yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Dengan tangan gemetar Yaseer kembali ke tenda nya. Sungguh penjelasan yang sebenarnya ingin dia dengar, hari ini malah menjadi mimpi terburuk nya.
Hampir saja tadi ia menyerang tawanan itu jika tuan Ahmad tak sigap menahannya. Dari informasi itu, abangnya sudah dipastikan tak baik-baik saja.
Yaseer terpekur di atas tempat tidur nya. Ingin ia menangis, berteriak memberontak mengapa orang-orang seperti abangnya mendapatkan penyiksaan yang tak berperikemanusiaan.
" Ya Allah...lindungi Abang dan orang-orang yang tak bersalah lainnya ..." Lirih nya.
" Baba....Abang... Hiks...hiks...." Tak kuasa ia menahan perih nya.
" Yaseer ...." Panggil tuan Ahmad pelan begitu masuk ke dalam tenda dan mendapati Yaseer yang menunduk dalam dengan bahu bergetar.
Yaseer segera menghapus air matanya, dan mengangkat wajahnya. " Maaf tuan.... " Kata pertama nya serak.
Tuan Ahmad menghampiri nya dan duduk di hadapan nya. Tangan nya terangkat mengelus lembut kepala Yaseer. " Menangis lah jika itu melegakan mu.."
Yaseer tak tahan lagi. Dengan perlakuan tuan Ahmad kepadanya, Ia menghambur memeluk tuan Ahmad meluapkan emosinya dengan menangis tergugu.
Mata Tuan Ahmad pun berkaca-kaca. Merasakan beratnya beban yang Yaseer alami. Ia mengusap punggung bergetar Yaseer naik turun, mencoba menenangkan bahwa ia tak sendirian.
****
" Ummi, Tadi aku liat Kaka berlari ke dalam tenda, kenapa ya?" Tanya Abia heran menghampiri umminya yang sedang mencuci peralatan bekas memasak di dapur umum.
Laila mengerutkan kening nya " Mungkin Kaka ada yang perlu diambil." Jawab ummi sekenanya.
" Tapi kayak orang marah mi.." Pikir Abia mengingat raut wajah Kaka nya tadi.
Laila menghentikan gerakan tangannya. " Marah?.... Kenapa...?"
" Ya engga tau mi, makanya aku tanya ummi...." Jawab Abia mengangkat bahu.
" Nanti kita cari tau ya.. Ummi juga tidak mungkin masuk ke tenda laki-laki " Putus Ummi nya.
Laila segera menyelesaikan aktivitas nya. Ia tak tenang dengan pernyataan Abia, putri bungsu nya. 'Apa ia sudah mendapatkan informasi dari tuan Ahmad tentang abangnya?' Sentak batin nya.
Ia makin gelisah.. " E.. Nyonya Halimah, maaf bisa kau lanjut kan ini, ada beberapa lagi, saya harus memastikan sesuatu, penting..!" Pinta nya hati- hati pada seorang ibu di belakang nya yang sedang membereskan peralatan yang sudah selesai di cuci oleh Laila.
" Baiklah. Selesaikan urusan mu.!." Setuju nya tak masalah.
"Syukran jaziilan... (terima kasih banyak)." Ucap Laila tersenyum lega.
Laila segera berjalan mendekati tenda laki-laki. Di lihat nya Tuan Ahmad akan masuk ke dalam tenda.
" Em assalamualaikum tuan,..maaf.." cegah Laila cepat. Tuan Ahmad menoleh ke arah suara.
" Tuan, saya menghawatirkan putraku Yaseer, bisakah anda melihat nya?" Pinta Laila sungkan.
" waalaikumussalam....Iya, saya memang akan menghampiri Yaseer. Sepertinya ia tak baik-baik saja.." Jawab tuan Ahmad melihat sejenak ke arah Laila.
Laila tersentak, Tuan Ahmad berarti mengetahuinya. " Tolong tuan, bantu saya.. " Pinta nya menangkup kan tangan.
Tuan Ahmad mengangguk kan kepala pelan. Dan pamit masuk kedalam tenda.
Laila di luar tenda sedikit menjauh dan menunggu kabar berikutnya dari Yaseer.
****
Yaseer meluapkan semua emosi nya yang tertahan. Ternyata pelukan tuan Ahmad berpengaruh besar pada kondisi kejiwaannya.
Setelah mulai tenang, Yaseer mengurai pelukannya pada tuan Ahmad. Di lihat nya baju orang di depan nya basah kuyup oleh airmata dan ingus nya.
Yaseer panik, dan segera mencari kain untuk mengelap nya. " Eee... Maaf tuan... Aduh.."
Tuan Ahmad yang melihat tingkah Yaseer terkekeh pelan. " Sudah nangis nya?"
Wajah Yaseer memerah malu karena sikapnya yang kekanakan sekali. "Maaf tuan... " katanya lagi sambil manarik tangannya dari baju tuan Ahmad dan menunduk hormat tak enak hati.
