NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Di marahi

Tiga tahun berlalu dalam sekejap mata. Di Distrik Zamrud, nama Jian Yi dan Lu Feng telah menjadi buah bibir sebagai Dua Keajaiban Kecil.

Sementara balita lain masih belajar menyusun kata atau mengejar kupu-kupu, dua bocah ini sering menghilang ke dalam hutan bambu pribadi yang memisahkan kedua kediaman mewah mereka.

​Di sana, di sebuah paviliun tersembunyi yang dikelilingi pagar batu giok, suasana tidak terasa seperti taman bermain anak-anak. Atmosfernya justru terasa tajam, seolah udara di sana bisa mengiris kulit.

​Jian Yi berdiri dengan kuda-kuda yang sangat kokoh untuk ukuran bocah tiga tahun.

Tangan mungilnya menggenggam pedang kayu yang telah ia modifikasi—pemberatnya disesuaikan agar memiliki keseimbangan layaknya pedang asli.

Matanya yang jernih kini menyempit, memancarkan Maksud Pedang yang dingin dan menusuk.

​Di hadapannya, Lu Feng memutar-mutar ranting pohon yang tebal seolah itu adalah gada perang. Meski pipinya masih chubby, sorot matanya liar dan penuh tantangan.

​Tanpa aba-aba, Jian Yi melesat. Langkah kakinya bukan lagi langkah balita yang sempoyongan, melainkan teknik Langkah Awan Mengalir. Ia bergerak rendah, menebaskan pedang kayunya ke arah pergelangan kaki Lu Feng.

​Tak!

​Lu Feng menangkisnya dengan presisi yang mengerikan. Ranting di tangannya bergetar, namun ia tidak mundur setapak pun.

Ia justru memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum untuk mengirim tendangan kecil namun bertenaga ke arah dada Jian Yi.

​Jian Yi melenting ke belakang, melakukan salto ke belakang sempurna, lalu mendarat dengan ujung jari kaki di atas pagar batu. Ia tidak bicara. Hanya ada suara gesekan angin dan detak jantung yang teratur.

​Ia menyerang lagi. Kali ini, pedang kayunya bergerak seperti bayangan—cepat, beruntun, dan mengincar titik-titik vital.

Lu Feng tertawa kecil, suara tawa anak kecil yang kontras dengan gerakan bertahannya yang brutal.

Ia menangkis serangan hanya dengan satu gerakan melingkar yang efisien.

​Brak!

​Adu kekuatan terjadi. Pedang kayu bertemu ranting pohon.

Tanah di bawah kaki mereka retak tipis—sebuah bukti bahwa meski energi Qi mereka belum pulih sepenuhnya, teknik jiwa mereka tetaplah di tingkat puncak.

Mereka berdua terengah-engah, peluh membasahi dahi, namun senyum kepuasan terpahat di wajah masing-masing.

Duel ini bukan tentang menang atau kalah, melainkan cara mereka mengingat jati diri di tengah tubuh yang lemah ini.

​"Cukup ... tubuh bocah ini benar-benar membatasi gerakanku," bisik Lu Feng sambil melempar rantingnya ke semak-semak. Suaranya masih cempreng, namun intonasinya sangat dewasa.

​Jian Yi menyarungkan pedang kayunya ke pinggang. "Sabarlah. Setidaknya reflek tubuh kita sudah 80% pulih."

​Mata Lu Feng tiba-tiba berbinar saat ia melihat sebuah guci kecil yang diletakkan di atas meja batu paviliun.

Guci itu terbuat dari keramik putih halus dengan segel merah bertuliskan 'Arak Embun Pagi'.

Itu adalah arak kelas dua milik ayah Jian Yi, yang sengaja ditaruh di sana untuk menjamu tamu nanti sore.

​Aroma tajam namun manis merembes keluar dari celah segelnya. Bagi Lu Feng, itu adalah panggilan surga.

​"Jian Yi ... kau lihat itu? Itu adalah esensi kehidupan yang kita butuhkan," ujar Lu Feng sambil berjalan mendekat dengan liur yang hampir menetes.

