Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Kejadian di Aula Besar
Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui jendela-jendela tinggi aula besar, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengkilap.
Bayi ini baru membuka mata, tangan mungilnya meraba selimut lembut yang menutupi buaian.
Aku bisa merasakan aroma dupa dan lilin yang masih tersisa dari malam sebelumnya, bercampur dengan wangi karpet merah panjang dan bunga segar yang tertata rapi di sepanjang lorong.
Bayi ini tahu, hari ini akan berbeda, dan setiap gerakan sekecil apa pun bisa menjadi penentu keselamatan.
Liora menunggu di samping buaian, wajahnya tersenyum hangat.
“Kau siap, Arvella? Hari ini kita akan ke aula besar, tempat tamu kerajaan mulai berdatangan,” katanya sambil menunduk lembut.
Aku menggeliat, tangan kecilku menyentuh ujung jarinya, seakan mengiyakan.
Bayi ini memahami bahwa di aula besar, sebuah kesalahan kecil bisa memalukan ayahku atau bahkan memicu konflik kecil yang nantinya bisa membesar.
Lorong menuju aula dipenuhi pelayan yang sibuk membawa nampan teh, kue, dan lilin.
Aku menatap setiap gerakan, setiap benda di sekitar, menandai potensi bahaya.
Sebuah karpet merah panjang tampak sedikit terlipat di tengah jalan.
Aku menggeliat, tangan mungilku menunjuk karpet itu, memberi peringatan halus agar tidak ada yang tersandung.
Begitu kami memasuki aula besar, pandangan bayi ini langsung tertuju pada ayahku yang duduk di singgasana.
Dia tersenyum tenang kepada para tamu, namun aku bisa merasakan ketegangan halus di tubuhnya.
Aku tahu, orang yang tampak kuat pun bisa terperangkap oleh kesalahan kecil yang tampak sepele.
Tamu mulai berdatangan, dari bangsawan kerajaan tetangga hingga para diplomat asing.
Bayi ini menatap setiap wajah dengan teliti, memeriksa ekspresi, gerak tubuh, dan energi yang terpancar.
Setiap kata yang diucapkan di aula ini bisa menjadi awal dari intrik, dan aku harus siap mencegah masalah sebelum terjadi.
Seorang pelayan muda membawa nampan teh dan hampir menabrak meja Raja.
Aku menggeliat, tangan kecilku menahan cangkir itu sebentar sebelum jatuh.
Liora menatapku kagum, tersenyum pelan.
“Arvella… kau benar-benar mengagumkan,” katanya.
Bayi ini tersenyum kecil, menyadari bahwa tindakan sekecil apa pun bisa menyelamatkan banyak orang dan menjaga kehormatan ayahnya.
Di sudut aula, seorang anak bangsawan hampir menabrak vas bunga yang mahal.
Aku menggeliat lagi, tangan mungilku menstabilkan vas itu sebelum jatuh.
Anak bangsawan itu menatapku dengan mata terbuka lebar, sementara pelayan lain tersenyum lega.
“Arvella… kau seperti malaikat kecil yang menjaga semuanya,” bisik Liora.
Sementara itu, bayi ini memperhatikan detail aula dengan seksama.
Lukisan raja-rajanya terpajang di dinding tinggi, ukiran di langit-langit menampilkan kisah perang dan perdamaian kerajaan.
Karpet merah membentang panjang, dengan motif emas yang rumit, dan lilin-lilin menyala lembut di sepanjang meja.
Aku memperhatikan semuanya, mencatat potensi bahaya seperti lilin yang hampir menjangkau tirai atau permukaan marmer yang licin.
Bayi ini tahu bahwa kesadaran sejak dini adalah kunci untuk menghindari kecelakaan atau situasi memalukan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah cepat di pintu utama aula.
Seorang laki-laki dengan rambut hitam dan mata biru berdiri di pintu, bayangannya samar namun energinya terasa hangat.
Bayi ini merasakan sesuatu yang familiar, namun belum sepenuhnya dipahami.