" Ini akan menjadi saksi...." Tunjuk tuan Ahmad pada baju nya yang basah.
" Hah .... duh..Maaf kan saya tuan... " Yaseer makin panik.
" Tenang lah.... Ini akan menjadi saksi bahwa saya masih mempunyai anak yang mengadu menangis di pelukan saya.." Kata tuan Ahmad santai.
Yaseer melongo dengan pernyataan orang yang sangat ia hormati itu. "Tingkah mu seolah seperti anak ku telah kembali..." Kata tuan Ahmad lagi menatap lekat mata Yaseer yang sembab.
" Tuan... " Lirih Yaseer tak percaya.
" Putraku pun tak jauh usianya dengan mu, sudah lama saya tidak memeluknya seperti tadi." Kata tuan Ahmad dengan pandangan kosong ke depan.
" Dan saya pun sudah lama tidak merasakan pelukan baba...." Kata Yaseer pelan.
Keduanya saling tatap dan terkekeh bersama. tidak ada yang lucu, namun keadaan mereka yang ternyata saling membutuhkan.
" Sekali lagi maafkan saya tuan, saya tidak bisa menahan diri.." Celetuk Yaseer setelah beberapa saat terdiam.
" Ya... Kondisi kita memang sangat berat. musuh kita memang bukan raksasa seperti Jalut, raja yang kejam seperti Fir'aun, atau penguasa psikopat seperti H*tler.....—
" Tapi poin penting nya, semua bisa di hentikan dengan kuasa Allah melalui perantara tangan-tangan makhluqnya." Jelas nya pelan dan tenang.
" Kita harus yakin bahwa kita pasti bisa mengalahkan para penjajah itu dengan pertolongan Allah.."
" Mungkin bukan dengan rudal, atau roket atau pedang. Bahkan Jalut saja bisa tumbang hanya dengan lemparan batu kecil...."
" Kau tahu itu bukan?" tanya tuan Ahmad pada Yaseer sambil tersenyum.
" Ya.... Batu-batu itu berbicara pada Nabi Daud yang masih anak-anak..." Jawab nya menerawang mengingat kisah yang pernah di ceritakan baba nya.
" Ya itulah yang mendasari kita melempari batu-batu pada para penjajah yang di ibaratkan Jalut supaya tumbang..." Sambung Tuan Ahmad.
" Ending dari perjuangan kita pada penjajah ini, mirip dengan kisah Jalut. Bahwa nanti, batu dan pohon semua akan berbicara memberitahu posisi para penjahat ini.... " Kisah singkat yang hampir mirip tapi memang tidak sama.
" Lalu kita habisi mereka.. Dor..dor..dor..!!!" Semangat Yaseer kembali.
" Yah semoga tak lama lagi.. " Harap mereka berdua.
****
" Ummi tadi nyari aku ?" Tanya Yaseer ketika melihat umminya di depan tenda.
" Iya, kakak baik-baik aja kan?" Tanya ummi khawatir menangkup wajah putra nya.
" Iya mi, Alhamdulillah ada tuan Ahmad yang nemenin Kaka di tenda tadi..." Jawab Yaseer dengan wajah ceria seperti biasa.
" Memang tadi Kaka kenapa?"
" Abia lihat kamu masuk tenda dalam keadaan marah.." Introgasi umminya.
" Tadi kami selesai latihan, tuan Ahmad mendatangkan tawanan kita. Dan bertanya-tanya tentang para tawanan di penjara mereka.." Jelas Yaseer mulai bercerita.
" Tuan Ahmad memberikan beberapa pertanyaan. Dan dipertanyakan ke berapa ya, aku juga lupa.... Rasanya tangan aku gatel banget pengen n*njok muka sok polos tawanan tu.." lanjut Yaseer menggebu.
" Hampir aja tadi aku nyerang dia. bersyukur saja dia, tuan Ahmad nyegah aku. Jadi selamat lah dia..." Kata Yaseer dengan sedikit rasa tak suka.
" Aku lupa sama janji aku mi untuk tenang, aku emosi mi.. Jadi aku tinggal aja ke tenda.." akhir cerita singkat nya.
" Kakak nangis..?" Bukan ummi, tapi Abia yang tanya.
" Enggak...ya.." Jawab Yaseer cepat.
" Enggak salah... !!" Sambar Hania yang baru bergabung.
" Ini lagi satu, nyamber aja kaya petasan.." Cibir Yasser tak terima.
" Udah sih ngaku aja. Muka kamu aja masih sembab gitu. Pasti nangisnya kejer banget..." Ledek Hania puas.
" Iya sih.. Sampe baju tuan Ahmad basah kena ingusku.." Katanya meringis.
" Iih jorok banget kamu....!" Syok Hania dengan mata melotot.
" Apaan sih, beliau aja santai kok, akak yang marah-marah.... Heran deh..." Kata Yaseer buang muka.
Ummi dan Abia hanya memperhatikan saja perdebatan dua anak di depannya.
" Ummi, kalo tuan Ahmad jadi baba kita gimana?"
Eh...
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.