Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Deru mesin motor sport Aiden menggema di kesunyian basement parkir apartemen Valerie sebelum akhirnya meredup. Valerie turun dari boncengan, melepas helmnya, dan berusaha menampilkan senyum terbaik untuk menutupi kegundahan yang berkecamuk di dadanya sejak keluar dari ruang dosen tadi.
Aiden menatap wajah kekasihnya dengan tatapan teduh yang penuh perhatian. "Istirahatlah yang baik malam ini, Val. Jangan begadang lagi mengerjakan tugas," ucapnya lembut sambil mengusap pipi Valerie. "Dan jangan lupa... hubungi aku nanti malam, ya? Aku merindukan suaramu."
Valerie mengangguk pelan. "Iya, Aiden. Aku akan menghubungimu nanti. Kau juga hati-hati di jalan."
Sebelum Valerie melangkah menuju lift, Aiden menariknya lembut dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi gadis itu.
Aiden tetap diam di atas motornya, memastikan Valerie benar-benar menghilang di balik pintu lift yang tertutup sebelum akhirnya ia memacu motornya meninggalkan area parkir.
Begitu sampai di dalam unit apartemennya, suasana berubah drastis. Valerie tidak lagi tampak tenang. Ia bergegas mengunci pintu ganda, menarik napas dalam-masuk ke kamar tidurnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menarik sebuah laci kecil di samping tempat tidurnya, merogoh bagian paling belakang hingga menemukan sebuah ponsel lama berukuran kecil yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Tanpa membuang waktu, ia mendial sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Panggilan itu ditujukan kepada pria yang selama ini ia panggil sebagai Paman Robert.
Robert bukanlah sekadar pengasuh; ia adalah kepala pelayan setia di kediaman utama Blackwood saat ayah Valerie masih berjaya. Pria itu telah mengabdikan seluruh hidupnya sejak Fedderick Blackwood masih remaja.
Dialah sosok di balik layar yang mengatur pelarian Valerie sepuluh tahun lalu, menyembunyikannya di balik identitas palsu karena ia tahu persis betapa berbahayanya posisi Valerie.
Di dunia gelap yang ditinggalkan ayahnya, Valerie bukan sekadar seorang putri; ia adalah kunci hidup menuju harta karun dan kejayaan Kerajaan Blackwood yang melegenda.
Dan kini, dengan kemunculan Mikail Osborn yang mengetahui nama aslinya, rahasia yang dijaga Robert selama satu dekade terancam runtuh.
Suara kerisik di seberang telepon berganti dengan suara berat dan tenang milik Robert.
"Halo, Nona? Ada apa? Tidak biasanya Anda menghubungi di jam seperti ini," tanya Robert dengan nada kebapakan yang tulus.
Valerie menarik napas dalam, jemarinya meremas pinggiran sprei.
"Halo, Paman Robert... sepertinya untuk sementara waktu, Arthemis bukan lagi tempat yang paling aman bagiku."
Robert terdengar tersentak di seberang sana. "Apa maksud Anda, Nona? Bukankah di sana Anda berada di bawah pengawasan langsung Pak Richard selaku ketua yayasan? Beliau sudah berjanji pada saya untuk menjaga Anda."
"Tidak, Paman. Aku ragu mereka bisa melindungiku sepenuhnya," sahut Valerie, suaranya merendah dan penuh kewaspadaan. "Seseorang... seseorang baru saja mengenaliku."
"Apa?!" Robert berseru kaget. "Nona, Anda baik-baik saja, bukan? Anda tidak terluka?"
"Aku baik-baik saja untuk saat ini, Paman. Tapi aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus pergi ke tempat lain untuk sementara. Bahkan, aku merasa tidak aman lagi jika tetap tinggal di apartemen ini. Jejakku mungkin sudah tercium sampai ke sini."
Robert terdiam sejenak, deru napasnya terdengar berat karena rasa khawatir. "Lalu, apakah Anda sudah punya tujuan? Katakan saja ke mana Anda ingin pergi, Nona. Saya akan segera mengurus semua akomodasi dan biayanya."
Seketika, bayangan wajah arogan Damian melintas di benak Valerie. Sosok pria gila yang dingin, dominan, namun memiliki kekuasaan yang tak tertandingi.
Valerie membenci Damian, tapi ia harus realistis; di dunia yang penuh serigala ini, hanya predator yang lebih besar yang bisa melindunginya dari predator lainnya.
