NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: RETAK YANG TAK TERLIHAT

 

Pagi itu, Ardi datang ke kantor dengan mata sembab dan kopi hitam di tangan kiri.

Dia tidak tidur semalam. Bukan karena Maya—atau mungkin karena Maya, tapi dia tidak mau mengakuinya. Yang dia ingat hanyalah duduk di balkon apartemen, memandangi langit Jakarta yang tidak pernah benar-benar gelap, sampai kepalanya terasa kosong dan dadanya terasa penuh.

Sekarang, jam menunjukkan pukul setengah sembilan, dan dia sudah berada di ruang kerjanya sejak satu jam lalu, membaca laporan yang sama tanpa mengerti satu kata pun.

Pintu terbuka.

"Pak Ardi, Pak Bram minta Bapak ke ruangannya."

Ardi mendongak. Sekretarisnya, Mia, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi hati-hati—ekspresi yang biasa dia tunjukkan saat ada kabar buruk.

"Ada apa?"

"Tidak bilang. Hanya minta Bapak segera ke sana."

Ardi menghela napas. Dia tahu ayahnya sudah kembali dari Surabaya tadi malam. Biasanya, Bram Hartono tidak akan memanggilnya ke ruang rapat pribadi kecuali ada sesuatu yang serius. Entah itu masalah perusahaan, atau masalah pribadi yang dibungkus dengan angka-angka.

"Baik."

Ardi berdiri, merapikan jasnya, dan berjalan menyusuri koridor eksekutif. Di sepanjang lorong, para karyawan yang berpapasan menunduk hormat, tapi matanya kosong, seperti sudah hafal bahwa CEO muda itu tidak pernah membalas sapaan.

Di depan ruang kerja ayahnya, Ardi berhenti sejenak. Menarik napas. Lalu mengetuk.

"Masuk."

Suara Bram terdengar berat, seperti biasa. Tidak ada nada marah, tidak ada nada kecewa. Hanya datar, seperti laporan keuangan yang sedang dia baca.

Ardi membuka pintu.

Bram duduk di balik meja kayu jati besar, monitor komputer menyala di sampingnya, dokumen-dokumen berserakan di permukaan meja. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, dasi sudah longgar di leher. Di meja, dua cangkir kopi—satu sudah dingin, satu setengah penuh.

Di depannya, laptop terbuka dengan grafik yang tidak bisa Ardi lihat dari posisi berdiri.

"Duduk."

Ardi duduk di kursi seberang meja, punggung tegak, tangan di pangkuan. Seperti wawancara kerja, seperti rapat dengan investor asing, seperti anak yang dipanggil kepala sekolah.

Bram tidak bicara selama beberapa detik. Matanya masih tertuju pada layar laptop, jemarinya mengetik sesuatu dengan cepat. Lalu dia mendongak.

"Apa kabar?"

Pertanyaan itu mengagetkan Ardi. Bukan karena ayahnya tidak pernah bertanya—tapi karena nada suaranya terdengar... berbeda. Tidak seperti biasanya.

"Baik."

"Benar?"

Ardi mengangkat alis. "Kenapa?"

Bram menyandarkan punggung di kursi, mengamati Ardi dengan tatapan yang terlalu lama. "Aku dengar dari Sari. Katanya kamu sering pulang cepat akhir-akhir ini. Tidak fokus."

Di dalam dada Ardi, sesuatu berdenyut. Sari. Dia sudah bicara dengan ayahnya. Tanpa memberitahunya. Tanpa memperingatkannya.

"Sari khawatir," kata Ardi pelan. "Aku hanya lelah."

"Lelah karena apa?"

"Banyak kerjaan."

"Kerjaan?" Bram hampir tertawa. Suaranya pendek, tidak jelas apakah itu ejekan atau hanya keheranan. "Kamu CEO, Ardi. Lelah karena kerjaan adalah alasan paling buruk yang bisa kamu berikan."

Ardi diam. Dia tahu ayahnya benar. Tapi dia juga tahu bahwa alasan sebenarnya—kesepian, kebingungan, wanita asing yang menangis di kamar mandi rumahnya—adalah alasan yang tidak akan pernah dia bagikan dengan Bram Hartono.

"Aku akan perbaiki."

"Tentu kamu akan." Bram membuka laci, mengeluarkan satu map tebal berwarna merah. "Ini laporan dari divisi properti. Angka mereka turun tujuh belas persen dalam tiga bulan terakhir. Aku ingin kamu turun langsung, cek ke lapangan, cari tahu masalahnya."

Ardi menerima map itu, membuka sekilas. Angka-angka yang dia lihat cukup buruk—tapi tidak separah yang dia duga. Ini hanya ujian. Ayahnya ingin melihat apakah dia masih peduli.

