NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Cahaya matahari pagi menyusup dari balik celah tirai, menimpa wajah Anya yang masih terlelap nyaman di dalam dekapan Kaelan. Semalam adalah tidur paling nyenyak yang pernah dirasakan gadis tomboy itu sejak ia datang ke pulau ini. Aroma maskulin dan pelukan posesif sang mafia ternyata jauh lebih ampuh dari obat tidur mana pun.

Namun, kedamaian itu pecah oleh suara ketukan tergesa-gesa di pintu kamar.

Tok! Tok! Tok!

"Tuan Kaelan! Nyonya Anya! Maaf mengganggu, tapi ada tamu yang baru saja merapat di dermaga!" Suara Ragas terdengar sedikit panik dari balik pintu.

Kaelan mengerang pelan, kelopak matanya terbuka lambat. Ia masih memeluk pinggang Anya erat-erat. "Tamu? Rico dan Lucia sudah ada di sini. Siapa lagi yang berani menginjakkan kaki di pulauku tanpa izin?" gerutu Kaelan dengan suara parau khas bangun tidur.

Anya ikut terbangun, mengucek matanya sambil menguap lebar. "Paman Arthur bangkit dari kubur?"

"Tidak mungkin. Lututnya sudah kuhancurkan," jawab Kaelan datar, perlahan melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan nyawa. "Ragas! Siapa tamunya?!" seru Kaelan.

"I-itu... putri saya, Tuan. Keira," jawab Ragas dengan nada bersalah.

Gerakan Kaelan yang sedang memakai kaus hitamnya mendadak terhenti di udara. Matanya membulat sempurna untuk sekian detik, sebelum raut wajahnya kembali tertutup topeng es andalannya. Namun, perubahan sepersekian detik itu tidak luput dari pandangan tajam Anya.

"Keira?" ulang Anya, menyipitkan mata. "Anak Ragas? Bukankah Ragas tinggal sendirian di pulau ini?"

Kaelan berdeham pelan, membuang muka saat memakai kausnya dengan tergesa-gesa. "Keira dulu tinggal di sini bersama Ragas saat dia masih kecil. Dia pindah ke Paris untuk sekolah fashion beberapa tahun lalu." Kaelan berdiri, merapikan rambutnya dengan jari. "Aku... aku akan menemuinya di bawah. Kau mandilah dulu."

Anya menatap punggung tegap suaminya yang menghilang di balik pintu dengan tergesa-gesa. Preman pasar itu mencium bau-bau mencurigakan. Kaelan tidak pernah terlihat sebingung itu saat mendengar nama seseorang, bahkan saat nama Paman Arthur disebut sekalipun.

Tanpa membuang waktu, Anya melompat dari ranjang, menyambar kaus oblong dan celana pendeknya, mencuci muka secepat kilat, lalu berlari mengendap-endap menuruni tangga. Jiwa keponya meronta-ronta.

Dari balik tembok ruang tengah, Anya mengintip ke arah pintu masuk vila.

Di sana, berdiri seorang wanita muda yang cantiknya tidak masuk akal. Rambut panjangnya bergelombang sempurna berwarna kecokelatan, tergerai indah membingkai wajah ovalnya yang mulus tanpa celah. Ia mengenakan maxi dress musim panas berbahan chiffon putih yang melambai anggun ditiup angin laut, lengkap dengan topi pantai lebar dan kacamata hitam desainer. Ia terlihat seperti model majalah Vogue yang sedang photoshoot di pulau pribadi.

Sangat anggun. Sangat menawan. Sangat feminin. Berbanding terbalik 180 derajat dengan gaya Anya yang urakan.

Di hadapan wanita itu, berdirilah Kaelan. Sang bos mafia terlihat sedikit kaku, memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

"Keira. Kenapa kau kembali tanpa memberitahuku?" tanya Kaelan, suaranya berusaha terdengar datar, namun Anya bisa menangkap nada kelembutan yang jarang pria itu tunjukkan pada orang lain.

