"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pisah
...GAMON...
...Bab 4: Pisah...
...POV Keana & Bima...
---
Kamis, Pukul 16.00 – Angkringan Warna-Warni
Tempat ini dulu manis.
Di sinilah Bima pertama kali ngajak Keana kencan—tiga tahun lalu. Bima gugup banget waktu itu, sampe salah pesen minum. Keana ketawa. Bima makin gugup. Tapi dari situ mereka mulai.
Di sinilah mereka merayakan anniversary pertama. Bima bikin kejutan—gorden kecil dari lampu tumblr, nasi bungkus yang ditata jadi bentuk hati, dan surat tulisan tangan empat lembar. Keana nangis.
Di sinilah Bima pertama kali bilang "aku sayang kamu". Bukan di tempat mewah, bukan dengan bunga mahal. Tapi di pojok ini, di meja kayu yang udah mulai lapuk, dengan es teh manis di tangan.
Tapi hari ini, tempat yang sama akan jadi saksi kehancuran.
---
Keana datang lebih awal. Dia duduk di pojok—tempat biasa mereka. Memesan es teh manis, padahal dia nggak suka. Tapi ini pesanan Bima. Kayak mau minta maaf sebelum ngelakuin dosa.
Tangannya gemetar.
Ditaruh di atas meja. Digenggam. Ditaruh lagi.
Ponsel. Dilihat. Jam 15.47. Masih 13 menit.
Dia buka chat Bima. Pesan terakhir dari Bima tadi siang:
Bima (12.34): "Sayang, udah siap? Aku udah di jalan. Bentar lagi sampe. Jangan lupa minum, cuacanya panas."
Bima nggak tahu. Bima pikir ini kencan biasa. Bima pikir mereka bakal ngobrol, ketawa, makan, pulang bareng. Bima nggak tahu kalau ini terakhir.
Keana nutup ponsel. Napasnya berat.
---
Pukul 16.00 Tepat
Bima datang. Masih pake baju kerja—kemeja lengan panjang digulung, celana bahan, sepatu pantofel yang udah mulai aus. Rambutnya agak berantakan kena angin. Tapi matanya... matanya bersinar.
Dia tersenyum.
"Sayang! Kirain gue duluan." Dia duduk di hadapan Keana. "Pesen es teh manis? Itu kan pesenan gue."
Keana nggak bisa balas senyum. "Iya."
Bima nggak ngeh. Dia terlalu senang. Dia manggil penjual, pesan sate usus, sate telur puyuh, nasi kucing—semua favorit mereka.
"Kangen banget makan di sini," kata Bima sambil nata piring. "Dulu kita sering banget, ya. Lo inget nggak, pas kita—"
"Bim."
Satu kata. Tapi nada suaranya beda.
Bima berhenti. Menatapnya. Dan di situ, di mata Keana, dia lihat sesuatu yang bikin hatinya jatuh.
"Sayang? Kenapa?"
Keana tarik napas. Dalam banget. Sampe dadanya sakit.
"Kita... kita harus ngomong."
Bima diam. Tangannya masih megang tusuk sate. Tapi nggak digerakin.
"Oke." Suaranya pelan. "Ngomong apa?"
---
Keana nunduk. Nggak berani lihat matanya.
"Aku... aku udah mikir ini lama, Bim. Beberapa bulan terakhir. Aku coba lawan. Tapi aku nggak bisa."
"Nggak bisa apa?"
Keana angkat muka. Air mata udah di pinggir.
"Aku nggak bisa... bertahan."
Diam.
Bima nggak ngomong. Cuma nunduk. Sate di tangannya ditaruh pelan di piring.
"Bertahan dari apa, Kean?" Suaranya serak. "Aku... aku ada di sini. Aku selalu ada. Aku nggak ngerti—"
"Itu dia masalahnya."
Bima angkat muka. Matanya mulai basah.
"Apa?"
"Kamu selalu ada." Keana ngomong pelan, tapi setiap kata kayak paku. "Dan itu... itu bikin aku sesak."
Bima bengong. Nggak nyambung.
"Aku... aku terlalu baik?"
"Bukan baik. Tapi... predictable."
Kata itu keluar. Predictable.
Bima diem. Mukanya mulai pucat.
"Maksud lo?"
Keana pegang gelas es teh. Tangannya gemetar.
