Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Batu Bintang & Resonansi Dua Jiwa
Lokasi: Enclosure D, Göbekli Tepe, Turki.
Waktu: 02.25 Waktu Setempat.
Tanah Anatolia terbelah dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Jurang sedalam puluhan meter mengangga tepat di bawah altar batu, menelan sisa-sisa tenda komando Vanguard dan mayat-mayat tentara bayaran yang bergelimpangan.
Dimas melompat mundur, menghindari tepian jurang yang runtuh. Debu kapur setebal kabut menutupi pandangannya.
Dari dalam kegelapan jurang, dua capit raksasa yang terbuat dari susunan batu kapur dan logam emas-perak mencengkeram tepi tebing.
Makhluk itu merangkak naik. Ukurannya sebesar truk tronton. Bentuknya adalah manifestasi mimpi buruk dari ukiran-ukiran pilar Göbekli Tepe: Seekor Khimera raksasa dengan tubuh bagian bawah menyerupai kalajengking batu, namun memiliki kepala dan sayap kerangka seekor burung nasar. Di rongga matanya, menyala api biru kosmik yang dingin dan tanpa ampun.
Ini bukan monster biologis. Ini adalah Golem Konstelasi, mesin penjaga kuno yang ditenagai oleh energi bintang.
Sang Penjaga menjejakkan enam kaki batunya ke tanah, membuat seluruh area ekskavasi bergetar. Ekor kalajengkingnya yang ujungnya berupa kristal setajam tombak melengkung ke atas, siap menghabisi penyusup yang tersisa.
Kunci Konstelasi Pertama yang bercahaya biru masih melayang statis di udara, tepat di atas punggung monster tersebut.
“Dim! Mundur dari sana!” Suara Sarah menjerit panik di telinga Dimas melalui earpiece.
“Nggak bisa, Sar! Kalau aku mundur, Golem ini bakal nyembunyiin kuncinya lagi ke dalam bumi!” Dimas memasang kuda-kuda, menyilangkan Keris Patrem di depan dada sementara gauntlet berinti Giok di tangan kanannya menyala terang.
Golem itu menoleh ke arah Dimas. Sayap kerangka burung nasarnya membentang, menciptakan badai debu lokal. Ekor kristalnya melesat dengan kecepatan kilat menembus udara, mengarah tepat ke dada Dimas.
Dimas membuang tubuhnya ke samping, melakukan putaran Pencak Silat yang lincah. BAM! Ujung ekor kristal itu menghantam pilar batu di belakang Dimas hingga hancur berkeping-keping.
“Hiat!” Dimas memanfaatkan momentum itu, melompat ke atas capit kiri sang Golem. Ia meninju sendi batu monster itu dengan Pressure-Resisstant Gauntlet-nya.
BOOM! Gelombang energi Chi hijau meledak, meretakkan lapisan batu di capit tersebut. Namun, dari balik celah batu yang retak, terlihat anyaman logam emas-perak kosmik yang sama sekali tidak tergores. Golem itu mengebaskan capitnya, melempar Dimas ke udara bagaikan boneka kain.
Dimas terbanting keras ke tanah berpasir, berguling beberapa kali sebelum berhenti. Ia memuntahkan darah, rusuknya terasa mau patah.
Sang Golem mengangkat capit kanannya, bersiap meremukkan tubuh Dimas yang sedang tergeletak.
Tiba-tiba, suara deru mesin putaran tinggi membelah malam.
Dari arah bukit, sebuah motor dirtbike militer melayang di udara, melompati kawat berduri perimeter.
Sarah berada di atas motor itu. Kacamata taktisnya memantulkan cahaya biru dari mata sang Golem. Ia tidak lagi berada di posisi aman sebagai penembak runduk. Melihat suaminya terdesak, rasionalitas ilmuwannya kalah telak oleh insting seorang istri yang menolak kehilangan separuh jiwanya.
“JAUHIN SUAMIKU, KEPITING BATU SIALAN!” Raung Sarah.
Di saat motor itu masih melayang di udara menuju Golem, Sarah melepaskan stang kemudi. Ia mencabut senapan serbu HK416 milik Vanguard yang ia rampas, yang laras bawahnya sudah ia pasangi pelontar granat kaliber 40mm.
Sarah menembakkan granat tersebut tepat ke arah rongga mata biru sang Golem.
DUAARR!!
Ledakan fosfor putih membutakan sensor optik monster itu. Golem tersebut meraung dengan suara gesekan logam yang memekakkan telinga, capitnya meleset dari tubuh Dimas dan menghantam tanah kosong.
Sarah melompat turun dari motor sesaat sebelum kendaraan roda dua itu menabrak tubuh batu sang Golem dan meledak menjadi bola api. Ia berguling di atas pasir dengan sangat terlatih, lalu segera berlari menghampiri Dimas.
