"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Api dan Es
Asap dingin dari sisa ledakan molotov biru merayap melintasi lantai kayu gedung olahraga, menyatu dengan embun yang membeku di permukaan serpihan es pecah yang berserakan di sekelilingnya. Langkah kaki Yuuichi menginjak erat-erat di atas puing-puing itu, setiap kontak memberikan bunyi pelan yang menyentak kedamaian sesudah kekerasan. Di belakangnya, tubuh raksasa yang disebut 'Tank' – yang baru saja ia tumbangkan dengan gerakan mematikan – perlahan-lahan mencair menjadi cairan hitam pekat yang mengeluarkan bau busuk seperti lumpur rawa yang terpendam berabad-abad.
Posturnya tetap tegak, punggung lurus tanpa sedikit pun tanda-tanda lelah. Uap putih keluar menyembur dari sela-sela bibirnya, mengingatkan pada asap dari cerobong pabrik yang bekerja tanpa henti – hasil dari teknik pernapasan yang ia gunakan untuk mengendalikan kekuatan yang mengalir di dalam dirinya.
"Turunlah," suaranya menggelegar di ruangan yang luas, memantul dari dinding dan langit-langit hingga terdengar seperti seruan dari dalam lembah. "Area ini sudah bersih untuk sementara."
Dari balkon yang menjulang di sudut ruangan, tiga sosok bergerak dengan hati-hati menuruni tangga besi yang berkarat. Sakura adalah yang paling cepat sampai di sisi Yuuichi, matanya melebar saat melihat potongan kepala monster yang sudah hancur berkeping-keping di lantai, darah hitamnya bercampur dengan es yang mencair.
"Yuuichi-kun... kau benar-benar melakukan itu," bisiknya, napasnya terengah-engah akibat ketakutan dan kagum yang bercampur. Jari jemari tangannya meraba perlahan lengan Yuuichi, menyentuh kain jaket yang masih dingin karena efek kemampuannya – seolah dengan menyentuhnya, ia bisa membuktikan bahwa sosok di depannya bukanlah khayalan atau makhluk buas yang sama dengan monster yang baru saja mereka lawan.
"Ini baru permulaan, Sakura." Suaranya menjadi lebih lembut saat berbicara padanya, sedikit menyentuh ujung jari yang masih berada di lengannya sebelum menjauh. "Simpan tenagamu – jalan kita masih panjang."
Ia menoleh ke arah dua orang wanita lainnya. Chika berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya pucat dan tubuhnya sedikit menggigil meskipun sudah berusaha menyembunyikannya. Di sebelahnya, Rina membungkuk sedikit sambil mencatat sesuatu dengan cepat di buku kecil yang selalu ada di saku jasnya, mata tajamnya terus melirik ke sana-sini mengamati sisa-sisa es magis yang menyebar di lantai.
"Peringatan: Deteksi kehidupan manusia dalam jumlah banyak di balik pintu keluar darurat. Suasana hati mereka cenderung agresif dan cemas. Sepertinya kita punya penonton yang tidak diundang, Kakak."
Suara Miu di benaknya membuat Yuuichi menyipitkan mata. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Gedung olahraga adalah struktur terbesar dan paling kokoh di area lapangan sekolah – tempat yang paling logis bagi mereka yang terjebak untuk berlindung. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat tangan sedikit ke samping, memberi isyarat bagi para gadis untuk tetap berada di belakangnya.
Braaakk!
Pintu ganda sisi utara gedung terbuka dengan kebrutalan, membuat suara dentuman yang mengguncang seluruh ruangan. Sekelompok orang keluar dengan langkah tergesa-gesa, sebagian dari mereka menoleh ke arah mayat monster dengan wajah penuh takjub dan ketakutan. Di garis depan berdiri seorang pria berusia awal 40-an dengan kemeja katun yang dulunya rapi, kini sudah kusut dan bertumpuk noda darah kering yang warnanya sudah menguning.
Shido-sensei – guru sosiologi yang dikenal di sekolah karena kemampuannya membujuk orang dengan kata-kata, namun juga dipercaya banyak orang memiliki nafsu yang tak terpuaskan akan kekuasaan dan pengakuan. Di belakangnya, sekitar lima belas siswa dari klub rugby berdiri berjajar rapat, tangan mereka erat menggenggam tongkat pemukul kayu dan pipa besi yang tampak sudah digunakan untuk memukul sesuatu.
