Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Di dalam ruangannya, Direktur Hans membaca seluruh proposal Jihan dengan sangat seksama. Matanya tertuju pada bagian prediksi perkembangan usaha di mana Jihan menulis dengan rinci bahwa produksi akan meningkat pesat dari tahun ke tahun. Bahkan hingga di tahun 2026, perusahaan diprediksi akan meraup keuntungan mencapai angka triliunan.
"Jihan... Bagaimana mungkin kamu bisa membuat proposal sehebat ini... Bahkan kamu bisa memprediksi masa depan hingga enam tahun ke depan... Seolah-olah kamu benar-benar berasal dari masa depan...!" gumam Direktur Hans dalam hati, penuh rasa takjub dan heran.
Dirinya benar-benar merasa bingung dan tak habis pikir, bagaimana bisa seorang karyawan biasa mampu menyiapkan dan membuat proposal yang begitu hebat, matang, dan penuh perhitungan yang akurat.
Direktur Hans kemudian segera menghubungi Pak Toni untuk mempersiapkan pengembangan proyek besar yang dibuat oleh Jihan.
☎️ Tut...! Tut...! Tut...!
"Pak Toni, datang ke ruangan saya sekarang." ujar Direktur Hans dengan tegas.
"Baik Pak, saya akan datang ke ruangan Bapak sekarang." jawab Pak Toni lewat sambungan telepon dengan sigap.
Direktur Hans kemudian menutup panggilan telepon. Ia terus mengamati lembar demi lembar proposal itu sambil menunggu kedatangan Pak Toni.
🚪 Tuk...! Tuk...!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Direktur Hans.
"Masuk." ujar Direktur Hans dengan suara berat.
Pak Toni membuka pintu perlahan lalu masuk ke dalam ruangan kerja Direktur Hans.
"Ada apa Pak Direktur, ada yang bisa saya bantu?" ujar Pak Toni sambil membungkuk sedikit hormat.
Pak Toni saat itu melihat wajah Direktur Hans yang terlihat sangat serius dan tegang.
"Pak Toni...! Mulai besok tolong kerjakan semua yang ada di dalam proposal ini..." ujar Direktur Hans.
Dirinya langsung menyerahkan proposal milik Jihan yang ada di tangannya kepada Pak Toni agar segera diproses dan dikerjakan.
Pak Toni mengambil berkas proposal yang diberikan oleh Direktur Hans itu. Saat ia melihat judul dan isinya, ia terkejut setengah mati. Ternyata berkas yang diberikan oleh Direktur Hans itu adalah proposal milik Jihan yang pernah ia tolak mentah-mentah.
"Ini... Bukankah ini proposal Jihan...? Mengapa bisa ada di tangan Direktur...?" gumam Pak Toni dalam hati, wajahnya terlihat bingung dan sedikit panik.
"I-iya Pak...!" jawab Pak Toni cepat, mencoba menutupi keterkejutannya.
"Sekalian, suruh Divisi 1 untuk ikut serta membantu..." ujar Direktur Hans lagi memberikan instruksi.
Ia menyuruh seluruh anggota Divisi 1 untuk terlibat penuh dalam membantu mengerjakan proyek besar ini.
"Ada yang mau ditanyakan lagi...?" tanya Direktur Hans menatap tajam ke arah Pak Toni.
"Tidak ada Pak!" jawab Pak Toni cepat.
"Kalau begitu sekarang kamu bisa kembali." ujar Direktur Hans sambil kembali fokus melihat berkas di mejanya.
"Baik Pak! Sekarang akan saya kerjakan... Kalau begitu saya permisi." ujar Pak Toni lalu berbalik badan meninggalkan ruangan itu.
Pak Toni kemudian keluar dari ruangan Direktur Hans. Ia kembali ke ruangannya sendiri dan langsung menyuruh seluruh anggota Divisi 1 untuk segera berkumpul.
Cklek!
Pak Toni membuka pintu ruangannya lebar-lebar dan berteriak memanggil semua karyawan Divisi 1.
"Semuanya... Kumpul sekarang... Segera datang ke ruangan ku...!" teriak Pak Toni dengan suara lantang menyuruh semua karyawan datang menghadap.
"Saya tunggu di ruangan saya... Sekarang!" tambahnya lagi lalu masuk dan duduk di kursi besarnya.
Saat itu seluruh karyawan segera bergegas pergi ke ruangan Pak Toni, termasuk Bu Reni dan Jihan yang juga ikut datang ke sana.
