Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maut Mengintai
DAR! DAR!
Dua tembakan menghancurkan modul elektronik sirine tersebut, namun bukan untuk mematikannya. Kerusakan itu justru memicu arus pendek yang membuat sirine darurat seluruh gedung meraung-raung dalam nada yang tidak beraturan, memekakkan telinga, dan menciptakan kepanikan massal seketika. Lampu-lampu strobe merah mulai berkedip liar di sepanjang koridor.
"Biar kalian tahu rasa! Rasakan ketakutan ini!" Aris berteriak di tengah kebisingan sirine yang memekakkan.
Ia melihat Devina yang sedang menangis sambil memeluk ibunya. Aris ingin sekali melompat ke balkon itu sekarang juga, namun ia melihat beberapa petugas keamanan lain mulai berlarian menuju posisinya.
"Gavin tidak akan bisa melindungimu di dalam kekacauan ini, Devina! Aku akan kembali!" teriak Aris sebelum ia meloncati pagar pembatas dan menghilang ke dalam rimbunnya semak-semak menuju jalan raya.
****
Di balkon, suasana sangat mencekam. Sirine terus meraung, menambah trauma yang baru saja terjadi. Pak Jaka sampai di tempat mereka dengan napas tersengal-sengal.
"Ibu! Chef! Kalian tidak apa-apa?"
Devina tidak menjawab. Tubuhnya bergetar hebat. Ia memeluk Bu Ines begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bau mesiu yang tipis tercium di udara, bercampur dengan aroma tanah dari pot yang hancur.
"Dia mencoba membunuh Mama, Pak... dia mencoba membunuh Mama..." bisik Devina dengan suara yang nyaris tidak terdengar di tengah raungan sirine.
Bu Ines, meski wajahnya pucat pasi seperti mayat, mencoba mengusap punggung putrinya. "Mama tidak apa-apa, Nak... Mama di sini... Allah masih melindungi kita."
Namun, di dalam hatinya, Bu Ines tahu bahwa Aris sudah bukan lagi manusia. Pria itu sudah menjadi hantu yang haus darah. Luka fisik mungkin tidak mengenai mereka malam ini, namun luka emosional itu kembali terkoyak lebih dalam.
Tak lama kemudian, sebuah mobil melesat masuk ke area lobi dengan rem yang berdecit keras. Gavin keluar dari mobil bahkan sebelum mesinnya mati sempurna. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa setelah menerima peringatan darurat dari sistem keamanan apartemen yang terhubung ke ponselnya.
Ia berlari menaiki tangga dan menemukan Devina serta Bu Ines yang sedang ditangani oleh petugas medis di lobi. Saat melihat Gavin, pertahanan Devina runtuh sepenuhnya. Ia melepaskan pelukan ibunya dan menghambur ke pelukan Gavin.
"Gavin... dia kembali... dia punya senjata..." isak Devina di dada Gavin.
Gavin memejamkan mata, mendekap kepala Devina dengan protektif. Matanya menatap ke arah taman kegelapan di luar, di mana Aris menghilang. Rahangnya mengeras. Rasa bersalah karena tidak ada di sana saat penembakan terjadi bercampur dengan kemarahan yang meluap.
"Aku bersumpah, Devina... aku bersumpah ini adalah terakhir kalinya dia bisa menyentuh ketenanganmu," bisik Gavin dengan nada yang dingin dan penuh janji kematian.
Di luar sana, di bawah lampu jalan yang remang-remang, Aris Wicaksana berlari menjauh. Ia menyeka keringat di wajahnya, seringai tipis muncul di bibirnya yang pecah. Penculikan kedua tidak gagal; ia baru saja memulai tahap penghancuran mental. Ia akan menunggu sampai mereka merasa paling aman, sebelum ia menerkam kembali.
****
Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah atmosfer kota pun ikut membeku oleh teror yang disebarkan seorang pria yang telah kehilangan akal sehatnya. Di bawah pengawalan ketat tim keamanan pribadi keluarga Aryaga, sebuah evakuasi sunyi sedang berlangsung.
Gavin Wirya Aryaga berdiri di depan lobi apartemen, matanya terus memindai setiap sudut gelap, setiap bayangan pohon yang bergoyang, dan setiap kendaraan yang melintas. Tangannya tak lepas dari gagang pintu mobil SUV antipeluru yang mesinnya sudah menderu halus.
"Cepat, Devina. Bawa Mamamu masuk," perintah Gavin dengan nada rendah namun penuh ketegasan.
