NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan / Robot AI / Spiritual / Fantasi Wanita
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata

Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja

Bagaimana kisah Sany selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas kedua Sany part 4

Sany hanya tersenyum tipis.

"Pertanyaan yang menarik. Aku pernah ke Planetarium dan bertarung dengan beberapa robot yang cukup kuat di sana," Jawab Sany secara singkat, jelas, dan sengaja menghindari detail.

"Planetarium?" gumam asisten yang bingung.

"Baiklah, kami takkan menahan kalian lebih lama. Kalian boleh melanjutkan," kata profesor, memberi jalan.

"Terima kasih," Sany memberi anggukan singkat, lalu melangkah memasuki pintu baja itu bersama Vizz.

Begitu mereka menghilang di balik pintu, asisten itu bertanya.

"Professor, apa itu Planetarium?"

Sang profesor menghela napas.

"Planetarium adalah sebuah planet yang tidak layak huni. Seluruh permukaannya dipenuhi radiasi di tingkat yang mematikan, dan satu-satunya penghuni yang bisa bertahan di sana hanyalah... robot,"

"Jika ada manusia yang pernah ke sana dan mengalahkan beberapa robot, sudah dipastikan pasti orang itu memiliki kekuatan atau ketahanan yang luar biasa," tambah profesor, suaranya terdengar penuh hormat.

"Eh...?" asisten itu tercekat, baru menyadari implikasi dari penjelasan atasannya.

 

Di dalam kamar tidur Nova yang tenang, Rey dan Faye berjaga. Sang putri telah terlelap di atas tempat tidur mewahnya, wajahnya damai tanpa beban.

Rey yang berdiri di dekat pintu, akhirnya tak tahan bertanya pada Faye yang sedang duduk santai di kursi dekat jendela, dengan secangkir teh hangat di atas meja kecil.

"Apakah kita harus tetap berjaga saat dia tidur?" bisik Rey, mencoba tidak mengganggu keheningan.

Pertanyaan itu seharusnya tidak perlu diajukan oleh seorang pengawal yang terlatih. Tapi Faye tahu, Rey masih sangat baru dan belum sepenuhnya memahami seluk-beluk istana.

"Tentu, Sebagai pengawal pribadi, tugas utama kita adalah memastikan keselamatannya setiap saat, di mana pun, kecuali ada perintah khusus," jawab Faye dengan lembut namun tegas.

Rey mengangguk pelan, menyerap makna kata-kata itu. Perlahan-lahan, dia mulai memahami betapa dalamnya arti "melindungi" seseorang.

"Boleh kutanya sesuatu?" Faye membuka percakapan saat merasa suasana cukup santai.

"Tentu. Apa?" balas Rey, masih dengan nada lugasnya.

"Dari ceritamu tadi... di tempat asalmu, tidak ada 'bangsawan' robot atau kelas tertentu?" tanya Faye, polos namun penuh rasa ingin tahu.

Rey terdiam sejenak, mengingat-ingat. "Hmm... seingatku tidak. Meski ada yang memimpin, mereka merasa setara dengan yang lain. Tidak ada gelar ataupun sesuatu yang khusus,"

Faye mengangguk pelan. Sekarang dia mengerti: planet tempat Rey dibesarkan sangat berbeda. Di sana, kesetaraan mungkin adalah yang normal. Itulah sebabnya, Rey sering terlihat bingung dengan aturan, gelar, dan strata sosial di kerajaan ini.

Karena suasana sedang santai, Faye merasa, ini waktu yang tepat untuk mengajarinya sesuatu.

"Daripada berdiri terus seperti patung, lebih baik duduklah di sini. Aku akan ajarkan sesuatu padamu," ajak Faye dengan ramah.

"Ajari apa?" tanya Rey yang penasaran. Dia pun mendekat dan duduk di hadapan Faye, dengan meja kecil di antara mereka.

"Sebelum mulai, aku ingin kau perkenalkan dirimu dengan lengkap," ujar Faye, meletakkan cangkir tehnya.

"Aku masih belum tahu banyak hal tentangmu,"

Rey mengangguk. Karena sudah mempercayai Faye, dia pun bercerita dengan jujur.

"Namaku Rey Astrograd. Usiaku 16 tahun, tinggi 170 cm, dan saat ini bekerja sebagai pengawal pribadi Putri Nova," jelasnya dengan tenang.

"Terima kasih sudah berbagi," balas Faye dengan senyum.

"Aku Faye Asrcord, umurku 24 tahun, tinggi 171 cm. Aku sudah menjadi pelayan pribadi Putri Nova sejak kami masih kecil,"

Sebagai bagian dari garis keturunan pelayan setia kerajaan, keluarga mereka memiliki kewajiban turun-temurun: setiap generasi harus menyumbangkan salah satu anggotanya untuk mengabdi langsung pada keluarga kerajaan. Pemilihan ini bukan hal sembarangan.

