NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:34.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjaga Kuburan

Angin di Gurun Tulang Abadi tidak membawa debu pasir biasa, melainkan serbuk kapur tulang yang berbau busuk dan menggerogoti pernapasan. Di bawah cahaya bulan ungu yang retak, daratan mati ini menyimpan kengerian yang telah terkubur selama jutaan tahun.

Setitik darah segar yang menetes dari leher Bai menyerap ke dalam lautan serbuk tulang di bawah kaki mereka.

Bagi manusia, itu hanyalah setetes darah. Namun bagi keberadaan yang kelaparan di padang kematian ini, setetes darah hidup dari ahli Alam Istana Jiwa ibarat pelita terang di tengah lautan gelap.

Krrrrr... Kreek...

Suara gesekan yang mengerikan mulai terdengar dari bawah permukaan gurun. Bukan hanya dari satu titik, melainkan dari segala arah.

Chu Chen, yang baru saja memunggungi Bai, seketika berhenti. Naluri naganya menjeritkan bahaya yang sangat murni. Ia menoleh ke arah hamparan tulang di sekitarnya. Permukaan gurun mulai bergelombang seperti air mendidih.

"Bau darahmu," bisik Chu Chen, menatap Bai yang masih tergeletak lemah. "Kau memancing mereka."

Bai tersenyum getir, wajahnya sepucat pualam. "Sudah kubilang, ini adalah penjara para dewa kuno. Kebencian dan hawa Yin di tempat ini menghidupkan kembali kerangka mereka yang telah hancur. Bersiaplah, Tikus Kecil. Mereka sangat lapar."

BUM!

Gundukan tulang sekitar lima tombak di sebelah kanan Chu Chen meledak. Dari balik debu putih, sesosok makhluk raksasa merangkak keluar. Itu bukanlah binatang buas berdaging, melainkan sebuah bentukan mengerikan yang terbuat dari gabungan ratusan tulang belulang berbagai makhluk. Bentuknya menyerupai kelabang raksasa dengan tubuh bagian atas seperti manusia purba yang memegang pedang tulang berkarat. Di dalam rongga mata tengkoraknya, menyala api jiwa berwarna hijau kebiruan.

"Ksatria Tulang Kegelapan," Bai bergumam lemah. "Kekuatannya setara dengan Lapis Kesembilan Penempaan Raga hingga awal Lautan Qi. Dan bagian terburuknya..."

Monster itu tidak mengaum, melainkan langsung menerjang dengan kecepatan yang mengoyak angin. Pedang tulangnya yang bergerigi menebas lurus ke arah kepala Chu Chen.

Chu Chen mendengus dingin. Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan!

Ia mengulurkan tangan kirinya, melepaskan daya hisap mutlak yang biasanya langsung mengeringkan musuhnya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi.

Daya hisap itu membentur tubuh sang monster, tetapi tidak ada saripati kehidupan yang mengalir masuk! Makhluk ini tidak memiliki darah, tidak memiliki meridian, dan tidak memiliki Qi alam. Mereka sepenuhnya digerakkan oleh kebencian murni dan hawa Yin dari api jiwa di kepala mereka.

"...bagian terburuknya adalah, kau tidak bisa menyedot kehidupan dari sesuatu yang sudah mati," lanjut Bai, menyaksikan Chu Chen menyadari kelemahan teknik pelahapnya.

Menyadari pusarannya tidak berguna, Chu Chen membatalkan daya hisapnya dalam sepersekian tarikan napas dan mengubah kuda-kudanya. Tangan kanannya melesat memukul sisi pedang tulang yang menebas ke arahnya.

TRANG!

Benturan fisik murni terjadi. Zirah Tulang Naga Hitam di balik kulit Chu Chen berbenturan dengan pedang tulang kuno sang monster. Bunga api memercik. Kekuatan Lapis Keempat Lautan Qi Chu Chen jauh melampaui monster itu, membuat Ksatria Tulang tersebut terhuyung mundur, pedang tulangnya retak parah.

