NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Final Dan Pedang Terlarang

Matahari sudah naik cukup tinggi di atas cakrawala Desa Oakhaven, menyinari alun alun desa yang kini telah dipadati oleh ribuan orang dari berbagai penjuru wilayah utara. Kerumunan hari ini jauh lebih besar daripada hari sebelumnya. Bukan hanya penduduk desa, namun banyak bangsawan dari kota lain yang datang menggunakan kereta kuda mewah hanya untuk menyaksikan akhir dari ujian yang kontroversial ini. Kabar tentang seorang anak tanpa berkah yang mampu menjatuhkan sembilan orang sekaligus telah menyebar luas, menciptakan rasa penasaran yang besar sekaligus kecemasan bagi pihak kerajaan. Di tengah lapangan, arena kayu yang tadinya sederhana kini telah diperkuat dengan mantra pelindung oleh para penyihir akademi, menciptakan penghalang transparan yang sangat kuat agar dampak pertarungan tidak melukai penonton.

Arlan berdiri di salah satu sudut arena, menatap ke arah panggung penguji. Dia melihat Master Eldrian dan Sir Alistair sudah duduk di kursi mereka dengan wajah yang sangat serius. Namun, fokus Arlan teralih pada sosok Julian yang baru saja turun dari kereta kudanya. Julian tampak sangat berbeda pagi ini. Rambut pirangnya terlihat sedikit kusam, dan kulit wajahnya tampak pucat dengan urat urat halus yang sedikit menonjol di sekitar pelipisnya. Yang paling mencolok adalah auranya. Julian tidak lagi memancarkan mana putih keperakan yang murni, melainkan mana yang terasa sangat berat, panas, dan berbau amis seperti darah.

Arlan menyipitkan matanya. Berkat Gerbang Keempat yang meningkatkan persepsi sarafnya, dia bisa melihat denyut energi yang tidak alami di dada Julian. Arlan menyadari bahwa Julian telah melakukan tindakan yang sangat nekat demi sebuah kemenangan. Julian telah meminjam kekuatan gelap yang akan menghancurkan tubuhnya sendiri di masa depan. Di kehidupan sebelumnya, Adit sering melihat perusahaan yang melakukan pinjaman modal dengan bunga sangat tinggi hanya untuk terlihat sukses di depan publik, padahal mereka sedang menuju kebangkrutan. Julian sedang melakukan hal yang sama pada nyawanya.

"Peserta final, silakan memasuki arena!" suara wasit menggema dengan bantuan alat sihir pengeras suara.

Arlan melangkah masuk ke dalam lingkaran pasir putih. Langkahnya sangat ringan, hampir tidak menimbulkan suara. Di sisi lain, Julian melangkah masuk dengan langkah yang sangat berat. Setiap kali kaki Julian menapak, tanah di bawahnya sedikit retak dan uap hitam tipis keluar dari telapak sepatunya. Julian membawa sebuah pedang panjang yang terbungkus kain hitam pekat. Saat dia membuka kain tersebut, sebuah pedang dengan bilah berwarna merah gelap dan ukiran iblis terlihat di depan semua orang.

"Itu... apakah itu Pedang Penghisap Nyawa?" bisik Sir Alistair di panggung penguji. Wajah ksatria emas itu tampak sangat terkejut. "Itu adalah artefak terlarang tingkat ksatria tinggi yang seharusnya disimpan di gudang rahasia keluarga Valerius. Bagaimana bisa Julian membawanya ke sini?"

Master Eldrian hanya diam, namun matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. Dia menyadari bahwa kejujuran ujian ini telah dinodai oleh ambisi buta seorang bangsawan. Namun, sebagai penguji, dia tidak bisa menghentikan pertarungan kecuali ada bukti pelanggaran aturan yang jelas secara fisik di arena. Dia ingin melihat bagaimana Arlan akan menghadapi ancaman yang sedahsyat ini.

Julian menatap Arlan dengan mata yang sedikit memerah. Senyumnya terlihat sangat gila. "Arlan Vandermir, hari ini aku tidak akan hanya mengalahkan mu. Aku akan menghapus keberadaan mu dari dunia ini. Pedang ini membutuhkan darah, dan darah seorang pengkhianat adalah persembahan yang sangat cocok."

Arlan tidak terpancing oleh kata kata Julian. Dia justru merendahkan tubuhnya, memasang kuda kuda yang sangat stabil. "Kekuatan yang berasal dari rasa takut tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan yang berasal dari tekad. Julian, kamu sudah kalah saat kamu memutuskan untuk menggunakan benda itu."

