NovelToon NovelToon
Anak Sang Mafia

Anak Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Horor / Iblis / Mafia / Tamat
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Erik Meijer adalah pemimpin mafia paling ditakuti yang dikenal tak memiliki belas kasih. Namun, dunianya yang penuh kekerasan berubah drastis saat ia menemukan seorang bayi perempuan bernama emia di kursi belakang mobilnya setelah sebuah baku tembak. Sebuah pesan misterius mengklaim bahwa bayi itu adalah darah dagingnya.
Demi melindungi emia , Erik Meijer memutuskan untuk meninggalkan takhta kekuasaannya dan bersembunyi di sebuah desa terpencil di pegunungan. Ia mencoba belajar menjadi ayah yang normal, mengganti senjata dengan botol susu, dan strategi perang dengan lagu pengantar tidur.
Namun, masa lalu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ketika musuh-musuhnya menemukan tempat persembunyian mereka dan mengancam nyawa emia, Erik Meijer menyadari bahwa ia tidak bisa terus berlari. Ia harus kembali menjadi sosok yang mematikan untuk terakhir kalinya demi memastikan putrinya memiliki masa depan yang damai. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, penebusan dosa, dan sisi lembut mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menghadapi si pelacak

Pelarian itu terhenti di sebuah rumah tua di pinggiran kota yang berkabut. Claudia merasakannya sebelum ia melihatnya—suatu perubahan tekanan udara, kesunyian yang terlalu tajam. Si Pelacak, pembunuh bayaran paling setia Don Medici yang dikenal dengan nama Vane, telah menemukannya.

Vane berdiri di ambang pintu tanpa suara, bayangannya panjang dan mengancam. Ia tidak memegang senapan besar, hanya sebilah pisau kerambit yang berkilat terkena cahaya bulan.

"Don Medici ingin barang miliknya kembali, Claudia," suara Vane datar, tanpa emosi.

"Berikan bayi itu, dan kau boleh lari sampai ke ujung dunia."

Claudia meletakkan Emia di dalam sebuah peti kayu yang dilapisi bantal tebal, mendorongnya pelan ke bawah meja. Ia berdiri, menggenggam sepasang pisau dapur yang telah ia asah hingga setajam silet.

"Dia bukan barang milik siapa pun, Vane. Terutama bukan milik pria tua yang membusuk di istananya."

Pertarungan terjadi dengan sangat cepat dan brutal. Vane bergerak seperti hantu, namun Claudia bertarung dengan insting seorang ibu yang terdesak. Ruangan itu dipenuhi suara dentingan logam dan napas yang memburu.

Vane berhasil menyayat lengan Claudia, namun Claudia tidak mundur. Ia memanfaatkan ukuran tubuhnya yang lebih kecil untuk masuk ke area buta Vane.

Saat Vane bersiap memberikan serangan mematikan, Claudia melakukan hal yang tidak terduga: ia memicu gas elpiji yang sudah ia bocorkan sejak tadi dan menyalakan pemantik api kecil di tangannya.

BOOM!

Ledakan kecil itu melemparkan Vane keluar jendela. Claudia, yang sudah berlindung di balik meja kayu tebal bersama Emia, segera bangkit meski telinganya berdenging. Ia tidak menunggu untuk melihat apakah Vane masih hidup.

Ia menyambar Emia, melompati puing-puing, dan lari menembus kabut menuju motor yang sudah disiapkan Marco di kejauhan. Ia tahu Vane tidak akan mudah mati, tapi malam ini, ia telah membuktikan satu hal: darah Medici dalam dirinya jauh lebih berbahaya daripada yang pernah dibayangkan kakeknya.

//////

Vane tidak mati dalam ledakan itu. Sebaliknya, ia muncul kembali di tengah malam yang dingin saat Claudia dan Emia bersembunyi di sebuah stasiun kereta tua yang terbengkalai. Kali ini, Vane tidak lagi bersikap tenang; wajahnya yang terbakar sebagian akibat ledakan tadi membuatnya tampak seperti iblis dari neraka.

"Kau membuat kesalahan besar, Claudia," desis Vane, langkah kakinya bergema di lantai beton yang retak.

"Sekarang, aku tidak peduli jika harus membawa bayimu dalam keadaan tidak bernapas, selama DNA-nya masih bisa diambil."

Claudia merasakan darahnya membeku. Ancaman terhadap nyawa Emia adalah batas terakhirnya. Ia tidak lagi lari. Ia menyerahkan Emia yang sedang terlelap kepada Marco yang berjaga di balik pilar.

"Bawa dia ke gerbong terakhir. Jangan menoleh," perintah Claudia dingin.

Claudia berdiri di tengah peron, hanya bersenjatakan sebuah kawat baja tipis dan keberanian yang nekat. Saat Vane menerjang dengan kecepatan penuh, Claudia tidak menghindar. Ia membiarkan bahunya terhantam demi bisa melingkarkan kawat baja itu ke leher Vane.

Keduanya berguling di atas rel kereta. Vane adalah mesin pembunuh yang terlatih, tapi Claudia bertarung dengan amarah seorang ibu. Di tengah pergulatan, Claudia berhasil meraih sebuah suar (flare) dari saku jaketnya.

"Sampaikan salamku pada kakek," bisik Claudia tepat di telinga Vane sebelum menyulut suar itu langsung ke arah wajah sang pelacak.

Cahaya merah yang menyilaukan membutakan Vane seketika. Dalam hitungan detik, Claudia menggunakan momentum itu untuk menendang Vane jatuh ke celah rel tepat saat kereta barang yang melaju kencang mulai lewat.

