Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Korban
Byur! Byur! Byur!
Suara jebyar-jebyur terdengar dari dalam toilet sekolah.
Pagi-pagi sekali sebelum bel masuk berbunyi. Dena—siswi kelas 12 di sekolah itu sudah kelihatan sibuk mandiin anak orang.
Eits!
Tapi tunggu dulu!
Jangan buru-buru salah paham dengan kelakuan anak ini, lalu berpikir: Ngapain sih pagi-pagi malah sibuk mandiin anak orang di toilet sekolah? Memangnya Dena pramusiwi?
Bukan ya!
Dena bukan pramusiwi, juga bukan semacam ada ibu-ibu lewat gendong anak terus anaknya main Dena pinjam buat dimandiin, enggak ya! Enggak gitu!
Tapi mandiin anak orang yang dalam artian begini.
Yang nggak ada angin nggak ada hujan, saat ada siswi pindahan yang kebetulan lewat di tempat biasanya Dena nongkrong sama temen-temennya, di deket toilet yang pesingnya kebangetan—siswi pindahan itu mereka seret paksa ke dalam toilet untuk dimandiin.
Masalahnya satu, cuma gara-gara siswi pindahan itu nggak mau uluk sapa ke seniornya yang cantik-cantik. Mereka jadi murka, sampai tega memaksa siswi pindahan itu mandi lagi. Padahal tubuhnya juga udah wangi, parfumnya aroma strawberry.
Tapi, hal semacam itu memang sudah lumrah terjadi, adalah kebiasaan tidak berguna yang sering kali mereka lakukan di sekolah.
Sebagai sekelompok geng cewek-cewek yang hobinya membully.
Siswi-siswi lemah, siswi pindahan yang menurut mereka kurang sopan, bahkan anak orang kaya tapi manja-manja—sering kali menjadi sasaran empuk mereka.
Tapi, tidak untuk dicontoh ya...
Membully itu tidak baik, dan biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak baik juga.
Seperti Dena dan teman-temannya ini.
Mereka dikenal begitu ya karena hobinya memang membully, dan lagi dari semua korban yang pernah Dena and the circle bully secara dar-der-dor di toilet sekolah, tidak ada satupun dari mereka yang berani melawan.
Bukan hebat!
Bukan juga untuk dibanggakan!
Soalnya, mereka yang memilih untuk tidak melawan alasannya bukan karena mereka takut atau segan, tapi satu-satunya alasan mereka enggan melawan—karena Dena ini pacarnya ketua geng motor terkenal yang cukup ditakuti di sekolah.
Dan...yah, pada akhirnya orang-orang itu sudah takut duluan kalau mau macem-macem sama nih anak.
Takut kena pukul sama si pacarnya yang jagoan itu. Dih.
Wajah Dena sih sebenarnya imut, bibirnya tipis plus rambutnyalurus, matanya juga estetik, dan alisnya pun lentik.
Tak ketinggalan, kulitnya juga putih mulus, namun terkadang suka keterlaluan.
Tapi bukan keterlaluan putihnya karena terlalu tebal dempulnya ya. Bukan! Tapi keterlaluan banget sikapnya.
Iya sikapnya ...
Yang sehabis asik mengguyur anak orang sampai wajahnya pucat kayak bubur sum-sum. Dena masih sempat-sempatnya ceburin siswi cantik itu ke dalam bak mandi yang airnya saja sedingin samudra Atlantik.
Kan keterlaluan banget ya?
Kalian pasti mikir. Eh, Dena sama temen-temennya kok jahat banget sih!Emang nggak kasihan, itu anak orang loh bukan anak kambing?
Tenang, Dena dan teman-temannya itu tidak sama rata melakukan hal semacam itu ke semua korbannya kok. Cuma korban terpilih saja yang menurut mereka lucu kalau diceburin.
Jadi pesan hangat untuk para korban lain yang nggak sempet ngerasain diceburin, jangan pada iri! Jangan malah minta diceburin juga. Ingat! Tidak semua dari kalian bisa berenang.