Wanita cantik itu—Keira—tersenyum manis hingga matanya menyipit. Ia melangkah maju, lalu tanpa ragu sedikit pun, mengalungkan kedua lengannya di leher Kaelan dan memeluk dada bidang pria itu.

"Kaelan! Aku sangat merindukanmu!" seru Keira dengan suara lembut yang sangat merdu. "Aku dengar dari ayah tentang perang dengan Paman Arthur. Aku sangat khawatir padamu, jadi aku memutuskan libur dari pekerjaanku di Paris dan langsung terbang ke sini!"

Anya yang bersembunyi di balik tembok mendadak merasakan hawa panas menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubunnya. Tangannya refleks mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Berani-beraninya dia memeluk kulkas dua pintu sialan itu di depanku?! batin Anya menggelegak.

Namun, yang membuat dada Anya terasa seperti ditusuk jarum bukanlah pelukan itu, melainkan respons Kaelan. Pria yang biasanya langsung membanting siapa pun yang berani menyentuhnya tanpa izin itu... tidak menepis Keira. Kaelan memang tidak membalas pelukan itu, tubuhnya kaku, tapi ia membiarkan wanita itu menempel padanya selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah mundur dengan canggung.

"Aku baik-baik saja, Keira. Perangnya sudah selesai," ucap Kaelan pelan, mengalihkan pandangannya dari tatapan memuja wanita itu.

Ragas, yang berdiri tak jauh dari mereka, hanya bisa menunduk dalam-dalam dengan wajah pucat pasi. Ia tahu betul sejarah di antara kedua orang itu.

Sebelum Kaelan dijodohkan dengan Isabella, dan jauh sebelum Anya datang mengacaukan hidup sang mafia, Keira adalah cinta pertama Kaelan saat remaja. Wanita anggun itulah yang selalu merawat Kaelan saat pria itu terluka sehabis berlatih, dan Keira jugalah yang diam-diam disukai oleh Milo. Namun, karena perbedaan status antara Ketua Klan dan putri seorang pelayan, Kaelan memilih untuk mengirim Keira jauh ke Paris demi melindungi wanita itu dari kekejaman dewan mafia.

"Ayah memberitahuku kalau kau membawa seorang wanita ke sini," ucap Keira, nada suaranya sedikit menurun, matanya menyapu sekeliling vila mencari-cari. "Wanita yang... kau nikahi karena kontrak itu, kan? Siapa namanya? Anya?"

Anya menggigit bibir bawahnya. Kata 'kontrak' meluncur begitu mudah dari bibir wanita anggun itu, seolah menegaskan bahwa posisi Anya di mata dunia luar hanyalah sebuah transaksi bisnis sementara.

Kaelan menegang. Rahangnya mengeras. Ia baru saja akan membuka mulut untuk membantah, namun suara ketukan langkah kaki yang berat dari atas tangga mendahuluinya.

Anya keluar dari persembunyiannya. Gadis tomboy itu melangkah tegap menuruni sisa anak tangga, dagunya terangkat tinggi. Ia mengenakan kaus oblong kebesaran yang lengannya ia gulung hingga bahu, celana pendek jeans yang pinggirannya sudah berserabut, dan sandal jepit karet warna hijaunya yang legendaris. Rambut wolf-cut-nya dibiarkan berantakan natural.

Satu hal yang tidak pernah Anya miliki adalah keanggunan. Namun, satu hal yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi adalah keberanian preman pasarnya.

Anya berjalan lurus menuju Kaelan dan Keira. Mata tajamnya menatap langsung ke arah wanita cantik itu tanpa berkedip sedikit pun.

"Kau mencariku, Nona Paris?" sapa Anya dengan suara lantang dan tengil. Ia berhenti tepat di sebelah Kaelan, lalu dengan gerakan posesif yang sangat kentara, Anya melingkarkan lengannya di pinggang sang bos mafia, menyandarkan tubuhnya ke lengan Kaelan.

Kaelan tersentak kaget. Tubuhnya sedikit terhuyung, namun ia tidak menolak sentuhan itu. Pria itu justru menatap Anya dari sudut matanya dengan raut wajah campur aduk antara panik, terkejut, dan... rasa lega yang aneh.