Setelah semua orang sudah berkumpul dan duduk rapi, Pak Toni mulai berbicara. Ia memberitahu bahwa mereka akan menjalankan proyek baru yang sangat besar. Namun dengan licik, ia mengaku bahwa proyek ini diserahkan kepadanya dan atas namanya sendiri.
"Dengar semuanya... Sekarang kita mendapatkan proyek baru langsung dari Direktur... Sekarang proyek ini diserahkan kepada saya, dan atas nama saya..." ucap Pak Toni dengan wajah sombong dan penuh kebanggaan.
"Bu Reni, dan Regina, kalian berdua bergabung langsung dengan saya... Pak Hendrick, kamu urus semua persiapan dan perlengkapan yang dibutuhkan... Mulai besok semuanya mulai bekerja...!" ujar Pak Toni dengan tegas membagi tugas.
Bu Reni melihat sekilas berkas yang dipegang oleh atasannya itu. Berkas itu terlihat sangat familiar dan ia yakin pernah melihatnya sebelumnya.
Sementara itu Jihan juga melihat dengan jelas bahwa berkas yang dipegang oleh Pak Toni itu adalah proposal yang dibuatnya sendiri dengan susah payah.
"Bukankah itu jelas-jelas proposal milikku...?" gumam Jihan dalam hati, tangannya mengepal kuat menahan emosi yang mulai memuncak.
"Yang lain tolong bantu sebisa mungkin... Apakah kalian mengerti...?" ujar Pak Toni menatap anak buahnya.
Jihan akhirnya memberanikan diri untuk angkat bicara dan bertanya kepada Pak Toni. Ia merasa keberatan karena proposal itu adalah hasil karyanya sendiri, namun mengapa dirinya justru tidak dilibatkan secara langsung dalam pengembangannya dan hanya disuruh membantu saja.
"Permisi Pak! Ada yang ingin saya tanyakan...!" ujar Jihan memberanikan diri.
"Kamu Jihan...! Apa yang ingin kamu tanyakan...?" tanya Pak Toni dengan tatapan tajam.
"Maaf Pak! Bukankah proposal itu milik saya... Lalu kenapa saya tidak dilibatkan secara langsung dalam mengembangkannya...?" tanya Jihan dengan suara bergetar menahan kesal.
Jihan bertanya-tanya mengapa justru Regina yang dipilih dan dipercaya, padahal dirinya sendiri sebagai pembuat proposal itu yang paling tahu detail dan isi dari proyek tersebut.
Seketika itu juga semua mata tertuju kepada Jihan, suasana ruangan menjadi hening dan tegang setelah ia berani menantang atasan mereka.
"HEEEH! Siapa kamu...? Beraninya kamu berkata seperti itu di hadapan saya... Saya atasan kamu di sini... Terserah saya mau atur seperti apa, kalau kamu tidak suka kamu tidak usah bergabung..." teriak Pak Toni dengan wajah memerah padam menahan amarah.
"Tapi Pak! Itu benar-benar proposal saya -" ujar Jihan masih mencoba membela diri, namun perkataannya langsung dipotong kasar.
"HE-YAH...! Kamu... Kamu bikin saya emosi... Ini adalah keputusan mutlak saya...!" teriak Pak Toni semakin keras membentak Jihan.
"Sekarang jangan ada yang berani membantah..!" tambahnya lagi, suaranya terdengar sangat garang dan menakutkan membuat semua orang terdiam.
Pak Toni kemudian menyuruh semua karyawan untuk segera keluar dari ruangannya dan mulai bekerja.
"Jihan... Sepertinya aku tidak perlu repot-repot melakukan apa-apa, kamu tidak akan pernah bisa menang melawan ku...!" ujar Regina dalam hati sambil tersenyum licik melihat Jihan dipermalukan.
Mereka semua keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan campur aduk. Jihan berjalan kembali ke meja kerjanya dengan langkah berat. Saat itu ia bergumam sendiri dalam hati.
"Apa yang sebenarnya terjadi... Jadi kamu berani mencuri ide dan proposal ku... Tapi ingatlah Jihan tidak akan tinggal diam... Sekarang aku akan merebut kembali semua yang memang seharusnya menjadi milikku...!"
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ
jihan semangat yaaaa...
jika kalian suka dengan cerita nya kalian bisa memberikan hadiah, vote dan juga jangan lupa kasih ulasan dan Rating ⭐⭐⭐⭐⭐
⭐⭐⭐⭐⭐
🤗Terima Kasih 🤗