Suara gemuruh kereta menelan teriakan Vane.

Claudia jatuh terduduk, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat. Ia melihat kereta itu berlalu, membawa pergi ancaman paling mematikan milik kakeknya. Namun, ia tahu ini bukan kemenangan akhir. Don Medici akan mengirim orang lain.

Ia berdiri, menyeka darah di wajahnya, dan berjalan menuju gerbong terakhir di mana Emia menantinya. Ia telah berhenti menjadi mangsa. Mulai malam ini, Claudia memutuskan: jika dunia tidak memberi tempat bagi Emia untuk bersembunyi, maka ia akan menghancurkan dunia yang memburunya.

******

Vane memang tangguh, tapi ia meremehkan seorang ibu yang tak lagi punya rasa takut. Meski terluka parah dan terpojok di tepi dermaga tua yang rapuh, Si Pelacak itu masih mampu bangkit dengan sisa tenaga terakhirnya.

"Kau pikir bisa menang karena keberuntungan?" Vane terbatuk, darah hitam keluar dari mulutnya.

Ia menarik sebuah detonator dari saku jasnya. "Jika aku tidak bisa membawanya, maka tak ada yang bisa memilikinya. Seluruh dermaga ini sudah kupasangi peledak."

Claudia menatap Emia yang menangis di dalam pelukannya. Tangisan bayi itu seolah menjadi pemantik api di dalam jiwanya. Ia tidak memohon. Ia tidak gentar.

"Kau bicara terlalu banyak, Vane," ujar Claudia dengan suara sedingin es.

Tanpa diduga, Claudia melempar sebuah pisau kecil ke arah pergelangan tangan Vane, membuat detonator itu terlepas. Di saat yang sama, Marco muncul dari kegelapan dan melepaskan tembakan tepat ke arah kaki Vane hingga sang algojo itu berlutut.

Claudia melangkah maju, berdiri tepat di depan pria yang telah memburunya berbulan-bulan. Ia mengambil detonator itu, lalu menatap Vane dengan tatapan yang persis sama dengan kakeknya—tatapan seorang penguasa.

"Katakan pada Don Medici lewat alat komunikasi di telingamu itu," Claudia mencengkeram rahang Vane.

"Setiap pelacak yang ia kirim akan mati dengan cara yang lebih lambat dari ini. Emia bukan lagi incarannya. Sekarang, dialah yang menjadi incaran Emia."

Dengan satu gerakan cepat, Claudia menendang Vane jatuh ke laut yang ganas di bawah dermaga. Ia tidak meledakkan tempat itu; ia menyimpannya sebagai pesan.

Mereka segera pergi sebelum pasukan bantuan datang. Di dalam mobil pelarian, Claudia melihat tangannya yang gemetar. Ia baru saja menyadari satu hal: untuk mengalahkan monster, ia harus menjadi monster yang lebih besar. Sejak malam itu, Claudia berhenti berlari. Ia mulai menyusun rencana untuk menyerang balik jantung kekuasaan Don Medici di Italia.

........

Vane ternyata memiliki "nyawa sembilan". Saat Claudia mengira semuanya sudah berakhir di dermaga, sebuah tangan besi mencengkeram pergelangan kakinya dari celah kayu yang rapuh.

Vane merayap naik, tubuhnya basah kuyup oleh air laut dan darah, matanya merah padam oleh dendam.

"Kakekmu... tidak akan pernah... berhenti," raung Vane dengan suara parau. Ia menerjang Claudia dengan sisa kekuatannya, mengabaikan luka tembak di kakinya.

Kali ini, Claudia tidak menghindar. Ia justru maju menyambut terjangan itu. Di tengah pergulatan yang brutal, kancing baju Vane terlepas, memperlihatkan sebuah pelacak biometrik yang tertanam di dadanya—alat yang mengirimkan koordinat lokasi Claudia langsung ke satelit Don Medici setiap detiknya.

"Jadi ini caramu menemukanku?" desis Claudia.

Dengan gerakan kilat, Claudia meraih pisau bedah kecil yang ia simpan di balik perban lengannya. Tanpa ragu, ia menyayat dada Vane—bukan untuk membunuhnya seketika, tapi untuk mencabut paksa chip pelacak tersebut. Vane berteriak kesakitan, suaranya tenggelam oleh deburan ombak.

Claudia berdiri di atas tubuh Vane yang sekarat. Ia memegang chip yang masih berlumuran darah itu ke arah kamera pengintai kecil yang terpasang di jaket Vane.

"Lihat ini, Don Medici!" Claudia berteriak ke arah kamera. "Kau ingin cucumu? Kau ingin pewarismu? Aku akan mengembalikan 'pewaris' ini padamu."

Claudia mengikatkan chip pelacak itu ke sebuah suar (flare) dan menembakkannya jauh ke tengah laut, ke arah sebuah kapal kargo yang sedang melaju menuju belahan dunia lain. Radar Don Medici kini akan mengejar hantu di tengah samudra.

Ia menoleh ke arah Vane yang sudah tak berdaya. "Kau gagal, Vane. Dan di dunia Medici, kegagalan berarti penghapusan."

Claudia meninggalkan Vane di dermaga yang mulai runtuh itu. Ia kembali ke mobil, memeluk Emia yang akhirnya tenang, dan menatap Marco. "Kita tidak lari lagi ke perbatasan. Kita pergi ke Roma. Jika kakek ingin bermain dengan nyawa, kita akan bawakan kematian tepat ke depan pintunya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!