“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Aku hanya ingin bahagia!
" Kamu itu, jadi istri menyusahkan banget!.. Kamu tahu tidak kami itu lagi sibuk tapi karena dapat kabar kamu masuk rumah sakit. Kita terpaksa datang! " Cerocos Pak Andreo saat Ardila sudah boleh pulang ke rumah, Ia di Marahi habis-habisan oleh kedua mertuanya.
" Maaf pa! " Bibirnya bergetar hebat menahan rasa sakit dan kecewa yang, bersarang di rongga dadanya. Ia hanya mampu menundukkan kepalanya Gigitnya mengigit bibir dalamnya seolah bisa mengurangi rasa sakit hinaan itu,
" Sudah, kalian tidak bisa kah berbuat baik kepada menantu kalian! " Suara tegas bu Rianti Membuat semuanya terdiam. Bu Rianti berjalan ke arah ranjang Dila lalu memeluknya
" Keluar! " Usir Bu Rianti
" Ck!, ibu itu belain aja terus dia! " Cebik Laras Sembari berjalan keluar di susul pak Andreo,
Rianti mengusap punggung, Ardila membuat Ardila teringat oleh sang mama yang selalu melakukan hal tersebut kala ia sakit. " Yang kuat ya! " Gumam Rianti Seolah mentransfer kan Kekuatan untuk Ardila bangkit " Makasih Omah! "
" Ya sayang! "
Krekk!
Pintu terbuka, Rafa berdiri di depannya dengan sebuah jas kerjanya yang di pangkuan tangannya " Omah, Biar aku yang tidurkan Ardila!.. Omah harus istirahat! " Kata Rafa dengan suara penuh perhatian
" Kamu, jagain istrimu ya nduk!.. Omah sayang sama Istrimu! " Sebelum bangkit Rianti mengecup dahi Ardila " Ya omah, "
" Omah, ke kamar dulu istirahat! " Bu Rianti beranjak dari duduknya, Ia berjalan ke arah pintu kamar yang dimana langsung di kunci oleh Rafa,
Tatapan Rafa seolah menusuk kalbu, Ardila tatapannya tajam ia mendekati Ardila tangannya terangkat ke udara.
Plak!!
Pipi mulus itu, harus di berikan Cap lima jari lagi Pipi kanannya Terhampas ke sebelah kiri membuat ia meraba pipinya, yang terasa panas matanya memerah tidak sanggup dengan semuanya.
Hatinya bagaikan di tusuk sebuah jarum, Hingga berdarah rasa sakit dan tidak percaya membelenggu dirinya. " Ma-s ! " Suara Ardila terdengar serak. Khas orang menahan tangis ia menatap Rafa, yang rahangnya mengertat
" Kamu, itu menyusahkan jadi wanita!. Aku suruh kamu jemput Omah bukannya malah pingsan Buang - buang uang " Hardik Rafa
Ardila, mengigit bibirnya seolah Bisa menahan rasa sakit yang ia alami saat ini. Rasa sakit Di pipinya masih Membekas sekali — apalagi Rasa sakit di Hatinya. " Sebenarnya, aku salah apa sama mas?.. Sampai-sampai mas berlaku kasar sama aku? " Tanya Ardila dengan suara bergetar Menatap. Penuh kebencian ke Lelaki tersebut
" kamu membuat hidupku menderita! " Sarkasnya membuat Ardila terdiam, ia menghela napas panjang " Apa, mas ngga cinta sama aku?.." Tanya Ardila yang di jawab kekehan Tajam. Lelaki yang menyandang Suaminya, tangan Lelaki tersebut Terayun lalu mencengkram kuat rahang Ardila hingga menimbulkan bekas luka di wajah tersebut.
" Asal kamu tahu, Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.” Kata Rafa membuat Ardila berkerut dahi, " Maksud kamu apa?, "
" Karena, keluarga aku mau aku nikah sama orang yang High class kaya kamu dan satu hal lagi aku ngga bisa jujur sama kamu! " Ia menghampas kasar wajah Ardila.
Rafa, menatap Ardila dengan raut jijik lalu ia pergi meninggalkan Ardila di kamar tersebut. Sendirian!
Ia meremas, pusatnya tempat dimana orang jatuh hati. Kuat ia mengigit bibirnya dalam— hingga berdarah rasa sakit itu tenggelam dengan luka di dadanya, " Ma.. Aku hanya mau bahagia! " Gumam Ardila nyaris hilang putus asa
Air mata yang ia tahan, mengalir deras bagaikan hujan. Tetiba Ia teringat dengan sang mama yang selalu ada untuknya, namun setelah ia menikah dengan Rafa Ia tidak pernah kontakan sama Mama dan papanya. Entahlah kenapa keluarga itu melarang dirinya untuk kontak hanya sebatas mengirim pesan,
" Aku hanya ingin bahagia! " Gumamnya ia menaruh punggung nya di kasur tebal tersebut. Ia menyelimuti tubuhnya hingga sekepalanya, " Ma.. Pa! "
***
" Papa! " Seorang anak kecil berlari, ke arah Areksa ia membuka tangannya bagaikan Sayap Kaki kecil nya berlari dengan gemas Mendekati lelaki tersebut. Areksa langsung Mengangkat Resa, Tangan kecil tersebut melingkar di Leher Areksa " Halo, jagoannya papa kok belum bobo? " Tanya Areksa menatap manik sang Anak kecil tersebut.
" Resa, ngga mau bobo nunggu kamu katanya!. " Cakap Bu Veni Areksa segera menyalami tangan sang mama. " Kok, gitu sih"
" Pa.. Mau. Mama! " Pinta Resa yang sudah entah keberapa kalinya " Tuh, anak kamu Minta mama!. Harusnya kamu nikah lagi Reksa kasihan Resa! " Cibir sang Mama
" Ma, " Suara Reksa Terayun berat ia menggeleng kan kepalanya. Ia mengusap pelan rambut anak lelaki tersebut " Resa, dengar papa ya.. " Reksa mengangkat. Resa Hingga keduanya saling bersitatap " Papa, akan selalu ada untuk Resa dan omah pun begitu jadi Resa ngga perlu mama!.. Karena apapun yang Resa butuhkan Dan inginkan papa ada! " Lanjut Reksa
Plak!
" Mama! " Mata Reksa memicing ke arah Bu Veni yang memberikannya, Pukulan di kepala
" Kamu itu sok tahu banget!, anak kamu ngga butuh banyak-banyak mainan ngga butuh apapun dia rindu kasih sayang seorang IBU! "
" Kan ada mama! " Reksa menyengir kuda
" Tau ah dasar duda ngga laku! " Cebik Veni
" Mama juga sama! "
" Enak aja, mama sifatnya setia sama. Daddy kamu ya! " Tegas Veni tidak Terima membuat Reksa tergelak " Ya, ya janda hot! "