"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keyakinan seorang istri
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Haya tinggal bersama Antoni di pengungsian. Dia juga belum dapat kabar sama sekali tentang Indro dan Nur. Setiap hari hanya air mata yang selalu menemani mereka.
"Bunda makanlah dulu, nanti kalau Bunda sakit Antoni sama siapa lagi?"
Mendengar suara lirih tapi menyayat hati itu, Haya menjadi bangkit dan berusaha untuk bisa menerima kenyataan hidup.
Sambil menyeka air matanya, Dia memeluk Antoni.
"Jangan khawatir Ant, Bunda akan selalu bersamamu."
(Aku harus kembali ke sana, aku harus memastikan kalau Mas Indro dan Nur selamat)
Dengan terpaksa dan tanpa di rasa, Haya menghabiskan nasi dalam ompreng pemberian petugas yayasan tempat mereka diungsikan untuk para korban kebakaran.
Benar adanya, hari berikutnya Haya kembali ke rumah yang sudah rata dengan tanah dan hanya tertinggal arang bekas bangunan kayu yang terbakar. Suasana masih terasa mencekam meskipun hari masih siang. Dia mengitari tempat itu dan mengorek-ngorek tumpukan tanah dan puing-puing yang sudah menjadi arang. Dengan harapan Dia bisa menemukan petunjuk tentang suami dan anak nya. Seperti orang gila Haya terus mencari dan berpindah-pindah tempat untuk mencarinya.
"Aku tahu kalian pasti selamat, kalian tidak mungkin menjadi arang!"
Ditengah keseriusan Haya dalam pencariannya, datanglah beberapa orang pria mendekatinya. Salah satunya adalah Santana.
"Selamat siang Bu!"
Sapaan dari Kepala Sekolah tempat Nur dan Antoni Sekolah datang bersama beberapa guru dan orang-orang penting lainnya.
Wajah Haya yang masih terlihat linglung semakin memancing penasaran Santana untuk lebih mendekat.
(Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah perempuan ini, apa aku pernah mengenalnya?)
Di saat Santana ingin bergabung dengan Kepala sekolah yang baru berbincang dengan Haya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Setelah melihat layar HP nya ternyata nada dering itu adalah panggilan masuk dari Anita calon tunangannya. Dia pun segera menjauh dari tempat itu untuk menerima teleponnya.
Tidak sebentar Santana menerima telepon dari Anita, hingga Dia kehilangan jejak wanita yang Dia merasa mengenalnya. Santana pun kebingungan mencarinya.
"Tio di mana wanita tadi!?"
"Maksud Tuan wanita yang mana?"
"Wanita tadi! Wanita yang berada bersama Kepala sekolah dan yang lainnya."
"Oh... Dia sudah pergi bersama petugas yayasan Tuan."
Rasa kecewa terpancar dari wajah Santana. Tio pun menjadi penasaran dengan sikap Tuannya yang terlihat begitu panik dengan menghilangnya wanita itu. Dari situ muncullah pemikiran dari diri Tio tentang hubungan mereka.
(Apa wanita itu yang selama ini di cari Tuan Santana, tapi kenapa jauh beda wajahnya dengan foto yang di kirim Nyonya Meri)
Karena waktu sudah menjelang sore, mereka sudah mulai meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan, di mobil Santana terlihat serius dengan memainkan jari tangan di layar HP nya. Tio masih mengawasi gerak-gerik Tuannya dengan teliti dan seksama.
(Aku harus mencari informasi tentang wanita itu, siapa tahu Dia memang orang yang di cari Tuan atau barangkali bisa menjadi petunjuk)
Merasa begitu lelah Santana menyandarkan tubuh nya. Sambil memejamkan kedua matanya Dia terus mengingat-ingat wajah wanita yang tadi sempat dilihatnya.
(Wanita itu pasti ada hubungannya dengan istri dan anak ku, tapi siapa Dia... Siapa??)
Begitu sampai di lobby hotel, Tio meminta Santana untuk masuk terlebih dulu.
"Tuan, masuklah dulu saya mau pergi sebentar."
Tidak menaruh curiga sama sekali pada Tio, Santana dengan wajah datar nya masuk ke dalam hotel.
