Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Yang Mulia, papa saya tidak mungkin melakukan itu! Di hari kejadian papa saya sedang menemani saya. Ada bukti dan saksi yang bisa membuktikan papa saya sama sekali tidak meninggalkan rumah sakit!” jelas JJ dengan suara bergetar. Ia berdiri dengan susah payah, tubuhnya masih lemah hingga harus dipapah oleh asisten ayahnya.
Seluruh perhatian langsung tertuju padanya.
“Bukti tidak membuktikan bahwa sidik jari pada senjata bukan miliknya,” ucap Adrian dingin, tanpa perubahan ekspresi. “Kehadiran di rumah sakit tidak serta-merta menghapus keterlibatan dalam kejahatan.”
Suasana semakin mencekam.
Jeff menggeleng keras, tubuhnya gemetar. “Yang Mulia, bukan saya! Saya tidak membunuh siapa pun!” suaranya pecah, penuh keputusasaan.
Adrian tidak goyah sedikit pun. Tatapannya justru semakin tajam, seolah sengaja menekan hingga batas terakhir.
“Pengadilan telah mempertimbangkan seluruh bukti yang ada,” lanjutnya dengan suara tegas. “Hari ini, pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa, Jeff Zhou.”
Ruangan langsung gempar.
“Tidak!” Jeff berteriak, hampir terjatuh. “Saya tidak bersalah! Tolong… saya mohon!” tangannya terangkat, memohon tanpa harga diri yang tersisa.
Di kursi belakang, Max yang sejak tadi memperhatikan hanya menyandarkan tubuhnya dengan santai. Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kita lihat saja… siapa yang sebenarnya sedang dijebak oleh hakim gila itu,” gumamnya pelan.
Sementara itu, Jeff semakin hancur.
“Yang Mulia, saya ingin mengajukan banding! Saya tidak bersalah! Tolong saya!” suaranya serak, penuh desperation.
Air mata mulai jatuh tanpa bisa ia tahan.
Ia menoleh ke arah Jessica, Nico, dan Catty.
“Jessica… paman tidak membunuh papa dan mamamu…” suaranya bergetar hebat. “Paman benar-benar tidak melakukannya… Nico, Catty… percayalah pada paman. Paman tidak mungkin menyakiti saudara sendiri…”
Tangisnya pecah.
Jessica menatapnya dengan mata berkaca-kaca, hatinya bergejolak hebat. Nico mengepalkan tangan, sementara Catty menutup mulutnya, menahan isak.
Mereka mengenal Jeff.
Seorang pria yang selama ini selalu ramah… selalu melindungi keluarga.
Dan sekarang—
ia dituduh sebagai pembunuh.
Keraguan mulai tumbuh di dalam hati mereka.
Sementara di tengah kekacauan itu, Adrian tetap berdiri tegak di tempatnya, wajahnya dingin tanpa emosi.
Seolah semua yang terjadi… memang sudah ia rencanakan.
Dan di sisi lain, JJ masih berdiri dengan tubuh gemetar. Tatapannya tidak lagi tenang. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tidak teratur.
“Yang Mulia, saya adalah JJ Zhou yang baru sadar dari koma. Sebagai anak, saya ingin mengajukan banding. Papa saya tidak pernah mengerti tentang obat, apalagi narkoba. Tolong berikan keringanan untuk kami mencari tahu siapa pelakunya,” pinta JJ dengan suara penuh emosi. Tubuhnya masih lemah, tetapi tekad di matanya terlihat jelas.
Ruangan kembali dipenuhi bisikan.
Adrian menatapnya tajam. “Tidak mengerti tentang obat?” ulangnya dingin. “JJ Zhou, apakah kau sadar… jika hanya obat, hukumannya masih bisa dipertimbangkan. Tetapi suntikan yang ditemukan bukan hanya Midazolam.”
Ia berhenti sejenak, memberi tekanan pada setiap kata berikutnya.
“Itu juga mengandung narkotika.”
JJ terdiam. Wajahnya menegang.
“Papa saya tidak pernah menyentuh benda itu!” bantahnya cepat, hampir tanpa berpikir.
Adrian tidak bergeming. “Keputusan telah dijatuhkan.”
Suaranya tegas, tidak memberi ruang.
“Pengadilan tidak bisa menunda hanya berdasarkan emosi.”
