"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Requiem(musik kematian) di Balik Tirai
Malam itu, Gedung Konser Nasional berdiri megah namun sunyi, seolah-olah bangunan raksasa itu sedang menahan napas sebelum sebuah tragedi dimulai. Reyhan melangkah keluar dari mobil dengan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Tatapannya tajam, menyapu setiap sudut pintu masuk. Tidak ada lagi binar konyol di matanya; yang tersisa hanyalah insting seorang pemburu yang sedang mengendus bahaya.
"Rendy, matikan semua notifikasi di ponselmu. Kita masuk sebagai tamu VIP, tapi mata kalian harus tetap sebagai penyelidik," perintah Reyhan dengan suara rendah dan berat.
Rendy hanya mengangguk singkat, menyembunyikan kamera kecil di balik kancing jasnya. Di sampingnya, Kiara berjalan dengan wajah pucat. Ia bisa merasakan sesuatu yang sangat pekat dan busuk di udara yang sejuk itu.
"Rey," bisik Kiara sambil memegangi lengan Reyhan. "Energi di sini... ini bukan cuma satu atau dua arwah biasa. Ini seperti kumpulan kebencian yang dirajut menjadi satu harmoni. Hati-hati."
Di Dalam Ruang Konser
Lampu kristal raksasa meredup perlahan, membawa seisi ruangan ke dalam suasana mencekam. Vanya sudah berdiri di tengah panggung dengan biolanya. Namun, ada yang berbeda. Biola yang ia pegang tidak lagi tampak indah; serat kayu biola itu terlihat seperti urat nadi manusia yang berdenyut kemerahan di bawah lampu sorot.
Vanya mulai menarik senar biolanya. Sebuah melodi yang sangat lambat dan menyayat mulai memenuhi ruangan, merayap masuk ke dalam sela-sela pikiran para pendengarnya.
Tiba-tiba, Kiara tersentak. Pandangannya berguncang. Di mata indigonya, ia melihat benang-benang merah keluar dari setiap instrumen musik yang sedang dimainkan. Benang-benang itu menjerat leher para penonton satu per satu, menarik napas mereka perlahan.
"Mereka sedang melakukan ritual, bukan konser," Kiara berdesis ngeri.
Reyhan segera berdiri, mengabaikan protokol keamanan. Ia mendongak dan melihat seseorang di balkon atas—pria dengan setelan jas putih yang memegang baton emas. Sang Konduktor.
"Rendy, jaga Kiara di sini. Aku akan ke balkon atas!" ujar Reyhan tanpa ragu.
"Pak, itu berbahaya! Anak buah Arthur mungkin ada di sana!" cegah Rendy.
Reyhan tidak menoleh. "Kalau aku tidak menghentikan konduktor itu sekarang, tidak ada satu pun orang di gedung ini yang akan keluar dalam keadaan hidup. Ini tugas saya sebagai polisi, Ren. Bukan sebagai samsak."
Duel di Lorong Sunyi
Reyhan berlari menaiki tangga darurat dengan kecepatan penuh. Di tengah jalan, langkahnya terhenti. Di depannya berdiri tiga orang pria dengan topeng porselen putih, menghunuskan pisau bedah yang berkilat.
"Mundur, Detektif. Simfoni ini membutuhkan penonton yang tenang, bukan pengganggu," ucap salah satu pria bertopeng.
Reyhan tidak membuang waktu. Ia melakukan gerakan bela diri taktis yang cepat, melumpuhkan lawan satu per satu dengan serangan presisi di titik saraf. Tidak ada gerakan sia-sia. Tidak ada teriakan konyol. Hanya suara gesekan kain dan hantaman daging yang tumpul.
Saat ia sampai di balkon atas, Sang Konduktor sudah menghilang. Di tempat pria itu berdiri tadi, tersisa sebuah kotak musik kecil yang terus berputar. Di dalamnya, ada sebuah foto lama: ayah Reyhan, berdiri di depan pabrik tekstil yang terbakar di tahun 2011.
Suara biola Vanya mencapai nada tertinggi yang memekakkan telinga, dan tiba-tiba... DUAAR! Lampu gedung meledak satu per satu, menjerumuskan mereka ke dalam kegelapan total.
Cahaya dari Reruntuhan
Kegelapan itu terasa pekat, seolah-olah cahaya dilarang masuk ke sana. Hanya ada satu suara yang terdengar: Biola Vanya. Nadanya kini berubah menjadi rendah dan bergetar, menciptakan frekuensi yang membuat dada terasa sesak.
"Reyhan! Jangan dengarkan musiknya!" suara Kiara terdengar lewat alat komunikasi, terputus-putus. "Tutup telingamu! Musik itu sedang menarik sukma mereka!"
Reyhan melihat bayangan si Konduktor muncul kembali di panggung, berdiri tepat di belakang Vanya. Pria itu mengangkat tangannya, dan seketika, beberapa penonton berdiri secara mekanis seperti boneka tali.
"Sial," umpat Reyhan. Ia harus mengambil keputusan cepat.
Ia tidak menembak ke arah panggung karena risiko mengenai Vanya. Tatapannya tertuju pada rantai penahan lampu kristal raksasa di langit-langit. Satu tembakan presisi dilepaskan.
DUARRR!
Lampu kristal raksasa itu jatuh menghantam panggung, menciptakan ledakan cahaya dan dentuman yang memekakkan telinga. Musik terhenti seketika. Benang-benang merah itu putus dan memudar.
"Rendy, evakuasi semua orang sekarang!" perintah Reyhan sambil melompat turun dari balkon.
Saat ia sampai di panggung, Vanya dan si Konduktor sudah lenyap. Hanya tersisa biola milik Vanya yang tergeletak di tengah reruntuhan kristal. Kayunya masih berdenyut kemerahan. Saat Reyhan menyentuhnya, sebuah memori asing menghujam kepalanya.
Ia melihat ayahnya di tengah api pabrik 2011, memegang biola yang sama, mencoba menyelamatkan seseorang yang terjebak di dalam api.
"Jadi ini alasannya..." bisik Reyhan dengan wajah mengeras. "Ini bukan sekadar kasus kriminal. Ini tentang apa yang Ayah temukan lima belas tahun lalu."