Berenang? Memangnya di dalam bak mandi bisa berenang? Bisa kok, asalkan bersedia jadi kecebong. Hihihi...
Di sisi lain, ada tiga sahabat Dena yang tidak kalah seblak, eh nyablaknya.
Apalagi yang namanya Micin, entah kenapa cewek cantik yang suka pakai bandana warna ijo di kepala, terkenal banget cerewetnya, kayak suara toa musala, pas nyuruh warganya kerja bakti, tapi pada pura-pura tuli.
Padahal sedari tadi anak itu juga nggak ngapa-ngapain. Cuma ngeliatin aja sambil teriak-teriak kenceng bikin telinga gatel.
"Pukul Den! Guyur Den! Kalau perlu ceburin aja sekalian!" seru Micin.
"Mi!" panggil Dena tak lama.
Micin mengangkat tangan, "Hadir!"
"Mata lo buta, ya?!"
"Buta?" Micin mendelik. "Enggak kok! Cuma memang mines lima setengah sih."
"Kenapa emangnya?"
Dena menoleh sambil matanya melotot, memegang gayung bentuk hati warna pink tua, romannya mau buat nimpuk kepala Micin.
"Lo nggak liat nih anak udah gue ceburin dari tadi?"
Dengusan Dena seketika bikin Micin nyengir-nyengir macam kuda betina.
"Oh udah nyebur ya?" Micin baru sadar.
"Berarti sekarang giliran gue dong?" ucapnya percaya diri sambil pertama kali ia bergerak, setelah dari tadi cuma nyender di sebelah pintu.
Eh sekalinya tuh anak bergerak. Micin malah kepleset sampe bikin pintu toilet rubuh, ngena-in temennya yang lagi anteng di sebelah.
Gubrak!
Si yang kepalanya benjol itu langsung marah-marah, kemudian nimpuk micin pake tumbler yang kebetulan nempel di tangannya.
Namanya Rola.
Cewek paling nyentrik gayanya di antara mereka. Wajahnya pun cantik, outfitnya juga modis, tapi kalau sudah pakai anting berlian, panjangnya emang suka nggak kira-kira.
Panjang banget.
Sampai-sampai orang di sekolah, terkadang suka bertanya dengan nada keheranan.
"Rola, memangnya lo nggak takut tuh anting nyangkut di pintu?" Waktu ditanya Rola tidak menjawab, soalnya baru sehari sebelum ada yang nanya, antingnya sudah duluan nyangkut seperti yang mereka kira.
Rola ya jelas malu buat cerita sejujurnya, gara-gara nyangkutnya kebetulan di pintu kandang burung milik papanya.
Mana burungnya sempat kabur pula, untung papanya baik, dan langsung beli burung yang baru di pasar mingguan.
Dan semenjak kejadian itu, kabarnya burung si papa malah dikandangin di dalam kamar Rola, yang sekarang katanya jadi penuh akan tai burung, bertebaran dimana-mana.
Terkadang Rola juga suka ngasih pernyataan random yang bikin orang bingung setengah jongkok. Contohnya seperti sekarang, saat siswi pindahan itu ia beri satu pertanyaan sekelas reporter berita infotainment.
Wajahnya langsung bengong nggak ketolong.
"Eh anak baru!"
"Menurut lo... gue sama Lola Tung cantikan siapa?" tanya Rola centil sambil narik-narik ujung poninya.
Sengaja, itu cuma buat nutupin benjolan di kepala.
Si anak baru itu geleng-geleng manja, mau jawab cantikan Lola Tung juga dia sendiri tidak tau orang itu siapa, ia juga takut salah menjawab, takut Rola malah menendang kepalanya pakai sepatu hak tinggi yang terkadang bikin kakinya keseleo sendiri.
Lagian, Rola juga kenapa sih? Pergi ke sekolah bukannya pakai sepatu yang nyaman, malah pakai yang bikin kaki kesemutan.
"Lo nggak tau Lola Tung?!" sentaknya.
Siswi pindahan itu menggeleng pelan.
