NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Membebankan

Malam di kediaman Ramiro merayap perlahan, membawa serta kelembapan udara yang menyesakkan paru-paru. Di paviliun samping, Denzel Shaquille duduk di tepi tempat tidurnya yang kaku. Kamar itu rapi—terlalu rapi—mencerminkan disiplin pemiliknya yang hampir tidak manusiawi. Tidak ada dekorasi, tidak ada barang pribadi yang mencolok, hanya tumpukan laporan keuangan perusahaan Zefan yang ia bantu tinjau ulang dan sebuah jam weker yang berdetak dengan ritme yang monoton.

Denzel menatap telapak tangannya. Sore tadi, saat ia membantu Leah keluar dari mobil setelah seharian penuh tekanan di kampus, jari-jarinya sempat bersentuhan dengan kulit pergelangan tangan Leah. Hanya satu detik. Namun, sengatan listrik dari kontak singkat itu masih terasa membekas, menghangatkan sarafnya sekaligus membakar nuraninya.

Bagi pria lain, itu mungkin hal sepele. Namun bagi Denzel, setiap sentuhan, setiap tatapan yang tertahan, dan setiap helai rambut Leah yang terbang terkena angin adalah rahasia yang ia simpan di dalam peti besi terkunci di lubuk hatinya. Sebuah rahasia yang kini beratnya melampaui beban utang perusahaan Zefan.

Ia tahu posisinya. Ia adalah asisten. Ia adalah "tangan" bagi Zefan dan "perisai" bagi Leah. Namun, ia tidak pernah diizinkan menjadi "hati".

Ponsel di atas nakas bergetar. Sebuah pesan dari Zefan masuk: “Denzel, Jeff meminta Leah menemaninya ke acara amal besok malam. Pastikan Leah memakai gaun yang pantas dan kau harus mengawal mereka sampai pintu aula. Jangan biarkan Leah membuat alasan untuk membatalkannya.”

Denzel memejamkan mata, membuang napas panjang yang sarat akan kepahitan. Instruksi itu jelas. Ia bukan hanya penjaga; ia adalah kurir yang mengantarkan barang berharga ke tangan pria lain. Jeff Chevalier—pria yang memandang Leah sebagai trofi dan memandang Denzel sebagai kotoran di bawah sepatunya.

Denzel bangkit, berjalan menuju jendela yang menghadap langsung ke arah balkon kamar Leah di gedung utama. Cahaya lampu di kamar gadis itu masih menyala. Ia membayangkan Leah sedang duduk di meja belajarnya, mungkin sedang menangis atau merutuki nasibnya yang semakin terkekang. Denzel ingin sekali melangkah ke sana, mengetuk pintunya, dan mengatakan: “Leah, aku tidak akan membiarkanmu pergi jika kau tidak mau.”

Tapi ia tidak bisa. Jika ia melakukan itu, ia akan menghancurkan Zefan. Ia akan menghancurkan satu-satunya pria yang memberinya martabat saat ia tidak memiliki apa-apa. Pengkhianatan terhadap Zefan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa Denzel maafkan pada dirinya sendiri, bahkan jika itu demi cintanya pada Leah.

Keesokan paginya, suasana di meja sarapan sangat canggung. Leah duduk dengan wajah pucat, mengaduk sereal tanpa nafsu makan. Zefan sudah berangkat lebih awal untuk pertemuan darurat dengan kreditur. Denzel berdiri di dekat pintu ruang makan, menunggu dengan kesabaran seorang prajurit.

"Kau sudah tahu soal acara amal nanti malam?" tanya Leah tanpa menoleh.

"Sudah, Leah," jawab Denzel tenang.

"Dan kau akan membiarkanku pergi bersama pria itu? Bersama Jeff?" Leah berbalik, matanya yang sembab menatap Denzel dengan penuh luka. "Kemarin kau melindungiku darinya di kantin. Kenapa sekarang kau diam saja saat kakak memaksaku pergi berkencan dengannya?"

Denzel mengepalkan tangannya di balik punggung. "Ini bukan kencan, Leah. Ini adalah acara formal bisnis. Kehadiran Anda di sana sangat penting untuk citra keluarga Ramiro di mata investor."

"Bohong!" Leah berdiri, kursi kayu berderit keras di atas lantai marmer. "Kau berbohong padaku, Denzel. Kau hanya ingin menjalankan tugasmu agar posisimu aman. Kau tidak peduli betapa takutnya aku saat Jeff menyentuh bahuku atau bagaimana dia berbisik bahwa aku adalah miliknya."

Denzel melangkah maju satu tindak. "Saya peduli, Leah."

"Kalau kau peduli, kenapa kau tidak menghentikannya?!" suara Leah naik satu oktav, air mata mulai jatuh di pipinya. "Kenapa kau selalu berdiri di sana seperti patung es sementara aku tenggelam?!"