Berada di sisi Damian, mungkin adalah tempat persembunyian paling aman saat ini.
"Tidak perlu, Paman," jawab Valerie mantap, meski hatinya terasa berat. "Aku sudah tahu harus ke mana." Valerie memutuskan untuk kembali ke dalam "sangkar emas" Damian!
Valerie mematikan ponsel lamanya dengan tangan gemetar, lalu segera membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman untuk bergerak. Dengan tas ransel berisi barang-barang penting, ia melangkah keluar dari unit apartemennya.
Lorong yang biasanya terasa sunyi kini seolah-olah memiliki mata yang mengawasinya dari setiap sudut.
Sesampainya di basement parkir, Valerie mempercepat langkahnya menuju pintu keluar. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Di depan sana, berdiri sekelompok pria asing dengan pakaian serba gelap.
Mereka tampak sedang berbisik satu sama lain sambil sesekali melirik ke arah ponsel—seolah sedang mencocokkan wajah seseorang dengan sebuah foto.
Begitu mata salah satu dari mereka tertuju pada Valerie, pria itu memberi isyarat pada yang lain. Mereka mulai melangkah maju secara perlahan, mengepung ruang gerak Valerie.
Insting bertahan hidup Valerie seketika aktif. Tanpa pikir panjang, ia memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar darurat yang mengarah ke area luar.
"Sial, mereka sudah menemukanku!" batinnya kalut.
Mendengar deru langkah kaki yang mengejarnya, Valerie tidak berani menoleh. Ia terus berlari membelah kegelapan malam hingga sampai di area taman kota yang letaknya tak jauh dari apartemennya.
Napasnya sudah tersengal-sengal, dadanya terasa panas, dan kakinya mulai lemas. Merasa tidak akan sanggup berlari lebih jauh lagi, Valerie memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah pohon beringin besar yang rimbun.
Di balik kegelapan batang pohon itu, Valerie meringkuk. Sayup-sayup, ia mendengar suara derap sepatu bot yang menginjak dedaunan kering.
"Dia tidak mungkin lari jauh! Cepat berpencar, periksa setiap sudut taman ini!" perintah salah satu pria itu dengan nada dingin.
Valerie menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Ia berusaha mengatur napasnya agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di tengah kesunyian malam.
Air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya saat ia mendengar langkah kaki salah satu dari mereka mendekat ke arah pohon tempatnya bersembunyi.
"Tuhan, kumohon... jangan biarkan mereka menemukanku," bisiknya dalam hati, berharap ada keajaiban yang menyelamatkannya dari kepungan orang-orang misterius ini.
Di tengah kegelapan yang mencekam dan suara langkah kaki para pengejar yang semakin mendekat, jantung Valerie berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya.
Tepat saat ia mengira telah menemukan celah untuk bernapas, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba muncul dari kegelapan, membekap mulutnya dengan kuat dari belakang.
Mata Valerie terbelalak sempurna. Tubuhnya menegang hebat, dingin menyergap sekujur kulitnya. Ini akhirnya, batinnya pasrah. Ia yakin salah satu dari pria asing tadi telah menemukannya dan hidupnya akan tamat malam ini juga.
Pria yang membekapnya itu kemudian memutar tubuh Valerie dengan gerakan yang sangat dominan namun terkendali, memaksa gadis itu untuk berhadapan langsung dengannya.
Valerie memejamkan mata erat-erat, air mata ketakutan mulai merembes keluar, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak berani melihat siapa sosok yang telah menangkapnya.
Namun, alih-alih kekerasan yang ia terima, pria itu justru mendekatkan wajahnya ke telinga Valerie.
Dalam keremangan cahaya bulan yang menembus celah pepohonan, pria itu berbisik dengan nada rendah yang sarat akan otoritas dan sedikit nada mengejek.
"Apa kau merindukanku sekarang... Penipu Kecil?"
Seketika, napas Valerie yang tadinya tercekat seolah mendapatkan aliran udara segar. Tubuhnya yang gemetar perlahan mulai melemas, bukan karena menyerah, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.
Ia mengenali suara bariton yang dalam dan dingin itu. Suara yang biasanya ia benci, namun malam ini terdengar seperti melodi penyelamat.
"Damian..." gumam Valerie lirih di balik telapak tangan pria itu.