Namun, meskipun terdesak, monster itu tidak merasakan sakit. Ia kembali menerjang membabi buta.

"Fisik mereka sangat rapuh di hadapanku, tapi jumlah mereka..." Mata Chu Chen menyipit tajam.

Di sekelilingnya, permukaan gurun terus meledak. Tiga... lima... sepuluh Ksatria Tulang Kegelapan lainnya merangkak keluar dari dalam pasir, api jiwa hijau mereka mengunci tubuh Bai yang memancarkan aroma darah hidup terkuat.

Salah satu Ksatria Tulang yang baru muncul langsung melompat ke arah Bai, mengayunkan cakar tulangnya untuk mencabik wanita itu.

Bai memejamkan matanya. Meridiannya telah disegel oleh Api Teratai Merah Chu Chen; ia bahkan tidak bisa memanggil sehelai jarum es pun untuk membela diri.

BAM!

Sebuah tendangan yang membawa kekuatan angin puyuh menghantam dada Ksatria Tulang yang hendak menyerang Bai. Tulang rusuk monster itu hancur berkeping-keping, dan tubuhnya terlempar sejauh belasan tombak.

Chu Chen berdiri di depan Bai, punggungnya menutupi pandangan wanita itu.

"Jangan salah sangka," ucap Chu Chen tanpa menoleh. "Kau adalah petaku. Sampai aku menghisap ingatan dari kepalamu, tidak ada satu tulang busuk pun yang boleh menyentuhmu."

Chu Chen mencabut pedang baja dari pinggangnya, pedang rampasan yang selama ini ia bawa. Ia mengalirkan sedikit Lautan Qi-nya ke bilah pedang tersebut dan melesat menyongsong kepungan sepuluh monster tulang itu.

Pertarungan jarak dekat meledak. Chu Chen bergerak bagaikan iblis pembantai. Setiap ayunan pedangnya memotong lengan atau kaki para Ksatria Tulang. Namun, tanpa darah dan rasa sakit, monster-monster itu terus merangkak dan menyerang meskipun tubuh mereka telah terpotong separuh.

"Kau harus menghancurkan api jiwa di kepala mereka!" teriak Bai dari belakang.

"Bicara memang mudah!" geram Chu Chen.

Saat ia menebaskan pedang bajanya ke tengkorak salah satu monster berukuran paling besar...

KRAAAAK!

Pedang baja fana itu akhirnya mencapai batasnya. Menghantam tengkorak yang telah membatu selama jutaan tahun, bilah baja itu hancur berkeping-keping, menyisakan gagangnya saja di tangan Chu Chen.

Monster tengkorak itu memanfaatkan celah ini. Rahangnya terbuka lebar, berniat menggigit leher Chu Chen.

Mata naga Chu Chen berkilat buas. Senjata fana hancur? Maka ia akan menggunakan senjata dari neraka ini sendiri.

Bukannya mundur, Chu Chen melangkah lebih dekat. Tangan kanannya yang dilindungi Zirah Tulang Naga Hitam meninju lurus menembus dada kerangka monster tersebut, lalu jari-jarinya mencengkeram kuat salah satu tulang rusuk raksasa makhluk itu yang setajam sabit.

"Pinjam tulangmu!"

Dengan satu sentakan beringas yang disokong oleh tenaga Lautan Qi Lapis Keempat, Chu Chen mematahkan dan mencabut tulang rusuk sepanjang satu tombak itu langsung dari dada sang monster!

Tulang itu melengkung mengerikan, berujung sangat runcing, dan memancarkan hawa Yin yang pekat.

Chu Chen memutar Tulang Rusuk Iblis itu di tangannya, menggenggamnya seperti sebuah tombak panjang. Ia tidak perlu menyedot kekuatan mereka; ia akan menggunakan kekerasan fisik mutlak.

Ia mengalirkan setitik Api Teratai Merah ke ujung tombak tulang tersebut. Api surgawi itu menyala seketika, membakar hawa Yin di tulang itu dan mengubahnya menjadi senjata penghancur jiwa.