Jeff yang sejak tadi sudah hancur kembali bersuara, “Yang Mulia, saya mohon… beri saya kesempatan… saya benar-benar tidak melakukan itu…” suaranya semakin lemah, hampir tidak terdengar.
JJ mengepalkan tangan. “Kalau begitu beri kami waktu! Saya yang akan membuktikan bahwa papa saya tidak bersalah!”
Tatapannya lurus ke arah Adrian, penuh tekanan dan keputusasaan.
Adrian berdiri tegak, wajahnya tetap dingin tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya menyapu seluruh ruang sidang sebelum akhirnya berhenti pada Jeff.
“Pengadilan telah mempertimbangkan seluruh bukti yang ada,” ucapnya dengan suara tegas dan berwibawa. “Tidak ditemukan alasan yang cukup untuk menunda atau meringankan putusan.”
“Dengan ini, terdakwa Jeff Zhou dijatuhi hukuman mati.”
Suasana langsung pecah.
“Yang Mulia… saya tidak bersalah…” suara Jeff melemah, tubuhnya hampir roboh.
Adrian melanjutkan tanpa memedulikan permohonan itu. “Eksekusi akan dilaksanakan satu minggu dari sekarang. Dan prosesnya akan disiarkan secara langsung sebagai bentuk transparansi hukum.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan semakin ricuh.
JJ membeku di tempatnya, wajahnya pucat pasi. Jessica menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Nico dan Catty terlihat tidak percaya, tubuh mereka kaku seperti kehilangan pijakan.
“Tidak! Saya tidak terima! Tolong dengarkan saya! Pasti ada yang menjebakku,"teriak Jeff, suaranya penuh keputusasaan saat tubuhnya ditahan.
Di tengah kekacauan itu—
di barisan pengunjung, Holdie Fu justru duduk tenang.Sudut bibirnya terangkat pelan.
Tatapannya tertuju pada Adrian dengan sorot kagum yang jelas.“Benar-benar pria yang luar biasa…” gumamnya lirih, matanya berbinar. “Tegas, dingin, dan tanpa ragu.”
Adrian berdiri tenang, lalu menatap lurus ke arah JJ.
“Suntikan Midazolam sebanyak sepuluh miligram, ditambah narkotika dalam dosis berlebihan,” ucapnya tegas. “Itu yang membuat kondisi Jessica Zhou memburuk. Seorang gadis lemah tidak bisa menerima campuran obat dengan narkotika dalam dosis yang tinggi."
JJ langsung bereaksi, emosinya terpancing. “Itu tidak mungkin!”
“Suntikannya hanya tujuh miligram!” lanjut JJ tanpa sadar. “Jumlah itu tidak akan membuat kondisi Jessica memburuk seperti itu! Dan tidak ada narkotika sama sekali!”
Hening.
Adrian, Max, Jaksa Wu dan lainnya langsung memandang ke arah Jj Zhou.
“Kau berkata seperti itu,” kata Adrian dingin, tatapannya menekan. “Karena kau membela pelaku yang adalah ayahmu sendiri. Suntikan sepuluh miligram… sama saja seperti ingin membunuh korban secara perlahan.”
“Itu tidak mungkin, Yang Mulia!” jawab JJ cepat, emosinya terpancing. “Jumlahnya hanya tujuh miligram! Tidak mungkin bisa membunuh Jessica!”
Adrian menyipitkan mata. “Siapa yang bisa membuktikan apa yang kau katakan itu benar?” Adrian semakin menekan.
“Aku bisa membuktikannya!” balas JJ tanpa ragu, suaranya meninggi. “Suntikan itu dosisnya hanya tujuh miligram dan tanpa dicampur narkotika! Jadi Jessica hanya akan kehilangan ingatan dan tidak sadar setelah disuntik!”
Hening.
Benar-benar hening.
Jessica membeku.
Nico dan Catty saling menatap dengan wajah tidak percaya.
Jeff perlahan mengangkat kepalanya, matanya gemetar menatap JJ.
"Jj Zhou, bagaimana bisa kau tahu dosisnya hanya tujuh miligram dan bukan sepuluh miligram?" tanya Adrian menatap tajam pada sasarannya yang telah masuk jebakan.
Seketika wajah Jj berubah pucat dan bibirnya gemetar.
"Selama persidangan tidak pernah menyebut dosisnya hanya tujuh miligram," lanjut Adrian menatap tajam ke arah Jj.