Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
“Hai El.” Sapa Sam saat mereka bertemu diparkiran mobil. Bulan malam itu bersinar terang dengan hiruk pikuk kembang api.
“Ini sudah larut. Aku cukup lelah hari ini Sam. Jadi katakan langsung keperluan mu?” Tanya El datar. Sorot mata wanita itu menyapu sekitar area parkir tersebut. Berharap tidak ada orang lain. Cukup mereka.
“Aku hanya ingin menjelaskan…”
“Sam…” El semakin enggan mendengar kelanjutannya, kedua tangan Sam yang hendak menyentuh bahunya segera ia tepis, “Aku tidak ingin membuat permasalahan diantara kita semakin panjang. Pulang lah.”
El segera melangkah meninggalkan Sam, namun pria itu cukup gigih tak ingin melepaskan El begitu saja.
“Beri aku waktu El, kumohon.”
“KUMOHON.” Wanita itu sedikit menaikkan nada bicaranya membuat Sam tersentak diam, “Aku sudah selesai Sam. Aku selesai.” Tegas El dan berlari menuju kamarnya.
El enggan menemui pria itu di lobby hotel. Hal itu hanya akan membuat dirinya semakin lama berbincang dengan Sam. Tanpa mereka berdua sadari, Lyxan dapat melihat mereka berdua dari jendela kamar itu.
...****************...
“Kau baik-baik saja?” Suara dingin dan berat membuyarkan pikiran El.
Wanita itu baru saja menutup pintu kamarnya dengan menghela nafas panjang begitu berat. Seakan-akan saat itu sedang berhadapan dengan masalah yang cukup pelik, ia sampai lupa bahwa ada pria lain didalam kamarnya saat itu.
El terdiam saat pria itu berdiri dihadapannya bertelanjang dada. Tubuh bidang dan atletis itu membuatnya tertegun.
El segera beranjak kekoper nya mencari pakaian yang sekiranya dapat digunakan untuk Lyxan. Ia tahu pakaian pria itu penuh dengan darah.
“Aku tidak memiliki pakaian lain.” El menyerahkan sebuah sweater besar. Rencana nya sweater tersebut akan diberikan sebagai oleh-oleh liburan untuk kakaknya.
Tanpa pilihan Lyxan mengenakan sweater tersebut. Setidaknya tubuhnya terasa hangat.
“Apa dia kekasihmu? Kalian bertengkar?” Lyxan kembali bertanya, seakan ingin mengetahui wanita itu apakah memiliki kekasih atau tidak saat ini.
El tertawa kecil sungguh aneh bertemu pria itu, “Kenapa? Kau tertarik dengan hidupku sekarang?”
El yang merasa dirinya sangat kotor saat itu, ia membuka jaketnya dan bergegas kekamar mandi. Pakaiannya juga terkena noda darah pria itu. Sungguh beberapa jam yang sangat melelahkan untuknya.
Lyxan mendengar suara shower yang mengalir, entah kenapa membuat darahnya berdesir. Wanita itu terlalu berani berhadapan dengan Lyxan.
SRAAKK
El keluar dari kamar mandi dan melempar handuk basahnya. Rambut panjangnya tergerai. Ia melangkah ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya. Setiap perbuatan El membuat mata pria itu tak lepas menatapnya.
“Sekarang mari selesaikan masalah kita. Setelah itu kumohon untuk mu segera keluar dari kamar ini.” Ucap El yang membuyarkan lamunan Lyxan.
“Minumlah.” Ujar Lyxan menyodorkan botol bir yang ada didalam mini bar ruangan itu.
“Aku tidak minum.” Sahut El ringan dan membereskan isi koper begitu pula buku-buku perkuliahannya, “Aku akan mengemudi keluar kota nanti.” Jelas El.
“Keluar kota? Kemana?” Tanya pria itu mengernyitkan dahinya.
ia sudah melihat id card mahasiswi nya. Kampus El ada di wilayah barat, kota Malice dan butuh waktu lebih dari tiga jam untuk mengemudikan kendaraan. Wanita itu mampu melakukannya seorang diri.
“Aku kemana bukan urusan mu dan…”
“Kau ingin menghindar dari tanggung jawab mu semalam?” Ingatkan Lyxan akan kecelakaan mobil.
El menghela nafas berat. Pria itu kalau tidak menyela perkataannya pasti akan selalu mengalihkan inti pembicaraan sesuka hatinya.