Devina menuntun Bu Ines yang langkahnya masih gontai. Wajah ibunya tampak kosong, trauma akibat tembakan di balkon tadi masih menggelayuti jiwanya. Di belakang mereka, Bu Imroh berjalan dengan memegang erat tasbihnya. Wanita tua itu baru saja dijemput dari safe house sebelumnya untuk dipindahkan ke lokasi yang lebih rahasia—sebuah villa terpencil di kaki gunung yang hanya diketahui oleh lingkaran dalam keluarga Gavin.
"Kita akan aman di sana, Bu. Aris tidak akan bisa menemukan tempat ini," bisik Devina mencoba menenangkan Bu Imroh yang tampak sangat rapuh.
Bu Imroh hanya mengangguk kecil, bibirnya tak henti bergerak merapalkan doa. Ia tidak takut mati, namun ia takut jika kematiannya justru menjadi beban bagi orang-orang baik yang menolongnya.
****
Beberapa ratus meter dari posisi mereka, di sebuah bangunan tua yang terbengkalai, Aris Wicaksana sedang bertelungkup di atas lantai beton yang berdebu. Matanya terpaku pada celah jendela, mengintip melalui teropong senapan rakitan yang telah ia modifikasi.
Kegilaan telah merasuki setiap sel di tubuhnya. Rambutnya kini berantakan, dan aroma alkohol bercampur mesiu menguar dari pakaiannya yang kotor. Aris tidak lagi peduli pada Devina saat ini; ia hanya ingin menghancurkan apa yang paling berharga bagi Gavin dan Devina.
"Kalau aku tidak bisa bahagia, tidak ada seorang pun yang boleh tersenyum," desis Aris.
Bidikan senjatanya bergeser perlahan. Ia melewati wajah Gavin yang nampak waspada, melewati Devina yang sedang membantu ibunya masuk ke kabin mobil, dan akhirnya berhenti tepat di tengah kerudung tua milik Bu Imroh.
Bagi Aris, Bu Imroh adalah simbol dari kegagalan pertamanya menyembunyikan kejahatan terhadap Salsa. Wanita tua ini adalah hantu dari masa lalunya yang menolak untuk diam.
"Selamat jalan, Ibu Mertua sayang," gumam Aris dengan seringai mengerikan.
****
Tepat saat kaki Bu Imroh hendak melangkah masuk ke dalam mobil, sebuah dentuman keras memecah kesunyian malam.
DAR!
Peluru itu menghantam bingkai pintu mobil, hanya beberapa sentimeter dari kepala Bu Imroh. Percikan logam dan serpihan cat mengenai wajah wanita tua itu. Bu Imroh mematung, matanya membelalak menatap lubang peluru yang masih berasap di hadapannya.
"TIARAP! SEMUA TIARAP!" teriak Gavin.
Gavin dengan refleks kilat menarik tubuh Bu Imroh hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai aspal, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Di saat yang sama, tim keamanan Gavin yang merupakan mantan personel militer segera bereaksi.
DAR! DAR! DAR!
Baku tembak pecah seketika. Tim keamanan Gavin membalas tembakan ke arah sumber api di bangunan tua, menciptakan kilatan-kilatan cahaya di tengah kegelapan. Suara peluru yang memantul di aspal dan badan mobil antipeluru terdengar seperti hujan es yang mematikan.
"Bawa mereka masuk! Sekarang!" perintah Gavin kepada sopirnya sambil merayap di aspal, memastikan Bu Imroh tidak terkena peluru nyasar.
****
Bu Imroh gemetar hebat. Ia tidak bisa mendengar apa-apa selain denging panjang di telinganya. Napasnya pendek-pendek, dan tasbih di tangannya terlepas, butirannya berhamburan di atas aspal seperti air mata yang membeku.
"Salsa... Salsa..." rintihnya lirih, mengira maut telah menjemputnya.
Devina yang berada di dalam mobil menjerit histeris melihat ibunya dan Bu Imroh dalam bahaya. "GAVIN! BAWA IBU MASUK! GAVIN!"
Gavin berhasil menyeret Bu Imroh masuk ke kursi belakang, tepat sebelum sebuah peluru kembali menghantam kaca mobil yang sudah diperkuat. Dengan gerakan cepat, Gavin menutup pintu dan mengunci sistem keamanan dari luar.
"JALAN! SEKARANG!" teriak Gavin pada sopirnya.
Mobil itu melesat pergi dengan decitan ban yang memekakkan telinga, meninggalkan area baku tembak yang masih riuh oleh letusan senjata. Di kursi belakang, Bu Imroh hanya bisa menatap kosong ke depan. Ia selamat secara fisik, namun jiwanya terguncang hebat. Ia melihat maut begitu dekat, mencium bau belerang yang nyaris merenggut nyawanya untuk kedua kalinya.