Kisah seorang ilmuan gila yang melawan pemerintah dunia yang dzalim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Michael Jack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Membingungkan
Setelah terbang cukup lama, jetpack milik Jack akhirnya kehabisan baterai.
Suara mesin di punggungnya mulai melemah. Cahaya pendorongnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Tubuh Jack langsung kehilangan keseimbangan.
Angin malam menghantam tubuhnya saat ia jatuh dari langit menuju hutan lebat di bawahnya.
BRUK!
Tubuhnya menghantam tanah dengan keras di sebuah hutan terlarang di Asia Timur.
Jack mencoba bangkit, namun tubuhnya sudah terlalu lelah. Luka dari pertempuran sebelumnya masih terasa di seluruh tubuhnya.
Pandangan matanya mulai kabur.
Tidak lama kemudian, kesadarannya menghilang.
Ia pun pingsan.
Malam semakin gelap.
Angin berhembus pelan di antara pepohonan tinggi.
Di tengah hutan yang sunyi itu, terdengar suara geraman dari kejauhan.
Aroma darah menarik perhatian para predator hutan.
Dari balik semak-semak muncul segerombolan serigala api.
Tubuh mereka besar dengan bulu merah menyala seperti bara api. Mata mereka bersinar tajam di kegelapan.
Serigala-serigala itu mengelilingi tubuh Jack yang tergeletak tak berdaya.
Bagi mereka, manusia yang terluka adalah mangsa yang sempurna.
Salah satu serigala melangkah maju, membuka mulutnya lebar.
Namun tiba-tiba—
SREET!
Sebuah tombak melesat dari kegelapan dan menembus kepala serigala itu.
Serigala tersebut langsung jatuh tak bernyawa.
Serigala lainnya menggeram marah.
Dari balik pepohonan muncul seorang wanita.
Dengan gerakan cepat dan lincah, ia menyerang kawanan serigala itu satu per satu.
Dalam beberapa saat saja, seluruh serigala api itu tewas di tangannya.
Wanita itu lalu berjalan mendekati Jack.
Ia menatap wajah pria asing itu sejenak.
"Pria yang malang," gumamnya pelan.
"Aku harus membawanya pulang."
Wanita itu bernama Jihan Oktaviani.
Tingginya sekitar 163 cm.
Rambut hitamnya sebahu dan wajahnya sangat cantik. Lesung pipi kecil terlihat di wajahnya ketika ia tersenyum.
Jihan dikenal sebagai pribadi yang ceria dan ramah. Namun di balik sifat itu, ia juga sosok yang tegas dan pendiam.
Hal itu karena ia adalah pemimpin sebuah organisasi kultivator di Asia Timur.
Dengan mudah, ia mengangkat tubuh Jack dan membawanya pulang.
Sehari kemudian.
Jack akhirnya membuka matanya.
Langit-langit rumah kayu sederhana terlihat di atasnya.
"Hai, selamat pagi."
Suara lembut menyapanya.
Jack menoleh dan melihat Jihan berdiri di samping tempat tidurnya.
"Eh… pagi," jawab Jack sedikit canggung.
Ia mencoba duduk.
"Saya berada di mana ini?"
"Tentu saja di rumahku," jawab Jihan santai.
Jack menggaruk kepalanya.
"Maksud saya… lokasi ini di mana?"
Jihan tersenyum kecil.
"Kau sekarang berada di Kekaisaran Xianying."
Jack terdiam sejenak.
"Kekaisaran yang menguasai Asia Timur?"
"Iya."
Jihan mengangguk.
"Kau benar."
Jack hanya bisa menjawab canggung.
"Eee… oke."
"Oh iya, sebelumnya perkenalkan," kata Jihan.
"Namaku Jihan Oktaviani. Kau bisa memanggilku Jihan."
Jack sedikit mengangguk.
"Nama saya Michael Jack. Anda bisa memanggil saya Jack."
Jihan lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Sementara itu, Jack keluar menuju halaman rumah.
