NovelToon NovelToon
Frosen King OF Calestial

Frosen King OF Calestial

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Raja Ilusi

Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6:Perjalanan Dimulai Dan Gerbang Dunia Luar

Fajar baru saja menyingsing, menyebarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan es istana, menciptakan kilauan yang indah namun juga mengingatkan bahwa waktu tidak bisa ditunda lagi. Lira sudah bangun sejak lama, duduk di tepi tempat tidur sambil memegang pedang es yang diberikan Kaelen. Pedang itu terasa dingin di genggamannya, tapi juga memberikan rasa aman yang luar biasa—seolah-olah itu adalah jembatan yang menghubungkannya dengan kekuatan di dalam dirinya dan dengan orang yang kini menjadi segalanya baginya.

Dia mengenakan pakaian perjalanan yang tebal dan hangat, terbuat dari bulu binatang salju yang diproses khusus agar tahan terhadap berbagai kondisi cuaca. Di punggungnya, ada tas kulit yang berisi makanan, air, dan beberapa peralatan penting yang mereka butuhkan selama perjalanan.

Saat Lira keluar dari kamarnya, dia melihat Kaelen sudah menunggu di koridor utama. Pria itu tampak berbeda dari biasanya—meskipun masih memancarkan aura wibawa sebagai Raja Es, dia kini mengenakan pakaian perjalanan yang lebih praktis: jubah tebal berwarna biru tua yang menutupi tubuhnya, dan sepasang sepatu bot kulit yang kuat. Rambut putihnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan wajahnya yang tegas dan matanya yang biru penuh dengan tekad. Di pinggangnya, tergantung sebuah pedang es miliknya sendiri, yang bersinar lembut seolah merasakan kegembiraan dan ketegangan akan perjalanan yang akan dimulai.

"Selamat pagi, Lira," kata Kaelen, suaranya tenang namun penuh semangat. "Apakah kamu sudah siap?"

Lira mengangguk dengan tegas, menyembunyikan sedikit rasa gugup di dalam hatinya. "Ya, Yang Mulia. Saya sudah siap."

"Bagus," kata Kaelen, tersenyum kecil. "Mari kita pergi. Rakyat di dunia luar menunggu kita."

Mereka berjalan keluar dari istana, melewati halaman yang luas dan sunyi. Beberapa pelayan dan prajurit Kerajaan Celestial sudah berkumpul di sana, melihat kepergian raja mereka dengan perasaan campur aduk—rasa khawatir, rasa hormat, dan juga rasa harapan. Mereka membungkuk hormat saat Kaelen dan Lira lewat, tidak ada yang berbicara, tapi keheningan itu sendiri sudah menyampaikan banyak hal.

Kaelen berhenti sejenak, menoleh ke arah rakyatnya. "Saya akan pergi untuk sementara waktu," katanya, suaranya terdengar jelas di seluruh halaman. "Saya akan pergi untuk melindungi mereka yang membutuhkan, untuk melawan kegelapan yang mengancam semua makhluk hidup. Saya berjanji, saya akan kembali, dan saya akan membawa kedamaian kembali."

Rakyatnya tetap membungkuk, dan Lira bisa melihat beberapa dari mereka meneteskan air mata. Dia merasa terharu—ini adalah bukti betapa dicintainya Kaelen oleh rakyatnya, betapa besar tanggung jawab yang dia pikul di pundaknya.

Mereka melanjutkan perjalanan, melewati gerbang besar Kerajaan Celestial yang kini terbuka lebar. Saat mereka melangkah keluar dari kerajaan, angin salju yang lebih kencang menyapa mereka, tapi Lira tidak lagi merasa kedinginan seperti saat pertama kali datang. Kekuatan es di dalam dirinya sudah mulai beradaptasi, dan kehadiran Kaelen di sisinya membuatnya merasa sekuat baja.

