NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Orang yang Tidak Pernah Dikuburkan

Hujan turun sejak pagi, tak deras, tapi cukup untuk membuat tanah kembali basah dan berat. Rina berjalan menyusuri pinggir desa, mengikuti bisikan yang sejak subuh terus memanggil namanya. Bukan suara keras—melainkan dorongan halus di kepala, seolah pikirannya dituntun ke satu tempat yang tak ingin ia datangi.

Pemakaman lama.

Tak ada papan penunjuk. Tak ada pagar. Hanya tanah luas yang ditumbuhi rumput liar dan batu-batu nisan miring, sebagian patah, sebagian terkubur separuh. Udara di sana dingin dan pengap, meski hujan sudah berhenti.

Langkah Rina terhenti ketika ia melihat satu bagian tanah yang berbeda.

Tidak ada nisan.

Tidak ada nama.

Tanahnya selalu basah—lebih gelap dari sekitarnya.

Ia tahu… di sanalah bisikan itu berasal.

Setiap langkah mendekat membuat kepalanya terasa berat. Di benaknya muncul potongan-potongan bayangan: tangan yang meronta dari lumpur, tubuh yang diseret malam hari, suara orang-orang yang berbisik panik.

“Cepat… sebelum hujan turun lagi.”

Rina berlutut di depan tanah kosong itu. Ketika tangannya menyentuh permukaan, tanah bergerak—bukan ambles, tapi berdenyut, seperti jantung yang masih berdetak.

Nama muncul perlahan.

Bukan di tanah.

Tapi di pikirannya.

Nama yang tidak pernah tertulis di buku ritual.

Nama yang tidak pernah dicatat desa.

Ia terhuyung, hampir jatuh, ketika suara berat muncul tepat di belakangnya.

“Kau akhirnya datang.”

Rina menoleh. Seorang pria berdiri di sana—pakaiannya seperti milik kepala desa lama, wajahnya pucat, matanya hitam pekat. Tidak ada bayangan di bawah kakinya.

“Siapa kamu…?” tanya Rina.

Pria itu tersenyum tipis.

“Aku yang pertama menulis… dan aku yang pertama menghapus.”

Tanah di sekeliling mereka mulai basah kembali. Dari bawah, terdengar rintihan rendah—bukan satu suara, melainkan banyak, bercampur, teredam lumpur.

“Ada satu arwah,” lanjut pria itu pelan,

“yang terlalu marah untuk ditulis… terlalu berbahaya untuk diakui.”

Rina gemetar.

“Jadi… dia tidak pernah dikuburkan?”

“Tidak,” jawabnya.

“Dia dikuburkan… tanpa kematian.”

Tanah kosong itu merekah. Bau busuk bercampur hujan menyergap hidung Rina. Sesuatu bergerak di bawah—bukan bangkit, tapi berusaha keluar, seolah selama ini ditahan oleh tulisan-tulisan yang salah.

“Selama namanya tidak ditulis,” kata pria itu,

“kutukan akan terus mencari penulis baru.”

Pria itu mulai memudar, tubuhnya menyatu dengan hujan yang kembali turun.

Sebelum benar-benar menghilang, ia berbisik:

“Kau harus memilih, Rina.

Menuliskan nama itu… atau menggantikannya.”

Tanah bergetar hebat.

Rina mundur terhuyung, air mata bercampur hujan. Ia tahu sekarang—arwah paling berbahaya bukan yang tertulis di tanah, melainkan yang disembunyikan oleh manusia.

Dan malam ini… arwah itu mulai bangun.

***

Hujan turun menjelang malam, lebih dingin dari biasanya. Rina berlari pulang dari pemakaman lama dengan napas tersengal, sepatunya penuh lumpur, pikirannya kacau oleh satu hal yang terus berulang di kepalanya:

Nama itu.

Ia tidak tahu bagaimana ia mengetahuinya. Nama itu tidak pernah diucapkan, tidak pernah tertulis, namun kini melekat di pikirannya seperti luka yang terbuka. Setiap kali ia mencoba melupakannya, kepalanya berdenyut hebat.

Begitu sampai di rumah, Rina mengunci pintu, jendela, dan menutup semua tirai. Tapi kegelapan tetap masuk—merembes dari sudut-sudut rumah, dari celah lantai, dari dinding yang terasa lembap.

Buku ritual tergeletak di meja.

Tertutup.

Namun Rina tahu… buku itu menunggu.

Ia mendekat perlahan. Saat jarinya hampir menyentuh sampul, buku itu bergetar hebat, lalu terbuka sendiri. Halaman-halamannya berputar cepat, berhenti pada satu halaman yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Halaman itu kosong.

Tidak ada simbol. Tidak ada tulisan.

Hanya noda lumpur di tengah, membentuk garis samar—seperti huruf yang hampir terbaca, tapi ditahan.

Di bawahnya, kalimat muncul pelan:

JANGAN MENULIS NAMA INI.

Lampu rumah mati serentak.

Rina menelan ludah. Dari luar, terdengar suara orang-orang desa—berjalan bersama, langkah mereka serempak, berat, basah. Ia mengintip lewat celah tirai.

Puluhan warga berdiri di depan rumahnya.

Mata mereka kosong. Mulut mereka komat-kamit membaca sesuatu yang sama, berulang-ulang, seperti doa yang salah.

“Serahkan bukunya…”

“Jangan tulis namanya…”

“Biarkan tetap terkubur…”

Rina mundur ketakutan.

“Kenapa?” teriaknya, suaranya pecah.

“Kalau namanya tidak ditulis, kutukan tidak akan berhenti!”

Salah satu warga mengangkat kepala perlahan. Wajahnya bukan lagi wajah manusia—kulitnya pucat kehijauan, matanya hitam pekat.

“Kalau namanya ditulis,” jawabnya datar,

“desa ini akan memilih korban yang lebih besar.”

Tanah di bawah rumah bergetar. Dari lantai, retakan kecil muncul, mengeluarkan air hitam yang berbau busuk. Dari dalamnya, terdengar suara berat—dalam, lambat, penuh kebencian.

Rina jatuh berlutut.

Ia sadar sekarang:

nama itu adalah kunci sekaligus pintu.

Ditulis—ia bangkit sepenuhnya.

Tidak ditulis—ia tetap lapar, dan akan terus mengambil arwah satu per satu.

Buku ritual kembali menulis sendiri, kali ini lebih kasar, seolah ditorehkan dengan kuku:

PENULIS AKAN MENANGGUNG AKIBATNYA.

Air mata Rina jatuh ke halaman itu. Tinta lumpur menyerap air matanya, membentuk simbol baru—simbol yang tidak ia kenali, tapi membuat dadanya terasa sesak.

Di luar, hujan turun semakin deras.

Dan di kejauhan, dari arah pemakaman lama, terdengar teriakan pertama—teriakan arwah yang mulai bebas dari tanahnya.

Rina tahu… waktunya hampir habis.

***

Untukmu yang memilih membuka halaman demi halaman novel ini—terima kasih.

Setiap kata di sini lahir dari rasa, luka, dan harapan yang mungkin pernah singgah di hatimu.

Bacalah perlahan, resapi, dan biarkan ceritanya menemanimu.

Semoga kamu menemukan bagian dirimu sendiri di antara baris-barisnya.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!