Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemeja Kebesaran dan Sandera Sukarela
[Masa Cuti 72 Jam Sebelum Keberangkatan]
Apartemen Pribadi Kolonel Rayyan Aksara, Jakarta Selatan.
Pemulihan pasca-koma akibat gas beracun bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan hanya dengan berjalan-jalan di taman. Dan Kolonel Rayyan Aksara tahu persis bahwa jika ia membiarkan Dr. Lyra Andini pulang ke rumah atau apartemennya sendiri, gadis keras kepala itu pasti akan mencuri-curi waktu untuk membuka jurnal penelitian atau terhubung dengan server museum.
Maka, Rayyan mengambil tindakan yang sangat cemerlang; ia “menculik” Lyra.
Setelah menandatangani surat kepulangan Lyra dari RSPAD dengan otoritas penuh, Rayyan langsung membawa gadis itu ke apartemen pribadinya yang terletak di lantai tiga puluh sebuah menara eksklusif di Pusat Jakarta. Apartemen itu sangat mencerminkan pemiliknya—luas, bersih, didominasi warna monokrom, perabotan kayu solid, dan memiliki keamanan biometrik tingkat militer di pintunya.
Selama tiga hari ini, Rayyan memutus semua jalur komunikasi eksternal. Ia menyerahkan ponsel militernya pada Letnan Jati dengan satu perintah tegas: Tembak siapa pun yang berani menggangguku sebelum hari Senin. Terutama jika orang itu bernama Mayor Sarah Kamila.
Bagi Lyra, pengalaman nyaris mati tenggelam di paru-parunya sendiri rupanya meninggalkan trauma bawah sadar yang unik. Arkeolog yang biasanya sangat mandiri dan lebih suka menghabiskan waktu sendirian bersama artefak itu, mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
Ketakutan akan kehilangan napas, ditambah dengan ancaman misi Laut Banda yang mengintai di depan mata, membuat pertahanan emosional Lyra runtuh. Ia menjadi sangat, sangat manja. Sebuah sisi yang belum pernah Lyra tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya, namun disambut oleh Rayyan dengan pengabdian yang nyaris gila.
Pukul 08.00 WIB, Hari Kedua Masa Cuti.
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca raksasa apartemen, menghangatkan lantai kayu parket. Di area dapur berbahan marmer hitam, Rayyan sedang berdiri menyeduh kopi dan mengaduk bubur oatmeal hangat. Pria itu hanya mengenakan celana sweatpants abu-abu longgar, bertelanjang dada, memamerkan lekuk otot punggung dan bahunya yang kokoh serta perban putih yang menutupi luka jahitannya di pinggang kanan.
Terdengar langkah suara kaki tanpa alas yang diseret pelan dari arah kamar tidur utama.
Rayyan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Sudut bibirnya sudah terangkat membentuk senyum hangat.
Lyra muncul dari lorong. Ia terlihat tenggelam di dalam kaus katun hitam milik Rayyan yang panjangnya mencapai pertengahan paha gadis itu. Kacamata bulatnya bertengger di hidung, dan rambut cokelatnya dicepol asal-asalan berantakan. Wajahnya masih menyisakan rona khas orang bangun tidur, matanya setengah terpejam.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Lyar berjalan luruh ke arah punggung Rayyan.
Gadis itu melingkarkan kedua lengan mungilnya di pinggang kokoh Rayyan dari belakang, sangat berhati-hati menghindari perban luka pria itu. Lyra menyandarkan sisi wajahnya tepat di tengah punggung lebar Rayyan yang hangat, menghirup aroma sabun mandi sandalwood dan wangi alami tubuh pria itu dalam-dalam.
Tangan Rayyan yang sedang mengaduk oatmeal terhenti seketika.
Pria itu terkekeh pelan, getaran suaranya merambat dari dadanya hingga ke pipi Lyra. Rayyan melepaskan sendoknya, lalu menyentuhkan sebelah tangannya ke atas lengan Lyra yang melingkar di perutnya, mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya.
“Selamat pagi, Koala,” sapa Rayyan dengan suara serak khas bangun tidur yang luar biasa maskulin. “Tidurmu nyenyak?”
“Mhm…” Lyra hanya bergumam tak jelas, semakin mengeratkan pelukannya, menolak untuk melepaskan diri dari kehangatan punggung pria itu. “Dingin. Kasurnya dingin saat kau bangun.”
Rayyan tersenyum lebar. Ia mematikan kompor listriknya, membersihkan tangannya dengan lap, lalu memutar tubuhnya di dalam pelukan Lyra. Gadis itu tidak melepaskan lingkarannya, ia hanya membiarkan Rayyan berputar hingga kini wajah Lyra terkubur tepat di dada bidang pria itu.
Tangan besar Rayyan langsung merengkuh punggung dan pinggang Lyra, menarik tubuh mungil itu merapat hingga nyaris tak ada jarak di antara mereka. Pria itu menundukkan wajahnya, mengecup puncak kepala Lyra berulang kali.
“Aku hanya pergi lima belas menit ke dapur untuk membuatkanmu sarapan, Sayang,” bisik Rayyan lembut, dagunya bersandar nyaman di atas kepala Lyra.