Denzel merasakan dadanya seolah akan meledak. Rahasia yang ia pendam terasa ingin melompat keluar dari tenggorokannya. Ia ingin berteriak bahwa ia menghabiskan setiap malam dengan berdoa agar perusahaan Zefan pulih sehingga ia bisa membawa Leah pergi dari jangkauan Jeff. Ia ingin mengatakan bahwa ia merasa mati rasa setiap kali Jeff mendekati Leah.

Namun, yang keluar dari bibirnya hanyalah kalimat formal yang dingin. "Karena saya tidak punya hak untuk menghentikannya, Leah. Saya adalah asisten kakak Anda. Hidup saya adalah milik keluarga ini, dan saat ini, keluarga ini membutuhkan Anda untuk bersikap kooperatif."

Leah menatap Denzel seolah-olah pria itu adalah orang asing yang paling kejam yang pernah ia temui. "Kau benar-benar tidak punya hati, Denzel. Aku benci fakta bahwa aku pernah merasa aman bersamamu."

Leah berlari keluar dari ruang makan, meninggalkan Denzel dalam keheningan yang menyesakkan. Pria itu tetap berdiri di sana, mematung. Ia tidak mengejar. Ia tidak bisa mengejar.

Beban mental itu semakin menjadi saat siang harinya ia harus menjemput Leah dari kampus. Sepanjang perjalanan, Leah sama sekali tidak bicara. Gadis itu menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Denzel memantau spion tengah, melihat pantulan wajah Leah yang hancur. Ia merasa seperti algojo yang sedang mengantar korbannya ke tempat eksekusi.

Rahasia cintanya menjadi beban yang kian mematikan. Ia harus menjaga Leah dari bahaya fisik—Daniel dan gangguan lainnya—sambil secara aktif membiarkan bahaya emosional—Jeff—masuk ke dalam hidup Leah. Dilema moral ini merobek-robek jiwanya. Ia merasa kotor. Ia merasa seperti kaki tangan dari sebuah kejahatan yang dibungkus dengan nama "loyalitas".

Sesampainya di rumah, Denzel membantu Leah menyiapkan barang-barangnya untuk acara malam itu. Ia mengatur gaun beludru hitam yang telah dipilihkan Zefan di atas tempat tidur Leah. Saat ia hendak keluar dari kamar, ia melihat sebuah foto kecil di meja rias Leah—foto mereka bertiga beberapa tahun lalu saat merayakan ulang tahun Leah. Di sana, Denzel berdiri sedikit di belakang, tersenyum tipis ke arah Leah yang sedang tertawa.

Denzel menyadari satu hal yang pahit: dalam foto itu, maupun dalam kehidupan nyata, ia selalu berada di belakang. Dan ia harus tetap di sana.

Malam itu, saat Jeff Chevalier datang dengan mobil sport-nya yang mentereng dan senyum kemenangannya, Denzel berdiri di depan pintu utama. Ia membukakan pintu mobil untuk Jeff dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kerja bagus, Denzel," Jeff berbisik sambil menepuk bahu Denzel dengan cara yang merendahkan saat Leah sedang berjalan menuruni tangga. "Teruslah menjadi asisten yang patuh. Mungkin setelah ini aku akan memberimu bonus karena telah menyiapkan 'calon istriku' dengan sangat baik."

Denzel tidak membalas. Ia hanya menunduk sedikit. Namun di dalam hatinya, ia sedang merintih. Ia melihat Leah masuk ke mobil Jeff dengan tatapan penuh keputusasaan yang tertuju padanya. Pintu mobil ditutup. Mesin meraung, dan mobil itu melesat pergi meninggalkan gerbang kediaman Ramiro.

Denzel tetap berdiri di sana, di bawah siraman lampu taman yang temaram, bahkan setelah lampu belakang mobil Jeff menghilang di kegelapan. Ia menarik napas dalam, berusaha menahan gemetar di tangannya. Rahasia itu tetap terjaga. Cintanya tetap terkunci. Namun, harga yang harus ia bayar adalah kehilangan sedikit demi sedikit jiwanya setiap kali ia melihat Leah menjauh darinya.

Ia kembali masuk ke dalam rumah yang kini terasa seperti kuburan yang sangat luas. Denzel Shaquille menyadari bahwa rahasia yang paling berat bukanlah mencintai seseorang dalam diam, melainkan harus mendukung orang tersebut jatuh ke tangan orang yang salah demi sebuah janji kesetiaan.

Malam itu, Denzel tidak tidur. Ia duduk di pos penjagaan di depan kamar Leah yang kosong, menunggu kepulangannya. Menunggu untuk kembali menjadi bayangan yang tidak diinginkan, namun tidak pernah benar-benar bisa pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!