Tidak mendapat jawaban memuaskan dari siswi pindahan itu. Rola lalu melirik Elsa—si gadis cantik berambut bondol yang suka nyemilin cimol, sejak tadi cuma diam-diam saja sambil ngelitikin kuping.
"Lo tau kan, Ca. Lola Tung itu siapa?" tanya Rola.
Rola menoleh.
"Tukang es tung-tung?"
Rola langsung murung.
Tapi meskipun Elsa kelihatan kalem, sebenarnya dia ini sedang menjalankan tugasnya yang tidak kalah penting. Melirik kanan kiri memastikan, tidak ada murid lain yang masuk ke toilet itu.
Sehingga sekalinya Elsa bergerak. Dena refleks menatapnya dengan raut waspada.
"Ada yang datang, Ca?"
Elsa menggeleng sambil masih ngelitikin kuping.
Untungnya tidak. Mereka pun kembali fokus ke si korban bully yang telah menggigil di dalam bak mandi.
Micin menempelkan wajahnya ke dinding, sambil menunjuk tas milik si korban. Dena sedang memegangnya, tas itu dalam kondisi setengah basah.
"Tasnya basah, tuh!" ujar Micin. "Cepet ambil duitnya! Mayan buat kita jajan!"
Dena mengangguk, sambil satu tangannya merogoh isi tas itu.
Satu detik ... semuanya masih menunggu.
Detik berikutnya Dena justru termenung.
"Kenapa?" Micin bereaksi sambil langsung melirik ke arah Dena yang lagi fokus ke dalam isi tas si korban.
Eh, isinya langsung bikin kepala Dena berat sebelah.
"Lo ngapain bawa beginian ke sekolah?" heran Dena.
Tapi, si korban tidak bereaksi.
"Emang isinya apaan Den?" sela Micin.
"Bunga, Mi," kata Dena.
"Bunga? Widih, romantisnya—"
"Tapi bunga pemakaman," sambung Dena.
"Hah?"
Micin refleks menatap si korban.
Dia sih cuma diam saja.
"Lo anak dukun?" tanya Micin.
"Atau lo habis nguburin orang?"
Murid pindahan itu tetap diam.
"Ada uangnya sih, Mi," ujar Dena setelah merogoh lebih dalam.
"Oh, ada?" Micin antusias membayangkan, hari ini mereka bisa beli makan yang enak-enak, tanpa harus mengeluarkan uang pribadi.
"Berapa Den?"
"Cepekan, lima lembar," jawab Dena sambil kipas-kipas pakai uang bergambar sang pahlawan proklamator.
Micin langsung nyengir.
"Nah gini dong. Bodo amat lo mau bawa bunga kuburan juga, yang penting mah duitnya," sahutnya berwajah cerah.
"Ya, nggak?"
Rola ikutan nyengir-nyengir sambil main-mainin rol rambutnya yang agak kendor. "Lo tajir sih, Wak. Nggak apa-apa deh kalau lo nganggep Lola Tung lebih cantik dari gue, yang penting hari ini gue bisa beli pentol setengah baskom," serunya sumringah.
Di sebelah Rola, Elsa cuma mengelus-elus dagu, lalu melirik ke area lapangan. "Eh, udahan yuk! Nggak lama lagi bel masuk bunyi nih! Biasanya bakal banyak yang mampir," ujarnya.
"Mampir?"
"Iya." Dena menoleh. "Sebelum upacara dimulai, biasanya banyak orang bakal pipis dulu. Kita harus pergi sebelum ada yang datang!" ajak Dena sambil melirik ke arah si korban yang masih tenggelam.
"Heh! Lo jangan berani-berani ngomong ke siapapun tentang hal ini ya! Awas aja lo!" katanya.
"Karena, kalau sampai ada yang tau, jangan harap lo bisa pulang dengan selamat!"
Siswi itu hanya bisa menunduk, menenggelamkan setengah wajahnya, ke dalam air yang bertabur bunga mawar melati.