“Kau tidak perlu memasak. Aku tidak lapar,” protes Lyra manja, suaranya teredam di dada telanjang Rayyan. Jari-jari Lyra mencengkeram kain celana sweatpants pria itu. “Aku hanya ingin kau kembali ke kasur. Peluk aku lagi.”
Mendengar nada suara yang begitu rapuh dan menuntut itu, hati sang komandan Black Ops benar-benar meleleh menjadi genangan air mata disudut matanya. Rayyan, yang biasa meneriakkan perintah di tengah hujan peluru, kini tidak memiliki satu ons pun kekuatan untuk menolak permintaan seorang Lyra Andini.
“Kau harus makan, Lyra. Paru-parumu butuh nutrisi untuk masa pemulihan,” bujuk Rayyan halus. Pria itu menyelipkan satu tangannya kebawah lipatan lutut Lyra, sementara tangan yang lain menopang punggungnya.
Dengan satu gerakan mulus dan ringan, Rayyan mengangkat Lyra dan mendudukkan gadis itu di atas meja marmer di atas kitchen island.
Kini posisi wajah mereka sejajar. Rayyan berdiri di antara kedua kaki Lyra yang menjuntai. Tangan Lyra otomatis naik, mengalung di leher kokoh Rayyan, sementara ibu jari Rayyan membelai tulang pipi Lyra dengan sentuhan memuja.
Lyra mengerucutkan bibirnya sedikit, menatap mata Rayyan dengan tatapan sayu yang membuat Rayyan menelan ludah dengan susah payah.
“Aku tidak suka saat kau tidak ada di jangkauanku,” bisik Lyra jujur, kepolosannya menembus langsung ke relung jiwa Rayyan. Ketakutan akan gelapnya koma masih membekas. “Saat aku bangun dan tidak merasakan detak jantungmu di bawah tanganku… aku benci perasaan itu.”
Mata Rayyan menggelap oleh emosi yang sangat dalam. Ia menangkup rahang Lyra dengan kedua tangannya, memajukan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan.
Ciuman itu begitu lembut, sarat akan penenang dan kepastian. Rayyan melumat bibir Lyra dengan lambat, mengecap rasa sisa kantuk di sana, menyalurkan seluruh sisa hidupnya melalui ciuman tersebut. Lyra merespons dengan mendesah pelan, jari-jarinya menelusup ke rambut gelap Rayyan, menarik pria itu semakin dekat hingga dada mereka beradu.
“Aku di sini,” bisik Rayyan di sela-sela ciuman mereka, napasnya memburu hangat di wajah Lyra. Pria itu mengecup sudut bibir Lyra, lalu turun mengecup rahangnya. “Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku milikmu Lyra. Sepenuhnya.”
Rayyan menarik wajahnya sedikit. Ia mengambil semangkuk kecil oatmeal hangat dan menyendoknya. “Satu suapan. Setelah itu, aku janji kita akan kembali ke kasur dan aku tidak akan bergeser satu sentimeter pun sampai kau bosan memelukku.”
Lyra tersenyum, matanya menyipit bahagia. Ia membuka mulutnya, menerima suapan dari sang Kolonel. Di sela-sela kunyahannya, Lyra bergumam. “Aku tidak akan pernah bosan. Jadi bersiaplah kelaparan seharian, Komandan.”
Rayyan tertawa renyah, meletakkan kembali mangkuk itu ke meja. Ia meraup tubuh Lyra kembali ke dalam gendongannya. Lyra melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Rayyan saat pria itu membawanya kembali ke dalam kamar tidur yang temaram.
Pukul 15.00 WIB.
Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, menciptakan melodi rintik yang menenangkan saat beradu dengan kaca jendela apartemen.
Di ruang tengah yang luas, televisi layar datar raksasa menyiarkan film dokumentar sejarah Mesir Kuno dengan volume rendah. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menontonnya.
Rayyan bersandar di sofa kulit panjang miliknya. Ia sedang membaca tumpukan laporan militer dan profil arsitektur palung Laut Banda dari sabak digital di tangan kirinya. Wajahnya kembali ke mode serius, kacamata baca berbingkai persegi bertengger di hidungnya, menambah kadar ketampanan intelektual yang membuat pria itu terlihat sangat berbahaya.
Namun, postur kaku sang militer sangat kontras dengan pemandangan di dada kanannya.
Lyra berbaring menyamping di atas sofa, menempel sepenuhnya pada sisi tubuh Rayyan. Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang pria itu, tepat di atas jantung Rayyan yang berdetak konstan. Tangan kiri Lyra melingkar erat di perut Rayyan, sementara kakinya menyelinap dan bertumpu di atas paha pria itu, seolah memastikan sang komandan benar-benar tidak bisa bergerak kemana pun tanpa persetujuannya.
Lengan kanan Rayyan yang bebas melingkar protektif di bahu Lyra, tangannya sesekali mengusap lembut rambut cokelat gadis itu atau memijat pelan bahunya yang kaku, sementara matanya tetap fokus membaca laporan di layar.