Mereka berjalan menuruni Gunung Celestial, melewati jalan setapak yang berbahaya dan tertutup salju. Kaelen memimpin jalan, menggunakan kekuatannya untuk membersihkan salju yang tebal dan menciptakan jalan yang aman bagi Lira. Sesekali, dia menoleh untuk memastikan Lira baik-baik saja, dan setiap kali mata mereka bertemu, Lira merasa rasa takutnya perlahan hilang.

Selama perjalanan menuruni gunung, mereka tidak banyak berbicara. Mereka menikmati keindahan alam yang dingin namun megah di sekitar mereka—pohon-pohon yang tertutup es, bebatuan yang membeku, dan langit yang biru cerah tanpa awan. Namun, di dalam hati mereka, mereka tahu bahwa keindahan ini akan segera berubah saat mereka mencapai dunia luar.

Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka akhirnya mencapai kaki Gunung Celestial. Di sana, ada sebuah lembah yang luas yang menjadi batas antara Kerajaan Celestial dan dunia luar. Di tengah lembah itu, ada sebuah gerbang besar yang terbuat dari batu dan besi, yang dikenal sebagai Gerbang Batas Dunia. Gerbang itu tertutup rapat, dan di atasnya tertulis tulisan kuno yang sama dengan yang ada di gerbang kerajaan: "Di sini berakhir dunia es, di sini dimulai dunia yang berubah-ubah. Siapa yang melewati gerbang ini, harus siap menghadapi apa pun yang ada di depan."

Kaelen berhenti di depan gerbang itu, menatapnya dengan pandangan yang dalam. "Ini adalah gerbang yang memisahkan Kerajaan Celestial dari dunia luar," katanya. "Selama ratusan tahun, gerbang ini jarang dibuka. Hanya sedikit orang yang pernah melewatinya."

Lira menatap gerbang itu, merasakan getaran aneh yang datang darinya. "Apakah gerbang ini akan terbuka untuk kita?" tanyanya.

Kaelen tersenyum. "Tentu saja. Kita memiliki kekuatan yang sama, dan kita memiliki tujuan yang sama. Gerbang ini akan mengenali kita."

Kaelen mengangkat tangannya, dan cahaya biru mulai bersinar dari telapak tangannya. Cahaya itu semakin terang, dan kemudian dia menyentuh permukaan gerbang itu. Saat itu juga, gerbang itu mulai bergetar, dan suara gemuruh yang keras terdengar saat batu-batu besar itu bergeser perlahan, membuka jalan ke dunia luar.

Saat gerbang itu terbuka sepenuhnya, pemandangan di depan mereka membuat mereka tertegun. Berbeda dengan Kerajaan Celestial yang selalu tertutup salju dan es, dunia luar di sini tampak berbeda. Langitnya berwarna abu-abu, dan udaranya terasa lembap dan dingin, tapi tidak sedingin di kerajaannya. Di kejauhan, mereka bisa melihat hutan yang lebat, pegunungan yang hijau, dan juga asap hitam yang mengepul ke langit—tanda dari kehancuran yang disebabkan oleh kekuatan gelap itu.

"Itu adalah dunia luar," kata Kaelen, suaranya rendah. "Dunia yang indah, tapi kini sedang menderita."

Lira menatap pemandangan itu dengan perasaan yang berat. Dia bisa melihat jejak-jejak kehancuran di sana—pohon-pohon yang tumbang, tanah yang retak, dan asap yang menyesakkan. Dia teringat pada orang-orang yang dia tinggalkan, pada rasa sakit dan ketakutan yang mereka alami. Rasa tekadnya semakin kuat.

"Kita harus pergi," kata Lira, suaranya tegas. "Kita harus membantu mereka."

Kaelen mengangguk. "Ya. Mari kita pergi."

Mereka melangkah melewati gerbang itu, dan saat itu juga, mereka merasa seolah-olah telah memasuki dunia yang benar-benar baru. Udara di sini terasa berbeda, lebih berat dan lebih penuh dengan energi—baik energi baik maupun energi jahat.