"Diam kau, Sampah!" teriak Julian.

"Mulai!" wasit membunyikan lonceng perunggu.

Seketika, Julian melesat maju dengan kecepatan yang tiga kali lipat lebih cepat daripada sebelumnya. Pedang merah gelapnya menebas secara diagonal, menciptakan gelombang mana berwarna merah yang sangat tajam. Arlan menggunakan Teknik Tanpa Bayangan untuk melompat ke belakang, namun gelombang energi itu tetap mengejarnya dan menghancurkan lantai kayu arena di bawah kakinya.

Arlan terkejut dengan daya ledak serangan Julian. Dia menyadari bahwa Gerbang Keempat saja tidak akan cukup untuk mengimbangi kekuatan Kristal Darah Iblis yang digabungkan dengan pedang terlarang itu. Arlan mendarat di pinggir arena, napasnya tetap stabil namun otaknya bekerja dengan kecepatan tinggi. Dia sedang mencari celah di dalam pergerakan Julian yang sekarang terlihat sangat liar.

Julian tidak memberikan waktu bagi Arlan untuk berpikir. Dia kembali menyerang dengan serangkaian tebasan cepat yang membabi buta. Pedangnya bergerak seperti kilat merah, menebas udara dengan suara yang sangat mengerikan. Arlan harus menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghindar. Dia meliuk liukkan tubuhnya di antara celah tebasan pedang, namun tekanan mana dari pedang itu mulai membuat pakaian Arlan sedikit tersayat.

Di kehidupan lamanya, Adit pernah menghadapi musuh bisnis yang menggunakan modal sangat besar untuk menghancurkan harga pasar. Strategi Adit saat itu adalah membiarkan musuh membakar uangnya sampai mereka kehabisan napas, sementara dia bertahan dengan sumber daya yang efisien. Arlan melakukan hal yang sama sekarang. Dia membiarkan Julian menggunakan mana gelapnya secara besar besaran. Arlan tahu bahwa kekuatan dari Kristal Darah Iblis memiliki batas waktu dan akan memberikan beban berat pada jantung Julian.

"Kenapa kamu hanya lari, Penakut?!" Julian berteriak penuh emosi. Dia mulai merasa kesal karena serangannya tidak ada yang mengenai sasaran secara telak.

Julian menghentakkan kakinya ke lantai arena, dan seketika itu juga, sebuah ledakan mana gelap muncul dari bawah kaki Arlan. Arlan terpaksa melompat tinggi ke udara untuk menghindar. Namun, Julian sudah memprediksi gerakan itu. Dia melompat menyusul Arlan dan mengayunkan pedangnya tepat ke arah dada Arlan saat berada di udara.

Dalam posisi yang tidak menguntungkan seperti itu, Arlan tidak bisa lagi menghindar.

"Gerbang Kelima: Gerbang Batas... BUKAAAA!" bisik Arlan dalam batinnya.

Seketika, seluruh otot di tubuh Arlan bergetar dengan frekuensi yang sangat tinggi. Pembuluh darah di lengan dan kakinya menonjol keluar, dan sebuah ledakan energi kehidupan yang sangat padat meledak dari tubuhnya. Arlan melakukan putaran di udara dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia. Dia menggunakan telapak tangannya untuk menghantam sisi bilah pedang Julian, bukan menangkisnya secara frontal.

Ting!

Suara dentingan logam yang sangat keras bergema di seluruh alun alun. Pedang Julian yang tadinya mengarah ke dada Arlan terpental ke samping dengan kekuatan yang sangat besar. Julian terkejut, matanya terbelalak melihat bagaimana Arlan bisa melakukan gerakan seperti itu di udara tanpa bantuan sihir terbang.

Arlan mendarat dengan sangat stabil di tengah arena. Namun, dia bisa merasakan otot otot kakinya mulai terasa panas dan perih. Membuka Gerbang Kelima memberikan kekuatan yang luar biasa, namun setiap detik yang berlalu adalah beban besar bagi fisiknya. Arlan tahu dia harus mengakhiri ini dalam waktu kurang dari dua menit.

Julian mendarat di sisi lain arena, napasnya mulai terengah engah. Efek samping dari kristal terlarang itu mulai menyerang organ dalamnya. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya, namun kemarahan membuatnya tetap berdiri.

"Kamu... teknik apa itu? Bagaimana mungkin kamu bisa memukul pedangku?" tanya Julian dengan suara yang serak.

