Seri pertama Cinta Tak Perna Salah mengangkat
Kisah Cinta antara Jeanne dan Jeremy yang berawal cinta itu tumbuh saat mereka usia remaja di sebuah asrama tentara. Kedua orang ini adalah anak tentara ini, Jeanne dan Jeremy sama - sama didik dalam tradisi dan kebiasaan orangtua mereka agar anak - anak ini kuat. Ketika mereka dewasa perpisah terjadi karena tugas dari orangtua mereka. Namun perasaan cinta itu sudah semakin tumbuh. Namun terhalang Karena keakraban orangtua, ditambah orangtua Jeremy menjadikan Jeanne seperti anak perempuan mereka.
Namun takdir berkata lain Jeremy Alexander Purba ditugaskan di Papua, tepatnya di kesatuan yang dulu ditumbuh dan dibesarkan. Dan mereka bertemu kembali setelah Jeanne sudah menjadi dokter, perasaan yang lama tersimpan, kembali bersemi.
Bagaimana kisah cinta Jeanne dan Jeremy ini???
Apakah salah Jeremy mencintai Jeanne yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jean Hamil Lagi
Malam harinya Jean memeriksa kandungannya sebelum mereka berangkat, agar bisa memilih transportasi apa yang mau digunakan untuk kembali ke Jakarta.
Dia sudah di ruangan periksa, sementara di USG memperlihatkan keadaan calon bayi mereka yang sudah berusia dua bulan. Janin itu sehat terdengar denyut jantungnya. Jemy memegang tangan istrinya. Sesekali dia mencium kening dan bibir istrinya.
"Mau rencana bayi laki - laki atau perempuan dokter??"
"Mau sih ada perempuan, namun laki - laki atau perempuan bebas seberi Tuhan."
"Saran saya, melihat kandungan dokter. Mungkin ini yang terakhir."
"Iya dokter."
Jemy begitu bahagia, orangtua kami juga, kedua abangnya juga senang. Apalagi Joan dia yang lebih bahagia. Malam ini mereka bersembilan ditambah Leo ajudan Jemy makan bersama. Leo sangat takjub dengan konsep rumah yang mengabungkan dua keluarga yang sudah dari anak - anak mereka lahir berteman.
"Jadi bapak dan ibu anak kolong juga??" ( anak kolong adalah sebuatan buat anak - anak tentara atau polisi yang tumbuh besar di lingkungan asrama militer.)
"Iya, waktu kedua orang tua ini berdinas di Papua."
Leo ajudan Jemy jadi tahu, semua tentang kehidupan komandannya waktu dulu. Dia senang sekali mendengar kisah mereka sampai menikah, bukan dari mulut atasan dan istrinya namun lewat orangtua dan adeknya komandan.
"Jadi ibu yang disayangi sama papi??"
"Iya, Papi panggilkan boru, waktu dia komandan kamu mau melamar, papi ngak setuju karena gelar boru itu, anak perempuan pertama kesayangan."
"Sampai sekarang juga masih kesayangan. Aku selalu di duakan."
"Adek......"
"Love you kakakku cantik."
Malam ini tumben Jayden dan Jovan mau bobo dengan mami mereka. Akhirnya oleh Jean di ijinkan. Mereka tidur memeluk maminya. Sebelum tidur mereka bercakap - cakap. Jean terkejut dengan Jovan yang mengatakan.
"Mami sayangkan sama abang dan adek??"
"Mami cinta sama kalian berdua."
Jayden langsung mencium dan memeluk maminya sedangka Jovan mengucapkan terima kasih langsung melakukan hal yang sama seperti abangnya.
"Kalian berdua maukan sayang sama dede kalian nanti."
"Tentu mami." kembar kompak menjawab.
Besok Jean dan Jemy orangtua mereka akan kembali ke Jakarta menggunakan kereta karena bawaan mereka banyak. Beras organik, dan buah- buahan yang ada di pekarangan rumah.
"Mereka mulai cemburu abang."
Jemy tersenyum, dia membiarkan dia jagoannya tidur memeluk mami mereka. Jemy tidur di sofa kamar. Sebenarnya dia bisa tidur di kamar kembar, namun dia memilih tidur di kamar yang sama dengan istri dan anak - anaknya.
Pagi - pagi semua sudah sibuk mengurus anak - anak sekolah. Papa bersama supir keluarga yang mengantar kedua jagoan Jeremy Alexander Purba ini pergi kesekolah. Sebelum pergi mereka berdua pamit kepada orang rumah terlebih papi dan mami mereka. Jayden mencium perut maminya, begitu juga Jovan.
"Sehat - sehat ya dede bayi. Sampai ketemu dengan abang dan adek ya." Itulah si Jovan yang aktif. Jean mencium mesra kedua anaknya. Dia sedih, namun tidak terlalu, karena dia tahu kedua jagoannya aman dan sejahtera bersama kedua orangtuanya dan bibi mereka.
"Kamu sedih sayang??"
"Sedikit sayang."