"Aku akan urus."

"Jangan hanya diurus. Selesaikan." Bram menatapnya tajam. "Perusahaan ini butuh pemimpin yang fokus, bukan yang pikirannya melayang ke mana-mana."

Ardi menggigit bibir bawahnya. Dia ingin mengatakan sesuatu. Ingin berteriak bahwa mungkin dia bisa fokus jika ayahnya tidak tiba-tiba menikahi wanita asing tanpa memberitahunya. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan, berubah menjadi keheningan yang dingin.

"Baik, Pak."

Bram mengangguk. Tangannya meraih cangkir kopi, menyeruput pelan. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Maya? Apakah dia baik-baik saja di rumah?"

Pertanyaan itu datang begitu saja, seperti bom yang dijatuhkan tanpa peringatan.

Ardi membeku. Tangannya yang sedang membuka map berhenti bergerak.

"Maya?"

"Istriku." Bram tersenyum tipis. "Aku tahu kamu sudah bertemu. Dia bilang kamu baik padanya."

Ardi menelan ludah. Dia bilang kamu baik padanya. Kata-kata itu terasa seperti belati kecil yang menusuk di tempat yang tidak terduga. Maya berbohong. Atau mungkin Maya tidak berbohong—mungkin Maya benar-benar menganggap sikap dinginnya sebagai kebaikan. Dan itu lebih menyakitkan.

"Dia... baik-baik saja," kata Ardi akhirnya. "Kemarin dia masak sarapan."

"Oh ya? Enak?"

Ardi mengangkat bahu. "Telur gosong."

Bram tertawa. Sungguhan tertawa, dengan suara yang jarang Ardi dengar. "Dia memang tidak bisa masak. Tapi dia mau belajar."

Ardi tidak menjawab. Dia hanya duduk di sana, memegang map merah di pangkuan, mendengarkan ayahnya berbicara tentang Maya dengan nada yang tidak pernah dia gunakan untuk ibunya. Nada yang lembut, yang akrab, yang penuh dengan... sesuatu yang tidak bisa Ardi kenali.

"Maya orang baik," Bram melanjutkan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Aku tahu umurnya tidak jauh beda denganmu. Tapi dia... membuatku merasa tidak sendiri."

Kalimat itu menusuk.

Membuatku merasa tidak sendiri.

Ardi ingin tertawa. Ingin berdiri dan berteriak bahwa dia juga merasa sendiri selama ini. Selama dua puluh tiga tahun, di rumah besar itu, di kamar kosong yang tidak pernah dimasuki ayahnya, di panggung wisuda yang tidak pernah ada yang datang, di setiap malam yang sunyi tanpa suara siapa pun.

Tapi dia hanya diam.

"Selamat," katanya pelan. Dua kata yang tidak dia maksudkan, tapi keluar begitu saja.

Bram menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Terima kasih."

Keheningan mengisi ruangan. Ardi berdiri, map di tangan, siap pergi. Tapi di ambang pintu, dia berhenti.

"Pak."

Bram mendongak. "Ya?"

Ardi menoleh, menatap ayahnya. Di usia empat puluh lima, Bram Hartono masih tampak muda. Rambutnya hitam, wajahnya tegas, matanya tajam. Tidak ada kerutan kelelahan, tidak ada tanda-tanda usia. Dia adalah pria yang selalu sempurna, selalu terkendali, selalu di atas angin.

Dan tiba-tiba, Ardi merasa lelah.

"Tidak," katanya akhirnya. "Tidak apa-apa."

Dia keluar dari ruangan, menutup pintu dengan pelan.

 

Jam menunjukkan pukul setengah dua siang ketika Sari menelepon.

Ardi sedang duduk di kantornya, mencoba membaca laporan properti yang diberikan ayahnya. Tapi angka-angka itu terus berubah bentuk, menjadi wajah Maya, menjadi senyum Bram, menjadi telur gosong di pagi hari.

"Ya?" Ardi mengangkat telepon.

"Di, kamu makan siang?" Suara Sari ceria, seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti dia tidak baru saja melapor ke ayahnya tentang Ardi yang tidak fokus.

"Belum."

"Aku bawain makanan. Aku di lobby sekarang."

Ardi menutup telepon. Dia berdiri, berjalan ke jendela, melihat ke bawah. Di lobby gedung, sosok Sari terlihat kecil dengan dress merah muda dan rambut terurai. Dia sedang melihat ponsel, mungkin membalas pesan, mungkin menunggu.

Tiga tahun bersama Sari, dan Ardi tidak pernah bisa membaca pikirannya.

Sari masuk dengan dua kantong plastik berisi makanan dari restoran Jepang langganan mereka. Senyumnya lebar, langkahnya ringan, seperti burung yang terbang tanpa beban.

