Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
prancis
Suara jemari gemertak tak karuan, Suara gemeretak jemari di atas papan ketik adalah satu-satunya musik yang menemaniku pukul tiga pagi. Saat ini aku merasa 24 jam tidak cukup untuk menampung semua kesibukanku ini. Aku sedang terjebak dalam krisis identitas ganda: menyelesaikan tiga bab pertama kontrak novel baruku yang berjudul “simpul sunyi”, sembari mempertahankan lini busana custom-made dan model baju yang yang setiap Minggu sold out itu, Dear Alea.
"Bab satu tidak bisa dimulai dengan deskripsi cuaca, Aleea. Itu klise," gumamku pada diri sendiri.
Aku menghapus satu paragraf penuh. Fokusku terpecah. Di meja sebelah kiri, tumpukan draf novel berserakan. Di meja sebelah kanan, contoh potongan kain sutra mentah yang baru kukirim dari Uzbekistan beradu dengan sketsa blus bergaya Victoria. Masalahnya satu: kain sutra ini terasa terlalu kaku. Jika aku ingin customer dan pelanggan merasakan kemewahan abad ke-19, kain ini harus jatuh di kulit seperti air.
Jika ini tidak sesuai dengan mau ibu, bisa kacau... Dia tidak akan mau mendesain dan memproduksi baju lagi. Aku harus bersama ibu dan mempertahankan semua dengan ibu, karna jika ini sebuah usaha, aku hanya wadahnya dan isinya adalah ibu.
Dua hari kemudian, aku sudah berada di dalam pesawat menuju Lyon, Prancis. Kali ini Hiatusku bukan tentang istirahat atau sebuah alasan lagi, melainkan tentang 'akurasi'. Aku tidak bisa menulis tentang tekstil tanpa menyentuhnya langsung. Dan aku tidak bisa menjual baju dengan kualitas semenjana.
aku membawa beberapa model desain yang harus aku sesuaikan dengan bahan kain, tentu dengan apa yang menjadi mau ibu dan final meeting kita semua, aku berangkat sendiri karna butik masih baru dan belum stabil, harus ada ibu disana yang mengontrol dan ila juga tidak ikut karna harus mengontrol keuangan, jadi kali aku sendirian.
Dan mengapa Prancis?... Bukan hanya sekedar negara yang sudah lama menjadi pusat mode dunia tapi Prancis juga sebuah rumah bagi renda paling eksklusif di dunia dan
Lyon pernah menjadi ibu kota sutra dunia, Hingga saat ini, mereka masih memproduksi sutra terbaik. Kain yang akan aku bawa dari Prancis ini akan aku gunakan untuk custom costumer yang mengadakan acara pernikahan dan seremonial, dan karna itu aku harus berangkat sendiri untuk memastikan tekstur, warna dan art.nya sesuai dengan kebutuhan butik.
Menara Eiffel yang terlihat dari kejauhan hanyalah latar belakang yang memudar. Bagiku, Paris bukanlah tentang romansa di bawah lampu kota, melainkan tentang aroma debu tua di gudang tekstil dan tekstur benang yang bergesekan di antara ibu jari dan telunjuknya. Aku datang dengan misi besar: mencari "jiwa" untuk koleksi terbaru Dear Alea, sebuah elemen yang aku rasa hilang di tengah gempuran kain massal yang selama ini ia temui.
Perjalananku dimulai di utara, jauh dari kemilau Champs-Élysées. menuju Calais, sebuah kota pelabuhan yang menjadi benteng terakhir produksi renda paling rumit di dunia. Di sebuah bengkel tua bernama Maison de la Dentelle, Aku disambut oleh deru mesin Leavers yang tingginya mencapai dua meter. Mesin-mesin logam kuno dari abad ke-19 itu bekerja dengan ribuan kumparan benang yang bergerak seperti tarian mekanis.
"Renda ini tidak dibuat, Aleea. Ia dilahirkan," ujar Monsieur Pierre, pengrajin generasi keempat yang memandunya.
Aku terpaku melihat selembar Dentelle de Calais-Caudry. aku menyentuhnya. Rasanya seperti menyentuh jaring laba-laba yang diperkuat dengan sutra. Motif bunganya tidak rata; ada dimensi, ada kedalaman. Di Indonesia, ia sering menemui renda bordir, namun ini berbeda. Ini adalah rajutan tanpa putus yang menciptakan transparansi yang elegan.
Ia membayangkan selembar renda ini menghiasi bagian kerah dan manset koleksi gaun pesta pernikahan terbarunya. Ia memesan beberapa meter kain berwarna eggshell dan midnight blue, aku sadar bahwa setiap meternya membawa sejarah panjang yang hanya bisa diapresiasi oleh mereka yang mengerti arti sebuah ketelitian.
Setelah tiga hari di utara, Aku bergerak menuju pinggiran Paris, ke sebuah desa tenang bernama Jouy-en-Josas. Inilah tempat kelahiran Toile de Jouy, kain katun yang menjadi simbol keanggunan pedesaan Prancis sejak zaman Marie Antoinette.