"Kamu itu... Bim, kamu selalu sama. Setiap hari. Bangun pagi, kirim pesen, tanya udah makan, anter jemput, masakin, love you, tidur. Besok ulang lagi. Sama persis."
Bima masih diem. Tapi matanya—matanya mulai pecah.
"Aku tahu itu baik. Aku tahu itu cinta. Tapi aku... aku butuh sesuatu yang lebih. Sesuatu yang... yang bikin aku deg-degan. Yang bikin aku ngerasa hidup."
"Jadi selama ini... aku nggak cukup?"
Pertanyaan itu. Sederhana. Tapi menusuk.
Keana nggak jawab. Tapi diamnya itu lebih kejam dari kata-kata.
---
Bima nunduk. Tangannya ngepal di atas paha. Dadanya naik turun—napas yang ditahan.
"Kean."
Suaranya pecah.
"Aku tahu aku nggak sempurna. Aku tahu aku nggak bisa kasih lo mobil mewah kayak cowok-cowok itu. Tapi aku... aku sayang lo. Beneran. Dari hati."
Dia angkat muka. Air mata udah jatuh.
"Apa itu nggak cukup?"
Keana nangis. Tapi dia tetep ngomong.
"Cukup buat hidup biasa. Tapi aku... aku nggak mau biasa."
Diam. Lama.
Bima ngangguk pelan. Dagu bergetar. Tapi dia nahan.
"Jadi... ini udah keputusan lo?"
Keana berhenti. Hatinya perang. Separuh dia pengen tarik kata-kata. Separuh lagi tau, ini satu-satunya jalan.
"Iya."
Satu kata. Tapi beratnya kayak gunung.
---
Bima berdiri. Tangannya ambil dompet. Keluarin uang—lebih dari yang harus dibayar. Taruh di meja.
"Bim..."
"Nggak usah." Suaranya datar. Tapi tangannya gemetar. "Gue... gue bayar."
Dia berbalik. Mau pergi.
Tapi Keana—entah kenapa—ngomong satu kalimat yang ngga pernah bisa dia maafkan sampai bertahun-tahun kemudian.
"Bim, maaf. Tapi aku rasa kamu nggak akan pernah bisa saingin mereka-mereka yang di luar sana. Aku butuh sesuatu yang lebih."
Bima berhenti.
Langkahnya berhenti. Punggungnya berhenti. Dunianya berhenti.
Dia nggak balik. Tapi suaranya keluar—pelan, pecah, tapi jelas.
"Semoga lo dapet apa yang lo cari, Kean."
Dia jalan. Meninggalkan angkringan. Meninggalkan tiga tahun. Meninggalkan hatinya di meja kayu itu.
---
Keana duduk. Sendirian. Es teh manis di depannya udah encer.
Dan di situ, di tempat pertama mereka bertemu, dia nangis.
Bukan karena dia sedih.
Tapi karena dia takut—takut ini adalah keputusan paling bodoh dalam hidupnya.
---
POV Bima
Di Luar Angkringan
Bima jalan. Nggak tahu ke mana. Nggak lihat lampu merah. Nggak denger klakson.
Dia cuma jalan. Sampe kakinya bawa dia ke pinggir kali. Kotor. Bau. Tapi dia duduk di situ. Nggak peduli.
Ponsel di tangan. Layar masih nyala. Foto Keana—foto yang dia ambil diam-diam setahun lalu, pas mereka liburan.
Keana tertawa. Rambut berantakan. Pegang es krim.
Dulu, dia pikir mereka akan bareng selamanya.
Sekarang?
Dia tutup mata. Air mata jatuh. Sendirian di pinggir kali, di antara bau sampah dan suara knalpot.
Dan di situ, di tempat paling ngga romantis sedunia, dia berbisik pada dirinya sendiri:
"Aku akan buktiin. Aku akan jadi sesuatu. Bukan buat lo. Tapi buat diri aku sendiri."
---
Bersambung ke Bab 5: Bima Tumbang
---
Preview Bab 5:
Hari-hari setelah putus adalah yang paling gelap.
Bima nggak makan. Nggak mandi. Nggak angkat telepon. Ibu nelpon—dia biarin. Doni dateng—dia usir.
Tapi di tengah kegelapan itu, sesuatu mulai lahir.
Bukan harapan. Bukan cinta.
Tapi tekad.
Bab 5: Bima Tumbang—soon!
---