Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 perjamuan kematian dan pengorbanan sang raksasa.
Keheningan di Sektor Akar pecah bukan oleh teriakan, melainkan oleh suara mendesis dari energi busuk yang keluar dari jubah ketiga Algojo Lidah Hitam. Kedai Arwah Lapar, yang baru saja mulai menjadi simbol harapan bagi para kaum terbuang, kini terasa seperti peti mati kayu yang sempit.
"Serahkan Benih itu, Manusia," algojo di tengah berbisik. Suaranya tidak keluar dari tenggorokan, melainkan dari topeng mulut yang terkunci, bergema langsung di dalam pikiran Han Shuo. "Atau kami akan memanen jiwamu untuk dijadikan bumbu di dapur neraka Ba-Zhen."
Han Shuo menggenggam erat gagang Pisau Bulan Sabit-nya. Ia bisa merasakan aura kematian yang sangat pekat—jauh lebih kuat dari aura mana pun yang pernah ia hadapi di Benua Bawah.
Bagian 1: Tarian Lidah Hitam
Tanpa peringatan, algojo di sisi kiri bergerak. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan senjata yang mengerikan: sebuah rantai panjang yang ujungnya berbentuk lidah bergerigi hitam yang berdenyut.
WUSH!
Rantai itu melesat membelah udara, menghancurkan meja-meja kayu yang baru saja dibersihkan Han Shuo. Han Shuo melompat mundur, menggunakan Langkah Bayangan Api untuk menghindar. Namun, lidah hitam itu bukan mengejar fisiknya, melainkan mengejar aliran Qi kuliner di sekitar tubuhnya.
"Sistem! Analisis!" teriak Han Shuo dalam hati.
[Sistem Notifikasi: Mendeteksi Senjata 'Lidah Pemakan Esensi'.]
[Peringatan: Senjata ini menyerap kreativitas dan energi rasa koki. Jika terkena, Anda akan kehilangan kemampuan untuk merasakan atau memasak selama sisa hidup Anda!]
Han Shuo berkeringat dingin. Ini bukan sekadar pertarungan fisik; ini adalah upaya pengebirian spiritual bagi seorang koki.
Bagian 2: Perisai Biru yang Tak Tergoyahkan
Saat lidah hitam itu hampir melilit leher Han Shuo, sebuah bayangan raksasa melompat ke depan.
"JANGAN SENTUH BOSKU!"
BRAKK!
Grog menggunakan keempat lengannya yang besar untuk menangkap rantai tersebut. Kulit birunya yang keras bergesekan dengan logam hitam yang berkarat, mengeluarkan percikan api dan bau daging terbakar.
"Grog, mundur! Itu berbahaya!" teriak Han Shuo.
"Tidak, Bos!" Grog menggeram, otot-ototnya menonjol hingga hampir pecah. "Kau memberiku rasa hidup kembali. Aku tidak akan membiarkan parasit-parasit dari atas ini mengambilnya darimu!"
Algojo kedua dan ketiga maju secara bersamaan. Mereka mengeluarkan sabit pendek yang dilapisi cairan hitam pekat—Racun Penghancur Rasa. Mereka menyerang Grog secara brutal. Grog, meskipun kuat, bukanlah petarung yang terlatih melawan teknik tingkat tinggi Distrik Atas.
Satu sabit menyabet punggungnya, satu lagi menancap di lengan bawahnya. Grog melenguh kesakitan, tapi ia tidak melepaskan genggamannya pada rantai algojo pertama.
Bagian 3: Dilema Sang Koki
Han Shuo mencoba menyerang dengan Api Jantung Bumi, namun para algojo itu seolah-olah memiliki kekebalan terhadap api biasa. Mereka adalah makhluk yang lahir dari dinginnya kesombongan kuliner.
"Habisi raksasa kotor ini dulu," perintah pemimpin algojo.
Ketiga lidah hitam mereka kini melilit tubuh Grog. Energi biru Grog mulai memudar, berubah menjadi warna abu-abu kusam. Luka-luka di tubuhnya mulai mengeluarkan cairan hitam yang berbau busuk. Ini adalah Culinary Rot (Pembusukan Kuliner), sebuah kutukan yang membusukkan jiwa dari dalam.
"Argh... Bos... lari..." suara Grog melemah. Tubuh raksasanya jatuh berlutut, menghancurkan lantai kedai.
Han Shuo melihat ke arah kotak kayu di pinggangnya. Di dalamnya, Bibit Kedelai Surgawi bersinar dengan cahaya zamrud yang sangat murni. Ia tahu, energi di dalam bibit itu adalah satu-satunya hal yang cukup kuat untuk menetralkan pembusukan yang menyerang Grog.
Namun, suara ayahnya bergema dari kristal jiwa: "Shuo-er... jika kau menggunakan energi benih itu sekarang, ia akan kehilangan 90% esensinya. Kau tidak akan bisa membangkitkan tubuhku dalam waktu dekat..."
Mata Han Shuo bergetar. Di satu sisi, kesempatan untuk memeluk ayahnya kembali. Di sisi lain, sahabat yang rela mati demi melindunginya.
Bagian 4: Cahaya Zamrud yang Berkorban
Han Shuo menatap wajah Grog yang mulai membiru gelap karena racun. Ia teringat bagaimana Grog menangis saat memakan nasi gorengnya—tangis seorang makhluk yang merasa "manusiawi" untuk pertama kalinya.
"Maafkan aku, Ayah," bisik Han Shuo. "Tapi koki sejati tidak akan membiarkan orang yang memakan masakannya mati di depannya."
Han Shuo menghantamkan telapak tangannya ke kotak kayu tersebut. Ia memaksa energi Bibit Kedelai Surgawi keluar.
