"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pesan terkirim. Afisa menyandarkan punggungnya di dinding marmer lobi kantor yang dingin, mencoba mengatur napas yang mendadak sesak. Bayangan tentang makan malam romantis yang direncanakan Bintang hancur seketika, digantikan oleh kenyataan bahwa besok pagi, rel kereta api akan benar-benar membawanya pergi.
Kafe Terang Bulan, Pukul 16.30 WIB.
Bintang sudah duduk di sudut kafe saat Afisa datang. Ia masih mengenakan kaos santai, namun wajahnya yang tadi pagi ceria kini tampak tegang karena pesan "penting" yang dikirim Afisa. Begitu melihat istrinya melangkah masuk dengan raut wajah mendung, Bintang segera berdiri.
"sayang , ada apa? Masalah di kantor?" tanya Bintang cemas, langsung menggenggam tangan Afisa yang sedingin es.
Afisa tidak sanggup menatap mata suaminya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebagai seorang pengacara yang biasa lugas berbicara.
"Mas... rencana kita satu minggu terakhir di Jakarta... harus berubah," bisik Afisa. Suaranya bergetar.
Dahi Bintang berkerut. "Berubah bagaimana? Kamu harus lembur seminggu penuh?"
Afisa menggeleng pelan, lalu perlahan mengangkat kepalanya, menatap mata Bintang yang penuh kekhawatiran. "Pak Baskoro baru saja memanggilku. Kasus besar di Semarang dimajukan sidangnya. Tim di sana butuh aku secepatnya."
Ia menjeda sesaat, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga. "Aku harus berangkat besok pagi, Mas. Kereta jam enam pagi."
Hening. Suara bising mesin kopi di kafe itu seolah menghilang dari pendengaran mereka. Genggaman tangan Bintang mengerat, namun ia tidak melepaskannya. Afisa bisa melihat jakun Bintang bergerak naik turun, mencoba menelan kenyataan pahit yang datang tanpa peringatan ini.
"Besok pagi?" Bintang mengulang kata itu dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan pada diri sendiri. "Kita bahkan belum sempat makan malam di apartemen baru kita, Fis. Aku baru saja merapikan lemari itu buat kamu."
"Aku tahu, Mas. Maaf... maafkan aku," tangis Afisa pecah. Ia merasa seperti pengkhianat, meski ia tahu ini adalah tuntutan profesi. "Aku nggak punya pilihan. Pak Baskoro bilang ini taruhan untuk posisi Senior Associate-ku."
Bintang menarik napas panjang, mencoba menjaga ekuilibrium emosinya yang sedang diguncang hebat. Ia menarik Afisa ke dalam pelukannya, mengabaikan tatapan beberapa pengunjung kafe. Ia membiarkan istrinya menangis di dadanya, membasahi kaos yang tadi pagi ia kenakan dengan penuh semangat untuk menyambut masa depan mereka.
"Hush... jangan minta maaf," bisik Bintang, meski suaranya sendiri terdengar getir. "Ini bukan salahmu. Ini cuma cara semesta menguji seberapa kuat 'jembatan' yang sedang kita bangun."
Bintang melepaskan pelukannya, menghapus air mata di pipi Afisa dengan ibu jarinya. "Kalau begitu, kita nggak punya waktu untuk galau di sini. Kita pulang sekarang. Kita selesaikan packing koper kamu, lalu kita habiskan malam ini di apartemen baru. Hanya kita berdua. Anggap saja itu peresmian 'Safe House' kita, sebelum kamu pergi berperang di Semarang."
Afisa menatap suaminya dengan haru. Di tengah rasa sakit karena perpisahan yang dipercepat, Bintang tetap menjadi tiang penyangga yang paling kokoh.
"Mas nggak marah?"
Bintang tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung luka sekaligus cinta yang sangat besar. "Marah sama takdir nggak akan mengubah jadwal kereta jam enam pagi, Sayang. Yang bisa aku lakukan sekarang cuma satu: memastikan setiap detik sebelum jam enam besok adalah milik kita."