“Kamu ngapain turun ke sini, Astaga!” Dimas terbatuk, meraih uluran tangan Sarah untuk bangkit berdiri.
“Pilihan pertamaku adalah nembak monster itu dari atas bukit. Tapi peluruku nggak akan nembus logam alien,” Sarah memeluk lengan Dimas protektif, napasnya memburu tapi matanya menyala berani. “Pilihan keduaku adalah turun ke sini dan mati bareng kamu. Atau, hidup bareng kamu. Nggak ada opsi kamu berjuang sendirian.”
Dimas menatap mata istrinya. Di tengah hujan debu, kobaran api, dan raungan monster kuno, waktu seolah berhenti sesaat bagi mereka berdua. Tidak ada ketakutan di mata Sarah, hanya cinta yang begitu besar hingga meniadakan logika.
Dimas tersenyum tipis, mengusap debu dari pipi Sarah dengan Ibu jarinya yang terbalut sarung tangan taktis. “Opsi ketiga. Kita ambil kuncinya, lalu kita pulang ke Depok dan pesen martabak manis.”
Sang Golem telah pulih dari kebutaan sementaranya. Ia menepis bangkai motor yang terbakar dan menoleh murka pada dua manusia di depannya.
“Kuncinya melayang di atas punggung monster itu, Sar,” Dimas menganalisis situasi itu dengan cepat. “Aku butuh kamu alihkan perhatiannya. Tembak sendi-sendi batunya, paksa dia merunduk. Aku bakal naik ke punggungnya.”
“Dan berubah jadi debu kayak Komandan Vanguard tadi?” Sarah menelan ludah, melihat kengerian entropi relik tersebut.
“Komandan itu mau menguasai kuncinya karena keserakahan,” kata Dimas, matanya menatap tajam ke arah Kunci Konstelasi yang bercahaya biru terang. “Makhluk bertopeng di Papua bilang kita diundang. Relik ini merespons niat. Aku bakal kosongkan pikiranku.”
“Nggak,” Sarah meraih kerah jaket Dimas, menarik wajah suaminya mendekat hingga dahi mereka bersentuhan. Napas mereka berbaur di udara malam yang dingin. “Jangan kosongkan pikiranmu, Dim. Kosong berarti ngga ada jangkar. Makhluk Papua bilang otak manusia hancur karena ilusi kebahagiaan palsu. Kamu harus mikirin sesuatu yang nyata.”
Sarah menatap lurus ke dalam mata batin suaminya.
“Waktu kamu sentuh kunci itu, pikirkan aku,” bisik Sarah tegas, suaranya sedikit bergetar oleh emosi murni. “Pikirkan kasur kita yang berantakan. Pikirkan argumen bodoh kita soal siapa yang harus nyuci piring. Pikirkan bahwa kamu harus hidup buat melindungiku. Pakai itu sebagai perisaimu.”
Dimas merasakan kehangatan menjalar dari dahi Sarah ke seluruh tubuhnya, merasakan rasa sakit di tulang rusuknya. Ia mengangguk pelan. “Aku janji, Sayang.”
Dimas melepaskan diri dan langsung melesat lari ke samping.
“Hei, Burung Jelek!” Sarah berteriak, mengokang senapan serbunya dan menembakkan rentetan peluru tajam ke arah sayap kerangka sang Golem, menarik perhatian monster itu sepenuhnya.
Sang Golem merespons dengan mengayunkan ekor kristalnya ke arah Sarah.
Sarah tidak menghindar. Ia berdiri tegak, membiarkan ekor maut itu mendekat. Tepat di saat ekor itu berjarak dua meter darinya, Sarah melempar sebuah cakram EMP modifikasi tingkat tinggi yang sengaja ia simpan, tepat ke arah sendi ekor tersebut.
BBZZZAAAPPP!!
Cakram itu menempel dan meledakkan gelombang biru. Aliran energi kosmik di ekor monster itu terputus sesaat. Ekor raksasa itu lumpuh dan jatuh menghantam tanah dengan bunyi dentuman keras, nyaris menyapu kaki Sarah.
“Sekarang, Dim!” Jerit Sarah.
Dimas melompat ke atas ekor batu yang lumpuh itu, menggunakannya sebagai pijakan untuk berlari naik ke arah punggung sang Golem. Gerakannya seringan angin, memadukan ilmu meringankan tubuh warisan leluhur dengan perhitungan gaya gravitasi yang akurat.
Dalam tiga lompatan, Dimas tiba di atas punggung sang Golem yang bergetar hebat.
Di depannya, Kunci Konstelasi berbentuk prisma emas-perak itu melayang dengan tenang.
Golem itu menyadari parasit di punggungnya. Ia mencoba meronta, kepalanya yang berbentuk burung nasar melengkung ke belakang, siap mematuk Dimas.
“Waktunya habis,” batin Dimas.