Keira membelalakkan matanya. Ia menatap Anya dari ujung rambut berantakannya hingga ke sandal jepit hijaunya dengan tatapan tak percaya. Ini Nyonya Obsidian? Wanita yang membuat Kaelan, cinta pertamanya yang sempurna, rela melawan seluruh dewan Tetua?

"A-Anya?" gumam Keira, senyum anggunnya sedikit memudar. Ia mencoba mempertahankan ketenangannya. "Hai. Aku Keira. Aku dan Kaelan... kami adalah teman masa kecil yang sangat dekat. Aku ikut senang akhirnya Kaelan menemukan seseorang untuk membantunya menyelesaikan masalah perjodohan itu."

Anya menyeringai miring. Ia tahu persis apa arti senyum palsu dan penekanan pada kata 'membantu' itu. Keira menganggapnya tak lebih dari sekadar alat.

"Terima kasih, Keira," balas Anya tak kalah manis, namun matanya berkilat menantang. "Tapi aku bukan sekadar 'membantunya'. Kaelan ini terlalu bodoh dan kaku kalau tidak diurus. Lagipula..."

Anya menoleh ke arah Kaelan, berjinjit sedikit, lalu mengecup rahang pria itu—tepat di tempat ia menciumnya di atas tebing kemarin.

Wajah Kaelan seketika berubah merah padam hingga ke telinga. Jantung mafia es itu berdegup liar layaknya remaja puber.

"...lagipula, pria ini sangat suka menindih pahaku sampai kesemutan semalaman suntuk. Jadi, ya, aku harus memastikan dia tidak kelayapan mencari bantal daging lain," lanjut Anya dengan nada datar tanpa dosa, mengedipkan sebelah matanya pada Keira.

Mendengar kalimat ambigu itu, Keira tersentak mundur seolah baru saja ditampar. Wajah cantiknya memucat. Ragas yang berdiri di belakang nyaris tersedak ludahnya sendiri, pura-pura sibuk mengelap guci antik yang sudah bersih.

Kaelan memejamkan mata dan mengusap wajahnya kasar, mati-matian menahan senyum lebar yang nyaris merekah di bibirnya. Sialan. Preman pasar ini benar-benar tidak punya urat malu saat sedang cemburu. Dan bagian terburuknya? Kaelan sangat, sangat menyukai sisi protektif Anya ini.

"Selamat datang di pulau, Keira," ucap Kaelan akhirnya, suaranya kembali berat dan berwibawa. Ia meletakkan tangan besarnya di atas tangan Anya yang melingkar di pinggangnya, mengenggamnya erat di depan mata Keira. "Tapi tolong perhatikan ucapanmu. Anya bukan sekadar istri kontrak. Dia adalah istriku yang sah. Dan Nyonya Obsidian yang sebenarnya."

Keira terdiam membeku. Kata-kata Kaelan yang dingin dan tegas itu, ditambah genggaman tangannya yang erat pada Anya, menghancurkan semua harapan masa lalu wanita itu dalam hitungan detik.

Di saat yang sama, dada Anya bergemuruh bahagia. Ketakutannya akan bayangan cinta pertama Kaelan menguap seketika. Bos mafia itu telah memilih. Dan sang kulkas dua pintu itu memilih si tomboy bersandal jepit hijau daripada model sampul majalah.

"Nah," Anya tersenyum puas, melepaskan pelukannya dan menepuk perut Kaelan dengan gemas. "Karena urusan nostalgia sudah selesai, kau harus membuatkan sarapan sekarang, Bos Es. Aku mau pancake dengan sirup maple yang banyak. Dan kau, Keira, kau mau makan juga? Kami punya banyak sisa gurita dari semalam!"

Anya berbalik dan berjalan santai menuju ruang makan luar ruangan, meninggalkan Keira yang masih shock berat dan Kaelan yang kini menatap punggung gadis tomboy itu dengan tatapan memuja yang tak lagi bisa ia sembunyikan dari siapa pun.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!