"Semalam aku memperhatikan kalian bertiga tidur aku bahagia sekali. Sepertinya mereka berdua mulai cemburu."
"Iya namanya masih anak - anak."
"Kamu mami yang hebat sayang, aku bangga dan bahagia punya kamu."
"Kamu juga papi yang hebat. Selalu melindungi dan mensejahterakan kami. I love you suamiku."
"Love you more istriku sayang." Jemy mencium istrinya di bibir. Perempuan yang sementara mengandung dua bulan ini. Dia akan menambahkan lagi keturunan Purba baginya.
Jemy dan Jean sudah berada di Jakarta menjalankan aktivitas seperti biasanya. Sudah dua bulan ini kedua jagoannya di Jogja bersekolah ada saja tingkah lucu dan pengaduan mereka kepada mami dan papinya di Jakarta lewat vidio call. Jean sangat terhibur, namun hari ini hatinya sedih melihat Jayden anak kembar tertuanya sakit. Mereka juga kadang sakit, tetapi saat ini sedikit berbeda.
"Sayang.... Kalau kamu begini, abang harus bagaimana??? Kita ke Jogja ya." Jean menangis terus menerus sampai dia tertidur. Apalagi sekarang kandungannya sudah empat bulan. Bibinya Joan di Jogja sudah membawa Jayden berobat bersama kedua orangtua laki - lakinya. Karena jika membawa kedua orangtua perempuan pasti rempong. Mama dan mami bertugas menjaga Jovan di rumah.
"Abang jangan kuatir ya. Pasti abang sembuh."
"Iya bibi."
Hasil pemeriksaan lengkap darah dan lain - lain hasilnya sudah keluar. Ternyata Jayden mengalami penyempitan pada pembulu darah di jantungnya. Joan langsung mendaftar Jayden pada dokter spesialis bedah jantung dokter William dokter yang perna menolong papinya yang berdinas di rumah sakit tentara.
Sekarang dokter William sedang konsultasi dengan papi dan maminya Jayden yang ada di Jakarta. Jayden harus di operasi. Mendengar kata operasi itu, Jean menangis. Jemy sudah memerintah Leo membeli tiket besok dia akan berangkat bersama Jean ke Jogja.
Pagi - pagi Jean masuk kerja sebentar saja, karena jam dua belas siang dia akan berangkat ke Jogja karena anaknya akan di operasi sore jam empat. Jean sudah permohonan ijin ke direktur rumah sakit.
"Jayden kelainan jantung dokter."
"Kan aku sudah bilang, itu kelemahan mereka anak kembar. Sedari kecil terdeteksi bagus biar bisa obati, besarnya dia pulih."
"Sabar Jean."
"Iya dokter."
Jean di hibur oleh dua seniornya dokter Widya dan dokter Ricardo. Jean sudah pamit kepada dua senior ini. Jika ada sesuatu mereka akan komunikasi lewat email. Jemy dalam perjalanan menjemput istrinya di ruangan. Dia menggunakan baju preman. Terlihat sangat ganteng, orang tidak tahu bahwa dia seorang bapak beranak empat. Satu meninggal, satu didalam rahim istrinya dan dua anak kembarnya di Jogja.
"Selamat siang komandan."
"Eh.. Dokter Rara, selamat siang. Jemput istri dulu."
"Silahkan komandan." Hati dokter Rara sakit namun dia tetap tersenyum. Hatinya berkata ternyata temboknya terlalu tinggi. Apakah aku harus menyerah. Tak lama Jemy keluar mengandeng istrinya. Dokter Rara yang sedang visit pasien hanya melihat dari jauh. Hatinya sangat sakit. Dia mengutuki adiknya Jemy, Joan yang menghalangi cintanya kepada abangnya.
Jayden sangat tenang. Dia hanya terdiam. Jean mencium anak laki - lakinya.
"Kalau abang takut, abang boleh nangis dalam pelukan mami."
"Abang takut mami." Dia menangis sangat kencang. Jayden Octavian Purba ini mewarisi sifat papanya anak laki - laki itu harus kuat tidak boleh cengeng. Hal itu yang membuat dia tenang. Maminya memeluk dia, memberi ciuman.
"Abang tidak sendiri, mami akan menemani abang di ruangan operasi. Abang senang??"
"Iya mami, abang senang sekali."
"Jagoan papi siap."
"Siap papi."
"Jangan takut, ada Tuhan. Dan ada mami yang temani abang. Dokternya juga hebat."
Jayden tersenyum. Operasi sekitar satu jam lebih dilalui oleh dokter William dan tim. Jean ada disamping anaknya. Jadi waktu dia mau dibius dia melihat maminya. Operasi berjalan lancar, Jean melihat sendiri operasi yang dilakukan oleh dokter William bagi anaknya. Jayden sudah dibawa keluar dari ruang operasi menuju ruang perawatannya.
"Terima kasih dokter Will sudah menolong putra kami."
"Kami yang berterima kasih karena mempercayai kami disini."
Jemy menunggu istrinya dan juga mengucapkan terima kasih buat dokter William.