BOOOOOOM!
Cahaya hijau zamrud yang luar biasa terang meledak dari pusat kedai. Cahaya itu begitu murni hingga para algojo Lidah Hitam berteriak kesakitan, jubah mereka mulai terbakar oleh kemurnian energi tersebut.
Han Shuo mengarahkan seluruh aliran cahaya itu ke tubuh Grog.
"Bangun, Raksasa Bodoh!" teriak Han Shuo.
Racun hitam yang merayap di tubuh Grog terbakar habis. Luka-lukanya menutup seketika, dan energi birunya kembali berkobar lebih terang dari sebelumnya. Grog membuka matanya, ia merasa seolah-olah baru saja dilahirkan kembali dari inti hutan purba.
Bagian 5: Kemurkaan Sang Koki
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Benih di dalam kotak Han Shuo meredup, warnanya berubah dari hijau cemerlang menjadi abu-abu layu. Ia hampir mati.
Kemarahan Han Shuo mencapai puncaknya. Ia bukan lagi koki yang ramah. Ia adalah penguasa api yang merasa dikhianati oleh takdir.
"Kalian... berani-beraninya..."
Han Shuo menyambar pisaunya. Ia menyuntikkan sisa-sisa energi Benih yang layu ke dalam pisaunya. Tekniknya berubah. Ini bukan lagi Getaran Seribu Frekuensi, melainkan Teknik Pisau: Pemotong Takdir.
Dalam satu gerakan yang melampaui batas kecepatan manusia, Han Shuo menebas udara. Tiga garis cahaya hijau yang tajam membelah ruangan.
SLASH! SLASH! SLASH!
Topeng ketiga algojo itu terbelah. Di baliknya, tidak ada wajah manusia, hanya asap hitam yang kosong. Tubuh mereka hancur menjadi abu, meninggalkan bau gosong yang menyengat.
Bagian 6: Benih yang Layu
Suasana menjadi sunyi. Kedai itu kini hancur total. Atapnya berlubang, dan meja-meja menjadi arang.
Grog berdiri perlahan, ia melihat ke arah Han Shuo dengan penuh rasa bersalah. "Bos... Benih itu... kau menggunakannya untukku?"
Han Shuo terduduk di lantai yang dingin, menatap benih yang layu di tangannya. "Ya, Grog. Dan benih ini sekarang sekarat."
[Sistem Notifikasi: Status Bibit Kedelai Surgawi - KRITIS (5% Daya Hidup).]
[Peringatan: Jika tidak segera direvitalisasi dalam 48 jam, jiwa di dalam 'Kotak Bumbu Raja' akan terputus hubungannya dengan dunia material selamanya!]
Han Shuo mengepalkan tinjunya hingga kukunya menancap ke telapak tangan. Waktunya hampir habis. Ayahnya dalam bahaya besar.
Bagian 7: Titik Balik
Tiba-tiba, dari reruntuhan pintu, muncul pria tua bertopi lebar yang sebelumnya memberi Han Shuo koin ungu. Ia menatap kehancuran kedai itu dengan ekspresi datar.
"Kau melakukan hal yang paling bodoh, namun juga paling mulia dalam sejarah koki Benua Atas," kata pria itu. "Kau membuang tiket emasmu demi seorang budak raksasa."
"Aku tidak butuh ceramahmu," sahut Han Shuo tajam. "Katakan padaku cara menyelamatkan benih ini."
Pria itu mendekat. "Hanya ada satu tempat. Lautan Air Mata Penyesalan. Di sana terdapat sebuah karang yang disebut 'Jantung Samudra Asin'. Itu adalah tempat berkumpulnya semua emosi murni yang terbuang. Kau harus memurnikan benih itu di sana."
"Grog bilang tempat itu mematikan," kata Han Shuo.
"Memang," pria itu melemparkan sebuah botol kecil kosong. "Tapi kau punya satu keuntungan. Kau memiliki darah Naga dan api Jantung Bumi. Jika kau bisa memasak 'Hidangan Penawar Rasa Sakit' di tengah badai air mata itu, kau mungkin bisa memanen Garam Kehidupan yang bisa menghidupkan kembali benih itu."
Han Shuo berdiri, menoleh ke arah Grog yang sudah siap dengan senjatanya (sebuah batang besi raksasa dari reruntuhan meja).
"Grog, kau masih sanggup berjalan?"
"Ke mana pun kau pergi, Bos. Aku akan menjadi perisaimu sampai aku benar-benar menjadi abu," jawab Grog dengan loyalitas mutlak.
Bagian 8: Keberangkatan
Sebelum meninggalkan Sektor Akar, Han Shuo memasang sebuah papan kecil di depan reruntuhan kedaunya.
"Tutup Sementara. Sedang Mencari Bumbu yang Lebih Pedas dari Kematian."
Mereka berjalan menuju gerbang selatan kota, menuju wilayah yang tidak tersentuh oleh cahaya Menara Langit—wilayah di mana rasa sakit menjadi mata uang dan air mata menjadi lautan.
Han Shuo tahu, Ba-Zhen tidak akan berhenti sampai di sini. Algojo tadi hanyalah pembuka. Namun, Han Shuo juga tahu satu hal: ia baru saja mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh para Dewa di atas sana—seorang sahabat yang takkan pernah mengkhianatinya.
* Pencapaian: Menyelamatkan Grog, mengalahkan Algojo Lidah Hitam.
* Kerugian: Bibit Kedelai Surgawi layu (Sisa 5% daya hidup).
* Lokasi Baru: Menuju Lautan Air Mata Penyesalan.
* Kondisi Tim: Grog (Awakened - Memiliki energi regenerasi kayu kecil dari Benih).