Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar dari Pak Marsuki
Sebelum berangkat ke pos ronda, Daud teringat pesan ibunya. Langkahnya pun berbelok menuju rumah Pak Marsuki yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Langit sudah mulai gelap. Sisa cahaya senja perlahan menghilang, digantikan warna kelabu yang membuat suasana desa terasa lebih sepi. Karena semanjak kejadian aneh yang terjadi di desa, para warga sudah tidak berani lagi keluar rumah saat magrib.
Daud berhenti di depan rumah Pak Marsuki.
"Assalamu’alaikum." Ucapnya pelan sambil mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dari dalam.
Pintu terbuka.
"Wa’alaikumsalam… eh, Daud?" Pak Marsuki terlihat sedikit terkejut.
"Iya, Pak. Maaf mengganggu." Daud mengangguk sopan.
"Lho, tidak apa-apa. Ada apa malam-malam begini?" Tanya Pak Marsuki sambil mempersilakan Daud masuk.
Daud melangkah masuk ke dalam rumah. Dua duduk di kursi kayu sederhana di ruang tamu.
Dia sempat ragu sejenak. Namun akhirnya ia bicara.
"Begini Pak, Saya mau minta tolong, Pak." Daud mulai mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah Pak Marsuki.
Pak Marsuki langsung duduk di depannya, wajahnya berubah sedikit serius.
"Tolong apa?" Tanya Pak Marsuki yang juga penasaran, karena tumben sekali Saud mampir kerumahnya.
Daud menelan ludah.
"Itu, Pak.. saya dengar Bapak kemarin ketemu… makhluk begituan." katanya pelan.
Pak Marsuki langsung mengangkat alis, lalu tersenyum kecil.
"Oalah… yang itu." Katanya santai.
Daud mengangguk.
"Saya mau ronda malam ini, Pak. Jadi… kalau boleh, saya minta bacaan atau apa saja, biar tidak diganggu." Ujarnya malu-malu.
Pak Marsuki bersandar, lalu tertawa kecil.
"Wah, kamu juga takut, toh." Godanya.
Daud hanya tersenyum kaku.
"Ya… buat jaga-jaga saja, Pak."
Pak Marsuki mengangguk-angguk pelan, seolah memahami.
"Bagus. Berarti kamu ini anaknya mau belajar." Katanya.
Dia lalu mendekat sedikit.
"Dengar ya." Ucapnya dengan suara dibuat pelan, seakan ingin terlihat meyakinkan.
Daud langsung menegakkan duduknya.
"Kalau kamu ketemu yang begituan. Jangan takut duluan." lanjut Pak Marsuki.
Daud mengangguk cepat.
"Baca apa saja yang kamu hafal. Yang penting niatmu kuat."
Daud memperhatikan dengan serius.
Pak Marsuki lalu menambahkan.
Kalau saya kemarin, saya cuma bilang, Pergi kamu! Jangan ganggu saya!" Dia lalu tertawa kecil.
Daud terdiam. Antara percaya dan ragu.
"Kalau bisa, mungkin ada bacaan tertentu, Pak?" tanyanya pelan.
"Yang… lebih khusus begitu?"
Pak Marsuki yang awalnya bersandar langsung sedikit menegakkan duduknya. Wajahnya dibuat serius, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang penting.
"Hmm…" gumamnya.
Padahal di dalam hatinya, dia sendiri juga bingung.
Namun karena gengsi, dia tidak mungkin mengaku tidak tahu.
"Oh, ada…" Jawabnya akhirnya, sambil mengangguk pelan.
Daud langsung menatapnya penuh harap.
Pak Marsuki berdehem kecil, lalu mendekatkan tubuhnya, seolah ingin membisikkan sesuatu yang rahasia.
"Ini bacaan khusus." Katanya pelan.
Daud makin fokus.
"Tidak semua orang tahu."
Daud mengangguk cepat.
"Kalau kamu ketemu setan dedemit, kamu baca ini."
Pak Marsuki kemudian mulai meracau dalam bahasa Jawa, yang dia baru saja pikirkan tadi.
"Eyang… lelembut ojo ngganggu… sing penting aku wong bener, ojo cedhak, bali kono, sak karepmu yo wis kono wae." Ucapnya dengan gaya penuh keyakinan, seperti pintar yang bacaannya begitu mujarab.
Daud mengernyit sedikit. Namun dia tetap mendengarkan.
"Ulangi tiga kali. Sambil tahan napas" Lanjut Pak Marsuki.
Daud mencoba mengingat.
"Iya, Pak." Jawabnya.
"Dan jangan lupa…" tambah Pak Marsuki lagi, makin berlagak.
