Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Kebohongan kecil
Setelah kepergian Claudia, Arunika hanya bisa menghela napas kasar.
"Baru juga baikan sama Mas Abi, ada saja yang bikin bad mood." keluhnya, ia melangkah pergi dari sana dan menuju ruangan suaminya.
Dengan langkah lelah ia menuju ruangan Abimana. Setibanya di depan pintu, ia mengetuk pelan.
"Pak, ini saya Arunika."
Tidak membutuhkan waktu lama pintu terbuka, dan menampilkan Abimana yang berdiri di ambang pintu.
"Masuk." ajak Abimana.
Arunika melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
"Duduklah." ia mengajak Arunika duduk di sofa yang ada di ruangan itu. "Aku mau bereskan berkas dulu setelah itu kita pulang bersama."
Ia menatap suaminya yang sedang memasukan barang-barangnya ke dalam tas. "Tapi, Mas, aku bawa mobil sendiri."
Gerakkan Abimana terhentikan. Ia melangkah mendekat ke arah istrinya, lalu mengambil posisi duduk di samping gadis itu.
"Tidak apa-apa, nanti Mang Ujang yang akan mengantar mobilnya ke apartemen kita, hari ini kita pulang ke rumah Mama."
Arunika mengerutkan keningnya bingung. "Tumben, Mas, ajak aku ke sana?"
Abimana menatap Arunika dengan pandangan lembut. "Mama yang minta. Barusan beliau memberi kabar kalau kita diajak makan malam bersama di rumah." suaranya terdengar meyakinkan, lalu ia perlahan memegang kedua tangan Arunika.
"Aku tahu, ini pertama kali aku mengajak kamu ke rumah Mama, Bahkan aku belum sempat mengajak kamu untuk melihat isi kamar pribadi dari suami kamu sendiri."
Ada tatapan tidak percaya di wajah Arunika. Ini pertama kalinya Abimana memintanya untuk hadir dengan ikhlas dan sukarela, tanpa ada lagi paksaan di antara mereka.
Arunika menatap kedua netra Abimana. Ia ingin melihat apakah laki-laki yang kini menjadi suaminya sudah benar-benar menerimanya atau hanya karena ada hal lain. Namun, yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Perlahan Arunika mengangguk pelan.
"Iya, Mas. Kalau begitu aku akan ikut pulang ke rumah Mama."
"Semoga kamu tetap seperti ini, Mas. Meski pernikahan kita hanya terjadi karena perjodohan dan bukan karena saling mencintai, aku berharap kita akan menemukan cinta itu di saat kita saling menerima."
"Kalau gitu, aku ambil tas dulu."
Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkah menuju meja kerja, lalu meraih tasnya. Lalu mengelurkan tangannya.
Arunika menatap tangan yang kini terulur di hadapannya. Sedikit ragu, namun ia tetap menerima uluran tangan itu.
Abimana membawa Arunika melangkah menuju parkiran di mana mobilnya berada. Sepanjang koridor, Arunika terus menatap tangannya yang kini bertautan erat dengan tangan milik suaminya. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya.
Di lantai atas, Claudia yang melihat kemesraan mereka meremas pembatas balkon dengan sangat kuat. Matanya menatap tajam penuh kebencian.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia di atas penderitaanku." desisnya penuh ancaman.
Abimana yang sudah sampai di parkiran, melangkah lebih dulu membukakan pintu mobil bagian depan untuk istrinya.
"Silakan, Sayang."
Sikap manis suaminya membuat Arunika merasa gugup.
"Makasih, Mas" jawabnya pelan, sembari masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan istrinya masuk, Abimana melangkah menuju pintu kemudi.
Ia menoleh menatap Arunika, dengan gerakan santai mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri.
Lagi-lagi Arunika dibuat salah tingkah. Ia bisa mencium aroma maskulin suaminya yang begitu dekat.
"Ma-as..." gumam Arunika gugup dengan wajah yang mulai memerah.
Abimana tersenyum jahil. "Kenapa, Sayang?" wajahnya tepat berada di hadapan wajah Arunika. Aroma napas berbau mint seketika menyeruak, membuat jantung Arunika berdetak jauh lebih cepat.
Tiba-tiba...
Klik!
Suara seat belt yang terpasang menyadarkan Arunika dari lamunannya. Abimana kemudian menarik kembali tubuhnya ke posisi semula dengan senyum tipis di bibirnya.
Arunika merasa sangat malu dengan apa yang barusan terjadi. Ia segera memalingkan wajahnya, pura-pura menatap keluar jendela kaca mobil.
Abimana yang melihat reaksi itu terkekeh kecil. Ternyata istrinya bisa semenggemaskan itu.
Tak lama, ia mulai melajukan mobilnya, membelah jalanan yang mulai ramai oleh kesibukan orang-orang dengan dunia mereka masing-masing.
Selama perjalanan, hanya keheningan yang menyelimuti suasana di dalam mobil itu. Namun, pikiran Arunika jauh dari kata tenang. Kejadian barusan terus melintas di kepalanya. Bisa-bisanya ia sempat berpikir jika Abimana akan menciumnya tadi!
Dua puluh menit berlalu. Kini mereka telah sampai di kediaman Permana.
Arunika langsung turun tanpa menunggu Abimana membukakan pintu untuknya. Ia masih merasa canggung jika harus berdekatan dengan suaminya.
Dari arah pintu seorang wanita paruh baya keluar. Tatapannya langsung tertuju ke arahnya.
"Sayang, kenapa tidak memberi tahu Mama kalau kamu mau ke sini?" suara antusias Liana menyambut Arunika. Ia langsung memeluk menantunya.
Arunika dibuat bingung. Bukankah Mas Abi mengatakan bahwa Mama yang mengundang mereka untuk makan malam? itulah yang ada dalam pikirannya.
Ia menatap Abimana yang ada di sampingnya dengan tajam seolah meminta penjelasan.
Sementara yang ditatap hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak salah tingkah karena kebohongannya terbongkar seketika.
"I-iya, Ma. Kebetulan hari ini Nika dan Mas Abi akan menginap beberapa hari di sini." Ia terpaksa berbohong karena bingung harus menjawab apa di depan mertuanya.
"Wah, kalau begitu Mama sangat senang! Rumah ini akan terasa ramai jika ada kalian. Ayo, Sayang, masuk!" seru Mama dengan wajah berseri-seri.
Arunika hanya bisa mengangguk kecil sembari tersenyum tipis.
Abimana melangkah pelan di belakang, mengikuti langkah kedua wanita yang kini telah menjadi orang yang paling ia hormati dan ia sayangi.
"Sebentar ya, Mama buatkan minum dulu."
"Nggak usah, Ma. Biarkan Nika saja yang buat." tawar Arunika tulus yang merasa tidak enak.
"Jangan, Sayang. Kamu pasti lelah, biar Mama saja. Kebetulan Bibi lagi ke supermarket, jadi Mama yang akan buatkan untuk kamu."
Liana kemudian melangkah menuju dapur, meninggalkan Arunika dan Abimana berdua di ruangan itu.
Setelah kepergian Ibu mertuanya, kini Arunika menatap suaminya dengan kesal.
"Mas, kenapa mesti bohong?"