Begitu tiba di kamar hotelnya, Santana mendapat telepon lagi dari Anita.
"(Mas, besok pagi aku sudah sampai Bandara jangan lupa dijemput, aku ada surprise buat kamu)"
"Besok pagi aku ada meeting, biar Tio saja yang menjemputmu."
Sepertinya Anita tahu kalau itu cuma alasan Santana saja untuk menghindarinya. Dengan berbagai cara Anita membujuk Santana agar Dia mau menjemputnya sendiri. Tapi dengan sifat Santana yang keras kepala, perjuangan Anita terasa begitu sia-sia. Santana dengan tegas mengingatkan kembali pada Anita kalau pernikahannya nanti hanya sebatas kesepakatan saja. Dia juga dengan nada yang tinggi mengatakan pada Anita kalau Dia dan Santika masih ada ikatan pernikahan. Tanpa buang-buang waktu lagi Santana memutus telepon dari Anita. Merasa hari itu sangat melelahkan bagi Santana, tanpa sempat ganti baju Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Setelah memastikan Tuan nya sudah berada di hotel dengan kondisi baik, Tio kembali lagi dengan mode detektifnya. Dia melajukan mobilnya menuju yayasan tempat beberapa korban kebakaran masih diamankan.
Perjalanan yang ditempuh dengan waktu setengah jam itu ternyata tidak membuat Tio sia-sia. Dia masih bisa bertemu dengan kepala Yayasan dan pengurus yang lain.
"Ada apa malam-malam datang kemari Pak?"
Pengurus Yayasan mempersilahkan Tio untuk duduk di ruang tamu. Mereka yang sudah kenal siapa Tio merasa tidak ada rasa khawatir ataupun sungkan lagi. Karena sudah beberapa bulan Santana menjadi donatur tetap untuk Yayasan itu. Dengan perlakuan dan sambutan yang baik, pihak Yayasan berusaha menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Tio.
Meskipun informasi yang Tio peroleh tentang Haya tidak banyak dan kurang lengkap tapi dari cerita mereka Tio bisa mengambil kesimpulan kalau wanita itu ada hubungannya dengan masa lalu Tuannya.
"Baiklah, saya pikir sudah cukup informasi tentang Bu Haya yang kami butuhkan, cuma untuk memastikan bahwa anak dan suaminya masih hidup apa sudah ada tindakan khusus?"
"Kalau untuk masalah itu bukan wewenang kami dan sepertinya sudah ditangani pihak berwajib dan tim nya."
Karena malam sudah semakin larut dan tidak mungkin Tio bisa bertemu Haya, dengan sikap sopan Dia pamit untuk pulang.
"Sepertinya saya harus kembali ke hotel sekarang karena waktu sudah larut malam, kalau besok ada kesempatan saya ingin bertemu dengan Bu Haya."
"Boleh Pak silahkan, salam buat Pak Santana."
Mereka melepas kepergian Tio dengan mengantarkannya sampai pintu gerbang. Pihak yayasan tidak menaruh curiga sama sekali dengan kedatangan dan tujuan Tio. Mereka beranggapan kalau nasib Haya mendapat simpati khusus dari donatur tetap mereka.
Dalam perjalanan pulang ke hotel, di kepala Tio sudah menata rencana-rencana yang akan Dia lakukan kedepan.
(Aku sangat yakin wanita ini ada hubungannya dengan Tuan Santana, aku harus bisa bertemu dengannya besok. Aku harus cari alasan yang tepat pada Tuan agar bisa ke yayasan lagi)
'CIIIIIT....!' tiba-tiba Tio menginjak rem mobilnya. Dia teringat dengan cerita petugas yayasan tentang suami dan anak perempuannya yang belum juga ditemukan.
"Aneh.. kenapa mereka bisa belum ditemukan, padahal ini sudah lama, seandainya mereka sudah meninggal paling tidak jasadnya harus ada meskipun sudah menjadi arang. Oh.. aku juga harus menyelidikinya, sungguh sangat menarik masa lalu Tuan Santana."
Dengan menarik nafas panjang, Tio mulai menghidupkan kembali mesin mobilnya untuk menuju ke Hotel.