Kepala keluarga mereka pun sampai harus meminta bantuan seorang Magical untuk mengundang Orang Suci tersebut. Di era di mana segalanya serba digital dan instan, satu-satunya cara untuk menjangkau Orang Suci ternyata masih menggunakan cara lama.

Dan Faye, adalah salah satu dari sekian banyak saudara dan sepupunya yang terpilih untuk mengabdi sebagai pelayan pribadi keluarga kerajaan, mulai dari Sang Ratu sendiri hingga para putri, termasuk Nova.

Menyadari usia Faye yang lebih tua dan latar belakangnya yang begitu mendalam, Rey pun paham. Wawasan Faye yang luas bukanlah kebetulan. Itu adalah hasil dari didikan ketat dan pengalaman bertahun-tahun di dalam inti kekuasaan kerajaan.

"Baik, pelajaran pertama: sebutan untuk seseorang. Kau pasti sudah tahu tentang bandit, tentara, atau petualang, kan?" tanya Faye, mencoba memetakan pengetahuan dasar Rey.

"Iya. Aku pernah menghadapi bajak laut antariksa. Diketahui ras mereka adalah alien," jawab Rey dengan yakin.

"Bagus. Itu tidak perlu kujelaskan lagi. Tapi, apa kau pernah dengar tentang Magical dan Penyihir?" tanya Faye, melangkah ke topik yang lebih... tidak biasa.

"Tidak," jawab Rey singkat, disertai gelengan kepala kecil. Dunia yang dia kenal terbuat dari logam dan kode, bukan sihir dan semacamnya.

Faye menarik napas dalam. Sepertinya topik ini lebih dalam dari yang dia kira, dan menyentuh sesuatu yang pribadi.

"Akan kuceritakan," ujarnya, suaranya lebih rendah. "Karena ini... berkaitan dengan masa laluku,"

Melihat ekspresi serius Faye, Rey hanya mengangguk pelan. Dia mengatur posisi duduknya, siap menyimak.

"Aku mulai dari Penyihir dulu," mulut Faye, suaranya seperti membawa kenangan lama.

"Penyihir dulunya sebutan untuk murid Orang Suci, yang memiliki kekuatan luar biasa.

"Namun, mereka ingin kekuatan lebih dan menjadi lebih jahat.

"Orang suci yang sudah mengetahui hal itu, secara diam-diam memilih orang tertentu untuk menjadi Magical.

"Dan sejak saat itulah, ketika seorang Penyihir berbuat jahat, lawan alami mereka muncul: para Magical, yang dikenal karena kebijaksanaan dan keberpihakan mereka pada kebaikan.

"Jumlah Penyihir jauh lebih banyak daripada Magical dan jumlah Orang Suci... bahkan lebih sedikit lagi.

Dia menarik napas dalam sebelum melanjutkan.

"Keluargaku... adalah salah satu korban di masa lalu. Saat itu, seorang anggota keluarga kami mengirimkan surat minta tolong ke sebuah rumah yang dikira dihuni Magical.

"Tapi yang datang bukanlah Magical. Itu adalah jebakan Penyihir. Dia diculik... dan dijadikan bahan uji coba untuk sihir baru mereka.

"Seorang Magical akhirnya menyelamatkannya dan mengalahkan Penyihir itu. Tapi penyelamatan itu datang terlambat. Anggota keluarga kami selamat, namun trauma yang ditinggalkan... tidak pernah benar-benar sembuh.

"Itulah sebabnya... tingkahku sedikit berbeda saat melihat poster buronan Penyihir di Guild," Faye selesai cerita.

Rey mengangguk pelan. Sekarang dia mengerti. Ini bukan sekadar pelajaran sejarah, ini adalah luka lama yang masih membekas pada orang di depannya.

"Seperti apa penampilan mereka?" tanya Rey, rasa ingin tahunya mengalahkan suasana berat tadi.

"Seingatku, kalau Magical biasanya pakaian mereka sama terus setiap hari, kalau Penyihir terkenal dengan topi mereka," jelas Faye, mencoba mengingat.

"Aku jadi ingin bertemu mereka," batin Rey, membayangkan pertemuan dengan sosok-sosok legenda itu.

"Kita lanjut ke pelajaran kedua," ujar Faye, mengembalikan fokus mereka.

"Tentang aturan-aturan yang mungkin belum pernah kau dengar,"

Rey duduk lebih tegak, siap menyimak. Siang itu pun diisi dengan penjelasan Faye tentang adat-istiadat, hierarki tak terucap, dan aturan-aturan istana yang tak tertulis.

Semua hal yang asing bagi Rey, tetapi perlahan mulai merangkainya menjadi gambaran utuh tentang tempat barunya.

Bersambung....

1
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!