Arlan menatap Julian dengan pandangan yang sangat dingin. "Sudah aku katakan, Julian. Kamu terlalu bergantung pada benda di tanganmu, sampai kamu lupa bagaimana cara mengendalikan tubuhmu sendiri. Hari ini, aku akan menunjukkan kepadamu kekuatan murni dari seorang manusia yang telah membuang segalanya untuk menjadi kuat."

Arlan mulai berjalan mendekati Julian. Langkahnya tidak lagi lambat, melainkan setiap langkahnya meninggalkan bekas retakan di lantai kayu arena. Arlan sedang memusatkan seluruh energi dari lima gerbang yang terbuka ke arah tinju kanannya. Suasana di sekitar Arlan mulai bergetar, pasir di arena mulai melayang ke udara karena tekanan energi yang sangat tinggi.

Master Eldrian di panggung penguji berdiri dengan wajah pucat. "Tekanan ini... ini bukan lagi tingkat anak anak. Dia sedang memampatkan energi kehidupannya ke satu titik. Jika itu mengenai seseorang, tidak ada perisai mana yang akan sanggup menahannya."

Julian yang merasa terdesak segera melepaskan seluruh sisa mana gelapnya ke arah pedangnya. Pedang merah itu kini mengeluarkan api hitam yang sangat besar. Dia mengangkat pedangnya tinggi tinggi, bersiap untuk melakukan satu serangan terakhir yang akan menghancurkan seluruh arena.

"MATI KAU, ARRLAN VANDERMIRRR!"

Julian menebaskan pedangnya dengan kekuatan yang sangat dahsyat, menciptakan naga api hitam yang melesat ke arah Arlan. Namun Arlan tidak menghindar. Dia justru berlari lurus menerjang naga api tersebut. Dengan Teknik Tanpa Bayangan yang dikombinasikan dengan Gerbang Kelima, Arlan menembus api hitam itu tanpa terluka sedikit pun.

Dalam sekejap, Arlan sudah berada tepat di depan wajah Julian yang sedang ketakutan.

"Taijutsu Surgawi: Pukulan Penghancur Takdir," bisik Arlan.

Arlan menghantamkan tinju kanannya ke arah ulu hati Julian. Pukulan ini tidak membawa mana, tidak membawa elemen, hanya membawa seluruh berat jiwa dan fisik Arlan yang telah ditempa dalam penderitaan.

BOOM!

Sebuah ledakan tekanan udara yang sangat besar terjadi di tengah arena. Perisai mantra pelindung yang melindungi penonton seketika retak dan hancur berkeping keping akibat gelombang tekanan dari pukulan Arlan. Julian terlempar ke belakang seperti peluru meriam, menabrak dinding kayu arena hingga hancur dan terus terlempar hingga mendarat di luar alun alun desa. Pedang merah terlarangnya patah menjadi dua bagian di lantai arena.

Suasana alun alun desa seketika menjadi sangat sunyi, jauh lebih sunyi daripada sebelumnya. Ribuan orang hanya bisa berdiri diam, menatap arena yang kini telah hancur total di tengah tengahnya. Arlan berdiri di sana, napasnya memburu, darah segar mengalir dari hidung dan sudut matanya karena tekanan Gerbang Kelima. Namun, dia tetap berdiri tegak dengan kepala mendongak.

Dia menatap ke arah Gort yang sekarang sedang jatuh pingsan di panggung karena ketakutan. Dia menatap ke arah para penguji yang hanya bisa diam membisu. Arlan kemudian menatap ke arah kerumunan, mencari sosok ibunya. Saat dia melihat Elena yang sedang menangis bahagia, Arlan akhirnya menurunkan tangannya.

"Aku menang," gumam Arlan pelan.

Hari ini, di Desa Oakhaven, sebuah legenda baru telah lahir. Seorang anak yang dianggap sampah tanpa berkah telah menghancurkan jenius kerajaan dan senjata terlarang hanya dengan satu kepalan tangan. Nama Arlan Vandermir bukan lagi sekadar nama seorang pengkhianat, mulai hari ini nama itu adalah awal dari gempa bumi yang akan mengguncang seluruh Kerajaan Astra.

Arlan menutup Gerbang Kelima nya secara perlahan. Dia merasakan tubuhnya sangat lemah dan ingin pingsan, namun dia menahannya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun melihat kelemahannya sekarang. Dia berjalan keluar dari arena yang hancur itu dengan langkah yang tetap terlihat kuat, menuju ke arah ibunya. Di kehidupan keduanya ini, Arlan telah berhasil menyelesaikan babak pertama dari rencana besar hidupnya.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!