“Malice. Aku akan ke Malice. Bisa kita permudah hal ini, aku akan membayar kerusakan mobil mu itu. Lagipula itu terjadi karena kau berhenti mendadak. Aku punya rekaman nya.” Kesal El.
“Jadi kau sekarang merasa jadi korban?”
“Berikan nomor rekening mu, aku akan mentransfernya. Atau nomor agen asuransi mu.” El sudah lelah jika harus berdebat.
Lyxan melemparkan ponselnya diatas sofa, pria itu sudah memerintahkah agen asuransi nya untuk membereskan masalah mobilnya.
“Apa?!” El terperanjat saat menyaksikan nominal biaya perbaikannya, 30.000 dollar. Yang bahkan menurutnya itu hanya luka lecet tidak sampai penyok atau rusak parah.
“Apa ada masalah?” Tanya Lyxan enteng dan menenggak kembali wine nya.
Perlahan El menatap sepatu, jam tangan, kaos dan jaket yang digunakan pria itu. Jelas semuanya ditotalkan sudah seharga satu buah mobil keluaran terbaru saat ini.
El bukannya tidak mampu membayar. Ia bisa saja meminta uang kepada kakaknya. Lagi. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan saat ini. Ia sudah berbuat kesalahan besar dengan kuliah di luar negeri meninggalkan kakaknya. Gengsinya cukup tinggi jika harus mengemis untuk biaya kehidupannya.
“Xan…” Sahut El yang kini duduk didekat pria itu sambil menenggak bir yang diberikan oleh Lyxan tadi.
“Kau tahu aku masih kuliah.”
Lyxan tidak bergeming, ia masih menenggak birnya sedikit demi sedikit.
“Aku bisa membayarnya. Hanya saja. Tidak saat ini.” Ujar El perlahan, “Akan ku bayar bulan depan dan itu juga…” El mulai bingung menjelaskannya.
Lyxan tertawa kecil. Ia menyukai wanita itu. Tidak seperti wanita yang selama ini ia kenal, El membawa kehangatan dan hatinya terasa lebih hidup.
“Aku dapat membebaskan mu dari semua biaya itu.” Lanjut Lyxan kembali menenggak minuman alkoholnya.
“Sungguh?!” Senang El, “Gratis?! Tanpa syarat?!”
Lyxan menatap El yang kini berada dibawah sofa. Terlihat cantik dan lugu tapi ambisinya sangat kuat. Kedua tangan El tanpa ia sadari menggenggam erat tangan kiri Lyxan.
“Tidak ada syarat.” Sahut Lyxan kemudian.
“K-kau yakin?!” Ragu El, “Aku rasa kau mabuk. Saat sadar kau juga akan lupa, tunggu…” El kembali meremas tangan Lyxan dan beralih memegang wajah pria itu.
“Kau demam?!” Untuk meyakinkan El segera mengambil termometer nya.
“Lyxan… kita harus kerumah sakit. Aku tidak tahu apa kau…”
“Ini bukan karena luka ku.” Senyum paksa Lyxan menahan sakit.
El bingung mendengar ucapan Lyxan, terlebih saat tangan besar pria itu menarik tubuhnya dan mendekap dengan pelan.
“Shampo apa yang kau gunakan?” Bisiknya ditengkuk El. Aroma wanita itu bahkan perlahan menjadi candu untuknya.
“Shampo hotel…” Gugup El perlahan mendorong perut sixpack pria itu, tak mungkin ia mendorong dadanya yang terluka tadi.
“Lyxan… Kalau kau tidak mau menghubungi keluarga atau teman mu, aku bisa mengantarmu pulang…”
“Kau yakin?” Sela Lyxan langsung yang semakin menarik tubuh wanita itu mendekapnya.
“Kau tidak takut? Apa kau tahu siapa aku?” Lxyan dengan lirih masih terus bertanya.
“A-aku tidak tahu. Tapi aku dokter mu saat ini dan…”
Lyxan tertawa pelan mengangkat dagu El yang terlihat ketakutan, “Kau benar. Kau dokter ku saat ini. Kau bertanggung jawab penuh atas diri ku.”
Kalimat yang diucapkan Lyxan terdengar tenang namun dingin. Kalimat terakhir yang membuat El tersudut akan yang terjadi ditahun baru nya.