“Rayyan,” panggil Lyra pelan, memecah kesunyian yang hanya diisi oleh suara hujan. Jari telunjuk Lyra tanpa sadar menggambar pola abstrak di atas kaus hitam yang dikenakan pria itu.
“Hm?” Rayyan menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, namun tangan kanannya langsung berhenti memijat dan mengusap lengan Lyra dengan penuh perhatian.
“Apakah menurutmu kedalaman palung Laut Banda itu akan membuat paru-paruku bermasalah!?” Tanya Lyra, ada getar keraguan di suaranya. Perkataan Mayor Sarah tentang kelemahannya kembali menganggu pikirannya. “Tekanan dikedalaman empat ribu meter… submersible (kapal selam mini) itu mungkin canggih, tapi jika terjadi kebocoran kecil saja…”
Rayyan seketika mematikan sabak digitalnya,, melemparnya ke meja kaca di depan sofa. Dokumen Top Secret itu tidak lagi penting jika dibandingkan dengan kecemasan di suara wanitanya.
Pria itu menunduk, melepaskan kacamata bacanya. Ia menyelipkan jarinya di bawah dagu Lyra, mengangkat wajah gadis itu agar memandangnya.
“Lyra, lihat aku,” suara Rayyan sangat tegas, namun sarat akan kelembutan yang melumpuhkan. “Kita akan menggunakan Deep-Submergence Vehicle (DSV)milik angkatan laut yang dilapisi titanium murni setebal dua belas inci. Ruang kabinnya diatur pada tekanan atmosfer permukaan. Paru-parumu tidak akan merasakan perbedaan apa pun, seolah kau sedang duduk di sofa ini.”
Lyra menatap mata itu, mencari celah keraguan, namun tidak menemukan apa-apa selain keyakinan yang nyata.
“Kau bukan beban, Lyra.” Rayyan menyambung, seolah bisa membaca luka yang digoreskan Sarah tempo hari. Pria itu mengubah posisinya sedikit, menggeser tubuhnya turun hingga wajahnya sejajar dengan Lyra di sofa.
Rayyan menangkup wajah Lyra dengan kedua tangannya, mengusap tulang pipi gadis itu dengan ibu jarinya. “Jika di kedalaman sana aku harus memilih antara menyelamatkan pusat komando Megalitikum itu atau memastikan kau bisa bernapas, aku akan membiarkan seluruh sejarah dunia ini tenggelam di dasar laut asalkan kau bersamaku.”
Mata Lyra berkaca-kaca. Ia melepaskan pelukannya di perut Rayyan, merayap naik, dan menelusupkan lengannya ke leher pria itu. Lyra membenamkan wajahnya di leher Rayyan, menarik napas dalam-dalam, mencari jangkar di aroma tubuh pria itu.
“Aku takut,” bisik Lyra jujur, dinding akademisnya benar-benar luruh. “Aku tidak pernah setakut ini. Karena sebelumnya, yang kupertaruhkan hanya diriku sendiri. Tapi sekarang… jika aku menerjemahkan satu relief saja di bawah sana, aku bisa kehilangan mu.”
Rayyan memejamkan matanya, merasakan keputusasaan gadis itu beresonansi dengan ketakutan terbesarnya sendiri. Tangan Rayyan merengkuh tubuh mungil gadis itu semakin erat, mengunci Lyra di dalam dekapannya seolah ingin menyatukan gadis itu ke dalam tulang rusuknya.
“Maka kau tidak akan salah,” Rayyan berbisik tepat di telinga Lyra, suaranya parau oleh emosi. “Kau adalah orang terpintar yang pernah kukenal. Dan aku adalah komandan yang tidak pernah kalah. Selama kita bersama, tidak ada dasar laut yang bisa mengubur kita, Lyra.”
Pria itu memiringkan kepalanya, mengecup perpotongan leher Lyra dengan sangat lama dan mendalam. Hembusan napas hangat Rayyan di kulitnya membuat Lyra merinding, sebuah desiran panas menggantikan rasa takutnya.
Lyra memiringkan kepalanya, memberikan akses lebih banyak untuk bibir pria itu. Saat bibir Rayyan mulai menyusuri garis rahangnya menuju bibirnya, Lyra membalas pagutan itu dengan gairah yang menuntut. Ciuman mereka diiringi suara rintik hujan, sebuah perpaduan antara keputusasaan, rasa takut akan masa depan, dan cinta yang begitu membakar.
Tangan Rayyan menyusup ke punggung Lyra, mengusap tulang belakangnya, sementara Lyra meremas bahu lebar sang komandan, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa pria baja ini benar-benar miliknya.
Selama sisa tiga hari itu, Rayyan Aksara menepati janjinya. Ia tidak meninggalkan apartemen, tidak menerima satu pun panggilan dari markas, dan menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk menjadi sandera sukarela dari manja dan kecemasan sang dokter.
Karena Rayyan tahu, begitu mereka melangkah keluar dari apartemen kaca ini dan terbang menuju perairan gelap Laut Banda, segala kepolosan dan kedamaian ini harus kembali mereka pertaruhkan di ujung jurang kematian.