​Jian Yi mengerutkan kening. "Kita baru tiga tahun, Lu Feng. Organ dalammu akan terbakar jika meminum itu sekarang."

​"Halah! Jiwaku adalah pemabuk seribu tahun! Satu guci kecil tidak akan membunuhku," balas Lu Feng keras kepala. Ia memanjat kursi batu dengan susah payah, lalu menarik guci itu ke arahnya.

​Jian Yi, yang sebenarnya juga merindukan sensasi panas arak di tenggorokan, akhirnya menyerah pada godaan.

Ia mendekat dan membantu Lu Feng membuka segel merah tersebut.

Saat tutup guci terbuka, aroma alkohol yang sangat kuat menyeruak, membuat kepala mereka sedikit pening namun bersemangat.

​"Untuk kejayaan kita di masa lalu," gumam Lu Feng sambil mengangkat guci yang berat itu dengan kedua tangan mungilnya.

​Baru saja bibir botol itu hendak menyentuh mulut Lu Feng—

​"JIAN YI! LU FENG! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

​Suara teriakan yang melengking itu memecah ketenangan paviliun.

Su Lin dan Mei Hua muncul dari balik barisan bambu dengan wajah yang pucat pasi, kemudian berubah menjadi merah padam karena marah.

​Lu Feng tersentak kaget. Guci arak itu hampir saja jatuh jika Jian Yi tidak dengan sigap menahannya—meski posisinya sekarang justru terlihat seolah mereka berdua sedang berebut untuk minum.

​"Astaga! Mereka benar-benar nakal!" teriak Mei Hua sambil berlari kencang. Ia langsung menyambar Lu Feng dan menjewer telinga mungilnya. "Lu Feng! Kau baru bisa bicara lancar kemarin, dan sekarang kau ingin mencoba arak paman Jian Hong?! Apa kau ingin menjadi gelandangan pemabuk?"

​"Aduch! Ibu, lepashkan! Ini hanya ... ini hanya obat!" protes Lu Feng dengan suara cadel yang dipaksakan agar terlihat polos, namun matanya tetap melirik arak itu dengan sedih.

​Sementara itu, Su Lin menatap Jian Yi dengan pandangan tidak percaya. "Jian Yi, kau adalah anak yang paling tenang di keluarga ini. Kenapa kau ikut-ikutan pengaruh buruk bocah Lu ini? Lihat bajumu, kotor semua! Dan pedang kayu ini ... siapa yang mengajarimu memanjat pagar?!"

​Jian Yi hanya bisa diam dengan wajah datar, berpura-pura menunduk menyesal. Dalam batinnya, ia menggerutu, "Sialan, reputasiku sebagai anak jenius yang elegan hancur hanya gara-gara arak murahan ini."

​Kedua bocah itu akhirnya diseret pulang oleh ibu mereka masing-masing.

Sepanjang jalan, Lu Feng terus dipukuli bokongnya secara ringan, sementara Jian Yi harus mendengarkan ceramah panjang tentang tata krama bangsawan.

​Sebelum mereka berpisah di gerbang kediaman, Lu Feng sempat memberikan isyarat tangan rahasia kepada Jian Yi: "Malam ini, lewat jendela. Kita ambil stok yang lebih besar di gudang bawah tanah."

​Jian Yi hanya memutar bola matanya, namun sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. Menjadi anak kecil ternyata tidak seburuk itu jika ada teman untuk membuat kekacauan bersama.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁

1
Nanik S
Lanjut terus
Agen One
UP nya santai dulu ya🙏
Agen One
😅
Agen One
🍗
Agen One
🔥🙏
Agen One
🙏
Agen One
👍🙏
Agen One
🚹🙏
Agen One
🤭🙏
Agen One
🙏
Agen One
/Smile/
Agen One
🙏
Agen One
😅
Agen One
🔥🍗
Agen One
👍🍗
Agen One
🚹🍗
Agen One
🍗
Agen One
🤭/Smile/
Agen One
😅🙏
Agen One
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!