"Luar biasa... sungguh luar biasa pemandangan yang aku lihat!" Shido mulai bertepuk tangan pelan, setiap ketukan telapak tangannya terdengar jelas dan angkuh di atas lantai kayu yang kosong. "Shiro-kun, bukan? Aku selalu tahu ada sesuatu yang berbeda dari dirimu – tapi tidak menyangka siswa yang selalu dianggap bermasalah seperti kamu punya bakat untuk menghancurkan makhluk mengerikan itu."
Yuuichi tidak mengangguk atau memberikan respon apapun terhadap pujian yang terdengar tidak tulus itu. Ia tetap berdiri diam, tangan kanannya bersandar pada gagang katananya yang tergantung di pinggang, jari jemari mengelilingi kayu gagangnya dengan erat.
"Shido-sensei. Aku tidak punya waktu untuk berbincang tidak penting."
Shido berhenti beberapa langkah di depannya, jarak sekitar lima meter memisahkan mereka berdua. Matanya yang licik berkeliling, melirik Chika Kudou dengan tatapan yang membuatnya merasa tidak nyaman, lalu beralih ke Sakura dan Rina. Sebuah senyum melintas di wajahnya – senyum yang terlihat memuakkan karena tidak ada kehangatan di dalamnya.
"Ah, ternyata kau membawa bunga-bunga tercantik sekolah ini bersamamu." Suaranya naik sedikit, seolah ingin semua orang mendengarnya. "Chika-sensei, kau tampak sangat takut. Ayo, datanglah ke sisi kami. Kami sudah membentuk organisasi yang teratur – dengan struktur yang jelas dan aturan yang tegas. Keamanan adalah prioritas utama kami di bawah kepemimpinan yang kamu tahu bisa dipercaya."
Chika secara naluriah mundur satu langkah, tubuhnya secara otomatis mencari perlindungan di balik bahu Yuuichi. "Aku... aku akan tetap bersama Shiro-kun."
Wajah Shido sedikit memerah sejenak, otot rahangnya mengeras sebelum ia berhasil menyembunyikannya dengan topeng keramahan yang biasa ia pakai. "Shiro-kun, kau harus memahami keadaan sekarang. Di dunia yang sudah hancur seperti ini, kekuatan seorang diri tidak akan membawa kamu kemana-mana. Kita butuh struktur. Kita butuh pemimpin yang bisa diandalkan dan dihormati. Kau punya kekuatan yang luar biasa, tapi kau tidak punya rencana atau visi untuk masa depan. Serahkan gadis-gadis ini dan sumber daya medis yang dibawa Chika-sensei kepada kami – maka aku akan mempertimbangkan untuk menjadikanmu pengawal garis depan kelompok kami."
"Analisis selesai: Individu Shido menunjukkan ciri-ciri narsisme tingkat tinggi. Orang lain dilihatnya sebagai objek yang bisa digunakan sesuai kebutuhan dan dibuang jika sudah tidak berguna. Apakah perlu aku membocorkan informasi tentang insiden tak terduga di ruang guru tahun lalu yang mungkin tidak disengaja olehnya, Kakak?"
Tidak perlu, Miu. Aroma kepura-puraannya sudah tercium jelas dari jauh, pikir Yuuichi sambil menatap mata Shido dengan tatapan yang tajam.
Ia melangkah maju satu langkah saja, namun gerakan itu cukup membuat para siswa klub rugby di belakang Shido terkejut. Mereka secara serempak mengangkat senjata yang mereka pegang, mata penuh waspada dan sedikit takut. Udara di dalam gedung menjadi sangat tegang, seolah bisa dipotong dengan pisau.
"Visi?" Yuuichi mengeluarkan tawa pendek – tawa yang terdengar dingin seperti angin musim dingin dan menusuk seperti jarum. "Visimu hanyalah menjadikan mereka sebagai perisai hidup sementara kau menikmati keamanan di belakang barisan mereka? Aku mengenal tipe orang seperti kamu, Shido. Kau bukan pemimpin yang menjaga domba – kau hanya seorang yang mengumpulkan tumbal untuk diri sendiri."