Chu Chen berbalik, mengayunkan tombak tulang yang menyala merah itu ke arah tengkorak monster yang tadi mencoba menggigitnya.

CRASSH!

Tombak tulang itu menembus tengkorak sekeras baja itu layaknya membelah semangka. Api Teratai Merah menyapu bagian dalam tengkorak, seketika membakar habis api jiwa hijau sang monster. Kerangka raksasa itu bergetar sesaat, sebelum akhirnya runtuh menjadi tumpukan debu mati yang tak akan pernah bangkit lagi.

"Satu," bisik Chu Chen.

Ia melesat kembali ke dalam kepungan maut. Menggunakan tombak tulang dari tubuh musuhnya sendiri, gerakannya kini jauh lebih buas dan panjang. SRAAT! CRASSH! Setiap tusukan tombak tulang yang berlapis Api Teratai Merah langsung menembus rongga mata para Ksatria Tulang, memadamkan api jiwa mereka secara mutlak. Sembilan monster tersisa dibantai dalam waktu kurang dari satu batang dupa. Sisa-sisa tulang mereka berhamburan di atas pasir putih.

Chu Chen menancapkan tombak tulangnya ke tanah, terengah-engah pelan. Napasnya mengembuskan uap panas ke udara malam yang dingin.

Bai menatap pemuda itu dengan perasaan campur aduk. Ia adalah ahli Istana Jiwa yang telah hidup melihat puluhan bakat hebat. Namun, pemuda di depannya ini berbeda. Ia tidak memiliki keanggunan, ia tidak berpegang pada kehormatan. Ia adalah perwujudan murni dari bertahan hidup—seorang pemangsa yang bisa menyesuaikan diri dengan medan apa pun, merampas senjata musuhnya, dan mengubah kelemahan menjadi taring yang mematikan.

"Apakah kau puas dengan pertunjukannya?" Chu Chen mencabut tombak tulangnya, mengusap debu dari wajahnya, lalu berjalan mendekati Bai.

Ia membungkuk, dan tanpa basa-basi merobek secarik kain dari ujung jubahnya sendiri yang lumayan bersih. Dengan kasar, ia membalut luka di leher Bai untuk menghentikan bau darahnya merembes lebih jauh ke udara.

"Jika kau meneteskan darah lagi, aku akan menyumbat lehermu dengan pasir," ancam Chu Chen, meski gerakannya saat mengikat kain itu cukup terukur.

Bai meringis pelan, matanya menatap tajam ke mata naga Chu Chen. "Kita tidak bisa diam di sini. Api jiwa mereka mungkin padam, tapi getaran pertarungan tadi akan memanggil kawanan yang lebih besar. Beberapa mil ke arah utara dari sini, ada sebuah ngarai yang terbuat dari bangkai ular purba raksasa. Hawa sisa monster tingkat tinggi di sana biasanya membuat kerangka-kerangka rendahan ini tidak berani mendekat."

"Ngarai bangkai ular," Chu Chen berdiri, mengulurkan tangannya yang kasar ke arah Bai. "Kau sebaiknya tidak berbohong. Jika aku melihat lautan monster menungguku di sana, aku akan melemparmu sebagai umpan dan lari sendirian."

Bai menatap tangan yang terulur itu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang Penatua yang angkuh itu harus menerima bantuan dari seseorang yang kultivasinya berada dua alam di bawahnya.

Dengan enggan, ia menyambut tangan Chu Chen, membiarkan pemuda itu menariknya berdiri. Perjalanan panjang melintasi neraka putih baru saja dimulai.

1
carat28
Hai kak, boleh follback saya? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
Duan Iwan
Lanjooooootke mantaaaaaap
Duan Iwan
LANJOOOOOOOOOT
Gege
kenapa engga di kontrak budak saja Thor..kan jiwa naga purba harusnya bisalah itu ikat jiwanya..jadi mudah buat menghapusnya..🤭
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!