Bahkan, ia terlihat menahan gemetar, apalagi di saat Dena meliriknya setajam bilah belati.
Nama yang tertera di dada siswi itu tak luput dari perhatian Dena.
"Grimonia Almika Yubel."
"Nama lo cantik, tapi wajah lo udah gue tandain!" kecam Dena sambil membalik badan, lalu menendang pintu toilet yang sebelumnya sempat rubuh, membuat kepala Rola benjol sebelah.
Brak!
Sampai akhirnya bel masuk berdering nyaring. Tiga yang lainnya langsung segera kabur mengikuti langkah Dena sambil teriak-teriak ke arah si korban.
"Dadah! Siapapun nama lo tadi! Selamat datang di Harina!" teriak Micin.
"Kalau orang nanya kenapa lo bisa basah, bilang aja gara-gara kran-nya jebol yaa!" tambah Rola sambil sibuk rapih-rapih, biar boleh penampilan tetep cantik meskipun kepalanya yang agak benjol bikin nggak estetik.
Sementara Dena dan Elsa tidak bicara apa-apa lagi ke si korban, dan hanya melangkah santai sambil melirik siapapun yang mereka temui di depan lorong toilet.
"Apa liat-liat? Mata lo mau gue sate?" ..."
...***...
Siang harinya saat kebetulan sedang jam—kos gara-gara guru fisika mereka katanya izin pergi kondangan.
Dena lagi duduk-duduk santai sambil mainin pulpen hasil colongan. Sementara Rola lagi asik menyocol gorengan pake saos seribuan, yang rasanya asem kecut tapi bikin ketagihan.
Micin juga ada di sana, dan lagi asik selonjoran, di pangkuan Elsa sambil dipijitin kakinya, gara-gara kepleset pagi tadi.
Tiba-tiba, saat suasana sunyi terjadi, terdengar bunyi kresek-kresek dari speaker butut di sudut kelas.
Semua mata langsung tertuju ke sana. Romannya langsung pada penasaran bakal ada kejutan apa dibalik suara berisik yang mengusik telinga itu.
Padahal yang mereka lihat cuma speaker, bukannya TV atau layar proyektor. Jadi meskipun dilihat sampai melotot, ya tetep nggak bakal ada gambarnya.
Tapi, mereka antusias.
Suara Bu Wasma—guru bagian kesiswaan sontak terdengar jelas, dari dalam speaker setelah bunyi kresek-kresek itu mangkir.
Tergantikan oleh salam hangat kayak sambutan penyiar radio berita, dengan suara empuknya yang khas setengah merdu.
Lalu, dilanjutkan dengan inti dari kenapa pengumuman itu terjadi di siang-siang bolong begini, seketika ikut terdengar di belakang sambutan itu.
"Audrea Dena Prasella XII IPA 5, Andriana Rola Sasmita XII IPA 5, Mian Jenifer Hariyata XII IPA 5, dan Elsa Marina XII IPA 5... saya tunggu di aula kantor sekolah, sekarang! Saya ulang sekali lagi ... Audrea—"
Nama keempat siswi cantik itu lah yang tiba-tiba dipanggil ke kantor.
"Kita ya?" tanya Micin sambil masih selonjoran.
Dena mengangguk-angguk. "Iya, kita dipanggil tuh," sahutnya tenang, tapi wajahnya setengah mati menahan geram, kayak mau ngamuk tapi ditahan-tahan.
"Kayaknya anak itu ngelaporin kita deh!" imbuhnya dan terdengar suara pulpen patah di tangan Dena.
"Ngelaporin kita? Kok bisa?!" Rola menyela dengan nada tinggi nyaris cempreng.
"Bukannya tadi lo udah ngasih dia peringatan?"
Dena mengangkat bahu, tanda ia yang tidak tahu tidak mau sok tahu.
"Mungkin dia lebih berani dari yang kita duga," celetuk Elsa, gadis itu lalu berdiri untuk memenuhi panggilan itu.
"Iya, dan kayaknya kita udah salah pilih korban," ujar Dena.
"Salah korban?!"