"Jaga lidahmu, Shiro!" seorang siswa rugby bertubuh besar meneriakkan dengan wajah memerah karena marah. "Shido-sensei yang menyelamatkan kita dari monster-monster itu! Kau cuma orang asing yang kebetulan punya pedang aneh belaka!"
Yuuichi mengalihkan pandangannya ke siswa itu. Mata merahnya yang biasanya tenang kini berkilat dengan kilatan samar, dan tekanan yang tak kasat mata menyebar dari tubuhnya – hasil dari kemampuan Intuisi Pertempuran yang ia kuasai. Siswa itu mendadak gemetar kedinginan, tangan yang menggenggam pipa besi mulai goyah, hingga akhirnya benda besi itu terjatuh ke lantai dengan suara dentuman yang keras.
"Dengarkan baik-baik," kata Yuuichi dengan suara rendah namun jelas, setiap kata merayap ke setiap sudut ruangan dan masuk ke telinga semua orang yang ada di sana. "Aku akan menuju bus sekolah di area parkir belakang. Siapa pun yang berani menghalangi jalan kami – akan aku perlakukan sama seperti makhluk yang kepalanya baru saja aku tebas. Tidak ada kesempatan kedua."
Rina Suzuki melangkah ke sisi Yuuichi, tangannya sudah menggenggam satu botol molotov biru yang tersisa dari serangan sebelumnya. Korek api kecil sudah menyala di ujung jempol dan telunjuknya, nyala api berkedip-kedip seolah siap menghidupkan ledakan kapan saja.
"Berikut hasil perhitungan saya, Shido-sensei," ucapnya dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan. "Jika kau memerintahkan anak-anak ini untuk menyerang, probabilitas kematian mereka adalah 80% dalam lima detik pertama benturan. Sisanya 20% kemungkinan besar akan mati karena efek pembekuan dari serangan Yuuichi dalam waktu sepuluh detik berikutnya. Apakah kau masih ingin menguji angka-angka itu bersama saya?"
Shido menatap botol berisi cairan menyala di tangan Rina, lalu melihat ke arah pedang Yuuichi yang mulai mengeluarkan hawa dingin yang membuat udara di sekitarnya semakin dingin. Ia menyadari bahwa yang dihadapinya bukanlah siswa biasa yang bisa ia manipulasi dengan kata-kata indah atau intimidasi.
"Begitu rupanya... kau memilih jalan egois di tengah kesusahan orang banyak." Suaranya terdengar dramatis dan dipaksakan, seolah ia adalah orang yang paling menderita karena pilihan Yuuichi. "Baiklah. Pergilah jika itu keinginanmu. Tapi ingatlah, Shiro-kun – di dunia yang sudah berubah itu, kau tidak akan bisa bertahan lama tanpa orang lain yang setia padamu."
"Aku tidak membutuhkan pengikut." Yuuichi mulai berjalan perlahan melewati kelompok Shido, arahnya menuju pintu keluar belakang gedung. "Aku hanya membutuhkan mereka yang layak untuk aku lindungi."
Saat mereka melewati kelompok itu, Yuuichi bisa merasakan tatapan penuh kemarahan dan dendam dari Shido menyusul punggungnya. Namun ia tidak peduli – manusia seperti itu hanyalah batu kecil di jalan yang ia tempuh, jauh berbeda dengan bahaya besar yang sudah ia rasakan akan datang di luar gerbang sekolah.
Tepat saat mereka mencapai engsel pintu keluar, Yuuichi berhenti sejenak dan menoleh perlahan ke arah Sakura.
"Sakura," katanya dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya. "Pastikan tidak ada yang mengikuti kita dari belakang. Jika mereka berani menyelinap dan mencoba melakukan sesuatu... kau tahu apa yang harus dilakukan."
Sakura mengangguk dengan tegas, ekspresi wajahnya yang biasanya lembut kini berubah menjadi sangat tajam – seperti seorang prajurit yang sudah siap menghadapi musuh kapan saja. Kelompok kecil itu kemudian melangkah keluar ke luar, menyambut udara terbuka yang dingin dan menusuk. Di kejauhan, bus sekolah yang menjadi tujuan mereka sudah terlihat, dikelilingi oleh kabut tipis yang semakin pekat – dan di balik kabut itu, terdengar suara erangan yang semakin jelas dan mendekat.