"Aku beliin salmon mentai kesukaanmu," katanya sambil meletakkan kantong di meja. "Dan teh hangat. Kamu pasti belum minum apa-apa kan?"

Ardi duduk kembali, membuka kemasan makanan. Sari duduk di seberang meja, menyilangkan kaki, mengamatinya.

"Kamu ngomong sama ayahku?" Ardi bertanya tanpa melihat Sari.

Keheningan sesaat. Lalu Sari berkata, "Iya. Aku khawatir sama kamu."

"Kenapa?"

"Karena kamu aneh, Di." Suara Sari tidak lagi ceria. Ada nada serius yang jarang dia tunjukkan. "Sejak ayahmu menikah, kamu jadi... jauh. Aku menelepon jarang diangkat. Pulang cepat. Kalau diajak bicara, jawabannya pendek-pendek."

Ardi menusuk salmon mentai dengan sumpit, tapi tidak memasukkannya ke mulut. "Aku hanya sibuk."

"Sibuk dengan apa?"

"Kerjaan."

Sari mendesah. Tangannya meraih tangan Ardi di atas meja, menggenggamnya erat. "Di, aku pacar kamu. Aku tahu kapan kamu bohong."

Ardi mendongak. Wajah Sari dekat, matanya basah meskipun dia tersenyum. Ada sesuatu di mata itu—bukan marah, bukan kecewa, hanya... ketakutan.

"Aku takut kehilangan kamu," bisik Sari. "Sejak Maya datang, aku merasa kamu... berubah."

Nama Maya membuat Ardi tersentak. Dia menarik tangannya, terlalu cepat, terlalu kasar. Sari terkejut, tangannya menggantung di udara.

"Apa hubungannya dengan Maya?" suara Ardi lebih tajam dari yang dia rencanakan.

Sari terdiam. Matanya menatap Ardi dengan ekspresi yang tidak bisa dia baca—mungkin luka, mungkin curiga, mungkin keduanya.

"Aku tidak bilang ada hubungannya," kata Sari pelan. "Aku hanya bilang, sejak dia datang, kamu berubah. Itu fakta."

Ardi menghela napas. Dia menutup mata sebentar, mencoba menenangkan diri. "Maaf. Aku hanya... lelah."

Sari tidak menjawab. Dia merapikan roknya, berdiri, mengambil tasnya. "Aku pulang dulu. Kamu makan ya."

"Sari."

Dia berhenti di pintu, tidak menoleh.

"Terima kasih sudah bawain makan."

Sari membalikkan badan. Wajahnya masih tersenyum, tapi senyum yang berbeda. Senyum yang terpaksa. "Iya. Aku sayang kamu."

Pintu tertutup. Ardi duduk sendirian dengan salmon mentai yang sudah dingin.

Dia membuka ponsel. Ada pesan dari Maya, dikirim tiga jam lalu.

"Aku masak sup ayam. Nanti kalau kamu pulang, mau?"

Ardi membalas: "Nanti malam."

Lalu dia menyimpan ponsel, meraih map merah, mencoba fokus pada laporan properti. Tapi angka-angka itu tetap tidak masuk akal. Yang dia lihat hanyalah wajah Sari yang basah, wajah Maya yang tersenyum, wajah ayahnya yang berkata dia membuatku merasa tidak sendiri.

Jam menunjukkan pukul enam sore ketika Ardi akhirnya meninggalkan kantor.

Di luar, langit Jakarta berwarna jingga kemerahan, debu dan polusi membuat matahari terlihat seperti bola api yang redup. Ardi duduk di mobil, memegang setir, menatap gedung-gedung tinggi di sekitarnya.

Dia tidak ingin pulang ke apartemen yang sunyi. Tapi dia juga tidak yakin ingin pulang ke rumah Menteng.

Mobilnya berputar di jalanan, tanpa tujuan. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang perlahan tenggelam.

Di perempatan, Ardi mengambil jalan menuju Menteng.

 

Rumah Hartono terlihat gelap saat dia memarkir mobil. Hanya lampu teras yang menyala, dan satu lampu di dapur. Ardi keluar, membawa tas kerjanya, berjalan menuju pintu.

Saat dia membuka pintu, aroma sup ayam menyambutnya. Hangat, sedikit asin, seperti dulu ketika ibunya masih hidup dan masak sup untuk makan malam.

Ardi berhenti di ruang keluarga. Rumah itu sunyi, tapi tidak kosong. Dari dapur, terdengar suara sendok menyentuh panci, suara langkah kaki pelan.

Maya muncul di ambang pintu dapur. Rambutnya diikat kuda poni, memakai baju rumah lengan panjang berwarna krem, celemek biru di pinggang. Wajahnya bersih tanpa riasan, sedikit memerah karena uap panas.