Ia melihat sekeliling dengan penuh rasa penasaran.
"Hmm… tempat yang menarik."
Ia memperhatikan lingkungan di sekitarnya.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada mesin.
Tidak ada teknologi.
"Sepertinya mereka hanya mengandalkan energi Qi untuk bertahan hidup," gumam Jack dalam hati.
Saat makan bersama, Jihan bertanya,
"Jack, apakah kamu bukan orang dari benua ini?"
"Ya, anda benar," jawab Jack.
"Saya hanya ingin berkunjung dan mempelajari hal-hal yang ada di sini."
Ekspresi Jihan berubah sedikit serius.
"Kau tahu satu hal?"
"Jika ada orang luar yang datang ke sini tanpa sepengetahuan kekaisaran…"
"Mereka akan dihukum mati."
Jack langsung terkejut.
"Hah?! Kenapa begitu?!"
Jihan menjelaskan dengan tenang.
"Puluhan tahun lalu, pernah ada orang luar datang ke sini."
"Dia diterima oleh masyarakat. Bahkan kekaisaran menganggapnya sebagai warga mereka."
"Namun ternyata dia adalah mata-mata Pemerintah Dunia."
"Saat kekaisaran lengah, dia melaporkan semuanya."
"Pemerintah Dunia kemudian menyerang wilayah ini."
"Lalu kenapa kekaisaran masih ada?" tanya Jack.
Jihan tersenyum tipis.
"Itu karena kaisar membangunkan penguasa benua ini."
"Naga emas… Xiang Long."
"Melihat wilayah kekuasaannya dihancurkan, naga itu mengamuk dan membantai ribuan pasukan musuh hingga tidak tersisa."
Jack menyeringai pelan.
"Menarik…"
"Aku ingin sekali mengambil DNA naga itu."
Sore hari, Jack duduk di tepi sungai dekat rumah Jihan.
Angin bertiup lembut.
Suara air mengalir membuat suasana terasa sangat tenang.
Namun tiba-tiba—
BYURRR!!
Seekor buaya raksasa muncul dari air dan menerjang Jack.
Jack langsung melompat menghindar.
"Sial! Buaya jenis apa itu?!"
Ia mengeluarkan pistolnya dan menembak.
DOR! DOR! DOR!
Namun peluru-peluru itu tidak mampu menembus kulit buaya tersebut.
Buaya itu justru semakin marah dan mengejar Jack.
Saat Jack hampir tertangkap—
Seseorang melesat turun dari langit.
Itu Jihan.
Ia melayang di udara sambil mengangkat tombaknya.
"KEKUATAN TOMBAK NAGA EMAS, JURUS KETIGA, TOMBAK PENGHANCUR!!!"
Sebuah tombak energi emas raksasa muncul dari langit dan menghantam buaya tersebut.
BOOM!
Buaya raksasa itu langsung mati.
Jack menatap Jihan dengan kagum.
"Nona Jihan, anda sungguh hebat."
Jihan tersipu malu.
"Hahaha… tidak terlalu hebat kok."
Setelah kembali ke rumah, Jack bertanya,
"Nona Jihan, bolehkah anda mengajari saya jurus-jurus yang tadi anda gunakan?"
Jihan tersenyum.
"Tentu saja."
"Apa yang ingin kamu pelajari?"
"Seperti teknik terbang atau jurus serangan tadi."
Jihan menjelaskan,
"Untuk terbang di udara, seseorang harus mencapai tingkat pakar kultivator."
"Sedangkan jurus-jurus seperti itu tergantung pada harta warisan hewan roh."
Jack mengerutkan kening.
"Harta warisan hewan roh?"
"Apa itu?"
Jihan menjawab dengan tenang,
"Harta warisan hewan roh adalah senjata atau benda khusus yang ditinggalkan oleh hewan roh setelah mereka dibunuh."
"Namun tidak semua hewan roh memiliki harta warisan."
"Jadi semuanya tergantung pada keberuntungan."