"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pertemuan di Balik Bayang-Bayang
[POV: Vaya]
Pagi harinya, jantungku berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dada. Aku sengaja berdandan sesederhana mungkin, mencoba tidak menarik perhatian.
"Bi Inah, tolong jaga Mici ya. Aku... aku ada janji temu dengan klien di butik. Mungkin agak lama," bohongku. Lidahku terasa kelu. Berbohong pada Bi Inah saja sudah membuatku gemetar, apalagi pada Narev.
"Nyonya mau berangkat sekarang?" Bi Inah bertanya sambil menggendong Mici yang sedang asyik memakan biskuitnya.
"Iya, Bi. Mana Narev?" tanyaku, mencoba terdengar santai.
"Tuan sedang ada telepon penting di ruang kerja, Nyonya. Katanya jangan diganggu."
Aku mengembuskan napas lega. Ini kesempatanku. Aku segera menyambar tas dan kunci mobil, namun saat aku membuka pintu utama, sosok tinggi menjulang sudah berdiri di sana dengan tangan bersedekap di dada.
"Mau ke mana buru-buru sekali, Sayang?" suara Narev rendah, matanya menatapku tajam. Dia tidak lagi memegang gelas kopi, melainkan kunci mobilnya sendiri.
Aku tersentak, hampir menjatuhkan ponselku. "Eh, Narev... katanya tadi kamu ada telepon penting?"
"Sudah selesai," ucapnya singkat. Dia melangkah maju, mempersempit jarak hingga aroma parfumnya yang maskulin mengepungku. "Kebetulan arah kantorku searah dengan butikmu. Aku antar, ya?"
"Nggak usah! Aku bisa sendiri, Narev. Kamu kan sibuk," tolakku terlalu cepat.
Narev menyipitkan mata. Dia meraih jemariku, mengelusnya pelan dengan ibu jari, namun cengkeramannya terasa seperti borgol yang kuat. "Kenapa? Kamu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Wajahmu pucat, Vaya."
"Aku cuma kurang tidur, Narev. Benar, aku bisa sendiri," aku memaksakan senyum paling manis yang bisa kubentuk.
Narev diam selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. Akhirnya, dia melepaskan tanganku dan tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Baiklah. Tapi biarkan sopir yang mengantarmu. Aku tidak mau istriku menyetir dalam keadaan kurang fokus. Supir sudah menunggu di bawah."
Aku tidak punya pilihan selain mengangguk.
Di Kafe Biasa
Setelah memastikan sopir menungguku di area parkir butik, aku menyelinap keluar lewat pintu belakang dan memesan taksi online menuju kafe yang dimaksud Rian. Aku merasa seperti mata-mata dalam film action, padahal aku hanya seorang gadis yang mencari kebenaran tentang hidupnya sendiri.
Kafe itu sepi dan bernuansa retro. Di sudut ruangan, seorang pria dengan kemeja biru muda melambaikan tangan padaku. Rian Aditya.
"Vaya, kamu datang," Rian berdiri, menyambutku dengan senyum yang terlihat tulus, namun ada kecemasan di matanya.
"Langsung saja, Rian. Apa dokumen yang kamu maksud?" aku duduk di depannya, tidak ingin membuang waktu. "Apa benar aku mencintaimu? Apa benar Narev memaksaku menikah?"
Rian menghela napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya. Dia menyodorkannya padaku. "Lihatlah sendiri. Ini adalah draf gugatan cerai yang kamu minta sebulan sebelum kamu... tiba-tiba 'berubah' seperti ini."
Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Di sana tertulis namaku: Anvaya Dinakara. Dan di kolom penggugat, ada tanda tanganku yang sangat jelas.
"Kamu meminta bantuan hukum padaku karena Narev membatasi seluruh akses keuanganmu. Kamu merasa terpenjara, Vaya," ucap Rian pelan, mencoba meraih tanganku di atas meja. "Dia menggunakan Mici sebagai alasan untuk mengikatmu. Dia tahu kalau kamu sangat menyayangi Mici, jadi dia membuatmu tidak punya pilihan."
"Tapi... Narev yang kulihat sekarang... dia sangat telaten mengurus Mici," gumamku, pikiranku kacau.
"Itu hanya pencitraan, Vaya! Dia melakukan itu agar kamu merasa bersalah jika meninggalkannya. Dia ingin kamu berpikir bahwa hanya dia yang bisa menjadi ayah yang baik," Rian mendekatkan wajahnya, suaranya berbisik penuh penekanan. "Pulanglah bersamaku sekarang. Aku sudah menyiapkan tempat aman untukmu dan Mici. Kita bisa selesaikan ini di pengadilan."
Aku menatap dokumen itu, lalu menatap Rian. Semuanya terasa masuk akal, tapi kenapa hatiku terasa sakit saat membayangkan harus meninggalkan Narev?
"Vaya, jangan ragu lagi. Narev itu berbahaya. Dia bisa melakukan apa saja—"
BRAAAKK!
Pintu kafe terbuka dengan keras. Suasana kafe yang tenang seketika pecah. Aku menoleh dan jantungku seolah berhenti berdetak.
Narev berdiri di sana. Nafasnya memburu, matanya merah padam karena amarah yang meluap. Di belakangnya, beberapa pria berbadan besar berjaga di pintu.
"Jadi... ini urusan 'desain' yang sangat mendesak itu, Anvaya?" suara Narev menggelegar, membuat seluruh pengunjung kafe menoleh ketakutan.
Dia berjalan mendekat dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Rian segera berdiri, mencoba melindungi di depanku.
"Narev, jangan kasar padanya! Dia berhak tahu kebenarannya!" teriak Rian.
Narev tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat mengerikan. Dia mencengkeram kerah baju Rian dan mengangkatnya hingga kaki pria itu hampir terangkat dari lantai.
"Kebenaran? Kebenaran versimu, bajingan?!" Narev membanting Rian ke kursi hingga jatuh tersungkur. Dia lalu beralih menatapku, tatapannya penuh luka sekaligus obsesi yang mencekam. "Ikut aku pulang sekarang, Cebol. Atau aku pastikan temanmu ini tidak akan pernah bisa bicara lagi selamanya."
Aku membeku. Dokumen cerai itu masih ada di tanganku. Aku menatap Narev yang terlihat seperti monster, lalu menatap Rian yang merintih kesakitan.
Siapa yang harus kupercayai?
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa