Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Bersenang Senanglah
Sehari setelah kepergian Tama, Kara baru keluar rumah. Dia kembali diajak untuk berkumpul dengan teman-temannya di sebuah kafe, kali ini Devi yang mengajaknya.
Kebetulan Kara ingin membalas perlakuan Devi di masa lalu. Setelah Sarah dan Arka menikah, Devi menyewa preman untuk melecehkannya, untung saja saat itu ada seseorang berteriak minta tolong, sehingga Kara berhasil lolos.
Kali ini Kara ingin melakukan hal yang sama, dia akan memulai dari yang terkecil lebih dahulu.
Tiba di kafe, sama seperti sebelumnya, pesanan mereka sudah habis setengahnya. Sedangkan untuk pesanan Kara masih sementara dibuat.
"Kar kamu kemana saja? Akhir-akhir ini Kamu jarang kumpul bareng kita?" tanya Devi.
"Tidak ke mana-mana!" balas Kara sambil menatap Devi.
"Oh kirain kamu tidak ingin nongkrong bareng kita lagi. Tapi kata Sarah, kamu sudah tidak membenci suami lagi?"
Kara melirik Sarah yang sedang sibuk dengan ponselnya, tapi telinganya diam-diam mendengar obrolan mereka.
"Ya. Ternyata suamiku sebaik itu, jadi tidak ada untungnya kalau aku membencinya. Malahan, sekarang apapun yang aku minta langsung dituruti tanpa pikir panjang!"
"Benarkah? Jadi kamu tidak jijik lagi dengannya?" Tanya Sarah akhirnya bersuara.
Tangan Kara mengepal di bawah meja, dia menahan emosinya agar tidak meledek. Karena dirinyalah kata jijik itu melekat pada Tama.
"Tidak! Karena aku tidak membencinya lagi." Kara menjawabnya dengan serius, bisa dikatakan saat ini dia sudah sangat mencintai suaminya.
Sarah dan yang lainnya saling lirik, seolah-olah mengatakan, apa yang mereka bicarakan tadi ternyata benar.
Kara hanya memesan segelas jus! Dia tidak punya nafsu makan jika sudah melihat wajah mereka.
"Kar, kau tidak tiba-tiba tidak ingin ke toilet lagi kan?" tanya salah satu dari mereka yang masih mengingat kejadian sebelumnya.
Kara tertawa dalam hati, setrauma itu mereka ditinggal pergi. "Kenapa emang kalau aku tiba-tiba ke toilet? Ada yang salah?"
Semua terdiam, tidak ada yang salah. Tapi seharusnya Kara membayar biaya makan mereka sebelum pergi, itulah yang ada di dala hati mereka.
"Soalnya kemarin kau tiba-tiba pulang!" ucap Devi, "Jadi terpaksa kami yang bayar semua makanannya!" keluh Devi.
"Ya Kar. Kau tidak ada niatan untuk gantiin uang kami?" timpal Sarah bertanya.
Kara hanya bisa mengutuk dirinya yang di masa lalu, kanapa dia begitu bodoh mau berteman dengan orang seperti mereka.
"Kan memang harusnya kalian yang bayar, karena kalian yang mesan kalian juga yang makan! Dan untuk apa aku mengganti uang kalian? Aku merasa tidak pernah meminjamnya!" balas Kara dengan to the point.
Semua menatap Kara dengan tatapan tak percaya, ternyata Kara benar-benar berubah seperti yang dikatakan Sarah, dan penyebabnya seseorang yang bernama Sisil.
"Biasanya, kau tak pernah membiarkan kami keluar uang sepeser pun!"
"Ya. Biasanya juga kamu TF!" kata Devi.
"Gara-gara keluar uang, kita tidak jadi liburan!"
Satu persatu mengeluh tentang sikap Kara yang berubah, Kara tidak lagi membayar makan mereka, tidak lagi mengajak mereka shopping dan berlibur.
Mereka mengeluh karena sudah terbiasa dengan Kara yang selalu menjadi ATM berjalan mereka, dan tiba-tiba Kara berubah, rasanya ada yang hilang dalam hidup mereka.
Kara tertawa mengejek, "Ternyata aku sepenting itu dalam hidup kalian. Ingat ya! mulai sekarang jangan harap sepeserpun dariku!"
Semua menatap Kara dengan tatapan tidak terima. Mereka bertanya-tanya, apa yang dikatakan Sisil sampai Kara tidak lagi mau mentraktir mereka?
"Untuk terakhir kalinya, aku mengajak kalian. Mungkin kedepannnya kita tidak pernah bertemu lagi."
"Kar kau tidak ingin berteman dengan kami lagi?" tanya Sarah dengan panik.
"Emang kau mau ajak kami ke mana?"
"Ya. cukup sampai di sini saja. Aku ingin mengajak kalian karaoke!"
Mereka semua akhirnya setuju, setelah membayar masing-masing mereka menuju Mall terdekat dan Kara langsung memesan ruang VIP.
Akhirnya kemarahan mereka sedikit mereda, karena masih bisa menikmati ruang karaoke yang mewah itu.
Kara bahkan memesankan mereka banyak makanan dan minuman, padahal mereka baru saja dari kafe.
"Kar terima kasih yaa.. Ternyata kamu masih sepeduli itu sama kami!" kata Devi dengan sumringah.
"Ya Kar, kami ingin bernyanyi dulu!" timpal Sarah lalu ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Ya bersenang-senanglah!" kata Kara dengan menyeringai.
Akhirnya mereka berkaraoke sampai lelah, bahkan ada yang sudah tertidur di sofa. Dan baru meninggalkan Mall setelah pukul 10 malam.
Mereka pulang ke rumah masing-masing, Sarah nebeng dengan Devi, karena mobilnya masih di bengkel.
"Hati-hati di jalan!" kata Kara sambil tersenyum, dia tidak sabar menunggu hari esok.
Sarah dan Devi melambaikan tangan, Keduanya tidak menyadari sikap Kara yang aneh.
...----------------...
Sarah meminta Devi untuk menginap di rumahnya, tapi Devi menolak. Dia langsung putar balik dan tancap gas.
Dia melewati jalan yang pernah dilalui Sarah atas sarannya agar lebih cepat sampai. Devi sudah melewati jalan itu berulang kali, tapi kali ini dia merasa suasananya sedikit berbeda.
Jalan itu memang sepi, tapi sepanjang jalan Devi tidak melihat satu pengendara lainnya, dia tiba-tiba jadi takut, apalagi mengingat kecelakaan Sarah setelah perempatan.
Dan ya, dia juga mengalami hal yang sama, tapi dia sedikit berbeda. Karena pengendara itu hanya naik motor.
TIIIIIINNN.....
TIIIIINNNN....
"Hei dasar budek! Minggir woiii.., ketabrak baru tau rasa!" teriak Devi sambil membuka kaca mobil.
Tapi orang itu masih berkendaraan di depannya dengan pelan, seolah-olah tidak mendengar suara klakson atau teriakan Devi.
Namun Tiba-tiba, orang itu ngerem mendadak. Membuat Devi panik sehingga dia tidak sempat menginjak remnya.
BRUUKK..
BRAAKK..
Devi menabrak motor orang itu hingga terjatuh. Seorang pria bangkit dan menghampiri Devi dengan marah.
Tok tok
"Keluar!" bentaknya.
Devi yang masih panik segera keluar dari mobilnya. Untung saja orang itu tidak kenapa-kenapa.
"Hei kau tuli yaa? Kau tidak dengar bunyi klakson haa?" tanya Devi dengan marah.
Pria itu berbadan besar, dengan tubuh penuh tato seperti preman pasar. "Aku tidak peduli, kamu harus ganti rugi.!"
Devi makin marah, orang itu yang salah, tapi dia yang nuntut. Lucu sekali hidup ini, "Dasar Preman bau, seharusnya aku yang menuntutmu!"
Plaakkk..
Preman itu sangat marah, "Siapa yang kau bilang bau haa? Kau tau dari mana aku bau? Kau sudah mencium tubuhku?"
Devi meringis karena tamparan itu, dia ingin membalas tapi dia tidak berani. "Huueekk,, siapa juga yang mau mencium tubuh busukmu itu!" Katanya dengan Jijik, sambil menutup hidung.
Preman menatapnya dengan datar, awalnya hanya ingin membuatnya ketakutan, tapi gadis itu malah menantangnya, jadi apa boleh buat.
"Pegang dia, dan ikat tangannya!" pintanya kepada orang yang ada di belakang mobil.
Devi langsung panik, ternyata mereka satu komplotan. "Kalian mau apa?" tanyanya sambil melangkah mundur.
"Membuatmu mencium tubuhku yang bau ini!" balasnya sambil membelai wajah Devi. "Ternyata kau cantik juga, kau ganti rugi saja dengan ini!" lanjutnya dengan menatap Devi dari atas sampai bawah.
"Tidaaaak.. Jangan aku mohon!"
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