"Kamu pulang," katanya. Bukan pertanyaan. Hanya pernyataan.

"Iya."

Maya tersenyum kecil. "Supnya sudah matang. Kamu mau makan?"

Ardi mengangguk. Dia meletakkan tas kerjanya di sofa, melepas jas, lalu mengikuti Maya ke dapur.

Meja sudah diatur untuk dua orang. Dua mangkuk sup, nasi hangat, sambal di piring kecil. Maya duduk di seberangnya, menunduk, memulai makan dengan pelan.

Ardi menyeruput supnya. Hangat. Enak. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

"Tadi Sari datang ke kantor," katanya tiba-tiba.

Maya mendongak. "Oh?"

"Dia bilang aku berubah."

Maya tidak menjawab. Tangannya masih memegang sendok, matanya tertuju pada mangkuk sup.

"Dia juga bilang ke ayahku," Ardi melanjutkan. "Bilang aku tidak fokus."

Maya meletakkan sendoknya. "Kenapa kamu cerita ini padaku?"

Ardi terdiam. Dia tidak tahu. Mungkin karena dia lelah menyimpan. Mungkin karena Maya adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana rasanya berada di rumah ini. Mungkin karena Maya juga merasa sendiri.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur.

Maya menatapnya lama. Matanya—cokelat tua, lembab, seperti selalu siap menangis—tidak melawan, tapi juga tidak mundur.

"Apa yang kamu takutkan, Ardi?"

Pertanyaan itu mengagetkannya. Ardi mengangkat alis. "Apa maksudmu?"

"Apa yang kamu takutkan?" Maya mengulang. Suaranya pelan, lembut, seperti sedang berbicara pada anak kecil. "Kamu takut kehilangan Sari? Kamu takut mengecewakan ayahmu? Atau kamu takut pada sesuatu yang lain?"

Ardi tidak menjawab. Tapi di dalam kepalanya, suara itu berteriak. Aku takut menjadi seperti ayahku. Aku takut mengulangi kesalahan yang sama. Aku takut kehilangan diriku sendiri.

Maya berdiri. Dia berjalan ke wastafel, mencuci tangannya, lalu berdiri di samping jendela. Di luar, taman belakang gelap, hanya suara jangkrik yang terdengar.

"Kamu tahu," kata Maya tanpa menoleh, "aku juga takut."

Ardi menatap punggungnya. "Takut apa?"

"Takut sendirian." Maya memeluk dirinya sendiri. "Aku menikah dengan Bram karena aku pikir... aku tidak akan sendiri lagi. Tapi dia pergi, dan aku di sini, dengan orang-orang yang tidak mengenalku, di rumah yang bukan milikku."

Ardi berdiri. Dia tidak tahu kenapa, tapi kakinya membawanya mendekati Maya. Jarak di antara mereka semakin pendek.

"Maya..."

"Aku tidak minta apa-apa," potong Maya cepat. "Aku hanya... ingin seseorang yang bisa diajak bicara. Seseorang yang melihat aku sebagai manusia, bukan sebagai 'istri baru Bram Hartono'."

Ardi berdiri di sampingnya. Dari dekat, dia bisa melihat bahu Maya yang sedikit bergetar. Bukan menangis. Hanya gemetar.

"Aku lihat kamu," kata Ardi pelan.

Maya menoleh. Wajah mereka berjarak beberapa senti. Ardi bisa menghitung bulu matanya yang panjang, melihat lingkaran hitam di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan, merasakan napasnya yang hangat.

“Aku tidak berpikir kamu seperti yang aku bayangkan.” ulang Ardi. "Bukan sebagai istri ayahku. Tapi sebagai... kamu."

Untuk sesaat, mereka hanya berdiri di sana. Dapur yang hangat, sup yang mulai dingin di meja, lampu redup yang membuat bayangan mereka menyatu di dinding.

Maya tersenyum. Bukan senyum pahit, bukan senyum manis yang dipaksakan. Senyum yang tulus, yang lemah, yang membuat dada Ardi terasa sesak.

"Terima kasih," bisiknya.

Ardi tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, di samping Maya, di dapur yang dulu milik ibunya, di rumah yang kini terasa asing sekaligus akrab.

Di lorong, langkah kaki seseorang berhenti.

Ardi dan Maya menoleh bersamaan.

Tidak ada siapa-siapa.

Ardi tahu—mereka hampir ketahuan.

Tidak ada takut. Itu yang aneh.

Dia mundur setengah langkah. Bukan karena tidak mau—tapi karena dia tahu, kalau dia tidak berhenti sekarang, dia tidak akan pernah bisa berhenti lagi.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!