Dimas memejamkan mata. Ia membuang jauh-jauh rasa ingin tahu akademisnya. Ia membuang keinginannya untuk menaklukan misteri Eden. Sesuai instruksi Sarah, Dimas memusatkan seluruh kesadarannya pada satu hal: Sarah. Suara tawanya. Sentuhan tangannya. Dan janjinya untuk membawa wanita itu pulang dengan selamat.
Cinta bukanlah konsep abstrak yang lemah. Di hadapan relik kuno yang memindai jiwa, cinta tanpa syarat adalah frekuensi paling murni yang tidak bisa dikorupsi oleh ilusi surga mana pun.
Dimas mengulurkan tangannya yang telanjang, meraih Kunci Konstelasi itu.
WUUUSSSHHH!!!
Sensasi pertama yang Dimas rasakan saat kulitnya bersentuhan dengan logam alien itu adalah sengatan listrik yang menyusup langsung ke sumsum tulang belakangnya. Pikirannya di bombardir oleh visi kosmik—galaksi yang lahir dan mati, planet-planet yang dirajut dari ketiadaan, dan suara paduan surgawi yang mencoba membius kewarasannya.
Tinggalkan tubuh fanamu. Bersatulah dengan cahaya abadi. Godaan ilusi itu bernyanyi di kepalanya, begitu damai, begitu memabukkan. Kulit tangan Dimas mulai bercahaya keemasan, tanda awal proses entropi menjadi debu.
Tapi kemudian, di tengah badai kosmik di kepalanya, Dimas mendengar suara tembakan senapan Sarah dari bawah sana. Ia mengingat janji yang baru saja ia buat beberapa detik yang lalu.
Aku adalah manusia. Dan aku punya rumah untuk kembali.
Dimas mengertakkan giginya. Ia menolak ekstasi palsu itu dengan kemauan keras seorang pelindung. Aura hijau dari prana spiritualnya meledak dari dalam tubuhnya, berbenturan dengan cahaya emas relik tersebut.
Dimas mencengkeram prima itu kuat-kuat, lalu menariknya secara fisik dari titik suspensinya.
KLIK.
Cahaya emas di kulit Dimas memudar. Visi kosmik di kepalanya lenyap. Prisma asimetris itu kini berada di genggamannya, tidak lagi membakar, melainkan terasa hangat dan berdenyut seperti jantung logam yang hidup.
Kunci itu menerima Dimas sebagai pewaris yang layak. Ujian jiwa telah dilewati.
Tanpa sumber energi utama yang mensuspensinya, Golem Konstelasi itu mendadak kaku. Api biru di rongga matanya padam seketika. Tubuh raksasa batu dan logam itu kehilangan daya magisnya, kembali menjadi benda mati yang patuh pada hukum gravitasi.
Batu-batu penyusun Golem itu mulai rontok dan hancur.
“Dimas! Lompat!” Teriak Sarah dari bawah.
Dimas melompat dari punggung monster yang sedang runtuh itu. Ia jatuh sejauh belasan meter, namun Sarah sudah bersiap. Sarah membuang senapannya dan berlari menyongsong Dimas, menangkap tubuh suaminya dengan kekuatan momentum hingga mereka berdua jatuh bergulingan di atas pasir Anatolia yang dingin.
Mereka terbaring berdampingan, napas mereka terengah-engah menatap langit malam Turki yang dipenuhi bintang. Di belakang mereka, sisa-sisa Golem raksasa itu runtuh sepenuhnya ke dalam jurang dengan gemuruh panjang, mengubur rahasianya kembali ke dalam bumi.
Hening kembali menguasai situs Göbekli Tepe, hanya menyisakan suara derik sisa api dari motor yang terbakar.
Sarah menoleh, menatap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca. Tangan kirinya meraba wajah suaminya, memastikan pria itu tidak berubah menjadi debu.
“Kamu masih di sini,” bisik Sarah parau, air matanya akhirnya menetes.
“Berkat kamu,” Dimas memiringkan tubuhnya, meraih pinggang Sarah dan menarik istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat. Dimas membenamkan wajahnya ke ceruk leher Sarah, menghirup aroma debu mesiu dan keringat yang malam ini terasa lebih manis dar parfum mana pun di dunia.
Dimas mengangkat tangan kanannya. Di genggamannya, Kunci Konstelasi Pertama berpendar dengan warna biru langit yang menenangkan.
“Satu kunci diamankan, tujuh lagi tersisa,” gumam Dimas, mencium dahi istrinya dengan penuh kelembutan dan rasa syukur. “Kita berhasil, Partner.”
Sarah membalas pelukan itu, memejamkan mata menikmati detak jantung Dimas yang nyata berdegup di dadanya. Di tengah reruntuhan peradaban tertua di dunia, ikatan mereka terbukti lebih kuat dari relik dewa pencipta sekalipun.