Mereka mulai berjalan menuju arah asap hitam itu, menuju tempat di mana kekuatan gelap itu sedang berkumpul. Perjalanan mereka di dunia luar tidak semudah di Kerajaan Celestial. Tanah di sini tidak rata, penuh dengan bebatuan dan lubang-lubang yang tersembunyi. Kadang-kadang, mereka harus melewati hutan yang lebat dan gelap, di mana suara binatang buas bisa terdengar dari kejauhan. Tapi mereka tidak berhenti. Mereka terus maju, didorong oleh tekad yang kuat dan rasa sayang satu sama lain.

Saat matahari mulai terbenam, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah gua kecil di pinggir hutan. Kaelen menggunakan kekuatannya untuk menciptakan api es—api yang tidak membakar, tapi memberikan kehangatan yang nyaman dan tidak bisa dipadamkan oleh angin atau hujan. Mereka duduk di dekat api itu, memakan makanan yang mereka bawa, dan menikmati keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh suara angin yang berhembus di luar gua.

"Yang Mulia," kata Lira, memecah keheningan. "Bagaimana kita bisa menemukan kekuatan gelap itu? Dunia ini sangat luas."

Kaelen menatapnya dengan tenang. "Kekuatan gelap itu memiliki aura yang sangat kuat dan jahat, Lira. Kita bisa merasakannya. Semakin dekat kita dengan mereka, semakin kuat aura itu akan terasa. Dan juga, kita bisa bertanya pada orang-orang yang kita temui di jalan. Mereka pasti tahu di mana kekuatan gelap itu berada."

Lira mengangguk, merasa lega mendengar jawaban itu. "Baiklah. Saya percaya pada Anda."

Mereka terdiam lagi, menatap api es yang bersinar di depan mereka. Di dalam hati Lira, ada rasa takut akan apa yang akan mereka hadapi besok, tapi ada juga rasa harapan yang besar. Dia memiliki Kaelen di sisinya, dan dia tahu bahwa selama mereka bersama, mereka bisa mengatasi apa pun.

"Lira," kata Kaelen tiba-tiba, menatap matanya dengan serius. "Saya ingin kamu tahu sesuatu. Apa pun yang terjadi besok, apa pun yang kita hadapi, saya akan selalu melindungimu. Kamu adalah hal terpenting bagi saya sekarang. Kamu adalah keluarga saya, kamu adalah teman saya, dan kamu adalah... sesuatu yang lebih dari itu."

Lira merasa wajahnya memerah, dan jantungnya berdegup kencang. Dia bisa melihat ketulusan di mata Kaelen, dan dia tahu bahwa dia merasakan hal yang sama. "Saya juga, Yang Mulia," katanya, suaranya lembut. "Anda adalah segalanya bagi saya. Tanpa Anda, saya tidak akan tahu siapa saya sebenarnya, dan saya tidak akan memiliki keberanian untuk menghadapi semua ini."

Kaelen tersenyum, dan dia mengulurkan tangannya, memegang tangan Lira dengan lembut. Tangan Kaelen terasa dingin, tapi sentuhannya memberikan kehangatan yang luar biasa bagi Lira. Mereka duduk seperti itu selama beberapa waktu, tidak perlu berbicara banyak kata, karena hati mereka sudah saling mengerti.

Malam itu, mereka tidur di gua itu, dengan api es yang terus menyala memberikan kehangatan dan perlindungan. Meskipun mereka jauh dari rumah, meskipun bahaya mengintai di setiap sudut, mereka merasa tenang karena mereka memiliki satu sama lain. Dan esok pagi, mereka akan melanjutkan perjalanan mereka, menuju pertempuran yang akan menentukan nasib banyak orang, dan menuju takdir yang akan semakin mengikat mereka satu sama lain.

Angin malam berhembus di luar gua, membawa aroma tanah basah dan daun kering, tapi di dalam gua, ada kehangatan yang tidak bisa dipadamkan—kehangatan cinta dan persahabatan yang semakin tumbuh di antara dua jiwa yang ditakdirkan untuk bertemu.

1
Ridwani
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!