Aku tahu, sosok itu kelak akan menjadi bagian penting dalam hidupku, tetapi hari ini, fokus utama adalah menjaga agar acara di aula tetap berjalan lancar.
Ayahku mulai berbicara dengan tamu-tamu tentang masalah politik dan acara mendatang.
Bayi ini mengamati gerak tubuh para tamu dan pelayan, memeriksa kemungkinan kesalahan atau kecelakaan.
Seorang pelayan hampir menumpahkan lilin panas ke karpet merah.
Aku menggeliat, tangan kecilku menahan lilin itu sebentar sehingga tidak menyentuh kain.
Liora menatapku kagum.
“Arvella… kau benar-benar bisa merasakan bahaya sebelum terjadi,” katanya.
Seorang bangsawan muda mulai bermain-main dengan tongkat di tangan, hampir menabrak meja yang dihiasi kue dan gelas teh.
Aku menggeliat, tangan kecilku menahan tongkat itu dengan lembut, membuatnya berhenti sebelum menimbulkan kekacauan.
Anak bangsawan itu menatapku terkejut, sementara pelayan lain tertawa pelan lega.
Bayi ini tersenyum kecil, memahami bahwa bahkan masalah sekecil apa pun bisa dicegah dengan kesadaran dan insting.
Tamu-tamu lain mulai duduk di meja masing-masing, namun bayi ini tidak berhenti mengamati.
Aku memperhatikan interaksi mereka, bahasa tubuh, dan niat yang tersembunyi.
Sebuah kata yang salah atau cangkir yang tumpah bisa menjadi awal perselisihan kecil yang nantinya berdampak besar.
Aku menggeliat, tangan kecilku menyesuaikan posisi nampan di meja agar tetap stabil, menjaga agar semua tetap rapi.
Siang itu, aula dipenuhi cahaya yang menembus jendela tinggi, memantul di permukaan marmer.
Bayi ini duduk di pangkuan Liora, matanya terus memindai setiap sudut.
Aku merasakan kelelahan fisik, namun rasa penasaran dan kewaspadaan tetap tinggi.
Aku menatap ayahku dan tersenyum kecil, tangan mungilku menggenggam kain selimut, menyadari bahwa menjaga keselamatan ayahku bukan hanya soal fisik, tapi juga energi dan intuisi.
Tiba-tiba, seorang pelayan hampir tersandung karpet panjang, hampir menabrak kaki salah satu bangsawan.
Aku menggeliat, tangan kecilku menahan pelayan itu sebentar sebelum jatuh.
Bangsawan itu menatapku dengan mata terbelalak, sementara Liora tersenyum lega.
“Arvella… kau sungguh malaikat kecil yang menjaga semuanya,” katanya sambil menepuk kepala bayi ini lembut.
Di tepi aula, aku menangkap bayangan samar laki-laki misterius yang tadi di pintu.
Bayi ini menatapnya sebentar, merasakan energi yang hangat dan familiar.
Aku tahu, sosok itu suatu hari akan menjadi bagian penting dari hidupku, tapi sekarang fokus utama adalah memastikan aula tetap aman dan semua tamu merasa nyaman.
Saat matahari mulai condong ke barat, para tamu mulai meninggalkan aula.
Aku masih duduk di pangkuan Liora, menatap lorong dan detail-detail yang baru saja dilewati.
Bayi ini mencatat semuanya: karpet yang terlipat, vas yang hampir jatuh, lilin yang hampir membakar tirai.
Semua ini akan menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
Malam tiba, dan aku dibawa kembali ke buaian.
Tangan kecilku menyentuh selimut lembut, mataku menatap jendela kamar.
Bayangan laki-laki misterius masih samar di kejauhan, namun bayi ini tahu, suatu hari ia akan hadir sepenuhnya dalam hidupku.
Sebelum tertidur, aku tersenyum kecil.
Bayi ini sadar bahwa setiap detik di aula besar adalah latihan untuk memahami dunia, melindungi orang-orang di sekitarnya, dan menavigasi intrik tersembunyi.
Dan malam itu, Arvella bayi menutup mata dengan tenang, siap menghadapi hari-hari penuh petualangan berikutnya.