Aku memasuki sebuah butik kecil yang merangkap museum pribadi. Di dindingnya, tergantung gulungan kain katun putih bersih dengan motif lukisan satu warna—biru tua yang menggambarkan pemandangan gembala di padang rumput, anak-anak bermain, dan pepohonan ek yang rimbun.
"Banyak yang meniru motif ini dengan cetakan digital, tapi yang asli menggunakan teknik copperplate atau blok kayu," jelas sang pemilik toko.
Aku mengambil gulungan kain berwarna merah burgundy. aku tidak ingin membuat gaun klasik yang membosankan. Dalam benaknya, kain jenis ini juga salah satu kain yang aku cari karna custom customer dengan model baju yang ingin dia pakai cocok untuk jenis kain ini Dan juga Kontras antara motif naratif abad ke-18 dengan potongan busana abad ke-21 akan menjadi identitas baru bagi Dear alea. Karna Kain ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Perjalanan Aku berlanjut ke selatan menuju Lyon, kota yang selama berabad-abad menjadi jantung perdagangan sutra Eropa seperti kataku. Di sini, aku tidak mencari sutra polos yang mengilap, melainkan Silk Brocade (Brokat Sutra) yang ditenun dengan teknik Jacquard.
aku harus melewati lorong-lorong sempit yang dikenal sebagai Traboules untuk mencapai bengkel penenun tradisional. Di sebuah ruangan dengan pencahayaan temaram, Aku menemukan apa yang dicarinya: sebuah kain yang seolah-olah memiliki cahaya dari dalam dirinya sendiri.
Kain Brokat Lyon itu memiliki motif floral timbul dengan benang emas asli yang diselipkan di antara serat sutra. Saat terkena cahaya, warna kainnya berubah dari ungu tua menjadi tembaga. Berat kain itu terasa mantap di tangan, menandakan kepadatan serat yang sangat tinggi.
"Ini bukan kain untuk diproduksi masal," gumamku. "Ini adalah pusaka."
Ia memutuskan untuk membeli satu gulung kecil saja. Harganya hampir menyamai biaya hidupnya selama sebulan di Prancis, kembali lagi aku tahu, satu gaun dari bahan ini akan menjadi masterpiece yang membuat Dear alea sejajar dengan rumah mode kelas atas.
Aku kembali ke Paris untuk perhentian terakhirnya. Namun, aku menghindari butik-butik besar. aku menuju ke sebuah distrik tua tempat para pemasok Haute Couture bersembunyi di balik pintu-pintu kayu yang berat.
aku mencari French Tweed. Di sebuah ruangan yang dipenuhi rak kayu setinggi langit-langit, Aku menemukan variasi Tweed yang luar biasa. Berbeda dengan Tweed Inggris yang cenderung kasar dan kaku untuk berburu, Tweed Prancis di hadapannya adalah sebuah komposisi seni. Ada perpaduan antara wol, pita sutra kecil, benang metalik, dan bahkan serat kertas yang dijalin menjadi satu tekstur yang kaya.
Aku memilih Tweed dengan palet warna sand dan rose gold. aku bisa membayangkan tekstur kain ini di bawah lampu-lampu butik Dear alea, memberikan kesan profesional namun tetap sangat feminin. Kain ini adalah definisi dari chic terlihat berantakan secara artistik namun sangat terstruktur.
Pada malam terakhirnya, Aku duduk di sebuah kafe kecil di tepi Sungai Seine. Di sampingku, tumpukan koper berisi sampel kain dan gulungan pesanan siap untuk dikirim ke Indonesia.
Perburuan ini bukan sekadar tentang membeli barang. Selama dua minggu, Aku telah belajar tentang ketabahan para pengrajin di Calais, detail visual di Jouy, kemewahan sejarah di Lyon, dan kreativitas tanpa batas di Paris. aku menyadari bahwa kain-kain ini sulit didapatkan di Indonesia bukan hanya karena jarak geografis, tetapi karena mereka membutuhkan ekosistem tradisi yang dijaga ketat selama ratusan tahun.
aku teringat perjuangannya membangun dear alea dari nol, tentang keinginannya memberikan sesuatu yang berbeda bagi para anak santri dan pelanggan ibu. Kain-kain ini akan menjadi pembeda itu. Ketika seorang wanita memakai gaun dari renda Calais atau jaket dari Tweed Lyon-nya, mereka tidak hanya memakai pakaian, mereka memakai sebuah cerita.
Aku meminum kopi terakhirnya dengan senyum puas. Perjalanan ribuan kilometer ini telah membayar keraguannya. Besok, ia akan pulang dengan koper yang lebih berat, hati yang lebih penuh, dan visi yang lebih jernih. Dear alea bukan lagi sekadar tempat menjual baju, Dear alea kini adalah sebuah pelabuhan bagi keindahan yang aku jemput dari penjuru Prancis.
Di tengah kesibukan yang menanti, aku membawa sepotong keajaiban dari Prancis—satu helai benang pada satu waktu.
" pasti ibu puas " gumamku " pasti mereka yang custom gaun pernikahan dengan kain ini akan sangat memukau" lanjutku
" jadi pengen cobain deh... Bagus engga ya?" gerutu aleea sambil memandang tumpukan kain. Itu.