"Kalau bisa, tatap lurus. Jangan kedip."
Daud mengangguk menurut.
"Baik, Pak. terima kasih."
Pak Marsuki tersenyum puas.
"Iya. Yang penting yakin. Kalau kamu yakin, dia yang takut." Kata Pak Marsuki.
Daud berdiri, lalu berpamitan.
"Assalamu’alaikum, Pak." Ucap Daud.
"Wa’alaikumsalam." Sahut Pak Marsuki.
Daud keluar dari rumah itu.
Langkahnya kembali menyusuri jalan yang mulai gelap.
Di dalam kepalanya, bacaan itu masih terngiang. Dan di sepanjang jalan dia terus mencoba menghafalkan bacaan yang di ajarkan oleh Pak Marsuki itu.
Di sepanjang jalan menuju pos ronda, Daud berjalan pelan. Mulutnya komat-kamit.
"Eyang… lelembut ojo ngganggu." Lafalnya pelan.
Dia mengulanginya lagi.
"Sing penting aku wong bener… ojo cedhak… bali kono…"
Daud mengernyit.
Beberapa bagian bahkan mulai terdengar aneh di telinganya sendiri.
Dia berhenti sejenak.
"Lho… tadi apa ya?" gumamnya pelan.
Dia mencoba mengingat lagi.
Namun kata-katanya mulai bercampur.
"Sak karepmu… eh… sak… apa tadi…" Daud menghela napas.
Dia kembali berjalan.
"Ah, pokoknya begitu lah." Desisnya pelan, sedikit kesal.
Namun tetap saja, ia terus mengulang-ulang sebisanya.
Entah karena benar-benar ingin hafal, atau karena dia butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya dari rasa takut yang menghantui dia beberapa hari ini, di tambah lagi dengan mimpinya tadi yang terasa begitu nyata.
Langit semakin gelap. Lampu-lampu rumah warga mulai jarang terlihat.
Jalan yang dia lalui kini lebih sepi. Daud tanpa sadar mempercepat langkahnya.
"Eyang… lelembut ojo ngganggu…" ucapnya lagi, kali ini sedikit lebih cepat.
"Daud…" Suara itu tiba-tiba memanggil dari belakang.
"Ah...!" Daud langsung terperanjat. Tubuhnya refleks berbalik dengan wajah pucat.
"Din, kamu buat kaget saja." Katanya sambil menepuk dadanya yang masih berdebar.
"Kamu kenapa, Dud? Pucat begitu." Udin mengernyit melihat wajah Daud.
Daud menggeleng cepat.
"Tidak apa-apa, aku cuma kaget saja." jawabnya, mencoba terdengar biasa.
Udin masih menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
"Kamu mau ke mana Din?" tanya Daud, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lho, kamu lupa?" Jawab Udin.
Daud mengerutkan kening.
"Malam ini kan giliran kita, aku, kamu, sama Jaka yang keliling ronda." lanjut Udin.
"Oh… iya…" gumamnya pelan, seolah baru ingat.
Udin memperhatikan lagi.
"Kamu ini kenapa sih? Dari tadi aneh." katanya.
Daud memaksakan senyum kecil.
"Tidak apa-apa, Din. Cuma… kepikiran saja."
Mereka berjalan berdampingan di jalan yang mulai gelap.
Beberapa langkah berlalu dalam diam.
Udin melirik ke arah Daud.
"Dari tadi kamu komat-kamit, ngapalin apa sih?" tanyanya akhirnya.
"Hah?" Daud menoleh.
"Iya, aku tadi manggil kamu sampai dua kali. Kamu malah tidak dengar." Lanjut Udin.
"Oh… itu…" katanya ragu.
"Itu apa?" Udin menatapnya penasaran.
Daud menghela napas pelan, lalu menjawab seadanya.
"Cuma… doa biasa." Katanya singkat.
"Doa?" ulang Udin.
"Iya… buat nenangin diri saja." Kata Daud berbohong.
Udin menatapnya beberapa detik, karena tumben-tumbenan orang yang malas menghafal seperti Daud tiba-tiba mau menghapal doa.
"Tumben kamu." Katanya Udin heran.
"Iya… lagi pengen saja." Sahut Daud sambil tersenyum tipis.
Udin mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih menyimpan sedikit curiga.
"Ya sudah, yang penting jangan sampai kamu jalan sendiri kayak orang kesurupan saja." katanya setengah bercanda.
Daud hanya tertawa kecil.
******
Buat para pembaca tolong tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote bintang lima ya. Biar author tahu kalian baca, dan biar author semangat up-nya. Terima kasih