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Di balik kemacetan kota, ada dua hati yang sedang berpacu dengan waktu, mencoba memadatkan rindu satu minggu ke dalam sisa waktu beberapa jam saja.
Apartemen baru mereka, yang seharusnya menjadi saksi bisu hari-hari awal pernikahan yang manis, kini dipenuhi suasana haru. Kardus-kardus yang belum sempat dibongkar menumpuk di sudut ruangan, kontras dengan koper besar Afisa yang kini kembali terbuka di tengah ruang tamu.
Bintang tidak membiarkan Afisa menyentuh satu baju pun. Dengan sisa tenaga pasca tugas medisnya, ia yang justru sibuk melipat blazer dan kemeja kerja istrinya.
"Mas, biar aku saja. Kamu pasti capek banget," bisik Afisa, mencoba mengambil alih.
Bintang menggeleng pelan, tangannya tetap cekatan menata pakaian Afisa ke dalam koper. "Biarkan aku yang menyiapkan 'persenjataan' kamu untuk perang di Semarang besok, Fis. Ini satu-satunya hal yang bisa aku lakukan sekarang."
Setelah koper terkunci, Bintang mengajak Afisa duduk di balkon apartemen. Di depan mereka, kelap-kelip lampu Jakarta seolah sedang mengucapkan salam perpisahan. Bintang mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaketnya—bukan perhiasan, melainkan sebuah jam tangan analog dengan desain klasik yang sangat elegan.
"Ini buat apa, Mas?" tanya Afisa heran.
"Pakai ini," Bintang melingkarkan jam itu di pergelangan tangan kiri Afisa. "Jam ini sudah aku atur. Detiknya akan selalu sama dengan jam tanganku. Jadi, setiap kali kamu merasa lelah di ruang sidang Semarang, lihat jam ini. Ingat kalau di detik yang sama, suamimu di Jakarta sedang mendoakanmu."
Afisa memeluk Bintang erat, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. "Aku takut, Mas. Aku takut kalau nanti aku terbiasa sendiri di sana, aku malah jadi lupa rasanya punya rumah."
Bintang mengusap punggung Afisa, memberikan ketenangan yang menjadi ekuilibrium bagi kegelisahannya. "Kamu nggak akan pernah sendiri. Kamu cuma sedang bertugas di 'pos' yang berbeda. Dan ingat, rumahmu bukan bangunan ini, Fis. Rumahmu ada di sini," Bintang menaruh tangan Afisa tepat di dadanya, di mana jantungnya berdetak stabil.
Malam itu, mereka tidak banyak tidur. Jam di dinding apartemen seolah berputar dua kali lebih cepat. Pukul 04.30 pagi, alarm ponsel berbunyi. Pertanda bahwa waktu "pinjaman" mereka telah habis.
Bintang membantu Afisa membawa koper menuju mobil. Perjalanan menuju Stasiun Gambir terasa sangat singkat. Di depan pintu keberangkatan, suasana stasiun yang masih remang menambah kesan melankolis.
"Sudah semua? Powerbank? Berkas kasus?" tanya Bintang memastikan sekali lagi, suaranya sedikit serak.
"Sudah, Mas." Afisa menatap Bintang lama. Ia mencium punggung tangan suaminya dengan khidmat, lalu Bintang mengecup keningnya lama sekali—sebuah kecupan yang seolah ingin menitipkan seluruh penjagaan Tuhan pada istrinya.
"Jaga diri di Semarang, Nyonya Bintang. Jangan telat makan. Aku akan memburu kereta Jumat malam tercepat untuk menemuimu," janji Bintang.
Afisa mengangguk, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam gerbang keberangkatan. Saat kereta api perlahan mulai bergerak meninggalkan peron, Afisa menempelkan tangannya di kaca jendela, menatap sosok Bintang yang berdiri mematung di kejauhan hingga bayangannya hilang ditelan tikungan rel.
Januari 2022. Di atas gerbong kereta yang melaju menuju Jawa Tengah, Afisa menyadari satu hal: Jarak mungkin telah dimulai, tapi jembatan cinta mereka sudah terbangun terlalu kokoh untuk sekadar dipatahkan oleh kilometer.