mengenal kami.
Sangat mengenal kami.
Bahkan mungkin—
lebih dari yang kami sadari.
“Semua akses internal dibobol.”
Leon kembali bicara.
“Itu berarti…”
“Ada orang dalam.”
Aku memotong cepat.
Sunyi.
Arkan menatap ruangan itu perlahan.
“Dan orang itu masih ada di dekat kita.”
Kalimat itu membuat udara terasa lebih dingin.
Karena kami sadar—
pengkhianatnya belum hilang.
Dia masih melihat.
Masih mendengar.
Masih bermain bersama kami.
Aku berjalan pelan keluar ruang server.
Pikiranku bekerja cepat.
Lalu langkahku berhenti.
Satu pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalaku.
Dan pertanyaan itu…
membuat perutku terasa tidak nyaman.
Kalau ada pengkhianat di dalam…
Bagaimana kalau selama ini—
orang itu bukan cuma mata-mata?
Tapi seseorang yang memang sengaja mendekatiku sejak awal?
Aku langsung menoleh ke arah Arkan.
Dan untuk sepersekian detik—
pesan misterius itu kembali muncul di kepalaku.
“Rahasia terbesar ada di orang yang berdiri paling dekat denganmu.”
Dadaku langsung berdetak lebih keras.
Tidak.
Aku menggeleng kecil.
Aku tidak boleh mulai curiga membabi buta lagi.
Tapi masalahnya—
di dunia kami…
orang yang paling dekat memang biasanya yang paling berbahaya.
“Alena.”
Suara Arkan membuatku tersadar.
“Kamu kenapa?”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Kebohongan.
Dan sialnya—
aku mulai takut kalau suatu hari nanti…
aku benar-benar tidak bisa membedakan lagi—
mana sekutu.
Dan mana musuh.